The Gray Autumn

The Gray Autumn
Confusion


__ADS_3

Autumn melangkahkan kaki jenjang berbalut knee high boots hitam di atas trotoar jalanan kota Paris petang itu. Dia seakan tak peduli dengan udara dingin yang terasa menusuk. Autumn berjalan sambil memasukan kedua tangan ke dalam saku mantel berwarna cokelat yang dia kenakan. Sedangkan rambut panjangnya dia biarkan tergerai, meskipun tampak agak kusut. Keindahan kota Paris pada musim gugur kali ini, berbanding terbalik dengan perasaannya.


Gadis bertubuh semampai itu terus berpikir, mungkinkah dia salah karena telah jatuh cinta kepada Benjamin Royce? Tentu saja tidak. Jatuh cinta terkadang tak mengenal tempat dan situasi. Kita bisa memilih kepada siapa akan jatuh cinta. Akan tetapi, perasaan itu terus menggelinding seperti sebuah bola, entah ke mana dan terkadang tanpa arah. Namun, pada akhirnya ia akan berhenti di dekat kaki orang yang tepat. Seseorang yang mampu mengeksekusinya dengan baik, sehingga menghasilkan sebuah gol.


Sesaat kemudian, gadis itu tertegun ketika dia merasakan ponsel yang bergetar. Autumn memeriksanya. Akan tetapi, panggilan masuk yang merupakan dari sang kekasih, dia abaikan begitu saja. Dia sedang tak ingin bicara dengan siapa pun. Gadis bertubuh semampai itu kembali melanjutkan langkahnya. Namun, baru saja Autumn kembali berjalan, sebuah pesan masuk sempat menghentikannya lagi. Malas, dia memeriksa pesan yang Benjamin kirimkan untuknya. Benjamin menanyakan keberadaan gadis itu. Bagaimanapun, rasa khawatirnya teramat besar. Akan tetapi, Autumn lebih memilih untuk mengabaikan pesan tersebut. Niat dalam hatinya memang untuk mencari udara, agar dia dapat bernapas dengan jauh lebih leluasa.


Labil dan terasa galau ketika dia memikirkan sosok seorang Benjamin. Kenapa cinta itu harus tercurahkan kepada pria dewasa yang sudah memiliki anak? Kenapa justru dialah yang mampu meruntuhkan seorang Autumn? Apakah ini yang dimaksud Arumi kemarin, yang mengatakan bahwa dia harus siap dengan segala konsekuensinya? Autumn menggeleng pelan. Dia tak ingin memikirkannya lagi. Gadis itu terus saja melangkah menembus suasana petang kota Paris, di antara orang-orang yang berlalu lalang.


Tanpa disadari, langkah kakinya telah begitu jauh meninggalkan kediaman Benjamin. Autumn bahkan kini telah hampir tiba di dekat rumahnya. Seperti biasa, dia selalu begitu. Melamun di sepanjang perjalanan, dan tak memedulikan sekitar. Sebelum masuk melalui pintu gerbang kokoh rumahnya, Autumn sempat melihat arloji di pergelangan kiri. Saat itu baru pukul delapan tiga puluh malam. "Masih jauh menuju jam sepuluh," gumamnya. Dia pun masuk ketika gerbang itu mulai terbuka. Dirinya harus mempersiapkan diri untuk menghadapi serentetan pertanyaan Edgar, yang pasti akan dia dapatkan tidak lama lagi.


Benar saja. Ketika gadis itu masuk, sang ayah telah berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana panjang. Sorot matanya tajam dan tertuju langsung kepada Autumn, yang sebenarnya begitu malas untuk bicara. Dia hanya ingin pergi ke kamar dan berendam di dalam air hangat.


"Kita harus bicara," ucap Edgar dingin. Tanpa menunggu jawaban dari Autumn, pria itu berlalu menuju ruang keluarga. Mau tak mau, Autumn pun mengikutinya dengan langkah malas-malasan. Sesampainya di ruang keluarga, Edgar berbalik padanya dan menatap gadis cantik itu dengan lekat. "Kau tahu apa yang akan kita bahas kali ini?" tanyanya membuka percakapan. Intonasi dan juga bahasa tubuhnya masih belum berubah, membuat Autumn harus waspada.


"Ya, aku rasa begitu," jawab Autumn pelan dan lesu.

