The Gray Autumn

The Gray Autumn
Homme Sympathique


__ADS_3

"Ya, aku masih mengingatnya. Aku hanya ingin memastikan. Itu saja," kilah Gabriel tenang.


"Aku akan masuk besok. Kau tidak perlu khawatir," ucap Autumn lagi dengan perasaan risih yang mulai mengusiknya. "Bagaimana kau bisa kemari hari ini? Um ... maksudku kedatanganmu benar-benar tepat waktu," gadis berambut cokelat itu menautkan alisnya. Sorot mata abu-abunya terlihat penuh dengan rasa penasaran. Sedangkan Gabriel hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Sebelum pria itu menjawab, terdengar bunyi klakson dari arah belakang yang membuat mereka berdua serempak menoleh. Mobil milik Edgar tampak di sana.


"Oh, tidak," gumam Autumn dengan sangat pelan. Dia menjadi salah tingkah, ketika sang ayah turun dari dalam mobilnya.


Pria itu melangkah ke arah mereka sambil melepas kaca mata hitam yang dia kenakan. Edgar pun berdiri di antara mereka berdua. Untuk sejenak, dia menatap lekat kepada Gabriel. Pria paruh baya tersebut mengamati pria muda di hadapannya dengan saksama. Edgar seakan tengah menelaah siapakah sosok berambut pirang dengan mata berwarna hijau itu.


Sesaat kemudian, Edgar mengalihkan tatapannya kepada Autumn yang masih memegangi gagang kopernya. "Apa kau baru kembali, Elle?" tanyanya.


Autumn mengangguk. "Iya. Aku baru saja tiba, Yah," jawab gadis dengan tatapan yang tertuju ke segala arah. Ini adalah kali pertama Edgar memergoki dirinya bersama seorang pria.


"Kenapa kau tidak mengajak temanmu untuk masuk? Ayo, masuklah. Kebetulan hari ini ibumu katanya sedang membuat sesuatu. Semoga saja dia membuatnya dalam jumlah yang cukup banyak," ucap Edgar dengan sebuah senyuman ramah yang dia layangkan terhadap Gabriel.


"Apa kabar, Tuan Hillaire," tanpa rasa canggung, Gabriel menyapa serta menyalami Edgar dengan hangat dan akrab. Pria berambut pirang itu tak terlihat gugup sama sekali. Dia justru tampaknya merasa senang karena dapat bertemu langsung dengan Edgar. "Sudah kuduga, jika nama belakang Autumn adalah milik Anda, Tuan. Mungkin karena itulah Autumn pun sama cerdasnya dengan Anda sebagai ayahnya," sanjung Gabriel yang segera memamerkan senyuman lebar dan manis di wajahnya.


"Oh, jangan terlalu berlebihan. Elle tidak menyukai jika nama besar ayahnya menjadi bayangan untuknya. Itu kalimat yang sering dia katakan dari semasa sekolah dulu," ujar Edgar dengan bernada candaan. "Jadi, siapa sebenarnya Anda?" Edgar mulai penasaran dengan pria muda berwajah rupawan itu.


"Gabriel Archambeau. Aku adalah kepala marketing di kantor The Royal Royce," terang pria bermata hijau itu masih dengan mimik wajah yang sama. Senyuman ramah khas dirinya pun tak juga sirna dari wajah tampannya yang sangat khas ala pria Eropa.


"Oh, menarik. Baiklah, sebaiknya kita lanjutkan perbincagan ini di dalam saja," ajak Edgar. Dia lalu mengalihkan tatapannya kepada Autumn. "Elle, ajak tuan Archambeau untuk masuk," suruhnya. Tanpa menunggu jawaban dari putri sulungnya tersebut, Edgar segera kembali menuju mobilnya. Dia pun melajukan kendaraan mewah itu memasuki halaman ketika pintu gerbang telah terbuka.


Sedangkan Autumn merasa tak nyaman. Dia memandang aneh kepada Gabriel. Kedua alisnya saling bertaut. Sorot mata gadis cantik itu seakan ingin melakukan protes. Dia berharap agar Gabriel menolak ajakan sang ayah, tapi nyatanya pria berusia tiga puluh tahun itu justru menerimanya dengan senang hati. "Apa-apaan ini?" gumam Autumn sambil berjalan masuk ke halaman luas kediaman mewahnya.

__ADS_1


"Wow, luar biasa. Rumahmu sangat megah, Elle," sanjung Gabriel lagi merasa takjub. Dia terus mensejajari langkah cepat Autumn hingga tiba di tangga menuju teras.


"Ini rumah ayahku, bukan rumahku," jawab Autumn seperlunya. Perasaan gadis itu menjadi semakin kacau saja. Belum hilang rasa jengkel yang dia bawa dari Marseille, kini dirinya langsung disuguhi sesuatu yang entah akan berakhir seperti apa. Oh, Autumn tak ingin memikirkan apa yang akan Edgar dan Gabriel bahas nanti saat di dalam.


"Apa kau membawa oleh-oleh untukku, Elle?" Darren yang saat itu tengah asyik bermain game di ponsel, menoleh kepada sang kakak yang baru masuk.


"Bawakan koperku. Nanti akan kuberi kau oleh-oleh dari Marseille," suruh Autumn dengan seenaknya. Sementara perhatian Darren kini mulai tertuju kepada Gabriel. Pria itu jelas bukan Benjamin yang dilihatnya berciuman dengan sang kakak beberapa malam ke belakang. Lalu, siapa lagi itu? pikir Darren.


