
Benjamin tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari Edgar. Akan tetapi, tatap matanya justru malah tertuju pada seraut wajah cantik yang tengah berdiri di atas undakan anak tangga. Autumn tersenyum manis dengan rambut pendeknya yang diikat asal-asalan. Dia juga sudah berganti pakaian dengan piyama. Benjamin kemudian melihat arloji di pergelangan kiri. Sudah pukul sepuluh lewat beberapa menit. Dia lalu tersenyum kalem kepada gadis itu seraya mengedipkan sebelah mata. Sedangkan Autumn hanya mengulum senyumannya.
"Sudah, hentikan. Sudah waktunya kau kembali ke hotel tempatmu menginap," suara Edgar seketika menyadarkan dua sejoli yang tengah asyik bermain mata. Benjamin pun tertawa pelan. Pria bermata abu-abu itu kembali mengalihkan perhatian kepada calon ayah mertuanya, meskipun kabar baik itu baru dia dengar dari Keanu tadi.
"Sebelum aku kembali ke hotel, aku ingin mengatakan sesuatu kepada Anda," Benjamin mengela napas pendek kemudian mengempaskannya perlahan. "Bolehkah jika Elle kembali ke Perancis bersamaku?" tanyanya dengan tenang tapi penuh harap.
"Kapan kau akan kembali ke Perancis?" bukannya menjawab, Edgar malah balik bertanya.
"Aku akan kembali besok dengan penerbangan pagi," jawab Benjamin. Perasaannya cukup gelisah. Akan tetapi, sebisa mungkin dia tetap terlihat tenang. "Jadi, bagaimana? Apa Anda akan mengizinkanku untuk ...."
"Tidak boleh!" tolak Edgar dengan segera.
Sebuah keluhan pendek meluncur dari bibir Benjamin. Namun, tidak dengan Autumn. Gadis itu tampak menyunggingkan sebuah senyuman penuh ejekan terhadapnya. Sikap yang membuat pria tersebut merasa semakin gemas. Andai saja tak ada Edgar di sana, mungkin dia sudah menghampiri Autumn, kemudian 'menghabisinya'. Benjamin hanya membalas ledekan gadis bermata abu-abu itu dengan sebuah tatapan tenang, lalu tersenyum kalem.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu. Sampaikan salamku untuk nyonya Hillaire," tutupnya. Tak seperti yang Autumn sangka. Gadis itu mengira bahwa kekasihnya akan bekerja keras untuk meyakinkan sang ayah, agar mengizinkan dia kembali ke Perancis bersamanya. Akan tetapi, apa yang Autumn pikirkan tak terjadi. Benjamin dengan sengaja menerima penolakan Edgar begitu saja.
Pada akhirnya, Autumn merasa terpancing. Dia berjalan mendekat, lalu berdiri di sebelah ayahnya. "Aku akan mengantar tuan Royce ke mobilnya," ucap gadis itu. Tanpa menunggu persetujuan dari Edgar, dia langsung saja meraih lengan Benjamin kemudian menggandengnya keluar. Sementara Edgar masih memperhatikan dari pintu.
"Apa-apaan kau? Aku pikir dirimu akan sedikit bekerja keras untuk membujuk ayahku, tapi ternyata ...."
"Apa yang harus aku lakukan? Tuan Hillaire langsung menolaknya. Aku tidak ingin berdebat dengan calon ayah mertua," sahut pria berambut cokelat tembaga itu dengan tenang. Sedangkan Edgar masih mengawasi kedua sejoli yang tengah berbicara sambil berbisik-bisik di dekat mobil sewaan Benjamin.
"Rasanya aku tidak dapat menunggu hingga empat hari," ucap Autumn dengan sorot mata yang tampak sendu. Gadis itu juga mulai memasang wajah manja di hadapan Benjamin.
"Astaga," decak Benjamin pelan, "kenapa kau sangat menggemaskan?" bisiknya kemudian. Pria itu mengempaskan napas dalam-dalam. Benjamin tak dapat menahan dirinya untuk tak mencium sang kekasih. Akan tetapi, di ambang pintu tatapan Edgar terus mengawasi keduanya. "Ayahmu terlihat seperti kamera pengintai," celetuknya membuat Autumn yang sedang merajuk tiba-tiba tertawa pelan, seraya mencubit pinggang pria tampan di hadapannya itu.
