
"Aku tidak akan mengizinkanmu pergi ke manapun, Elle!" tegas Benjamin. "Kau datang kemari denganku, maka kau pun harus kembali ke Paris denganku juga. Seperti itu peraturannya!" Benjamin berkata seakan dirinya tengah menasihati putrinya sendiri.
"Lalu, untuk apa aku tetap berada di sini? Fleur merasa terganggu dengan kehadiranku, Aamber pun mengatakan agar sebaiknya aku segera kembali ke Perancis. Oh ... ayolah, Ben! Aku ini seorang wanita. Bagaimanapun juga perasaanku jauh lebih sensitif dari dirimu yang merupakan seorang pria," bantah Autumn seraya menatap tajam kepada pria tampan yang tak juga melepaskan tangannya.
"Ayolah, Elle! Aku tahu kau gadis yang pemberani, tegas, dan sebenarnya tidak sesensitif itu. Autumn yang kukenal tidak demikian," Benjamin juga membantah ucapan Autumn dengan cukup tegas.
"Kau sangat mengenalku rupanya," ujar Autumn dengan senyum dan nada bicara bernada sindiran, membuat Benjamin mengela napas dan mengempaskannya dengan agar kasar. Namun, pria itu belum juga melepaskan genggaman tangannya. "Bisakah kau singkirkan tanganmu, Ben?" Autumn mengarahkan tatapannya pada tangan mereka yang masih saling bertaut.
"Tidak!" jawab Benjamin sebuah senyuman kalemnya, sehingga Autumn pun terlihat kesal karenanya. "Aku menyayangi Fleur lebih dari apapun, tetapi aku juga sangat mencintaimu. Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja, Elle?" Benjamin menatap lekat gadis cantik bermata indah itu. "Ini pertama kalinya bagiku merasakan jatuh cinta lagi setelah perpishanku dengan Samantha. Aku bahagia memilikimu, meskipun hubungan kita masih sangat baru dan dirasa tak senormal kisah cinta lainnya. Akan tetapi, percayalah bahwa aku benar-benar tak ingin kehilangan lagi seseorang yang sangat kucintai," ucapan Benjamin terdengar begitu dalam. Raut wajahnya pun amat serius saat itu. Sedangkan Autumn tak menanggapinya sama sekali.
"Kita akan kembali ke Paris besok, dan itu sudah menjadi keputusanku. Aku berharap kau tidak banyak membantah, meskipun sebenarnya aku senang ketika sedang berdebat denganmu. Kau tahu kenapa? Karena aku merasa menjadi jauh lebih muda beberapa tahun," Benjamin kembali tersenyum. Senyuman yang sungguh menawan, dan harus Autumn akui bahwa itu sangat luar biasa.
"Dekat denganmu, rasanya membuat energiku seperti diperbarui setiap saat. Itu yang kubutuhkan untuk tetap terlihat awet muda. Bukankah begitu, Nona Manis?" Benjamin mengakhiri kata-katanya lagi-lagi dengan sebuah senyuman. Sebelum beranjak dari kamar Autumn, pria itu sempat mengedipkan sebelah matanya dengan penuh rayuan. Sejujurnya hal seperti itu membuat Autumn seketika tersipu dan rasanya ingin segera menghambur ke dalam pelukan pria tersebut, tapi tidak. Autumn tetap menahan dirinya. Gadis itu hanya terpaku di dekat pintu seraya menatap langkah gagah sang kekasih yang kini sudah menghilang di balik dinding penyekat ruangan.
Dengan segera, Autumn menutup pintu kamar. Sebuah keluhan panjang pun meluncur begitu saja dari bibirnya. Seharusnya dia sudah kembali ke Paris hari ini, terlebih karena dirinya hanya mengambil izin selama dua hari. "Kenapa semua pria selalu bersikap sangat menyebalkan?" keluh gadis itu dengan setengah menggerutu. Autumn terpaksa harus mengesampingkan rasa tak nyamannya. Entah apa yang akan terjadi esok ketika dia harus kembali ke kota Paris bersama dengan Fleur.
__ADS_1
"Haruskah aku memakai topeng? Oh, bodohnya!" gadis itu seakan merutuki dirinya. Seharusnya tadi dia bersikap tegas terhadap Benjamin, bukan malah menikmati senyuman penuh pesona pria tersebut.
Keesokan harinya, mereka sudah bersiap untuk berangkat ke bandara. Benar saja, Fleur tampak memasang wajah masam saat melihat Autumn ternyata akan satu pesawat dengannya. Gadis kecil itu tak banyak bicara. Sesekali dia menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Aamber.
"Aku akan mengurus proses pemindahan sekolahmu, Fleur. Mulai sekarang, kau akan melanjutkan sekolah di Paris," ucap Benjamin setelah mobil yang mengantarkan mereka menuju bandara telah melaju meninggalkan kediaman mewah bernuansa putih itu.
