The Gray Autumn

The Gray Autumn
Gabriel's Big Smile


__ADS_3

Autumn tercengang sendiri. "Ah, kacau!" pikirnya. Setelah ini, dia yakin bahwa Arumi pasti akan langsung menghujaninya dengan berbagai pertanyaan aneh dan mendetail. "Lupakan. Bukan hal penting. Um, tadi aku hanya asal bicara," kilah Autumn mencoba untuk menghindar. Akan tetapi, dengan segera Arumi memegangi pergelangan tangannya. Dia mengisyaratkan agar gadis itu untuk tetap di sana, sebelum memberikan penjelasan kepadanya. "Ayolah, Bu. Kumohon," pinta Autumn


"Katakan sesuatu, Elle!" desak Arumi.


"Apa yang harus kukatakan?" bantah Autumn lagi.


"Pria yang selama ini kau rahasiakan dari kami!" tegas Arumi. "Jadi, pria itu bukan Gabriel?" selidiknya lagi. "Ayolah, Elle! Apa yang membuatmu harus menyembunyikannya dengan begitu rapat dari orang tuamu sendiri?"


Autumn tidak segera menjawab. Gadis itu terlihat bimbang. Di satu sisi, dia ingin segera mengikrarkan hubungannya dengan Benjamin di depan umum. Akan tetapi, di sisi lain ada sesuatu yang masih menjadi pertimbangannya. "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyembunyikan apapun dari ayah dan ibu. Namun, situasinya terlalu sulit dan aku sendiri tidak merasa yakin," jelas Autumn membuat Arumi semakin penasaran.


"Bisakah kau memberikan penjelasan yang langsung dapat kumengerti?" desak Arumi, membuat gadis bermata abu-abu itu kembali mengempaskan napas panjang. "Ayo, Elle! Apalagi yang kau tunggu!" Arumi benar-benar sudah hampir hilang kesabaran, karena sikap bertele-tele dari putri sulungnya tersebut. Dia berdiri dengan tatapan lekat dan tajam yang terasa begitu mengintimidasi bagi Autumn.


"Ini namanya pemaksaan," ujar Autumn lagi, mengulur-ulur waktu. Dia berharap Arumi benar-benar hilang kesabaran hingga akhirnya merasa muak dan memutuskan untuk tak lagi mendesaknya. Namun, ternyata Autumn salah. Sang ibu masih terus pada posisinya. Jika sudah seperti itu, tak ada alasan bagi gadis berpostur 175 cm tersebut untuk terus menghindar.


"Baiklah," ucap Autumn pada akhirnya. Pertahanannya runtuh juga melihat tatapan tajam yang diarahkan Arumi terhadap dirinya.


"Aku akan mendengarkanmu," balas Arumi.


Autumn membetulkan posisi berdirinya. Dia tampak sedang mengumpulkan segenap keberanian untuk dapat mengatakan semuanya kepada Arumi. Autumn pikir mungkin ini memang saatnya, karena lambat laun semuanya pasti akan terungkap. "Begini, Bu. Selama ini, aku memang menjalin hubungan secara diam-diam dengan seseorang. Seorang pria yang sangat berbeda. Dia pria dewasa, dan bahkan jauh lebih dewasa dariku," Autumn mengawali ceritanya. Sementara Arumi masih terus menunggu apa yang akan Autumn ceritakan selanjutnya.


"Aku mengenalnya secara tidak sengaja. Aku juga tidak tahu jika kami akan bertemu lagi, dan itu merupakan sebuah kebetulan yang menurutku benar-benar di luar dugaan," Autumn terdiam sejenak.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Arumi menunggu kelanjutannya.


"Semuanya terjadi dengan begitu cepat. Dia menarik perhatianku dan membuat diriku benar-benar jatuh cinta padanya. Dia pria yang sangat luar biasa, dan aku ...." Autumn tak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia menatap sang ibu. Perasaannya saat itu sungguh tak menentu. "Aku kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan seperti apa perasaan itu terhadapnya. Ini sesuatu yang baru bagiku dan sangat istimewa. Aku benar-benar jatuh cinta padanya, Bu," binar indah tiba-tiba muncul dalam sepasang mata abu-abu gadis cantik berambut panjang tersebut.


"Siapa pria itu, Elle?" tanya Arumi tanpa banyak basa-basi. Bibir tipis Autumn tampak sedikit bergetar. Dia sudah berniat untuk mengungkapkan satu nama, tetapi ada sesuatu yang seakan menahannya.


