The Gray Autumn

The Gray Autumn
The Gray Autumn


__ADS_3

"Ada apa, Elle? Tolong jangan membuatku takut," pinta Benjamin seraya mengajak Autumn untuk duduk. Dia merengkuh pundaknya, sehingga gadis cantik itu mau tak mau harus menyandarkan kepala di atas bahu pria tersebut. Benjamin kemudian mengusap-usap lengan Autumn sambil sesekali mengecup rambut cokelat sang kekasih dengan lembut. "Aku harap kau tidak berpikir yang macam-macam," ucapnya pelan. Dia masih berusaha untuk tetap terlihat tenang, meskipun dalam hati mulai merasakan sebuah kegelisahan yang sulit untuk dijabarkan.


"Kenapa kau harus merasa takut, Ben?" tanya Autumn pelan.


"Mengapa kau masih bertanya 'kenapa'? Kau sudah mengetahui jawabannya seperti apa. Salahkah jika aku merasa takut?" Benjamin balik bertanya. Sekali lagi, pria itu mengecup pucuk kepala Autumn dengan penuh perasaan.


Terdengar helaan napas pelan, yang meluncur dari bibir berpoleskan lipstik warna peach milik Autumn. Dalam tarikan napas itu, seakan ada sebuah beban yang berat dan mungkin sulit untuk Autumn singkirkan. "Apakah Fleur baik-baik saja?" tanyanya.


"Aku sudah bicara sekaligus memberikan pengertian padanya. Entah putriku dapat menerima hal itu atau tidak, tapi satu yang pasti bahwa dia sebenarnya sudah bisa memahami situasi di antara kita. Kau tahu, Elle? Fleur merasa takut. Dia telah berpikir jauh ke depan," tutur Benjamin dengan tatapan menerawang pada pemandangan berwarna oranye, yang terhampar di sekitar area taman tersebut.


"Maksudnya?" Autumn sedikit mendongak, demi memandang paras rupawan yang selalu dia kagumi, dari semenjak awal pertemuanya dengan pria itu.


Benjamin tersenyum simpul. Pria itu kemudian mengela napas dalam-dalam dan mengempaskannya perlahan. Sejenak dia memejamkan mata, lalu tertawa pelan. "Kau tahu apa yang menjadi ketakutan Fleur selama ini?"


"Apa?" Autumn terdengar begitu penasaran.

__ADS_1


"Fleur mengatakan bahwa setelah menikah nanti, aku pasti akan memiliki bayi. Dia takut jika aku ataupun kau tak menyayanginya dengan perasaan yang sama," terang Benjamin dengan tenang.


Seketika Autumn menegakkan tubuh, kemudian menatap sang kekasih yang kini menoleh padanya. "Aku belum memikirkan untuk segera memiliki seorang bayi," bantah gadis itu sambil meringis kecil. "Ah, tidak. Apakah menurutmu sesederhana itu alasannya? Entahlah, Ben. Akan tetapi, aku merasakan ada sesuatu yang lebih dari itu," ucap Autumn kemudian dengan begitu yakin.


"Sesuatu yang bagaimana menurutmu, Elle?" Benjamin menatap lekat gadis cantik bermata abu-abu tersebut. "Fleur hanya anak kecil berusia sepuluh tahun. Dia bahkan menangis tersedu-sedu saat aku berbicara dengan nada agak tinggi terhadapnya. Kau pikir anak seusia dia bisa bersiasat?"


"Kau tidak melihat sikapnya padaku?" protes Autumn. Perasaan jengkel itu kembali menguasai dirinya. Autumn yang awalnya menghadap kepada Benjamin, langsung saja mengubah posisi. Dia menghadap lurus ke depan sambil melipat kedua tangan di dada. Raut wajahnya pun terlihat masam. Sikap manja gadis itu muncul, ketika dia merasa bahwa Benjamin masih saja membela kesalahan yang dilakukan Fleur padanya.


"Elle, tolong mengertilah. Aku harus bisa menempatkan diri di antara kau dan juga Fleur. Kau adalah calon istriku, sedangkan Fleur putri kandungku ...."


"Putri yang tidak pernah bersedia menerima calon istri ayahnya," sela Autumn dengan ketus.


