
Autumn menatap pria itu untuk sejenak. "Maaf, aku sedang terburu-buru," tolak gadis itu sambil membalikkan badan. Dia bermaksud untuk pergi dari sana. Akan tetapi, dengan segera Leon mencegah. Pria itu bergerak cepat menghadang langkah Autumn, sehingga dia harus mengurungkan niatnya. "Minggir!" suruh Autumn dengan nada bicara yang teramat ketus. Namun, Leon tetap bergeming. Dia justru terlihat tenang. Tersungging sebuah senyuman di bibirnya. Hal itu membuat gadis dengan mantel cokelat tadi kian jengkel. "Apa maumu?" Autumn menaikkan dagu sedikit, sebagai pertanda bahwa dia tidak merasa takut sama sekali, kepada pria yang berusia empat tahun lebih tua darinya itu.
"Kenapa kau masih bertanya, Elle? Sudah jelas bukan jika tadi aku mengajakmu minum kopi bersama," sahut Leon masih dengan senyumannya yang terlihat menyebalkan.
"Sayang sekali karena aku tidak mau!" tolak Autumn semakin tegas dan ketus.
"Ayolah, Elle. Aku rasa kekasihmu Benjamin Royce yang kaya raya itu tidak akan merasa cemburu terhadap pria sepertiku," celoteh Leon. Tak putus asa dia membujuk Autumn agar bersedia menerima ajakannya.
"Dia memang tidak akan cemburu, tapi kupastikan Ben akan mematahkan kakimu, karena telah membuat putrinya harus duduk di atas kursi roda!" balas Autumn dengan semakin jengkel.
"Hey, itu bukan salahku. Kita berdua tahu bahwa kejadian tersebut murni kecelakaan. Salah anak itu sendiri yang ikut campur urusan orang dewasa," ujar Leon dengan tanpa beban sedikitpun. "Ah, sudahlah. Aku senang bisa bertemu lagi denganmu, tapi aku tidak ingin membahas yang lain. Omong-omong, aku sudah memperkenalkan diri kepada tuan Hillaire. Akhirnya, kami bisa bertemu langsung secara langsung," raut wajah Leon tiba-tiba berubah datar dan dingin, tak seperti tadi sebelum dirinya membahas tentang Edgar.
__ADS_1
"Itu sama sekali tidak penting dan juga tak berarti apa-apa. Lagi pula, ayahku tidak akan terkesan olehmu, meskipun kau datang padanya dengan memakai tanduk unicorn," ujar Autumn dengan seenknya. Namun, gadis itu terlihat sangat puas dengan apa yang dia katakan tadi.
Mendengar ucapan ketus dan tidak enak didengar yang ditujukan oleh Autumn, ternyata hal itu tidak membuat Leon menjadi tersinggung. Pria muda tersebut justru tertawa renyah karenanya. "Oh, tidak masalah bagiku. Lagi pula, aku tidak ingin meninggalkan kesan yang seperti itu di mata ayahmu, karena tujuanku adalah hendak memberikan sesuatu yang jauh lebih luar biasa. Tadinya, aku ingin menunjukkan sebuah kejutan manis bagi tuan Hillaire. Dia pasti akan sangat menyukainya. Akan tetapi, aku rasa kejutan manis tadi harus kutunda terlebih dahulu," Leon membuang napasnya begitu saja.
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Autumn penuh selidik. Gadis itu memicingkan kedua mata abu-abunya, sebagai pertanda bahwa dia merasa ada sesuatu yang tak beres dengan ucapan Leon.
"Ah, tidak. Lupakan saja, Elle. Itu bukan sesuatu yang penting," sahut Leon kembali pada sikap tenangnya. "Jadi, kau sungguh tak ingin menerima ajakanku untuk minum kopi bersama?" tanyanya lagi meyakinkan Autumn.
"Tidak!" jawab gadis itu tegas.
