
Tanpa senyum atau keramahan yang selama ini menjadi ciri khasnya, Benjamin mengikuti seorang pelayan yang akan membawa dia ke ruang kerja milik Edgar. "Aku harap tuan Hillaire tidak sedang sibuk," ucap pria bermata abu-abu tersebut dengan datar.
"Tuan dan nyonya Hillaire baru kembali dari Marseille" balas pelayan itu, lalu menghentikan langkahnya di depan pintu ruang kerja Edgar. Dia lalu mengetuknya perlahan. Terdengarlah suara sang pemilik ruangan tersebut dari dalam, yang mempersilakan untuk masuk. Si pelayan tadi kemudian masuk. "Maaf mengganggu sebentar, Tuan. Di luar ada tuan Royce yang ingin bertemu dengan Anda," lapornya dengan sikap dan tutur yang sopan penuh hormat.
Edgar tidak langsug menjawab. Terdengar sebuah keluhan pendek dari bibir pria lima puluh dua tahun itu. Edgar tahu apa yang akan Benjamin bahas dengannya. "Di mana dia?" tanyanya.
"Aku sudah mempersilakannya untuk menunggu di ruang tamu, tapi tuan Royce memaksa untuk bertemu Anda. Sekarang dia ada di depan pintu," jawab si pelayan menjelaskan.
Edgar mengempaskan napas panjang. Tak ada alasan lagi untuk menolak kedatangan pria itu. Mau tak mau dirinya harus menerima tamu yang tak diharapkan kali ini. "Suruh saja dia masuk," putus Edgar pada akhirnya. Pria itu menghentikan sementara apa yang sedang dilakukannya dan menantikan sang tamu. Tak berselang lama, Benjamin pun muncul dari balik pintu. Dengan segera Edgar membetulkan sikap duduk. Dia menatap sejenak pria tiga puluh lima tahun yang masih berdiri di hadapannya. "Ada yang kubantu, Tuan Royce?" tanyanya dengan intonasi yang terdengar sangat kaku dan dipaksakan.
"Anda pasti sudah mengetahui maksud dari kedatanganku kemari," jawab Benjamin dengan raut yang teramat serius.
Edgar terdiam sejenak. Setelah itu, dia beranjak dari duduknya. Suami dari Arumi tersebut berjalan menghampiri pria yang mungkin akan jadi menantu pertama di keluarga Hillaire. "Sebelum bertanya tentang ini dan itu, aku rasa sebaiknya kau persiapkan dirimu. Walaupun kau memaksa, aku tidak akan mengatakan di mana keberadaan Elle," tegas Edgar dengan keputusannya.
__ADS_1
Benjamin menatap lekat ayah dari kekasihnya. Karakter yang tenang dari diri pria satu anak itu memang tak diragukan lagi. Namun, entah sampai kapan pria tersebut bisa mempertahankan sikap tenangnya. "Sebelum pergi, Elle memang sudah mengatakan bahwa dia pasti akan kembali padaku. Akan tetapi, entah sampai kapan. Bagaimanapun juga aku tidak menyukai cara seperti ini. Pernikahan kami tinggal menghitung hari dari jadwal yang sudah kusepakati dengan Elle, tapi sekarang aku bahkan tidak tahu putrimu ada di mana. Tolonglah, Tuan Hillaire. Beritahu aku tentang keberadaannya," pinta Benjamin dengan sungguh-sungguh.
"Elle ingin menenangkan diri untuk sejenak, dan aku tidak mau jika dia merasa terganggu saat ini," tolak Edgar dengan tenang.
"Aku tidak akan mengganggu putri Anda. Kuhargai jika dia ingin seperti itu, tapi setidaknya biarkan aku mengetahui di mana dirinya sekarang," pinta Benjamin lagi.
"Setelah kau tahu, apa yang akan kau lakukan? Dirimu hanya akan membuat pikiran Elle kembali kacau. Sebaiknya selesaikan dulu permasalahan dengan anak kecil itu, barulah mengukuhkan keputusan bersama putriku," tegas Edgar.