"Bayangkan untuk anak berumur sepuluh tahun. Dia tidak memiliki seorang ibu. Jika bukan aku yang menjaga dan melindungi, maka akan kepada siapa anak itu meminta haknya? Seberapa berdosanya aku, jika membiarakn Fleur berada dalam sebuah tekanan besar yang membuat dirinya merasa tak nyaman. Aku ingin mencari jalan lain. Kumohon padamu yang telah berusia cukup dewasa, untuk bisa bersikap jauh lebih pengertian. Ingat, Elle. Aku bersikap seperti ini bukan untuk membenarkan apa yang telah Fleur lakukan terhadapmu. Aku hanya ingin agar kita semua bisa berkumpul bersama, menikmati musim dingin mendatang di dekat perapian sambil bercengkerama. Apakah harapanku itu terlalu muluk-muluk menurutmu?" Benjamin mengalihkan tatapannya kepada Autumn yang masih terlihat cemberut. Dia kembali merengkuh mesra pundak gadis itu.


"Kalau begitu, berikan aku waktu sejenak," ucap Autumn kemudian.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Benjamin datar.


"Untuk menenangkan diri sekaligus berpikir. Aku ingin mengambil sedikit jarak denganmu, untuk dapat mengetahui seberapa besar keyakinanku atas keputusan besar ini," jelas gadis itu dengan sangat yakin.


Benjamin tidak menjawab. Tatapannya pun kian lurus ke depan, tetapi terkesan kosong setelah mendengar penjelasan dari Autumn. Dia tak tahu harus berkata apa, karena ucapan gadis di sebelahnya itu terasa begitu sulit untuk dapat dirinya cerna dengan baik. "Jangan, Elle," pinta Benjamin pelan. Sedikit memohon, pria itu kemudian menundukan wajahnya.


"Aku sudah mengambil keputusan itu, Ben. Tangguhkan sementara rencana pernikahan kita, sampai diriku merasa benar-benar siap dan rasa benci Fleur padaku mungkin bisa berkurang. Kalaupun anak itu tetap membenciku, setidaknya aku sudah mempersiapkan mental dengan baik untuk dapat menghadapi seberat apapun badai yang akan datang menerjang. Aku mohon padamu, berikan diriku sedikit ruang untuk dapat bernapas," perlahan Autumn melepaskan rangkulan Benjamin dari dirinya. Dia lalu berdiri. Akan tetapi, saat itu Benjamin pun ikut berdiri sambil meraih pergelangan tangan Autumn. Pria bermata abu-abu itu menggeleng perlahan. Dia meminta agar Autumn tak melakukan apa yang dirinya katakan tadi.


Namun, keputusan gadis itu sudah bulat. Dia melepaskan genggaman Benjamin dari pergelangannya. Gadis itu kemudian menghadapkan tubuh pada pria tampan tersebut. Ditangkupnya paras rupawan ayah satu anak itu. Tanpa ragu, Autumn kembali menciumnya dengan begitu mesra untuk beberapa saat, meskipun saat itu Benjamin hanya mematung. "Tunggulah aku, karena gadis ini pasti akan kembali padamu. Bagaimanapun juga, rasa cintaku kepadamu jauh lebih besar dari penolakan yang diberikan Fleur terhadapku. Karena itu, jika kau memang memiliki perasaan yang sama dan bersedia untuk menanti, maka ... aku pasti akan menemuimu lagi."


"Berapa lama, Elle?" tanya Benjamin datar seraya menatap lekat gadis yang telah berhasil membuat dunianya menjadi tidak karuan.


"Tidak akan lama, Ben. Aku janji akan segera kembali dan menemuimu," jawab Autumn pelan.


"Memangnya kau akan ke mana?" tanya Benjamin lagi memohon agar gadis itu mengurungkan keputusannya.

__ADS_1


"Ke suatu tempat yang kuharap tidak kau ketahui," jawab Autumn kemudian. Perlahan gadis itu bergerak mundur dan mulai menjauh. Seutas senyuman terlihat menghiasi paras cantiknya, sebelum dia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Benjamin yang masih terpaku. Entah kenapa, pria itu seperti kesulitan untuk dapat menggerakkan kakinya. Dia bahkan tak mampu hanya sekadar meneriakkan nama Autumn agar gadis itu berhenti melangkah.


Daun-daun berjatuhan seperti air mata yang kini menetes di sudut bibir Autumn. Gadis itu baru merasakan bahwa ternyata jatuh cinta itu sangat indah, tetapi juga teramat menyakitkan. Entah keputusannya ini benar atau tidak. Namun, dia hanya ingin mengetahui apa yang akan Benjamin lakukan tanpa dirinya.


__ADS_2