Fleur tidak menjawab. Dia yang saat itu duduk di tengah, di antara Autumn dan Aamber, merasa tidak nyaman karena keberadaan kekasih dari ayahnya tersebut. Tak berbeda dengan Autumn. Akan tetapi, gadis itu mencoba untuk bersikap wajar. Dia lebih memilih bermain ponsel hingga mereka akhirnya tiba di bandara. Jadwal penerbangan mereka sekitar setengah jam lagi. Autumn rasanya ingin segera tiba di Paris. Dia mungkin akan melempar bantal atau mencorat-coret cermin riasnya dengan lipstik hingga habis, agar dapat melampiaskan rasa kesal yang sudah menumpuk dalam dadanya.
Akan tetapi, pada satu sisi Autumn mulai memikirkan sesuatu. Ia bertanya dalam hati, apakah segala kekacauan ini memang seharusnya terjadi, sebagai sarana baginya dalam membentuk sebuah karakter yang baru dan mungkin belum tersentuh selama ini. Kedewasaan, ya namanya seperti itu. Autumn mungkin harus belajar untuk mengendalikan diri dan bersikap jauh lebih dewasa.
"Ayolah, Elle," bujuk Benjamin pelan.
"Jangan mengajakku berdebat, Ben!" tolak Autumn tegas, meskipun saat itu mereka berbicara sambil berbisik-bisik.
"Aku tidak mengajakmu berdebat, Sayang. Jika Fleur tidak mengawasi kita, mungkin aku sudah menciummu sejak tadi," balas Benjamin yang seketika membuat wajah Autumn memerah. Gadis itu kemudian memalingkan wajahnya demi menyembunyikan perasaan yang membuncah dalam hatinya.
__ADS_1
Wanita mana yang dapat menolak pria seperti Benjamin Royce? Apalagi jika pria itu menawarkan sebuah ciuman padanya.
"Carikan aku taksi!" pinta Autumn pada akhirnya. Dia harus menolak semua godaan yang Benjamin tawarkan. Autumn harus tetap menjaga imagenya di depan Aamber dan juga Fleur yang sedang bersikap tak bersahabat dengannya.
Sambil mengeluh pelan, Benjamin kemudian berjalan menuju mobil jemputan. Aamber dan Fleur sudah duduk manis di dalamnya. Mereka menunggu pria itu yang masih berusaha membujuk Autumn. "Tunggu sebentar. Aku akan mencarikan Elle taksi terlebih dahulu," ucap Benjamin pelan kepada Aamber. Wanita paruh baya itu mengangguk setuju. Benjamin pun kembali ke tempat di mana Autumn berdiri. Setelah itu, dia memanggil salah satu taksi. Sebelum Autumn masuk ke dalam taksi yang sudah siap untuk mengantarkan gadis itu pulang, tanpa permisi Benjamin meraih wajah Autumn dan menciumnya. Sesaat kemudian, pria bermata abu-abu tersebut menyunggingkan sebuah senyuman kecil. "Aku kembali merasa muda saat di dekatmu, Elle," bisiknya.
"Kau pria tua yang nakal," ledak Autumn seraya masuk, sementara Benjamin membantu menutup pintunya.
"Nanti kuhubungi lagi," ucap Benjamin seraya mengedipkan sebelah matanya dengan nakal. Sedangkan Autumn hanya membalasnya dengan menjulurkan lidah. Pria berambut cokelat tembaga itu pun tersenyum lebar menanggapi ulah konyol dan kekanak-kanakan sang kekasih. Dia berdiri sambil melambaikan tangannya, ketika mobil taksi yang Autumn tumpangi sudah melaju, meninggalkan tempat itu. Sesaat kemudian, Benjamin kembali ke mobilnya. Tak berselang lama, sedan hitam itu pun melaju dengan begitu anggun meninggalkan bandara, dan menembus kemacetan kota Paris.
Selama di dalam perjalanan, Autumn terdiam melamun. Sesekali, gadis itu tersenyum kecil saat teringat akan sikap Benjamin padanya. Ya, dia benar-benar menyukai pria dewasa itu. Sensasi yang dia rasakan begitu berbeda, saat dirinya tengah berdekatan dengan pria bermata abu-abu itu.
Selang beberapa saat di perjalanan, Autumn akhirnya tiba di depan kediaman mewahnya. Dia segera turun dan langsung terkejut, ketika mendapati seseorang yang tengah berdiri di depan pintu gerbang. Seorang pria yang sudah tak asing lagi baginya. Pria itu tersenyum ketika melihat Autumn yang berjalan sambil menggeret koper, mendekati pintu gerbang. "Gabriel? Sedang apa kau di sini?" tanya Autumn heran. Ia tak menyangka bahwa sang kepala marketing akan datang ke kediamannya.
"Kau tidak masuk selama dua hari, Elle. Aku hanya ingin memastikan apakah kau baik-baik saja atau tidak," jawab Gabriel mencari alasan.
__ADS_1
"Bukankah aku sudah mengatakannya di telepon kemarin? Aku baru kembali dari Marseille untuk menghadiri undangan dari salah satu teman lamaku," jelas Autumn.