
Malam telah berlalu dengan tanpa terasa. Pagi pun datang menyibakan segala kecemasan. Fleur membuka matanya perlahan. Gadis kecil itu terlihat masih lemah. Namun, dia berusaha untuk bangkit dan menatap sekeliling kamar dengan tirai yang masih tertutup. "Papa ...." suara parau Fleur telah berhasil membangunkan Benjamin yang masih terlelap.
Pria itu kemudian membuka kedua matanya. Sesaat kemudian, dia terduduk sembari mengumpulkan segenap tenaga. Dilihatnya Fleur yang juga sudah duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Gadis kecil tersebut memperhatikan sang ayah seraya tersenyum manis. Sementara alat kompres masih melekat di keningnya. Rambut panjang berwarna cokelat tembaganya pun terlihat sedikit acak-acakan. Akan tetapi, Fleur masih tetap terlihat manis.
"Kau sudah bangun, Fleur? Bagaimana keadaanmu sekarang?" Benjamin mendekati putrinya, lalu memeriksa suhu tubuh sang anak. Dia mengambil termometer dan memastikan kondisi Fleur saat itu, seraya merapikan rambut putri kecilnya yang kusut. "Syukurlah, demammu sudah turun," Benjamin tampak lega. Pria bermata abu-abu tersebut mengempaskan napas pendek. Sesekali dia menyugar rambut ke belakang.
"Apakah Papa tidur di sini denganku?" tanya Fleur. Raut wajah anak itu masih terlihat lemah. Tatap mata abu-abunya juga tampak sayu.
"Iya. Istirahatlah dulu," Benjamin beranjak turun dari tempat tidur. "Kenapa Aamber belum kemari?" gumam pria itu heran. "Tunggu sebentar, Fleur. Aku akan memanggil Aamber," tanpa menunggu jawaban dari putrinya, Benjamin bergegas keluar. Dia berjalan menuju kamar sang pengasuh dari Fleur, yang berada tak jauh dari ruang tidur gadis kecil itu. Diketuknya pintu kamar wanita paruh baya tersebut. "Aamber," panggil Benjamin.
"Ya, Ben. Masuklah," terdengar suara Aamber dari dalam.
Benjamin kemudian membuka pintu kamar Aamber yang tidak terkunci. Tampak wanita berpostur agak gemuk itu tengah duduk sambil memijit-mijit tubuhnya. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Benjamin yang tiba-tiba merasa khawatir saat melihat wanita paruh baya tersebut.
"Aku tak apa-apa," jawab Aamber seraya meringis kecil. Dia tampak menahan ras sakit di tubuhnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Benjamin lagi. Dia tak percaya begitu saja pada jawaban Aamber.
"Aku hanya terjatuh saat di kamar mandi. Kakiku terkilir, dan pinggulku juga rasanya sakit," keluh wanita paruh baya itu sambil sesekali meringis.
"Astaga, Aamber. Kenapa tidak memberitahuku?" Benjamin mengeluh pelan seraya menyugar rambutnya. "Akan kupanggilkan dokter untuk memeriksamu. Lagi pula, Fleur juga harus diperiksa," ucap pria itu tampak resah.
"Memangnya ada apa dengan Fleur?" Aamber bermaksud untuk bangkit dari tempat tidur. Akan tetapi, tubuhnya terasa tidak nyaman. Dia pun kembali duduk.
"Semalam Fleur demam cukup tinggi, tapi aku sudah mengompres dan memberikannya obat penurun panas. Aku hanya merasa cemas," Benjamin terdengar mengeluh pelan. "Hari ini aku ada urusan penting, tapi Fleur sakit dan kau juga tak enak badan," raut wajah Benjamin yang biasanya terlihat tenang, kini tampak gusar.
"Pergi saja, Ben. Aku yang akan menjaga Fleur di sini. Kau tidak perlu khawatir," ucap Aamber memaksakan diri.
"Aku ingin ke kamar mandi, tapi tidak ada yang membantu. Aku tidak bisa meraih kursi roda itu, jaraknya terlalu jauh," keluh Fleur. Raut wajahnya semakin terlihat aneh saat itu, membuat Benjamin segera menghampiri dan duduk di dekatnya.
