
Gabriel tersenyum kalem. Bola matanya yang berwarna hijau, terlihat begitu bersinar. Begitu pula dengan raut wajahnya yang selalu tampak berseri. "Ada banyak orang yang terjebak dalam situasi seperti itu, Elle. Salah satunya adalah diriku. Aku termasuk ke dalam daftar orang yang mudah sekali jatuh cinta," Gabriel mengela napas panjang dan mengempaskannya perlahan. "Terdengar sangat konyol, ya?" lanjutnya lagi dengan senyum geli.
"Apa kau selalu bersikap seperti ini pada setiap orang? Um ... maksudku pada setiap orang baru di dalam tim."
"Aku hanya berusaha untuk mengakrabkan diri dengan semuanya, terlebih pada orang baru di timku. Aku ingin mereka merasa nyaman, karena jika suasana nyaman sudah tercipta, maka kita pasti akan dapat melakukan segala pekerjaan dengan maksimal," jelas Gabriel. Ia kembali menyantap makanan di hadapannya.
Autumn mengangguk pelan. Ia sangat memahami hal tersebut. Namun, baru saja gadis itu akan menanggapi ucapan dari Gabriel, tiba-tiba ponselnya bergetar. Autumn memeriksanya dengan segera. Nama Benjamin tertera di layar. Autumn menjadi terlihat salah tingkah. "Maaf, aku harus menjawab panggilan penting ini sebentar," ujar gadis itu dengan senyuman manis. Ia lalu beranjak dari duduknya dan bergerak menjauh dari meja tempat Gabriel dan dirinya duduk tadi. Autumn pun segera menjawab panggilan itu.
"Kenapa lama sekali? Apa kau sedang sibuk?" tanpa basa-basi, Benjamin langsung saja bertanya dengan nada sedikit kesal.
"Maaf. Aku sedang makan siang," sahut Autumn setengah berbisik.
"Dengan siapa?" tanya Benjamin lagi.
Autumn tak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah Gabriel. Pria itu tengah memperhatikannya dan tersenyum. Autumn membalas senyuman itu. Namun, ia yakin jika Benjamin pasti akan menjadi uring-uringan jika mengetahui bahwa dirinya tengah makan siang bersama Gabriel. "Aku makan siang dengan rekan-rekan satu tim. Kenapa?" Autumn kembali berbohong. Gadis itu meringis kecil menanggapi kelakuannya sendiri. "Nanti kuhubungi lagi, Ben," ucapnya kemudian.
"Tidak, sebentar saja. Aku hanya ingin mengatakan bahwa rencana kepergian ke Marseille, akan dipercepat satu hari. Kau jadi ikut denganku, kan?"
Autumn kembali salah tingkah mendengar penuturan dari Benjamin. Ia belum memikirkan alasan yang tepat untuk diberikan pada kedua orang tuanya. Sedangkan, jika jadwal dimajukan maka itu artinya hanya ada waktu satu hari lagi.
"Begitukah? Kenapa mendadak?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku masih ada urusan lain di sana. Sementara Fleur tak ingin jika jatah kebersamaannya denganku menjadi berkurang," jelas Benjamin lagi.
"Oh ...." Autumn hanya menanggapi dengan kata itu sambil manggut-manggut pelan.
"Hanya 'oh'?" protes Benjamin.
"Maaf, aku tidak terlalu konsentrasi," kilah Autumn seraya menggaruk pelan keningnya.
"Ya, sudah. Lanjutkan saja makan siangmu, lagi pula aku sedang di jalan. Dah," Benjamin mengakhiri pembicaraan mereka. Sedangkan Autumn kembali menggaruk keningnya. Tiba-tiba kepalanya menjadi pusing. Ia membutuhkan udara segar agar dapat menenangkan diri. Tak berselang lama, gadis itu kembali ke mejanya.
"Telepon dari siapa?" tanya Gabriel.
Hingga jam kerja berakhir, Autumn nyatanya belum mendapatkan ide apapun. Setelah berpamitan kepada sesama rekan satu tim, gadis itu keluar dan bermaksud untuk mencari udara segar. Ia merasa tak nyaman saat itu. Kebohongan demi kebohongan terus dilakukannya, meskipun bukan sesuatu yang terlalu berarti. Namun, rasa lelah di hati mulai menyapa.