__ADS_1


"Baguslah. Jadi, aku tidak perlu harus banyak berbasa-basi lagi padamu," balas Edgar sedikit ketus.


Autumn terdiam sejenak. Sesaat kemudian, gadis itu terdengar mengeluarkan sebuah keluhan pendek. "Ayah ingin memarahiku?" pertanyaan yang seakan menantang darinya.


"Lebih dari itu, Elle. Jika kau bukan anak perempuan, maka aku pasti sudah memukulmu sejak tadi," tegas dan dalam serta penuh penekanan suara dari Edgar saat itu.


Akan tetapi, Autumn justru malah tertawa renyah saat mendengarnya. "Jika menjadi anak laki-laki, maka aku tidak akan jatuh cinta kepada Benjamin Royce," jawab Autumn dengan enteng.


"Ya, kau benar. Aku tak akan mempertanyakan kenapa kau bisa jatuh cinta kepada pria itu. Satu hal yang kusayangkan adalah, bagaimana bisa kau terlibat hubungan asmara dengan Benjamin Royce? Sejak kapan kalian saling mengenal?" selidik pria bermata abu-abu itu masih dengan sikapnya yang dingin.


"Aku sudah mengenalnya secara tidak sengaja," Autumn mengempaskan napas pendek. Gadis itu terdiam sejenak. Terbayang olehnya saat pertama kali bertemu dengan pria rupawan itu di depan sebuah club malam.


"Aku tidak punya pilihan," sanggah Autumn.


"Bukan karena tidak punya pilihan, tapi itu semua karena Benjamin Royce memang tidak memiliki keberanian untuk bicara padaku. Dia terlalu takut, sebab dirinya ...."

__ADS_1


"Buktinya dia sudah bicara padamu, Yah. Apa yang kurang sekarang? Terlambat atau tidak, Ben sudah bersikap jujur dengan mengakui hubungan kami," sela Autumn.


"Aku tidak yakin dengannya," tegas Edgar.


"Tidak ada siapa pun yang membuat Ayah merasa yakin. Tidak diriku ataupun Darren. Ayah merasa yakin pada diri sendiri, tapi tidak pada orang lain," lemas, kecewa, segala perasaan berkecamuk dalam hati gadis berambut cokelat itu. Dia tak tahu apakah harus kembali melampiaskan segala kemarahannya atau lebih baik memilih untuk menghindar saja. "Jujur saja jika aku sangat lelah. Bisakah kita membahasnya lain kali saja?" akhirnya Autumn memutuskan untuk menghindar.


Sementara Edgar terlihat tidak menyukainya. Unek-unek dalam hati pria paruh baya tersebut belumlah tersampaikan. "Tidak bisa. Aku sudah menunggumu sejak tadi untuk membahas masalah ini," tolaknya.


"Apa yang ingin Ayah katakan padaku? Aku yakin sesuatu yang sama seperti yang ibu ucapkan. Benjamin Royce bukanlah pria yang baik dan tepat untukku. Dia dikelilingi banyak wanita dengan kehidupannya yang tak terikat. Lalu apa lagi setelah itu?"


Edgar memicingkan kedua mata saat mendengar ucapan Autumn. Pria itu mendekat dan berdiri tepat di hadapan putri sulungnya. "Ibumu sudah mengetahui hubungan kalian?" tanyanya dengan suara yang terdengar begitu dalam. Sial. Autumn sudah salah bicara. Pada akhirnya dia harus melibatkan sang ibu dalam masalah pribadinya.


"Sejak kapan ibumu mengetahui hal itu?" desak Edgar seakan tengah menahan emosi.


"Ibu baru mengetahuinya sejak beberapa hari yang lalu. Jangan menyalahkannya," Autumn sudah terlihat gelisah.

__ADS_1


"Kalian semua membodohiku? Keterlaluan!" kesal dan marah, pria berpostur 185 cm itu meninggalkan Autumn begitu saja. Dia berlalu menuju kamarnya untuk mencari Arumi. Namun, dengan segera Autumn menyusulnya. Gadis itu menahan langkah sang ayah dengan segera. "Menyingkir dari hadapanku, Elle!" suruhnya.


"Tolong jangan libatkan ibu dalam kemarahan Ayah padaku," pinta Autumn dengan sungguh-sungguh.


__ADS_2