
"Hai, Fleur. Bagaimana kabarmu?" sapa Autumn dengan senyuman hangat. Sedangkan Fleur tidak segera menanggapi sapaan tersebut. Gadis kecil berambut cokelat tembaga itu hanya menatap tak suka kepada Autumn yang kini sudah berdiri tak jauh darinya. "Aku dengar kemarin kau masuk rumah sakit," ucap Autumn lagi berbasa-basi. Akan tetapi, Fleur masih tetap tak bersedia menanggapi ucapan gadis cantik kekasih sang ayah.
Menyadari sikap tak bersahabat dari Fleur, Aamber segera menjadi penengah. Wanita paruh baya itu duduk di sebelah Fleur dan tersenyum manis padanya. "Lihatlah, Sayang. Elle sengaja datang kemari untuk menjengukmu. Dia juga membawakanmu hadiah," tunjuknya dengan sebuah isyarat. Sepasang mata abu-abu milik Fleur, memandang lekat kepada Autumn. Setelah itu, tatapannya beralih pada hadiah yang gadis itu bawa.
"Aku membawakanmu mawar putih. Kau tahu? Ada banyak makna yang dilambangkan oleh bunga cantik kesukaan ibuku ini. Salah satunya adalah sebagai tanda permintaan maaf yang tulus. Aku harap kau bersedia untuk menerimanya, Fleur," Autumn menyodorkan bunga itu kepada putri dari Benjamin. Namun, lagi-lagi Fleur tak menanggapinya. Gadis kecil tersebut justru malah memalingkan wajah ke samping sambil melipat kedua tangan di dada.
Autumn tetap berusaha untuk menahan dirinya. Dia tak boleh terbawa emosi, apalagi sampai hilang kendali. Autumn sadar jika yang dihadapinya kali ini hanyalah seorang anak kecil yang masih polos dan sebenarnya belum mengerti apa-apa. Diletakannya bunga dan juga paper bag yang dia bawa untuk Fleur. Gadis cantik bertubuh semampai itu mengela napas dalam-dalam dan mengempaskannya perlahan. "Aamber, bisakah kau tinggalkan kami berdua saja?" pintanya seraya melirik sang pengasuh.
"Oh, tentu. Silakan kalian bicara," Aamber bangkit dari duduknya. Dia berdiri sejenak sambil memperhatikan Fleur yang masih menunjukan sikap tak bersahabat padanya. "Fleur, ingatlah untuk selalu menjaga kata-kata dan juga sikapmu. Jangan sampai kau membuat ayahmu dan juga diriku malu, karena kami tidak pernah mendidikmu untuk menjadi seperti itu," pesannya dengan raut wajah cukup serius. Sebelum beranjak keluar kamar, Aamber sempat menoleh kepada Autumn seraya menyentuh pundak gadis cantik tersembut.
__ADS_1
"Terima kasih, Aamber," balas Autumn. Dia tersenyum hangat seraya mengikuti langkah wanita tersebut menuju pintu keluar. Setelah Aamber tak terlihat lagi, Autumn kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Fleur yang masih tak bersedia menatapnya secara langsung. "Jadi, kau masih tetap ingin bersikap begitu padaku, Fleur?" tanyanya sambil terus dalam posisi berdiri di dekat tempat tidur anak itu.
"Katakan padaku sekarang juga," pinta Autumn. "Apa salahku padamu, sehingga kau tiba-tiba menghakimiku seperti sekarang ini?" tatap mata Autumn tegas dia layangkan kepada gadis kecil itu. Namun, Fleur masih saja terdiam. "Jika kau tak memberitahuku, bagaimana aku bisa memberikan penjelasan padamu?" protes Autumn pelan.
"Dengarkan aku, Fleur," nada bicara gadis itu mulai terdengar cukup tegas. "Kau tidak bisa menyalahkanku atas insiden yang terjadi padamu. Bukan aku yang sudah membuatmu cedera hingga tak bisa menari lagi. Kau pikir aku tidak sedih karena hal itu?"
