The Gray Autumn

The Gray Autumn
Troubler L'âme


__ADS_3

Autumn tersenyum simpul mendengar ucapan polos Fleur. Anak kecil memang selalu berbicara jujur dan apa adanya. Karena itu, Autumn mencoba untuk menepiskan perasaan aneh yang mulai mengusik relung hatinya saat itu. Ia menoleh kepada Fleur dan tersenyum manis. "Mamamu memang sangat cantik, Fleur. Aku yakin kau juga akan secantik dirinya saat dewasa nanti," ucap gadis itu mencoba untuk bersikap bijaksana, meskipun tak dapat dipungkiri, jauh di lubuk hatinya ada sedikit rasa cemburu yang teramat mengganggu.


"Begitukah, Elle?" tanya Fleur menatap kepada Autumn. "Jika memang seperti itu, maka aku bisa mencari pria seperti papaku," lanjutnya dengan polos.


"Oh, tentu. Kau bahkan bisa mendapatkan seseorang yang lebih dari papamu," jawab Autumn dengan santainya. Akan tetapi, Fleur segera menggeleng. Ia tak setuju dengan pendapat kekasih dari ayahnya tersebut.


"Tidak, Elle. Aku tidak ingin yang lain. Aku menyukai papaku. Ia yang terhebat," ucap gadis kecil berambut cokelat tembaga itu dengan yakin.


Autumn merasa tersentuh dengan jawaban Fleur. Gadis kecil berusia sepuluh tahun tersebut sudah dapat berpikir seperti itu. Ia lalu membungkukan tubuhnya hingga mensejajari tinggi Fleur. "Kau sangat mengagumi papamu, Fleur. Itu artinya kita memiliki kesamaan, karena aku juga benar-benar mengaguminya. Akan tetapi, kau belum dapat memahami hal itu karena memang belum saatnya. Aku pun bahkan masih harus belajar lebih, dan aku yakin jika Ben bisa mengajariku banyak hal," ujar Autumn dengan senyumannya.


"Aku memang tidak mengerti kau bicara apa, Elle," ucap Fleur seraya memperlihatkan giginya yang ompong.


"Baiklah, bukankah kau ingin menunjukan sesuatu padaku?"


"Ini," Fleur menyodorkan sebuah kotak kecil dengan ukiran disetiap sisinya. Autumn kemudian menerima kotak itu dan membukanya. Di dalam sana terdapat sebuah pita rambut yang sangat cantik berwarna ungu muda.


"Ini milikmu, Fleur?" tanya Autumn.


"Bukan," jawab Fleur dengan segera.


"Lalu?" tanya Autumn lagi.

__ADS_1


"Apakah menurutmu itu cantik, Elle?" Fleur kembali bertanya.


"Ya, ini sangat cantik," jawab Autumn. "Jika ini bukan milikmu, lalu ini punya siapa?" tanya Autumn ragu. Hati gadis itu sudah merasa resah dan gelisah dengan jawaban yang akan Fleur berikan padanya. Namun, lagi-lagi Autumn berusaha untuk menyembunyikan semua itu dari Fleur.


"Pita itu milik mamaku," jawab Fleur, sesuai dengan dugaan Autumn.


"Apakah ini hadiah dari papamu untuknya?"


"Ya, Elle," Fleur mengangguk yakin. "Papaku bercerita jika ia memberikan pita itu dan kerap memasangkannya di rambut mamaku," tutur gadis kecil itu lagi. Sementara Autumn segera menanggapinya dengan sebuah senyuman getir. "Itu sangat romantis, Fleur," ucapnya pelan.


"Ya, Elle. Sayang sekali karena aku tidak pernah bertemu dengan mamaku. Karena itulah papa memberikan semua barang-barang milik mama dan menyuruh agar aku menyimpannya dengan baik."


......................


Malam kian larut, tetapi kantuk tak juga mendatangi Autumn. Gadis itu memilih untuk keluar kamar dan pergi ke dapur. Ia membuka lemari es, tapi sayangnya karena di dalam sana tidak ada yoghurt buah kesukaannya. Autumn kembali menutup pintu lemari es tersebut, dan seketika ia tersentak mendapati Benjamin sudah berdiri di dekatnya.


"Kau!" pekik Autumn tertahan. "Kau membuatku terkejut!" ucapnya kesal. Ia bermaksud untuk keluar dari dapur. Akan tetapi, gerakan Benjamin jauh lebih cepat. Pria itu meraih pinggang Autumn dan menarik gadis tersebut ke dalam pelukannya.


