The Gray Autumn

The Gray Autumn
Échelle


__ADS_3

Autumn tersentak sembari menoleh. Kesal, ia berusaha melepaskan cengkeraman tangan pria yang tiada lain adalah Leon. Entah apa yang tengah pria itu lakukan di sana. "Jangan mengundang perhatian, Elle. Aku hanya ingin bicara denganmu," tegas Leon dengan setengah berbisik.


"Aku tidak mau!" tolak Autumn. Ia berkali-kali menoleh kepada Fleur yang tengah memperhatikannya dengan aneh. "Lepaskan tanganku, Leon!" sergah Autumn. Ia terus menolak. Akan tetapi, Leon tak mau melepaskan cengkeraman tangannya. Pria itu terus membawa Autumn keluar dari ruangan tersebut, meskipun Autumn menolak.


Melihat ada sesuatu yang dirasa tak beres, Fleur memberanikan diri untuk mengikuti mereka. Gadis kecil itu terus berjalan dengan pandangan yang tak lepas dari sosok Autumn dan Leon yang entah akan menuju ke mana. Tubuh mungilnya sesekali harus menelusup masuk di antara orang-orang dewasa, yang tak peduli karena tengah asyik menikmati pesta.


Leon membawa Autumn ke tangga menuju lantai dua. Ia berhenti di sana dan menahan gadis itu agar tak pergi ke mana-mana. Sialnya, suasana di area lantai dua itu begitu sepi, karena orang-orang akan jauh lebih memilih lift untuk bisa naik menuju ke lantai tiga.


"Apa-apaan ini? Sudah kukatakan bahwa aku tak ingin lagi bicara dengammu!" tolak Autumn tegas. Ia bermaksud untuk pergi dan menghindari pria itu. Namun, dengan segera Leon menghalangi pergerakan gadis tersebut dengan menggunakan kedua tangannya yang ia letakan di sisi kiri dan kanan Autumn.


"Maaf, Elle. Untuk kali ini aku tak akan mengalah begitu saja seperti hari-hari kemarin! Aku ingin bicara dan memastikan kelanjutan dari hubungan kita!" Leon juga tak kalah tegas.


Akan tetapi, Autumn hanya menyunggingkan senyuman sinis. "Apa yang harus di bahas dari hubungan kita? Tak ada lagi, Leon? Tak ada hubungan, jadi tidak ada sesuatu yang perlu kita bahas!" tegas Autumn meski dengan nada bicara yang masih ia kontrol dengan baik. "Lagi pula, sedang apa kau di sini?" tanya gadis itu penasaran karena Leon berada di pesta itu.

__ADS_1


"Aku dan Joelene saling mengenal. Dulu ia adalah model di salah satu agency, di mana aku menjadi photographernya. Aku tak tahu jika kau dan Joelene bersahabat," terang Leon. "Ah, sudahlah! Tidak terlalu penting membahas hal itu, karena yang terpenting saat ini adalah hubungan kita," desak Leon berapi-api. Sementara Autumn kembali tersenyum penuh cibiran terhadapnya.


"Aku serius, Elle! Selama beberapa hari ini aku mencari tahu tentang sesuatu. Sekarang aku sudah memahaminya dengan baik!" Leon berkata dengan penuh penekanan. Ia terdengar sangat marah. Sementara Autumn tak ingin meladeninya. Gadis itu masih berusaha untuk menghindar.


"Jadi, pria itu adalah Benjamin Royce? Ow, sangat menarik. Lajang kaya raya, tampan, tapi memiliki hubungan percintaan yang buruk dengan beberapa wanita. Pria seperti itukah yang kau pilih, Elle? Astaga! Sejak kapan kau menjadi begitu matrealistis?" cibir Leon.


