
Ragu, Autumn melangkah masuk mengiringi Benjamin yang tak juga melepaskan genggaman tangannya. Dia tahu bahwa saat itu Autumn merasa tidak terlalu nyaman. Benjamin dapat melihat hal tersebut dengan sangat jelas. Sesaat kemudian, dilepaskannya genggaman dari pergelangan sang kekasih. Dia lalu mendekat dan berdiri sedikit di belakang gadis itu. Tanpa diminta, Benjamin membuka simpul tali yang terikat di bagian perut Autumn. Dia juga melepas trench coat berwarna cokelat yang dikenakan gadis itu, dan menggantungnya pada tempat khusus bersama dengan trench coat miliknya.
"Terima kasih, kau baik sekali," ucap Autumn yang merasa tersanjung dengan perlakuan pria tiga puluh lima tahun itu. Autumn baru saja akan melepas baret yang menutupi kepalanya, ketika terdengar suara sapaan dari seseorang yang telah sangat dia kenal. Gadis bermata abu-abu itu segera menoleh. Tampaklah Fleur yang berjalan tertatih dengan menggunakan tongkat penyangga. Gadis kecil itu berdiri dengan ditemani sang nenek, Aamber.
"Fleur?" sapa Autumn terdengar ragu.
"Hai, Elle," balas putri dari Benjamin tersebut diiringi senyuman. "Apa kabar?" tanya gadis dengan dress cantik berlapis kaos kaki sebatas lutut itu.
"Baik," jawab Autumn merasa tak percaya atas sikap ramah Fleur terhadapnya. "Kabarku sangat baik. Bagaimana denganmu?" Autumn balik bertanya. Meski terkesan sedikit kaku, tapi gadis berusia dua puluh dua tahun itu berusaha untuk tetap terlihat biasa saja.
"Seperti yang kau lihat, Elle. Aku rajin menjalani terapi demi papa," sahut Fleur seraya menoleh dan tersenyum kepada sang ayah.
"Kenapa demi papamu?" Autumn menautkan alisnya karena tak mengerti.
"Aku pikir kau tidak akan kembali. Jika memang seperti itu, maka aku harus bersiap-siap untuk merawat papa. Karena aku tahu bahwa dia tidak akan mencari wanita lain lagi," jelas gadis kecil bermata abu-abu tadi. Sementara Benjamin hanya tersenyum simpul saat mendengarnya.
"Meskipun Elle telah kembali, tapi kau harus tetap melanjutkan terapimu hingga benar-benar sembuh, Fleur," ucap Benjamin seraya merengkuh pinggang Autumn dengan mesra.
"Kau tenang saja, Ben. Aku yang akan selalu mengingatkannya," Aamber yang sejak tadi hanya menyimak pun ikut bicara. Dia mengusap-usap kepala sang cucu dengan penuh perasaan.
__ADS_1
"Ya, Papa. Nenek sangat cerewet, sehingga membuatku pusing," keluh Fleur sambil tertawa pelan. Namun, ucapannya justru membuat Autumn seketika mengernyitkan kening. Baru kali ini dirinya mendengar Fleur memanggil Aamber dengan sebutan nenek.
Benjamin yang menyadari akan hal itu, segera berbisik kepada gadis bermata abu-abu tersebut. "Akan kuceritakan nanti," ucapnya dengan bibir yang menempel pada telinga Autumn. Gadis itu menoleh dan tersenyum kikuk. Namun, perasaan itu segera teralihkan, ketika muncul seorang pelayan yang memberitahukan bahwa waktu makan siang telah tiba. Mereka pun segera menuju ke ruang makan.
Sebelumnya, Benjamin memundurkan kursi untuk Fleur terlebih dulu. Setelah putri kesayangannya itu duduk, Benjamin kemudian mencium pucuk kepala Fleur dengan hangat. Perhatian pria berambut tembaga itu lalu beralih kepada Autumn yang masih berdiri memperhatikannya. Sambil tersenyum menawan, dia memundurkan kursi untuk sang kekasih. "Silakan, Ratuku," bisiknya nakal, membuat Autumn seketika tersipu malu.
"Aku suka dengan rambut barumu, Elle. Kau terlihat sangat cantik," sanjung Fleur yang duduk di sebelah Autumn. Sedangkan Aamber berada di kursi yang berhadapan dengan mereka. Wanita paruh baya itu tersenyum lega, saat melihat kekraban yang mulai dijalin kembali antara Autumn dan juga cucunya. "Aku juga ingin memotong rambutku seperti rambutnya Elle. Bagaimana, Nek?" Fleur meminta pendapat Aamber yang mulai menyantap makanannya.