Ya, Autumn harus ikut ke Marseille bagaimanapun caranya. Karena, setelah ia bertemu dengan Fleur, Benjamin mengatakan jika pria itu akan berbicara kepada Edgar tentang hubungan mereka.
Semilir angin berembus dengan tidak terlalu kencang, tapi terasa begitu dingin. Aroma musim gugur mulai tercium. Autumn merapatkan bagian depan mantelnya sambil terus melangkah, menyusuri jalanan kota Paris di sore hari. Saat itu, ia melewati Pont Alexandre III yang berada tepat di atas Sungai Seine. Jembatan indah dengan ukiran dan patung-patung menakjubkan yang menghiasinya. Sayang sekali, karena saat itu ia hanya sendirian melewati jembatan tersebut.
Autumn terus melangkah. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk duduk sebentar, di tepian sungai terkenal yang membelah kota Paris tersebut. Dari sana, ia juga dapat melihat kemegahan Menara Eiffel yang berdiri kokoh bagaikan penguasa.
Beberapa lamanya Autumn termenung di tempat itu, hingga sebuah sapaan berhasil mengejutkannya. Seorang gadis berambut pirang, tampak begitu terkejut saat melihat dirinya. "Hai, Elle?" sapa gaadis itu hangat.
__ADS_1
"Joelene?" Autumn tak percaya dapat bertemu dengan sahabat lamanya di sana. "Apa kabar? Lama sekali kita tidak bertemu," kedua gadis cantik itu saling berpelukan. Sesaat kemudian, perhatian Autumn tertuju pada pria yang merangkul gadis tersebut dari samping. Kedua matanya mengisyaratkan bahwa ia meminta penjelasan dari sahabat lamanya itu.
Joelene tertawa renyah. "Ini Thiery. Kami baru menikah beberapa hari yang lalu. Oh, kebetulan sekali kita bertemu di sini, Elle," ujarnya masih dengan senyuman lebar.
"Kenapa?" tanya Autumn penasaran.
"Berhubung kemarin kau tak datang pada acara pemberkatan pernikahan kami, maka aku harap kau bisa hadir pada pesta kecil-keciln yang akan kami langsungkan akhir bulan ini. Aku mengundangmu secara khusus sebagai salah satu sahabat baikku," jelas Joelene lagi.
"Akhir bulan?" Autumn terlihat ragu. Sedangkan Joelene mengangguk yakin.
"Dengar, Elle. Kami akan mengadakan pesta sederhana di kampung halaman suamiku, Marseille. Aku sangat berharap kau bisa menghadirinya," terang Joelene lagi dengan mimik penuh harap.
Mendengar kata Marseille, seketika wajah ragu Autumn berubah cerah. Ia menyunggingkan sebuah senyuman lebar di bibirnya. Kebetulan itu datang di saat yang begitu tepat. Tuhan memang sangat baik padanya. "Oh, tentu saja. Aku pasti akan mengusahakan untuk datang. Kau berikan saja alamat lengkapnya padaku," balas Autumn penuh semangat.
"Ah, terima kasih banyak, Elle. Berikan nomor ponselmu, nanti kukirimkan alamat lengkapnya. Oh, iya. Tolong sampaikan salamku untuk ibumu. Aku sangat merindukan Paris Brest buatannya. Nyonya Hillaire memang luar biasa."
"Ya, tentu. Pasti akan kusampaikan. Kenapa tidak mampir saja ke tempatku? Aku masih tinggal di alamat yang sama," tawar Autumn.
"Aku ingin sekali, Elle. Akan tetapi, ini adalah hari terakhirku di Paris. Setelah ini kami akan ssgera berangkat ke Marseille, dan sepertinya aku akan menetap di sana," jelas Joelene seraya melirik pria yang merupakan suaminya.
"Oh, begitu. Aku turut bahagia untukmu, Joe," ucap Autumn yakin. Niatnya untuk melewatkan senja di tepi sungai Seine, memang keputusan yang tepat.
__ADS_1