The Gray Autumn

The Gray Autumn
Sekotak Macaron


__ADS_3

"Kau carikan saja dulu. Ingat, yang terbaik di kota Paris," tegas Benjamin membuat Majorie tak berani membantah. Wanita muda itu pun mengangguk setuju.


"Apa ada lagi yang Anda perlukan, Tuan?" tawar Majorie kembali.


"Untuk saat ini hanya itu. Aku ingin dalam dua hari kau sudah mendapatkannya," tegas Benjamin dengan raut wajah yang serius.


"Baik, Tuan," Majorie mengangguk. Setelah itu, dia keluar dari ruangan sang atasan dan kembali menuju meja kerjanya.


Sedangkan Benjamin tampak bersiap untuk pulang. Dia harus membicarakan rencana pernikahan bersama Fleur, meskipun dirinya tak yakin akan seperti apa tanggapan dari gadis kecil tersebut. Benjamin melangkah dengan gagah menuju lift. Setelah masuk dan tiba di lantai bawah, dia melanjutkan langkah menuju pintu keluar gedung. Pikirannya kini tertuju kepada sang putri. Dalam hati, dia terus mencoba untuk merangkai kata-kata yang nantinya akan diucapkan kepada Fleur. Namun, sebelum dirinya sempat masuk ke mobil, ada seseorang yang menyapa. Benjamin lalu menoleh.


Gabriel telah berdiri tak jauh darinya. Pria bermata hijau itu berjalan menghampiri sang atasan yang kembali menutup pintu mobil. "Anda akan pulang, Tuan Royce?" tanya Gabriel setelah berdiri tepat di hadapan Benjamin.


"Ya. Ada sesuatu yang penting?" tanya pria bermata abu-abu itu.


"Ini hanya masalah pekerjaan, tentang event untuk musim panas mendatang. Aku belum sempat memberitahukannya kepada Anda, karena kemarin-kemarin ada banyak insiden di dalam timku," tutur Gabriel.


"Insiden?" Benjamin mengernyitkan keningnya.


Gabriel mengangguk seraya tersenyum kecil. Akan tetapi, sebelum dirinya sempat mengatakan sesuatu, tampaklah Autumn yang baru kembali dari istirahat makan siang. "Elle!" panggil Gabriel. Gadis berambut panjang itu menoleh. Namun, tatapannya justru tertuju kepada Benjamin. "Kemarilah, Elle," ajaknya. Autumn yang berada beberapa langkah dari kedua pria itu, kemudian berjalan tenang menuju ke arah mereka. "Ide menarik nona Hillaire terpilih untuk mengisi event musim panas mendatang. Aku akan menyerahkan laporan lengkapnya nanti," ujar Gabriel.

__ADS_1


"Oh, selamat. Kau pasti memiliki ide yang bagus sehingga bisa terpilih," Benjamin menanggapi. Dia menatap Autumn dengan sorot mata penuh arti. Sedangkan gadis itu tidak ingin menanggapinya. Dia tahu jika Gabriel memang sengaja melakukan hal itu, berhubung pria tersebut telah mengetahui hubungan antara dirinya dengan Benjamin.


"Terima kasih, Tuan Royce. Aku permisi dulu, karena tuan Archambeau memberikan tugas pekerjaan yang sangat banyak padaku," selesai berkata demikian, Autumn segera berlalu dari hadapan kedua pria tampan yang sama-sama mengiringi langkahnya dengan tatapan menuju pintu masuk.


Setelah gadis itu menghilang di dalam bangunan tinggi tersebut, Benjamin kembali mengarahkan pandangannya kepada Gabriel. "Apa ada sesuatu yang terjadi di bagianmu, Tuan Archambeau?" tanyanya penuh selidik.


"Tidak ada yang serius. Nona Hillaire kini menggantikan nona Lavigne dengan segala tugas-tugasnya," terang Gabriel.


"Nona Hillaire hanya karyawan magang di sini. Bagaimana bisa dia tiba-tiba menggantikan posisi nona Lavigne?" Benjamin mengernyitkan kening. Namun, lagi-lagi Gabriel hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman yang membuat Benjamin semakin merasa ingin tahu. Sayang, karena saat itu ponsel yang tersimpan di salam saku blazer terasa bergetar. Dengan segera, pria bermata abu-abu tersebut memeriksanya. Adalah sebuah pesan masuk yang berasal dari Fleur. Gadis kecil itu terus meminta sang ayah agar segera pulang. Sementara Gabriel pun memilih untuk berpamitan dan kembali masuk ke kantor, karena waktu istirahat makan siang telah berakhir. Sepeninggal Gabriel, Benjamin segera masuk ke mobil dan melajukan kendaraannya dari halaman parkir gedung perkantoran itu.