Pemuda berusia dua puluh tahun tersebut, kemudian beranjak dari duduknya. Dia lalu menghampiri Autumn yang masih berdiri di sebelah Gabriel. "Apa kabar, Tuan ...." Darren terdiam. Dia tak tahu siapakah pria asing yang datang bersama sang kakak.


"Archambeau," lanjut Gabriel dengan segera, sambil menyambut jabat tangan dari Darren. Seperti biasa, Gabriel menunjukan sikap ramahnya.


"Oh, Tuan Archambeau," Darren membalas sikap ramah Gabriel. "Namaku Darren. Aku adalah adiknya Elle, meskipun aku yakin bahwa dia tak menginginkan hal itu," celoteh pemuda berambut agak gondrong tersebut sambil melirik nakal kepada Autumn.


"Seperti itukah sikap kalian dihadapan tamu?" sela Arumi yang tiba-tiba hadir di antara ketiga muda-mudi itu. Dia melihat kepada Gabriel dan seakan menelisik pria berambut pirang yang sejak tadi menyambutnya dengan sebuah senyuman. "Siapa ini, Elle?" tanya Arumi.


"Ibu, ini Gabriel. Gabriel, ini ibuku," Autumn memperkenalkan mereka berdua dengan agak malas-malasan. Sebenarnya dia merasa begitu lelah dan ingin mengempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Ow, Gabriel. Silakan duduk," sambut Arumi ramah. "Tega sekali kau, Elle. Kau membiarkan seorang tamu berdiri saja," lirik Arumi. Dia merasa bahagia, karena pada akhirnya Autumn membawa seorang pria ke rumah mereka.


"Tidak perlu berlebihan, Nyonya Hillaire. Aku bukan tamu istimewa," ucap Gabriel merendah.


"Oh, tentu saja tidak. Bagi keluarga kami, semua tamu adalah istimewa. Sebentar, aku harus ke dapur dan memeriksa oven," Arumi kembali berlalu dari sana dengan membawa senyuman lebarnya. Setidaknya kini dia mengetahui sosok pria yang selama ini Autumn sembunyikan dari dirinya. Gabriel pun terlihat tidak mengecewakan. Pria itu berwajah rupawan dengan senyum manis yang tampak sangat ramah. Selain itu, dia juga terlihat pintar.

__ADS_1


Sepeninggal Arumi, Edgar yang sudah selesai berganti pakaian muncul di sana. Dia segera duduk tidak jauh dari tempat duduk Gabriel. Sosoknya yang penuh wibawa, benar-benar membuat Gabriel terlihat kagum. "Aku sudah mendengar nama besar Anda, Tuan Hillaire. Sungguh luar biasa. Anda seorang pebisnis yang benar-benar mengagumkan," sanjung Gabriel dengan sangat berlebihan.


"Ah, sudahlah. Aku dulu bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Segala hal membutuhkan proses. Selama kita bisa melewati proses itu dengan baik, maka hasilnya pun pasti akan sangat memuaskan. Ingatlah untuk selalu bersikap rendah hati," ujar Edgar dengan gaya bicaranya yang terdengar sangat elegant.


"Ya, tentu. Aku terus berusaha untuk menjadi seseorang yang selalu bersikap rendah hati, meskipun terkadang ingin sekali menyombongkan diri," balas Gabriel menanggapi ucapan Edgar.


"Bersikap sombong tidak ada salahnya. Itu juga bisa dijadikan motivasi untuk orang lain," celetuk Darren.


"Dasar bodoh!" cibir Autumn seraya melirik sang adik. Sementara Darren hanya tertawa mendengar ledekan sang kakak.


"Kalian berdua, selalu saja seperti itu," tegur Edgar tak mengerti dengan sikap keduanya. "Jadi, kau adalah kepala marketing di kantor The Royal Royce?" dia kembali mengalihkan perhatian kepada Gabriel. Pria bermata hijau itu mengangguk yakin.


"Aku mengenal Tuan Royce dengan baik. Kami seringkali bermain golf dan minum bersama. Dia sosok yang menyenangkan dan juga cerdas," ujar Edgar.


"Dia juga sangat tampan, Yah," timpal Darren seraya melirik Autumn yang saat itu berusaha untuk tetap terlihat tenang.


"Kau juga sangat tampan, Darren. Sayangnya tidak terlalu cerdas," ledek Autumn dengan puas.


"Oh, astaga. Ada apa dengan kalian berdua?" tegur Arumi yang saat itu datang dengan membawa sepiring kue buatannya. "Cara bercanda Elle dan adiknya memang aneh," ucap Arumi lagi seraya melirik Gabriel. Pria berambut pirang itu hanya tersenyum lebar melihat kelakuan Autumn dan Darren yang sungguh kekanak-kanakan.


"Jadi, sudah berapa lama kalian saling mengenal?" tanya wanita yang masih terlihat cantik meskipun sudah berumur separuh abad. Dia melihat kepada Autumn serta Gabriel secara bergantian.


"Semenjak Elle mengikuti program magang di kantor. Kami satu bagian," jawab Gabriel melayangkan tatapannya yang penuh arti kepada Autumn. Sedangkan gadis itu hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman kecil yang dipaksakan, terlebih karena saat itu Autumn merasakan ponselnya yang bergetar.

__ADS_1


Segera dirogohnya ke dalam tas. Autumn mengambil ponselnya dan memeriksa panggilan masuk, yang ternyata berasal dari Benjamin Royce. "Aku permisi sebentar," pamitnya seraya berlalu menuju ruangan lain.


__ADS_2