"Oh, tidak masalah. Kau akan terlihat cantik dengan model rambut apapun," sahut Aamber menanggapi.
"Ya, Fleur. Kau sudah cantik. Penampilan seperti apapun pasti akan terlihat cocok untukmu," timpal Autumn seraya menoleh kepada calon putri sambungnya sambil tersenyum manis. Sedangkan Benjamin hanya menyimak dengan perasaan yang sulit untuk dia ungkapkan. Kehangatan itu membuat udara dingin di penghujung musim gugur menjadi tak terasa lagi. Langkahnya untuk memiliki Autumn kian terbuka lebar.
"Kau di mana, Sayang? Apa kau akan makan siang di rumah?" tanyanya.
"Aku baru selesi, Arum. Sebentar lagi akan pulang," jawab Edgar kembali berjalan menuju mobilnya terparkir. Sesekali dia membetulkan mantel yang dikenakannya.
"Saat aku pulang, di rumah tak ada siapa pun. Kau tahu ke mana Darren dan Elle?" tanya Arumi lagi.
"Darren pergi dengan teman-temannya. Sedangkan Elle makan siang di tempat Benjamin," terang Edgar. Dia sudah bermaksud untuk membuka pintu mobil, ketika pria setengah abad lebih itu harus kembali tertegun saat merasakan ada sesuatu yang menyentuh pinggang bagian belakangnya. Sebuah ujung pisau yang tajam terasa begitu runcing, meskipun saat itu dia mengenakan mantel yang cukup tebal.
__ADS_1
"Jangan mencurigakan. Turuti perintahku," bisik seseorang di belakangnya. Tak lama, muncul dua orang lagi yang segera berdiri di sisi kiri dan kanan Edgar.
Edgar yang saat itu masih berbincang dengan Arumi, segera memutus sambungan teleponnya. Perbincangan itu pun terhenti tanpa adanya salam penutup. "Apa-apaan ini?" protes Edgar dengan penuh penekanan. Dia bermaksud untuk melawan, tetapi pria di belakangnya kembali mengancam.
"Jika kau masih ingin melihat wajah cantik istri dan putrimu, maka sebaiknya turuti kata-kataku! Ketahuilah, beberapa anak buahku sudah berada di depan kediaman mewahmu," ancam pria asing tadi sambil terus menempelkan ujung pisaunya pada tubuh Edgar, membuat pria paruh baya itu berpikir ulang. Edgar sadar bahwa dirinya tak muda lagi, meskipun fiisknya masih kuat dan sebenarnya sanggup untuk melawan. Namun, dia lebih memilih menurut saja. Terlebih ketika dirinya ingat bahwa Arumi tengah sendirian di rumah.
"Jangan bermain-main denganku! Kau belum tahu siapa Edgar Hillaire!" gertak Edgar dengan tegas dan penuh penekanan.
"Aku tahu siapa kau, Tuan. Karena itulah aku mengikutimu," balas pria yang masih menempelkan pisaunya pada pinggang belakang Edgar. Pria asing tadi kemudian mengarahkan Edgar pada sebuah kendaraan yang terparkir tak jauh dari mobilnya. "Masuk!" perintah si pria lagi. Tanpa banyak protes, Edgar pun menurut saja. Dia masuk dan duduk di jok belakang yang segera terkunci rapat, saat dirinya bermaksud untuk membuka pintu mobil tersebut.
"Tenanglah, Tuan Hillaire. Orang yang menyewa kami, menegaskan agar kami membawamu dalam keadaan hidup dan tak terluka sedikit pun," ujar salah seorang dari mereka. Dua pria duduk di jok depan. Sedangkan seorang lagi tengah sibuk berbicara di telepon.
Namun, tak berselang lama pria ketiga pun masuk dan duduk di sebelah Edgar. "Ayo berangkat. Kita sudah ditunggu," ucap pria yang baru masuk tadi.
Untuk beberapa saat, Edgar memperhatikan mereka satu per satu. Wajah-wajah itu teramat asing baginya. Dia juga tak dapat menerka siapa orang yang telah menyewa ketiga pria tersebut. "Siapa yang menyuruh kalian untuk melakukan ini terhadapku?" tanya Edgar dengan dingin.
"Nanti juga kau akan tahu, Tuan," sahut pria yang duduk di sebelahnya. "Tenang saja, kami tak akan melukaimu sedikit pun. Tuan itu hanya menyuruh kami agar membawamu ke tempatnya," jelas pria itu lagi dengan tenang.
Edgar pun kembali memilih diam. Untuk menjawab rasa penasarannya, maka dengan terpaksa dia harus mengikuti arah permainan yang dibuat oleh mereka.
__ADS_1