"Tutup mulutmu dan biarkan aku manjalani apapun yang kuinginkan! Kau tak berhak berkomentar apapun, karena dirimu pun sama saja! Selama kita menjalin hubungan, kau bersikap semaumu, sekehendakmu, tanpa memikirkan perasaanku! Contohnya adalah ketika kau tiba-tiba menghilang selama berhari-hari dan tak bisa kuhubungi! Jadi, aku harus percaya begitu saja bahwa kau pergi ke Meksiko? Oh, betapa naifnya diriku jika masih saja selalu menuruti semua kata-katamu! Untuk saat ini dan seterusnya, aku harap kau segera menjauh dariku! Pergilah sejauh mungkin, jangan hanya ke Meksiko! Aku bahkan tak akan peduli lagi meskipun kau memutuskan untuk menetap di luar angkasa! Itu jauh lebih baik bagiku!" tegas Autumn dengan jengkel. Dengan berani ia mendorong tubuh Leon agar menyingkir dari hadapannya.


Fleur yang sedari tadi memperhatikan adegan tersebut dari bagian atas tangga, merasa begitu khawatir dengan Autumn. Gadis kecil itu bergegas turun dan menghampiri keduanya. "Elle!" panggil Fleur nyaring dan tampak terburu-buru menuju ke arah Autumn.


Mendengar suara Fleur di sana, Autumn menjadi begitu terkejut. Ia terus berusaha melepaskan diri dari Leon, sedangkan Fleur berusaha untuk membantunya. Ia menarik bagian belakang pakaian Leon dengan sekuat tenaga, membuat pria itu merasa terganggu. Leon yang kalap, menepiskan tubuh gadis kecil itu hingga Fleur hilang kendali dan akhirnya terjatuh dari tangga. Tubuh mungilnya menggelinding dan menuruni undakan anak tangga, hingga akhirnya terkapar di lantai dengan beberapa luka di wajahnya.


"Fleur!" pekik Autumn histeris. Leon pun ikut terkejut. Ia sama sekali tak bermaksud melakukan hal itu terhadap Fleur. Leon menjadi lengah, dan hal tersebut Autumn manfaatkan untuk menjauhkan Leon dari dirinya. Autumn bergegas menuruni anak tangga dan mendekat kepada Fleur yang terlihat tak berdaya. Ia melihat ada beberapa luka pada tubuh gadis itu.

__ADS_1


"Fleur, apa kau bisa mendengarku?" tanya Autumn panik, sementara Leon masih berdiri terpaku.


Perlahan Fleur membuka matanya. "Elle ... sakit ...." rintih gadis kecil itu pelan. Ia tak menangis atau semacamnya. Fleur hanya meringis menahan sakit.


"Aku akan menghubungi Ben. Bertahanlah!" dalam kepanikannya, Autumn merogoh ponsel dari dalam clutch bag yang sedari tadi ia genggam dan mulai menghubungi Benjamin yang saat itu tengah mencari-cari mereka. Benjamin sudah berusaha menghubungi Autumn, tetapi gadis itu tak sempat memeriksa ponselnya karena sibuk dengan Leon.


"Elle, kalian di mana? Aku tidak bisa menemukanmu dan juga Fleur," tanya Benjamin yang terus mengedarkan pandangannya ke setiap sudut tempat itu. Mata abu-abunya menyapu satu per satu wajah para tamu, untuk mencari keberadaan Autumn dan juga Fleur.


"Ben, kemarilah. Aku dan Fleur ada di tangga menuju lantai dua ...." Autumn terdengar begitu panik dan tentu saja membuat Benjamin menjadi khawatir.


"Apa yang terjadi, Elle?" tanya Benjamin lagi dengan cemas seraya keluar dari ruangan itu dan menuju ke tempat yang Autumn sebutkan. Benjamin menyusuri beberapa lorong hingga akhirnya tiba di sana.


"Elle, kalian di mana?" tanya Benjamin lagi. Ia kemudian menuruni tangga dengan terburu-buru, tetapi tetap berhati-hati. Di sana, dirinya sempat berpapasan dengan Leon. Namun, seketika langkah Benjamin terhenti saat melihat keadaan putri kesayangannya yang tengah terkapar di atas lantai dengan beberapa luka.

__ADS_1


__ADS_2