"Cepatlah kembali ke hotel sebelum ayahku berubah menjadi robot penyerbu," balas Autumn dengan enteng. Sementara Benjamin hanya mengulum senyumnya. "Ayo, masuklah. Ini sudah terlalu malam untuk bertamu," suruh Autumn lagi sambil melipat kedua tangan di dada.
__ADS_1
Akan tetapi, bukannya masuk ke mobil, Benjamin justru malah mendekat kepada gadis berambut cokelat itu. "Aku akan pergi, tapi sebelumnya aku ingin menciummu terlebih dulu," bisik pria itu nakal.
"Kau tidak lihat ayahku mengawasi kita sejak tadi?" balas Autumn dengan ekor mata yang melirik ke arah Edgar berada.
Benjamin kembali mengempaskan napas dalam-dalam. Untuk sejenak, dia lalu menoleh ke arah di mana Edgar berdiri sambil mengawasi mereka berdua. Tak lama, pria bermata abu-abu itu kembali mengalihkan tatapan kepada Autumn. "Aku tidak peduli," ucapnya seraya menangkup wajah cantik sang kekasih kemudian menciumnya untuk beberapa saat. Sementara Edgar hanya menggaruk kening saat menyaksikan apa yang dilakukan oleh kolega sekaligus kekasih putri sulungnya itu.
"J'espère que vous dormez tranquille (Aku harap kamu tidur nyenyak),” ucap Benjamin sebelum kembali mengecup bibir Autumn untuk kedua kalinya. Sedangkan gadis bermata abu-abu itu hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. "Sampai bertemu lagi di Paris. Aku akan menunggumu kembali, untuk segera membawa kau ke altar." Salam perpisahan yang membuat Autumn tersenyum dengan lebih lebar dari sebelumnya. Dia merasa terharu sekaligus bahagia saat mendengarnya. Gadis berpostur semampai itu pun mengangguk dengan yakin.
Autumn masih berdiri terpaku di tempatnya, ketika mobil yang ditumpangi Benjamin telah meninggalkan halaman luas kediaman keluarga Winata. Jantungnya berdebar kencang saat itu. Ya, dia benar-benar yakin dengan keputusan yang telah diambil. Sesaat kemudian, gadis itu berbalik. Dia mendongak ke arah balkon, di mana Arumi berdiri sambil memperhatikannya. Wanita cantik tersebut mengangguk pelan dengan diiringi sebuah senyuman lembut. Setelah itu, Autumn mengalihkan pandangan kepada sang ayah yang masih berdiri di ambang pintu. Edgar tidak memperlihatkan reaksi apa-apa. Namun, sorot matanya tampak lain.
Dilangkahkannya kaki menuju pintu masuk, di mana Edgar masih berdiri sambil menyandarkan lengannya. Autumn kemudian berdiri di hadapan sang ayah. Tanpa banyak bicara, dia segera memeluk pria itu dengan erat. "Terima kasih, Ayah," ucap Autumn seraya membenamkan wajah di dada Edgar. Sementara Edgar sendiri membalas sikap Autumn dengan sebuah kecupan lembut di pucuk kepala putri kesayangannya tersebut.
Lain halnya dengan Benjamin. Dia kembali ke hotel dengan membawa senyuman penuh kebahagiaan. Meskipun esok dia akan kembali ke Perancis tanpa Autumn, tapi empat hari bukanlah waktu yang lama baginya. Dalam selang waktu empat hari itu, dia akan mempersiapkan semuanya. Sebuah rencana yang sempat tertunda. Namun, kali ini semuanya harus terlaksana, meski apapaun yang terjadi. Setibanya di kamar hotel, Benjamin dapat merebahkan tubuhnya dengan nyaman. Diusapnya bantal yang dijadikan alas kepala Autumn tadi siang. Seperti seorang remaja, dia mendekap bantal itu dengan erat.
__ADS_1