The Gray Autumn

The Gray Autumn
Reculer


__ADS_3

Autumn menatap lekat sang ayah. Ada keresahan dan curiga dalam sorot mata abu-abunya. Entah apa yang akan Edgar bicarakan dengan Benjamin. Namun, tentu saja Autumn tak ingin berperasangka buruk terhadap ayahnya sendiri.


"Apa kau yakin akan menerima lamaran dari Benjamin Royce?" tanya Edgar yang kembali mengingatkan putrinya. "Ingatlah, Elle. Pernikahan tak seperti hubungan pacaran, di mana kau bisa mengabaikan kekasihmu setelah merasa bosan. Dalam pernikahan, kau tidak boleh bersikap seperti itu," ujar Edgar yang seketika membuat Autumn mengernyitkan kening.


"Apa maksud Ayah?" tanya gadis itu tak mengerti.


"Apa maksudku? Maksudku adalah kemarin ada seorang pria muda bernama Leonardo Orville yang berbicara tentang hubunganmu dengannya. Dia merasa diabaikan dan ingin kejelasan," tutur Edgar menatap sang putri.


"Leon?" Autumn menautkan alisnya.


"Jadi, kau memang mengenalnya?"


"Ya, dia ... dia ... ah sudahlah. Aku tak ingin membahasnya," tolak Autumn malas.


"Sejak kapan kau mengenalnya?" tanya Edgar. Entah apa yang membuat pria itu tertarik untuk membahas tentang Leon.


"Sudah cukup lama, tapi aku benar-benar malas untuk membahasnya," Autumn memasang mimik tidak nyaman saat itu.

__ADS_1


Namun, Edgar masih terlihat penasaran. "Apa kau mengenal orang tuanya?" selidik pria bermata abu-abu tersebut.


Dengan segera Autumn menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah bertemu dengan mereka. Akan tetapi, setahuku ayah Leon merupakan pria asli Perancis, sedangkan ibunya berasal dari Guadalajara Meksiko. Leon pernah mengajakku untuk menemui mereka, tapi saat itu aku belum siap. Lagi pula, kudengar ayahnya sedang sakit keras," terang gadis itu. "Kenapa Ayah tertarik untuk mengetahui tentang Leon?" tanyanya penuh selidik.


"Tidak apa-apa. Sekilas wajah pria muda itu mengingatkanku pada seseorang," jawab Edgar datar. Sesaat kemudian, dia membetulkan sikap duduknya. "Elle, sekali lagi kutegaskan padamu untuk kembali memikirkan sebelum menerima lamaran dari Benjamin Royce," Edgar kembali pada topik pembahasan awal.


"Izinkan aku untuk belajar mengambil keputusan, Ayah. Bagimu mungkin aku ini masih seorang anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Akan tetapi, usiaku sudah dua puluh dua tahun. Jolene pun telah menikah kemarin, lalu apa salahnya jika aku melakukan hal yang sama? Karier dan cita-cita masih bisa kuraih nanti. Aku yakin jika Ben bukanlah pria yang berpikiran kuno. Dia pria yang cerdas dan juga sangat modern. Aku rasa Ayah pasti sudah mengetahui hal itu," tutur Autumn berusaha meyakinkan sang ayah.


"Jika masa lalu Ben begitu membuat Ayah terganggu, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa. Seberapapun aku ataupun Ben bekerja keras untuk mengubahnya, maka kami hanya akan dianggap sebagai pasangan terbodoh di dunia. Satu hal yang pasti, aku mencintai dan menerima pria itu dengan segala hal yang ada dalam dirinya. Semua yang Ben lakukan selama ini, sudah jauh lebih dari cukup dan membuat diriku begitu tersanjung," Autumn begitu malas untuk terus membahas masalah yang sama dan seakan tanpa kejelasan baginya.


"Memangnya kau sudah siap untuk mengurus anak yang dibawa Benjamin?" pertanyaan Edgar seakan menantang Autumn.


"Aku sangat menghargai keputusanmu, Elle. Aku senang jika akhirnya kau bisa menentukan sesuatu untuk hidupmu. Oleh karena itu, apapun konsekuensi yang akan kau hadapi nanti, maka hadapilah sendiri dan jangan pernah melibatkanku atau ibumu. Kau harus belajar untuk menyelesaikannya sendiri," ujar Edgar. "Ini adalah keputusan besar pertama yang telah kau ambil, Elle. Aku tidak akan menentangnya, meskipun jujur saja bahwa diriku sama tidak menyukai hal tersebut," ucap pria itu lagi dengan dalam.


"Belajarlah untuk percaya pada kemampuan anak-anakmu, Ayah. Aku dan Darren sudah bukan anak kecil lagi. Kami telah memiliki pikiran yang cukup matang meskipun tak jarang membuat kesalahan yang begitu konyol. Akan tetapi, aku hanya ingin belajar untuk bisa bersikap jauh lebih dewasa," tutur Autumn pelan tapi cukup tegas.


