
Sore itu, dengan terpaksa Autumn ikut serta ketika Patra datang menjemputnya dan Jenna. Berbeda dengan Autumn, Jenna terlihat sangat antusias. Angannya untuk segera bertemu dengan Aldrin secara langsung telah memenuhi kepala gadis berambut pendek itu. Sedangkan Autumn lebih banyak diam. Dia hanya menatap keluar, dan memperhatikan suasana jalanan ibu kota yang terasa begitu sesak.
"Aldrin sudah menunggu kita di lokasi," ujar Patra. Pemuda yang berusia dua tahun lebih muda dari Autumn itu terlihat sama bahagianya dengan Jenna. Sesekali, dia melihat ke belakang melalui spion tengah. Tentu saja, perhatiannya dia tujukan untuk gadis Perancis bermata indah. "Kenapa kau diam saja, Elle?" tanyanya.
Mendengar namanya disebut, Autumn segera mengalihkan pandangan ke depan. Akan tetapi, dia hanya menanggapi pertanyaan dari Patra dengan sebuah senyuman kecil.
"Berpura-puralah sedikit, Elle," bisik Jenna yang tahu bahwa Autumn sebenarnya malas bergabung dengan mereka. Namun, lagi-lagi Autumn tidak menjawab. Dia hanya menaggapi ucapan Jenna dengan sebuah lirikan. "Omong-omong, bagaimana penampilanku hari ini?" bisik gadis itu lagi.
Kali ini, Autumn tak hanya melirik. Dia setengah membalikan badannya, kemudian mengamati sang sepupu. Sore itu, Jenna memang terlihat sangat berbeda. Dia yang biasanya tampil kasual dengan celana jeans, t-shirt pendek, serta kemeja sebagai luaran, kini terlihat jauh lebih rapi dan manis. Jenna memakai dress yang merupakan satu-satunya di dalam lemari pakaian gadis itu. "Kau terlihat sangat mengagumkan. Aku jadi penasaran, seberapa istimewa seorang Aldrin sehingga kau begitu ...." Autumn tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Patra sudah terlebih dahulu menghentikan laju mobilnya. "Apa kita sudah sampai?" bisik Autumn lagi.
Jenna hanya menanggapi pertanyaan dari Autumn dengan sebuah anggukan. Gadis itu sedang sibuk merapikan dirinya. Sementara Patra sibuk menghubungi seseorang yang tiada lain adalah Aldrin.
Tak berselang lama, seorang pria berperawakan jangkung dan terlihat lebih dewasa jika dibandingkan dengan Patra, datang menghampiri mereka. "Ayo, turun. Aldrin sudah menunggu kita," ajak Patra.
Jenna yang tampak sangat bersemangat, turun terlebih dahulu. Sedangkan Autumn saat itu harus menerima telepon dari Arumi. "Ayo, Elle!" ajak gadis berambut pendek itu.
"Sebentar. Aku sedang berbicara dengan ibuku," Autumn masih berada di dalam mobil, sedangkan Jenna menunggunya di luar. Sementara itu Patra dan Aldrin asyik berbincang-bincang. Merasa tak tahan untuk segera menyapa pria idamannya, Jenna segera menghampiri pria jangkung itu dan memasang sikap ramah di hadapannya.
Aldrin memang pria yang tampan. Usianya tiga tahun lebih tua dari Patra. Mereka merupakan rekan satu tim dalam bermain futsal. Tak sulit bagi Jenna untuk dapat mengakrabkan diri dengan pria muda itu, terlebih karena Aldrin adalah pria yang ramah. Itu semua terlihat dari sikap dan caranya berbicara yang selalu diiringi dengan sebuah senyuman. Akan tetapi, perhatian Aldrin tiba-tiba teralihkan dengan cepat ketika Autumn menghampiri mereka.
"Ini sepupuku, Elle. Dia sedang berlibur di sini. Kamu bisa menyapanya dengan menggunakan bahasa Inggris," Jenna memperkenalkan Autumn kepada Aldrin. "Elle, inilah Aldrin," tunjuk gadis itu dengan sorot mata penuh arti.
__ADS_1
"Hai, Elle. Jadi, kau berasal dari mana?" tanya Aldrin berbasa-basi.