"Aku bisa menangani Fleur dengan baik. Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," ujar Benjamin yakin, yang segera berbalas senyuman sinis dari Edgar. Pancaran rasa tidak percaya, terlihat dengan jelas pada sorot mata abu-abu pria lima puluh dua tahun tersebut. Benjamin pun dapat memahami arti dari bahasa tubuh yang Edgar tunjukkan padanya. Namun, kali ini dia sedang dalam posisi yang menguntungkan.
"Terlindungi dari siapa maksud Anda? Terlindungi dari seorang anak berusia sepuluh tahun? Apakah sikap Anda tidak terlalu berlebihan, Tuan Hillaire?" protes Benjamin masih tetap berusaha untuk mengontrol dirinya. "Fleur bukanlah ancaman bagi Elle. Dia hanya seorang anak yang takut tersisihkan. Selama ini, aku tidak pernah membawa satu wanita pun ke hadapannya. Dia takut dan merasa terancam," jelas Benjamin.
"Silakan kau ungkapkan segala alasan padaku, karena satu hal yang pasti bahwa aku tidak akan mengatakan apapun tentang keberadaan Elle. Kau hanya membuang-buang waktu dengan sia-sia karena datang kemari untuk memohon padaku," tolak Edgar yang juga masih terlihat tenang.
__ADS_1
"Aku selalu memiliki banyak waktu untuk orang-orang yang kusayangi. Jadi, bagiku tak ada hal yang sia-sia, Tuan Hillaire. Aku berusaha untuk menyeimbangkan semuanya, tapi itu semua butuh proses," Benjamin terus meyakinkan calon ayah mertuanya.
"Ayolah, Tuan Royce. Kau tahu jika aku tidak pernah menghendaki hubungan kalian, apalagi jika sampai menikah. Akan tetapi, aku tak ingin melihat Elle bersedih. Karena itulah, kukesampingkan ego seorang ayah untuk putrinya. Kenapa kau harus mengganggu Elle? Ada banyak sekali wanita cantik di Perancis, tapi kenapa justru putriku yang ...."
"Karena hanya ada satu Autumn yang menarik perhatianku," sela Benjamin dengan pasti. "Tak perlu kujelaskan lagi seberapa besar aku mencintai putri Anda. Aku yakin bahwa Anda juga sudah bisa memahaminya dengan baik. Karena itu, tolong katakan di mana Elle saat ini?" tanya Benjamin lagi dengan agak mendesak.
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak akan pernah memberitahumu. Elle sengaja menghindar untuk beberapa waktu. Terlalu bodoh jika kutunjukkan di mana dia," Edgar masih tetap pada pendiriannya.
"Sampai kapan? Sampai kapan Elle akan menghindar dariku?" tanya Benjamin yang mulai terlihat resah.
"Sampai dia merasa siap untuk semua keputusan yang akan diambilnya," jawab Edgar dengan yakin.
"Apakah itu tidak terlalu egois? Tidakkah Anda memikirkan dari sisi perasaanku? Ayolah, Tuan Hillaire! Kau dan aku sama-sama seorang pria. Anda pasti tahu seperti apa kegelisahan yang kurasakan, ketika wanita yang kita cintai pergi menghindar. Aku tidak menyukai cara seperti ini," protes Benjamin cukup tegas.
__ADS_1
Edgar terdiam sejenak. Secara tak langsung, kata-kata Benjamin telah mengingatkan dia pada waktu ketika dirinya mengejar Arumi dengan sekuat tenaga. Berbagai cara pun telah dilakukan agar wanita itu bersedia menerima cintanya. Sesaat kemudian, Edgar menggeleng perlahan.
"Aku tidak akan berhenti meminta kepada Anda, agar memberitahukan keberadaan Elle. Jadi, luangkan waktu untuk jauh lebih sering melihat wajahku," ujar Benjamin lagi terdengar sangat serius.