Disentuhnya kening gadis kecil itu. Namun, tiba-tiba Fleur menunjukan gelagat tak biasa. Kedua matanya mendelik ke atas dengan tubuh yang mengejang. Panik Benjamin segera mendekap putrinya sejenak. "Fleur, kau kenapa?" Benjamin terlihat panik. Tanpa berpikir panjang, segera digendongnya anak itu dan dibawa keluar kamar. Dia bergegas menuju pintu gerbang dan mencari taksi, dengan tujuan tiada lain adalah rumah sakit. Selama di dalam perjalanan, Benjamin terus mendekap tubuh mungil Fleur. Resah, dia ingin segera tiba di tempat yang dia tuju. Kebetulan, fasilitas kesehatan tersebut berjarak tidak terlalu jauh dari kediamannya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, para petugas medis segera membawa Fleur ke ruang tindakan. Mereka memeriksa dan menangani gadis kecil itu dengan telaten. Sementara Benjamin menunggunya di luar dengan perasaan khawatir. Entah berapa lama pria itu duduk sendiri, sambil merapatkan kedua telapak tangannya di dekat mulut. Ini kedua kalinya dia harus mendapat kepanikan atas kondisi Fleur setelah insiden beberapa waktu yang lalu di Marseille. Sementara itu, Benjamin tak membawa apapun ke sana, bahkan untuk membayar ongkos taksi saja dirinya harus meminjam pada salah seorang petugas resepsionis rumah sakit tersebut.
Namun, tak berselang lama seorang wanita muda datang menghampirinya. Dia adalah Majorie Doucourè, sekretaris pribadi Benjamin. Wanita berkulit eksotis itu terlihat cemas. "Tuan Royce," sapanya seraya duduk di sebelah pria berambut cokelat tembaga yang masih tampak cemas. "Aku sudah mengurus biaya administrasinya, Anda tidak perlu khawatir," ucap wanita muda itu mencoba menenangkan sang bos. Sebelumnya Benjamin menghubungi sang sekretaris dengan meminjam ponsel salah satu petugas resepsionis.
"Terima kasih, Majorie. Tadi aku pergi dengan terburu-buru, sehingga melupakan banyak hal," Benjamin mengempaskan napas dalam-dalam sembari menyugar rambutnya. Dia juga belum sempat menghubungi Aamber. Benjamin tak tahu nomor ponsel wanita itu, karena tadi saja dia menghubungi Majorie melalui nomor kantor.
"Itu sudah menjadi tugasku, Tuan. Apa Anda memerlukan hal lain?" tawar Majorie lagi seraya menatap lekat sang atasan.
"Ya," jawab Benjamin pelan. Akan tetapi, dia tak melanjutkan perbincangannya dengan Majorie, karena dokter yang memeriksa Fleur telah keluar dari ruang tindakan. Benjamin segera berdiri menyambut kehadiran dokter tersebut. "Bagaimana putriku, Dokter?" tanyanya dengan raut penuh kecemasan.
"Setelah kami memeriksa putri Anda, ternyata gula darahnya rendah. Selain itu, dia juga mengalami dehidrasi. Hal seperti ini biasa terjadi pada anak setelah mengalami demam tinggi. Dehidrasi bisa menimbulkan kejang. Namun, kami sudah menanganinya. Sekarang kita biarkan dulu agar kondisi putri Anda lebih stabil lagi," jelas sang dokter.
"Jadi, dia belum bisa dibawa pulang?" tanya Benjamin.
Dokter itu mengangguk. "Kami akan terus memantau perkembangannya terlebih dahulu. Jika putri Anda sudah benar-benar stabil, barulah dia akan diperbolehkan pulang," terang dokter itu lagi, sebelum berlalu dari hadapan Benjamin dan Majorie.
__ADS_1
Sepeninggal dokter yang menangani Fleur, Benjamin kembali duduk. Pria itu terdiam sejenak, sebelum kembali berbicara kepada sang sekretaris dengan rambut hitam bergelombangnya yang indah. "Pergilah ke rumahku dan katakan kepada Aamber bahwa aku membawa Fleur ke rumah sakit. Setelah itu, minta pelayan di sana untuk mengambilkan ponselku di kamar Fleur. Kembalilah kemari dan bawakan juga baju ganti untukku," perintah Benjamin kepada wanita muda bermata cokelat madu itu.
Dengan sebuah senyuman, Majorie mengangguk setuju. "Baik, Tuan. Kalau begitu, aku permisi dulu," tanpa banyak bicara, dia segera berlalu dari hadapan Benjamin. Sementara waktu sudah menunjukan pukul sebelas tiga puluh. Rasa bimbang mulai menggelayuti perasaan pria bermata abu-abu itu. Sepertinya, dia harus membatalkan rencana pertemuan dengan Autumn dan Arumi.