The Gray Autumn

The Gray Autumn
Le Séducteur


__ADS_3

Sementara Edgar bicara bersama sang istri, lain halnya dengan Autumn. Gadis itu pergi ke kamarnya dan membanting pintu. Rasanya dia ingin menangis sambil berteriak sekeras mungkin, meluapkan kekesalan. Autumn terus menggerutu seraya melepas mantel dan juga sepatu bootsnya. Dia melemparkan kedua benda tersebut begitu saja. Sesaat kemudian, Autumn mulai mengatur napas dan kembali menenangkan diri. Tiba-tiba, dia teringat dengan tugas dari Gabriel yang belum sepenuhnya diselesaikan. Seperti yang telah diketahui, Autumn harus mengerjakan semua tugas Elloise sebagai hukuman baginya.


Gadis bermata abu-abu itu meraup wajah dan rambut dengan kasar. Kepalanya terasa akan pecah saat itu. Sekitar tiga minggu tersisa bagi Autumn dalam menjalani magang di kantor The Royal Royce. "Menyebalkan!" gerutunya dengan jengkel. Dia lalu mengempaskan tubuh ke atas kasur. Ditatapnya langit-langit kamar. Setelah itu, dia melihat ke luar jendela. Entah kenapa, dirinya ingin mendekat ke sana.


Autumn lalu bangkit dan berjalan ke arah jendela yang tidak terlalu lebar itu. Dia berdiri di sana sambil memandang ke luar, menerawang suasana malam kota Paris pada awal musim gugur. "Ben ...." desah napasnya terdengar begitu pelan. Berat rasanya untuk menghapuskan nama itu dari hati dan pikiran. Autumn sepertinya tak akan mampu untuk menjauh dari pria tersebut.


Pandangan gadis cantik itu kemudian beralih pada tas kecil yang tergeletak begitu saja di atas kasur. Dia tahu jika Benjamin terus mencoba untuk menghubunginya sejak tadi, tetapi tidak dia hiraukan. Ada rasa sesal dalam hati yang kemudian membuat Autumn merasa perlu untuk kembali membuka ponsel, dan memeriksa semua pesan yang Benjamin kirimkan. Autumn kemudian kembali ke dekat tempat tidur dan merogoh benda itu dari dalam tas.


Duduk nyaman di atas kasur empuk berlapis sprei berwarna pastel, gadis itu kembali memeriksa kotak masuk. Ada beberapa pesan dari kekasihnya yang belum sempat dia buka. Pria itu menanyakan keadaan Autumn. "Ben ...." desah gadis bermata abu-abu tersebut saat mengingat sang pria pujaan. Rasa hati ingin menghindar, tetapi cinta itu menariknya begitu kuat dan membuat Autumn tak kuasa untuk melawan. Pada akhirnya, dia mengalah dan menghubungi pria berparas rupawan itu.


"Elle, kau di mana?" terdengar suara berat Benjamin yang begitu menggoda di pendengarannya.


"Aku di rumah, Ben. Aku ...." Autumn tidak melanjutkan ucapannya. Dia bingung harus berkata apa terhadap pria yang sangat dirinya cintai tersebut. Gadis berambut cokelat itu pun memilih untuk diam membisu.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Elle. Apakah harus kukatakan itu setiap saat agar kau yakin akan perasaanku?" helaan napas Benjamin begitu dalam. Keresahan yang dirasakan pria tiga puluh lima tahun tersebut, membuat dirinya merasa tak menentu. "Tuan Hillaire ingin agar aku memperjuangkanmu. Dia mengira bahwa aku ini seorang pengecut. Katakan padanya, Benjamin Royce tidak akan mundur meski hanya selangkah untuk menjauh darimu. Cukup satu kali bagiku merasakan kehilangan seseorang yang teramat dicintai. Aku tak ingin itu terulang lagi. Kau boleh tidak meyakini niat tulus ini, tapi semuanya akan kubuktikan padamu," yakin dan penuh penekanan ucapan yang terlontar dari bibir sang pemilik The Royal Royce itu kepada Autumn, membuat gadis tersebut segera menyunggingkan sebuah senyuman di wajah cantiknya.