Sebelum menuju ke kediamannya, Benjamin terlebih dahulu mampir ke sebuah toko kue ternama di sana. Dia membeli sekotak macaron dan juga mousse au chocolat. Kedua makanan itu merupakan kesukaan Fleur. Selesai dari toko kue, barulah dirinya melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah.


"Masuklah, Papa!" terdengar suara Fleur yang cukup nyaring dari dalam kamarnya. Tanpa berlama-lama, Benjamin segera masuk dan mendapati gadis kecil itu tengah duduk di atas kursi roda sambil menonton televisi. "Hai, Papa," wajah ceria Fleur terlihat jelas. Mungkin saja suasana hatinya sedang baik. Ini akan menjadi moment yang tepat bagi Benjamin.


"Apa kau sedang merasa senang, Fleur?" tanya Benjamin seraya duduk di tepian ranjang. Dia meletakkan makanan yang dibawanya.


"Acara televisinya sangat lucu. Aku tidak bisa berhenti tertawa sejak tadi," sahut gadis kecil berambut cokelat tembaga itu. Dia lalu mengalihkan perhatian pada dua kotak yang Benjamin letakkan di atas meja sebelah tempat tidur. "Apa itu?" tanya Fleur. Namun, sebelum sang ayah sempat menjawab, sepasang matanya tampak berbinar indah. "Apakah itu makanan kesukaanku?" terkanya.


Benjamin tersenyum seraya mengangguk pelan. Diambilnya kotak berisi macaron, kemudian dia buka penutup kotak tersebut. Tampaklah kue kering dengan aneka warna yang cantik dan menggugah selera. "Kubelikan khusus untukmu dari toko kue ternama di kota ini," ucap pria itu masih dengan senyuman kalem. "Ayo, cicipilah," suruhnya. Tanpa diminta, Benjamin menyodorkan botol hand sanitizer kepada sang putri. Dengan senyuman lebar, Fleur menerima dan segera menyemprotkan cairan itu pada telapak tangan. Barulah dia mengambil satu buah macaron berwarna merah muda, kemudian mencicipi kue tersebut. "Kau menyukainya?" tanya Benjamin lembut. Perasaannya begitu damai, ketika melihat gadis kecil itu kembali ceria seperti dulu.

__ADS_1


Fleur memang anak yang berwatak keras sejak kecil. Dia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Anak itu juga akan berusaha dan pantang menyerah untuk bisa mewujudkan apa yang menjadi impiannya. Terlihat kembali tawa lebar gadis kecil berusia sepuluh tahun itu. Hal tersebut membuat Benjamin berpikir ulang, untuk membahas rencana pernikahannya dengan Autumn. Dia yakin jika perbincangan itu akan merusak suasana hati Fleur. Pria bermata abu-abu itu pun hanya terdiam, sambil terus memperhatikan Fleur yang tengah asyik menonton televisi sambil menyantap macaron kesukaannya.


"Papa tidak ikut mencicipi?" Fleur menyodorkan kotak macaron itu kepada sang ayah.


"Tidak usah. Aku membelikan itu khusus untukmu," tolak Benjamin dengan halus. Dia lalu mengela napas panjang dan mengempaskannya perlahan. Beban berat itu mulai dirasakan menghimpit perasaan. "Di mana bibi Aamber?" tanya Benjamin kemudian.


"Bibi sedang di kamarnya. Tadi dia mengeluh sakit pinggang. Aku rasa, mungkin bibi kelelahan karena harus merawatku sepanjang hari," ujar Fleur yang tiba-tiba terlihat sendu.


"Ya. Aamber memang sudah terlalu tua untuk menjadi seorang pengasuh. Aku juga ingin agar dia tidak terlalu terbebani dengan tugasnya. Bagaimana menurutmu?" Benjamin seakan mendapat sebuah jalan untuk mulai mengungkapkan maksud hatinya.


"Aku menyayangi bibi. Teman-temanku di Marseille, mengatakan bahwa bibi seperti nenekku. Dia terlalu baik untuk menjadi seorang pengasuh," ujar Fleur dengan senyuman manis.


Benjamin mengangguk pelan. Dia membelai pucuk kepala Fleur dengan lembut. "Kau beruntung karena memiliki pengasuh yang baik seperti Aamber. Aku sangat bahagia melihatnya," ucap pria itu penuh kasih.


"Bibi sangat perhatian dan juga mengetahui apa yang terbaik bagiku. Sayangnya, sekarang dia sering mengeluh sakit pinggang, apalagi jika harus membantuku ke kamar mandi."


"Bagaimana jika kucarikan seseorang yang jauh lebih muda untuk merawatmu hingga sembuh, dan bisa kembali berjalan seperti dulu?" tawar Benjamin dengan raut yang terlihat antusias.


Namun, Fleur tidak segera menjawab. Dia menatap sang ayah dengan lekat dan penuh selidik. "Memangnya siapa?" tanya Fleur.

__ADS_1


"Elle," jawab Benjamin dengan begitu lugas.


__ADS_2