Autumn berdiri mematung untuk sejenak di tempatnya tadi. Dia berpikir dan mencoba untuk menerka. Akan tetapi, semuanya terasa begitu buram. Tak ada bayangan apapun juga di benaknya. Tanpa sadar, Autumn menggerakkan kakinya dan segera menyusul sang mantan kekasih. Dia menarik pundak pria itu, hingga kembali berbalik padanya. "Katakan apa maksud dari ucapanmu tadi. Apa kau dan ayahku memiliki urusan yang tak kuketahui atau ...," dia menatap tajam kepada Leon yang masih menunjukkan raut sangat tenang.
__ADS_1
"Jawabannya, antara iya dan tidak," Leon tertawa pelan. "Kenapa kau menjadi sangat penasaran, Elle?"
"Entahlah, tapi kau dan kata-katamu ... aneh sekali," pikir Autumn.
Leon kembali tertawa pelan. "Jangan terlalu mengurusi hal itu. Biarkan tuan Hillaire yang terhormat saja, yang memikirkannya," ujar Leon seraya kembali membalikkan badan dan melanjutkan langkah. Namun, ketika jaraknya baru beberapa meter dari tempat Autumn berdiri, Leon kembali menoleh kepada gadis itu. "Oh, iya Elle. Tolong sampaikan salam dari seorang teman lama untuk ayahmu," tutupnya. Dia pun melanjutkan langkah ke depan, dan tak memedulikan Autumn lagi yang masih terpaku.
Gadis bermata abu-abu itu masih terdiam dan berpikir. Ucapan yang dilontarkan Leon terdengar semakin membuatnya merasa penasaran. Gelagat yang ditunjukkan pria tadi pun tampak tidak biasa. Namun, semua lamunan itu tiba-tiba menjadi buyar, ketika dia merasakan ponsel yang bergetar. Autumn pun segera merogoh ke dalam tasnya. Nama Edgar tertera dengan jelas di layar. Pria itu memberitahukan bahwa segala kelengkapan dokumen perjalanan ke Indonesia telah selesai. Dia juga menyuruh Autumn agar segera pulang.
"Aku sedang dalam perjalanan pulang, yah," jawab Autumn yang mempercepat langkahnya, karena rintik-rintik hujan mulai turun. Niat hati untuk berjalan kaki menikmati suasana sore di kota Paris, harus dia urungkan. Gadis itu lebih memilih pulang dengan menggunakan taksi. Ketika dalam perjalanan, Autumn mendapat sebuah panggilan masuk dari Benjamin. Namun, dia memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut. Autumn melawan segenap rasa rindu yang menggebu dalam hatinya. "Kuatkan hatiku, Tuhan," gumam gadis itu pelan dan agak lirih.
Berhubung panggilannya tak dijawab oleh Autumn, maka Benjamin berinisiatif untuk mengirimkan pesan tertulis kepada sang kekasih yang kini mencoba untuk melarikan diri darinya. Satu pesan masuk. Bodohnya, Autumn tak mampu menahan diri untuk tidak membuka dan membaca pesan tersebut. Hal itu, tentu saja membuat Benjamin tersenyum senang. Walaupun gadis pujaan hatinya tersebut tak ingin bicara secara langsung, setidaknya hal kecil seperti apa yang Benjamin lakukan, telah membuat Autumn menyadari bahwa pengusaha rupawan itu masih sangat peduli dan selalu mengkhawatirkan keadaannya.
__ADS_1
"Kau pasti akan segera kembali padaku, Elle," ucap Benjamin. Walaupun kata-kata itu diucapkan dengan pelan, tetapi ada keyakinan yang kuat di dalamnya. Perasaan itu dapat tersampaikan dengan begitu baik, ibarat sebuah telepati kepada Autumn. Gadis yang selalu setia dengan knee high boots itu tersenyum sambil menatap ke luar jendela mobil taksi yang dia tumpangi.
Setibanya di rumah, Autumn langsung menuju ruang kerja, di mana Edgar telah menunggunya. Setelah mengetuk pintu, Autumn pun masuk. "Bersiaplah untuk ke Indonesia," ucap Edgar lugas.