"Apa yang akan kau lakukan, Ben?" tanya Autumn pelan, tetapi seakan menantang pria yang tengah menjadi lawan bicaranya di telepon.


"Apa yang akan kulakukan? Kau ingin tahu, Elle?"


"Ya, tentu saja. Setidaknya aku memiliki sebuah bayangan untuk dipertimbangkan," sahut Autumn dengan puas. Dia hanya ingin melihat sampai sejauh mana Benjamin dapat mempertahankan dirinya dan hubungan mereka.


"Aku bukan tipe pria yang berbicara dulu baru beraksi. Aku akan melakukan sesuatu, setelah itu kau lihat sendiri hasilnya seperti apa," jelas Benjamin penuh percaya diri, membuat senyuman di wajah Autumn kian terkembang. Gadis itu boleh berbangga hati atas semua kata-kata dan sikap Benjamin padanya selama ini.


Benjamin tertawa pelan. "Terserah kau akan menganggap itu apa. Satu hal yang pasti, aku harap kau tidak bersembunyi apalagi sampai melarikan diri. Ingatlah, aku akan selalu mengejar ke manapun kau pergi. Kau tahu kenapa, Elle?" suara Benjamin terdengar semakin dalam di telinga Autumn.


"Aku tidak ingin menebak-nebak," balas Autumn dengan pipinya yang kian merona.

__ADS_1


"Sekali kau membuka dan memasuki pintu hatiku, maka selamanya ia akan terkunci dan tertutup rapat. Kau boleh mencari jalan untuk melarikan diri, tapi aku yakinkan bahwa itu hanya akan membuatmu merasa lelah karena berlari. Jadi, kusarankan agar sebaiknya kau duduk manis dan menungguku untuk ikut masuk bersamamu," tutur Benjamin dengan nada bicaranya yang terdengar aneh.


"Kau ingin mengurungku, Ben?" tanya Autumn seraya menautkan alisnya.


"Tak hanya mengurung. Aku bahkan akan merantai dirimu jika perlu. Apapun akan kulakukan, selama itu bisa membuat Autumn tidak pergi dariku," sahut Benjamin tenang.


"Apapun? Sepertinya kau berhasil membuatku terkesan, tuan Royce," balas Autumn sambil terus tersenyum. "Ya, kau akan selalu membuat siapa pun terkesan olehmu," gumam gadis itu lagi menerawang. "Aku tak ingin musim gugur kali ini menjadi musim yang kelabu. Biarlah daun-daun berguguran ke tanah, tapi aku ingin tetap berada di atas ranting pohon yang tinggi dan menikmati angin, meskipun terasa dingin."


"Kau akan bisa menaklukannya. Aku yakin bukan hanya angin yang bisa dirimu tundukan, tapi juga hujan dan panas. Kau harus menyadari kekuatan besar yang dirimu miliki selama ini. Kekuatan itu pula yang telah membuatku mengaku kalah. Aku takluk dan tunduk pada cintamu. Kau adalah gadis muda yang sangat luar biasa. Teramat luar biasa," kata-kata Benjamin saat itu terdengar begitu dalam, membuat Autumn kembali merasa teranjung.


Senyuman penuh kebahagiaan, terpancar jelas di wajah gadis cantik berambut panjang itu. Rona ceria kembali menghampiri, serta menyibakan warna kelabu yang menggelayuti paras rupawannya. Jika Benjamin merasa dirinya telah berhasil ditaklukan oleh seorang Autumn, maka gadis itu merasa bahwa dia sudah berhasil ditawan oleh seorang Benjamin. Pria itu telah menawannya dengan sebuah kata-kata indah, dan juga perlakuan yang membuat Autumn ternyata tak ingin melarikan diri. Dia lebih bahagia berada dalam kungkungan asmara, dengan hiasan rantai kemesraan yang menggebu. Sesuatu yang pria bermata abu-abu itu persembahkan baginya.


"Kau memang perayu ulung, tuan Royce," sindir Autumn.

__ADS_1


"Itulah diriku, nona Hillaire," sahut Benjamin.


__ADS_2