"Siapa dia, Elle?" desak Arumi tanpa mengubah intonasinya. Hal itu membuat Autumn merasa kian terintimidasi. Rasa hati ingin meneriakan nama pria yang sangat dia cintai, tetapi lidahnya terasa kelu.


"Kau masih ingin tetap merahasiakannya, Elle?" tanya Arumi lagi. Sedangkan Autumn hanya terdiam tak menanggapi pertanyaan sang ibu.


"Baiklah, Sayang" Arumi tampak kecewa. Dia bermaksud untuk keluar dari dapur dan meninggalkan Autumn sendirian, membuat gadis itu merasa tak enak hati saat melihat Arumi berlalu begitu saja dengan membawa rasa kecewanya.


"Benjamin Royce," ucap Autumn dengan segera, dan membuat Arumi seketika menghentikan langkah. Wanita paruh baya tersebut menoleh dan menatap lekat putri sulungnya. Dia lalu kembali ke dekat gadis itu dengan membawa raut wajah tak percaya.


"Itulah yang sebenarnya, Bu. Aku jatuh cinta terhadap Benjamin Royce. Kami menjalin hubungan secara diam-diam dan menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkannya kepada ayah dan ibu," terang Autumn dengan tegas.


"Sejak kapan, Elle?" selidik Arumi.


"Sejak peresmian resort milik ayah di Marseille," jawab Autumn.


"Sudah sejauh mana hubungan kalian? Apa kau tidak tahu seperti apa kehidupan Benjamin Royce? Dia dikelilingi banyak wanita. Karena itulah hingga saat ini dirinya masih melajang."

__ADS_1


"Ibu tidak mengenalnya dengan baik. Dia sudah bercerita banyak hal padaku tentang hidup dan juga masa lalunya. Jujur saja bahwa aku ... aku pergi ke Marseille dengannya, Bu," ungkap Autumn membuat Arumi semakin tak percaya dengan kejujuran anak gadisnya tersebut.


Sepasang mata Arumi makin terbelalak dengan sempurna. Sulit dipercaya jika kejujuran Autumn telah membuat dirinya hampir terkena serangan jantung.


"Astaga, Elle! Kau ... kau telah berbohong padaku dan ayahmu?" tukas wanita paruh baya itu penuh curiga.


"Tidak, tentu saja tidak!" bantah Autumn dengan yakin. "Aku ke sana memang untuk menghadiri pesta pernikahan Joelene. Namun, selain itu aku juga menghabiskan waktu bersama dengannya ... di kediaman miliknya," lanjut Autumn lagi dengan wajah tertunduk.


Baru saja Arumi akan menanggapi ucapan dari Autumn, tanpa disangka Edgar hadir di sana. "Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" tanya pria itu. "Elle, Gabriel hendak berpamitan. Kenapa kau malah berdiam diri di dapur?" pria itu menggeleng tak mengerti. Sedangkan Autumn dan Arumi hanya saling pandang. Mereka pun segera kembali ke ruang tamu dan menemui Gabriel yang memang terlihat akan pulang.


"Aku akan masuk kantor besok," ucap Autumn dengan senyumannya.


"Baguslah. Lagi pula, lusa kita akan mengadakan pengumuman ide terpilih untuk event musim panas mendatang," terang Gabriel. Pria berambut pirang itu menatap Autumn untuk sejenak.


"Kedengarannya itu sesuatu yang sangat luar biasa," Edgar menimpali.


"Ya, Tuan Hillaire. Elle menyumbangkan ide yang sangat unik untuk acara event kali ini. Aku rasa, tuan Royce pun pasti akan menyukainya andai ide dari Elle terpilih," ujar Gabriel membuat Arumi langsung melirik putri sulungnya.


"Ya, dan aku senang andai kau dan putriku bisa menjalin hubungan dengan jauh lebih serius," ucap Edgar tiba-tiba, membuat Autumn terbelalak saat mendengarnya. Gadis itu kemudian menoleh kepada sang ibu yang sepertinya enggan untuk berkomentar.


"Apa maksud ayah? Hubungan serius apa?" tanya Autumn tak mengerti. Namun, saat itu perasaannya sudah mulai was-was akan jawaban dari pria berkharisma tersebut.

__ADS_1


Edgar tersenyum lebar. Dia kemudian menyentuh pundak Gabriel dengan akrab. Sementara Gabriel tampaknya merasa senang, karena dia juga ikut tersenyum lebar. "Aku menyukai keberanianmu, Gabriel. Seorang pria memang seharusnya bersikap jantan dengan berani menyatakan perasaannya. Gabriel meminta izin padaku untuk menjalin hubungan denganmu, Elle."


__ADS_2