"Baiklah. Ibumu tak ingin jika sampai ada perselisihan di antara kita. Aku juga tidak berharap ada masalah dengannya. Kau harus tahu bahwa aku menyetujui keputusan yang kau ambil bukan karena merelakanmu bersama Benjamin Royce, tapi karena aku tak ingin membuat ibumu sedih. Jadi, sebisa mungkin jangan pernah menempatkan ibumu dalam rasa bersalah yang besar, karena telah membuatku harus menyetujui pernikahan kalian berdua," tandas Edgar.

__ADS_1


Sebelum menanggapi ucapan tegas sang ayah, Autumn tampak terdiam sejenak. Namun, segala keputusan yang telah dia ambil adalah sesuatu yang tak harus disesalinya, apalagi hingga ditarik kembali. Perasaan cinta yang kuat antara dia dan juga Benjamin, merupakan pilar kuat dan menjadi menopang bangunan indah yang akan dirinya wujudkan secara nyata bersama pria tiga puluh lima tahun itu. "Kita lihat saja nanti, seberapa besar aku dapat membuktikan diriku di hadapanmu dan juga ibu," ucap Autumn kembali meyakinkan diri dan sang ayah. Dia mengabaikan bayangan buruk atas sikap tak bersahabat Fleur terhadapnya.


......................


Siang itu, Edgar datang ke kantor The Royal Royce. Niatnya tiada lain adalah untuk menemui sang pemilik perusahaan tersebut, yang kebetulan tengah berada di sana. Dengan senang hati, Benjamin menyambut calon ayah mertuanya. Hangat dan juga bersahabat, senyuman menawan terkembang sempurna pada paras tampannya yang teramat memesona dengan segala keindahan dalam diri pria itu.


"Anda ingin minum sesuatu, Tuan Hillaire?" tawar Benjamin yang mengikuti duduk, setelah terlebih dulu mempersilakan tamunya. Sikap dan gerak tubuh keduanya terlihat sama, begitu berwibawa dan sangat elegant.


"Tidak usah. Aku tak akan berlama-lama di sini," tolak Edgar jauh lebih halus dari sikap yang dia tunjukkan sebelumnya. "Aku harap kau tidak sedang sibuk, karena aku ingin membahas masalah lamaranmu untuk putriku Autumn," ucap Edgar menatap Benjamin dengan cukup tajam.


"Ah, tentu. Aku selalu memiliki banyak waktu untuk sesuatu yang berhubungan dengan putri Anda," sahut Benjamin diiringi senyum kalemnya.


"Luar biasa," sindir Edgar dengan senyum kecil di sudut bibirnya. "Baiklah, cukup basa-basinya," Edgar mendehem pelan dengan posisi duduk yang terlihat begitu gagah. "Katakan padaku, berapa usia putrimu saat ini?"


Mendengar pertanyaan itu, Benjamin terdiam sejenak. Dia senang karena Edgar akhirnya mengetahui hal tersebut. Dengan begitu. dirinya tak harus menjelaskan apapun terhadap calon ayah mertuanya. "Usia putriku sudah menginjak sepuluh tahun," jawab pria berambut cokelat tembaga itu.


"Sudah cukup besar rupanya. Jadi, ke mana ibu dari putrimu? Aku dengar kau dan wanita itu tidak pernah terikat pernikahan," selidik Edgar yang seakan tengah menginterogasi Benjamin.

__ADS_1


"Anda benar. Aku dan mendiang Samantha memang tidak pernah terikat dalam janji suci pernikahan. Awalnya, itu menjadi sesuatu yang kusesalkan. Namun, tidak lagi setelah aku mengenal putri Anda. Karena itu, untuk kali ini aku tak ingin kembali menyesal karena tak bisa menikmati indahnya kebersamaan bersama wanita yang kucintai. Bagaimanapun juga, aku akan tetap berusaha untuk bisa mendapatkan restu dari Anda dan nyonya Hillaire," tegas Benjamin masih dengan sikapnya yang terlihat begitu tenang.


Tersungging sebuah senyuman yang agak sinis di wajah Edgar. Di satu sisi, sebenarnya dia begitu mengagumi Benjamin dan tidak pernah meragukan kemampuan pria tersebut. Akan tetapi, di sisi lain dia juga merasakan kecemasan yang luar biasa karena harus menyerahkan satu-satunya putri yang dia miliki terhadap pria yang tidak dia percayai sepenuhnya. "Baiklah. Aku hanya ingin melihat putriku bahagia. Jika memang kau bisa membuatnya seperti itu, maka aku akan merelakan Elle untuk kau persunting. Namun, sekali saja kudengar kau menyakitinya, maka kupastikan itu akan menjadi akhir dari ketenangan hidupmu!" ancam Edgar dengan begitu serius.


__ADS_2