"Kenapa kau belum tidur?" tanya Benjamin dengan setengah berbisik. Ia menyandarkan tubuh Autumn pada pintu lemari es yang sudah tertutup.


"Kau juga belum tidur," balas Autumn.

__ADS_1


Benjamin tersenyum. Ia lalu mengajak Autumn keluar dari dapur dan menuju ke sebuah bukaan dengan sofa dan beberapa buah bantal besar yang terlihat empuk dan nyaman. "Aku suka berlama-lama duduk di sini, bahkan hingga ketiduran," ucap pria bermata abu-abu itu sambil duduk di sofa. Ia mengajak Autumn untuk ikut duduk bersamanya. "Apa yang kau bicarakan dengan Fleur tadi sore?" tanya Benjamin penasaran.


"Banyak hal yang kami bicarakan," jawab Autumn pelan. "Fleur memperlihatkan semua hal yang berhubungan dengan ibunya. Daya tangkap anak itu sangat bagus, karena ia bisa mengingat semua yang kau ceritakan padanya sehingga ia bisa menceritakan hal itu lagi kepadaku. Oh, Ben. Samantha wanita yang sangat cantik. Ia memiliki rambut hitam yang indah dan senyuman yang bisa memikat siapa saja," nada bicara Autumn terdengar agak aneh saat itu. "Jadi, ia wanita tercantik dan paling istimewa untukmu," ucap Autumn lagi. Ada gurat kecewa pada sorot matanya.


"Ya," jawab Benjamin singkat. Satu kata yang terasa cukup menyesakkan bagi Autumn.


"Haruskah aku merasa cemburu terhadap seseorang yang telah tiada?" Autumn menatap lekat pria tampan di dekatnya.


"Apa menurutmu seseorang yang telah tiada patut untuk dicemburui?" Benjamin balik bertanya. Autumn tidak segera menjawab. Ia pun merasa begitu bodoh jika sampai terjebak dalam rasa cemburu seperti itu. Namun, rasa takut dan juga was-was terus datang dan memaksanya untuk berpikir demikian.


"Kemarilah," Benjamin meminta Autumn untuk duduk di atas pangkuannya. Tanpa banyak protes, gadis itu menurut. Ia naik ke atas pangkuan Benjamin dan duduk menghadap padanya. "Dengarkan aku," ucap Benjamin dengan suaranya yang begitu dalam. "Samantha memang seseorang yang sangat berarti bagiku. Ia adalah ibu dari Fleur dan itu merupakan sesuatu yang tak bisa dipungkiri. Akan tetapi, seperti kata pepatah bahwa hidup harus terus berjalan. Kenangan tentang Samantha, tersimpan di sisi lain hatiku. Sedangkan sisi lainnya lagi masih terasa kosong. Hal itu, membuat hidupku menjadi terasa tidak seimbang dan tentu saja tak sempurna. Bagaimanapun juga, aku adalah pria normal dan masih bernyawa. Aku harus menjalani hidupku dengan selayaknya manusia pada hakikatnya," jelas Benjamin dengan panjang lebar.


"Aku hanya merasa takut, Ben," ucap Autumn pelan.


"Apa yang kau takutkan?" tanya Benjamin.


"Aku takut jika suatu saat nanti, kau akan merasa bosan padaku dan lebih tertarik pada wanita lain yang jauh lebih cantik dariku. Ia memiliki bibir penuh berwarna merah, pinggul dan dada besar yang terlihat menantang, dan ...." Autumn tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena saat itu ia merasakan tangan Benjamin yang bergerak nakal menelusup masuk ke dalam t shirt yang ia kenakan. Autumn pun mende•sah pelan.


"Aku lebih menyukai ini," ucap Benjamin terdengar sangat menggoda. Ia mengangkat bagian bawah t shirt Autumn dan mengumpulkannya di atas dada gadis itu, sehingga terlihat dengan jelas sepasang cup berenda dengan warna merah jambu. Benjamin kemudian menyentuh cup itu dan menurunkannya, hingga membuat sesuatu yang sejak tadi tersembunyi di baliknya mencuat keluar. Ia pun tersenyum puas, ketika menyentuh isi dari cup berenda tersebut.


"Kau sudah membuatku jatuh cinta, Elle. Aku tertarik dari semenjak pertama kali melihatmu. Kau terlihat begitu segar dan energik. Polos dan tentu saja, sulit bagiku melupakan malam itu, saat di mana pertama kalinya kita bercinta. Aku ingin terus mengulanginya," Benjamin membawa Autumn berdiri dan menggendongnya menuju kamar.

__ADS_1


__ADS_2