Fleur menoleh dan menatap Autumn dengan tajam. Gadis kecil tersebut tampaknya merasa terganggu dengan ucapan Autumn yang menyinggung masalah menari. Hal itu teramat sensitif baginya. "Kekasihmu yang membuatku tidak bisa menari lagi, Elle!" ucapan Fleur terdengar sangat tegas. Dia tidak seperti anak kecil seusianya.
"Harus bagaimana lagi caranya untuk memberikan penjelasan padamu? Dengarkan aku," Autumn kemudian duduk di tepian tempat tidur sambil menghadap kepada putri dari Benjamin tersebut. Tak sedikitpun dia mengalihkan tatapan dari gadis kecil itu. Autumn terus berusaha untuk menguasai dirinya agar tetap terlihat tenang, "aku mencintai ayahmu. Ben adalah pria yang sangat berharga bagiku. Aku menyayanginya, sama seperti menyayangi diriku sendiri. Lalu kau, kau juga gadis kecil yang lucu dan menggemaskan. Harus kuakui jika diriku memang tidak pernah berdekatan dengan anak-anak seusiamu, tapi sejujurnya aku sudah jatuh hati padamu dari semenjak kita bertemu. Kau sudah memikatku dengan sesuatu yang bahkan tidak kuketahui dengan jelas apa itu, tapi ...." tatap mata Autumn terlihat semakin teduh, dia layangkan kepada gadis kecil di hadapannya. "Aku mohon, Fleur. Jangan bersikap seperti itu," pintanya kemudian.
__ADS_1
"Jauhi papaku, Elle!" balas Fleur kemudian. "Aku tidak suka ada wanita manapun yang mendekatinya! Papa hanya milikku, dan tidak boleh dimiliki oleh wanita manapun, siapa pun, aku tidak akan mengizinkannya sama sekali!" nyaring suara Fleur menanggapi ucapan Autumn, membuat gadis berambut panjang itu segera berdiri dari duduknya.
"Apa maksudmu, Fleur? Sikapmu sangat tidak adil. Apa kau sadar jika dirimu sudah membuat Ben berada dalam kebimbangan? Oh, astaga! Aku tidak percaya anak sekecil dirimu bisa memiliki pikiran seperti itu!"
"Usiaku sudah sepuluh tahun, Elle! Aku sudah bisa memahami segala sesuatunya meski belum secara sempurna. Tidak ada wanita yang bisa membahagiakan papaku dengan baik. Semuanya hanya mendekati papaku karena ingin bersenang-senang!" lantang suara Fleur terdengar begitu berani kepada Autumn.
"Siapa yang menanamkan pikiran seperti itu padamu, Fleur?" Autumn tak kuasa menahan kesabarannya lagi. Jika saja yang dia hadapi bukanlah bocah sepuluh tahun, mungkin dia sudah melakukan hal serupa seperti yang dilakukannya terhadap Elloise. "Katakan padaku siapa yang mempengaruhimu hingga bisa berpikir sangat picik!" nada bicara Autumn yang tadinya masih terdengar lembut dan pelan, kini mulai meninggi. "Dengan bersikap seperti itu, kau sendiri yang telah merampas kebahagiaan papamu!" tegas gadis itu lagi.
Melihat sikap Autumn yang seakan hilang kontrol, Fleur hanya terdiam. Seumur hidupnya, dia belum pernah menerima kata-kata dengan nada cukup tinggi seperti itu dari orang lain. Benjamin pun bahkan jarang sekali melakukan hal tersebut jika bukan karena benar-benar terpaksa. Pada akhirnya, Fleur terisak dan menangis.
__ADS_1
Di saat seperti itu, Benjamin masuk ke kamar dan mendapati Autumn yang tengah berdiri dengan tatapan tajam kepada putrinya. Dia juga merasa heran karena melihat Fleur menangis. "Ada apa ini?" tanyanya.
Autumn terkejut. Dia tak menyadari jika sang kekasih sudah berada di sana. Gadis itu pun mengempaskan napas pelan tanpa memberikan jawaban apapun. Sementara Benjamin langsung saja duduk di dekat Fleur dan memeluk gadis kecil itu. Akan tetapi, tatapan penuh tanda tanya dia layangkan kepada gadis cantik pujaan hatinya.