"Perancis," jawab Autumn singkat.
"Oh, Perancis. Aku pernah ke sana sebanyak dua kali," ucap Aldrin lagi seakan ingin mengakrabkan diri kepada gadis bermata abu-abu itu.
"Sungguh? Kota mana yang kau kunjungi?" tanya Autumn lagi.
"Ada beberapa, salah satunya adalah Perouges," jawab Aldrin. "Waktu itu, kami sekeluarga pergi ke sana ketika musim semi. Sangat menyenangkan," jelasnya.
"Ya, ada banyak tempat yang bisa kau kunjungi di sana," balas Autumn. Dia lalu melirik Jenna yang terlihat memberikan isyarat padanya. Gadis berambut cokelat itu pun hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil.
"Apa kita akan terus berbincang di sini? Filmnya akan dimulai sebentar lagi," sela Jenna mengingatkan.
"Bagaimana menurutmu?" bisik Jenna.
Autumn mengerti maksud dari pertanyaan sepupunya. Gadis itu lagi-lagi hanya menyunggingkan sebuah senyuman kecil. Bagi Autumn tak ada pria lain yang terlihat sangat menarik, selain lajang beranak satu Benjamin Royce. Pria yang kini tengah mengalami kegalauan seorang diri.
Ya, Benjamin lagi-lagi hanya termenung di ruang kerjanya. Beberapa saat yang lalu, dia mencoba untuk menghubungi Edgar, tetapi seperti biasa yang selalu Benjamin dapatkan. Edgar tidak menjawab panggilan darinya. Kesal dan marah bercampur menjadi satu. Benjamin kemudian beranjak dari ruangan tersebut. Niatnya adalah menuju ke kamar Fleur. Namun, Benjamin tak segera masuk. Dia berdiri sejenak di dekat pintu dan mendengarkan percakapan yang terjadi di dalam antara putrinya dengan sang pengasuh.
"Apa menurut Bibi, Elle akan kembali pada papaku?" tanya Fleur yang sudah terlihat rapi. Hari ini dia harus kembali menjalani terapi.
__ADS_1
"Aku harap tidak, Sayang. Gadis seperti Elle pasti tidak akan sanggup jika harus menjadi seorang ibu. Kau lihat sendiri seperti apa tabiatnya. Benar-benar buruk. Dia kasar dan pemarah. Aku heran kenapa Ben bisa tertarik dengan gadis seperti itu, bahkan berniat untuk menikahinya," ujar Aamber yang baru selesai mengikat rambut Fleur.
"Bibi benar, tapi Elle sangat cantik. Karena itulah mungkin papa menyukainya," ucap Fleur lagi.
"Ah, tidak. Ibumu jauh lebih cantik, Sayang. Dia juga terlihat lebih lembut dan keibuan, sangat berlainan dengan Elle yang ...."
"Seperti itukah yang kau lakukan kepada putriku?" suara Benjamin yang tiba-tiba menyela, membuat Aamber tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Wanita paruh baya itu menoleh dan terlihat gugup.
"Ben, aku ...." lagi-lagi Aamber tak mampu berkata-kata, terlebih saat melihat raut wajah Benjamin padanya.
"Kenapa, Aamber? Kenapa kau melakukan hal seperti itu? Kenapa?" suara Benjamin yang tiba-tiba meninggi, membuat Aamber dan Fleur seketika tersentak kaget.
"Ben, maksudku ...."
"Jangan memberikan alasan apapun padaku," tolak Benjamin dengan intonasi yang kembali rendah.
"Aku mohon. Aku melakukan semuanya demi Fleur. Segalanya demi kebahagiaan putrimu. Tak ada maksud lain," Aamber membela dirinya. Wanita paruh baya itu bahkan hampir menangis.
"Kemasi barang-barangmu dan kembalilah! Aku tidak ingin melihat kau ada di sini lagi!" usir Benjamin dengan penuh penekanan.
"Tidak, Ben. Aku mohon jangan bersikap seperti itu. Aku ingin di sini bersama dengan Fleur," ratap Amber memohon.
__ADS_1
"Kau memang neneknya, tapi itu tidak berarti kau berhak untuk meracuni pikiran putriku!" sentak Benjamin dengan penuh kemarahan.