
Rasa aneh dan serba salah tiba-tiba hadir dalam hati gadis dengan postur 170 cm itu. Namun, dia segera memaksakan diri untuk tersenyum, setelah mendengar ucapan sang ayah. "Apa kau sudah berkemas, Elle?" tanya Edgar yang merasa heran, karena Autumn tak segera menanggapi ucapannya tadi.
"Um ... Iya. Sebagian besar barang-barang yang akan kubawa sudah tertata rapi di dalam koper," jawab Autumn pelan.
"Baguslah. Aku juga sudah menghubungi pamanmu, Keanu. Dia yang akan menjemput saat nanti kau sudah tiba di bandara," jelas Edgar lagi seraya beranjak dari meja kerjanya. Dia berjalan menghampiri putri sulungnya. "Indonesia adalah negara yang indah. Aku yakin kau akan kerasan berada di sana. Tenangkan dirimu dan berpikirlah dengan jernih untuk keputusan besar yang akan kau ambil," saran pria itu dengan lembut tapi tetap penuh wibawa.
Autumn hanya mengangguk lemah. Sesaat kemudian, gadis bermata abu-abu tersebut menundukkan wajah dalam-dalam. Tangis Autumn pecah ketika Edgar merangkulnya. Dia tak dapat menyembunyikan lagi perasaan sedih, yang selama ini terus berusaha disembunyikan dari semuanya.
"Menangislah. Elle," Edgar mengelus lembut rambut putri sulungnya, membuat Autumn merasa bebas. Dia menangis dengan puas di dada sang ayah.
"Selama ini, aku memang jarang sekali bicara dari hati ke hati denganmu. Akan tetapi, itu bukan berarti bahwa aku tidak perhatian," Edgar mengecup lembut pucuk kepala Autumn yang masih terisak dalam pelukannya. "Sudahlah. Jangan sampai ibumu melihat kau menangis seperti ini, karena pasti aku yang akan disalahkan," ucap Edgar lagi menenangkan anak gadisnya.
Sesaat kemudian, Autumn pun mencoba untuk menenangkan diri. Dia melepaskan pelukan sang ayah, lalu menghapus air matanya. "Terima kasih, Ayah," ucap gadis itu lirih.
__ADS_1
"Ingatlah satu hal, Elle. Tak ada satu hal pun dalam hidup ini yang berakhir tanpa sebuah makna. Pada awalnya, mungkin kau merasa jika apa yang telah terjadi dan sudah kau lalui itu merupakan sesuatu yang biasa, atau bahkan tak berarti sama sekali. Akan tetapi, suatu saat nanti kau akan merasakan dampak positifnya. Tak setiap kebaikan yang kita lakukan akan berbalas pada hari itu juga, karena hidup bukan tentang jual-beli yang instan. Hidup penuh makna adalah di mana kau bisa memberi tanpa berharap untuk menerima. Jika kau memang merasa tulus dalam mencintai Benjamin Royce, maka biarkan ketulusan itu membawamu pada satu sisi kebaikan yang mungkin selama ini masih terabaikan dan belum kau sadari. Kau adalah putri dari Edgar Hillaire. Aku mengatakan hal itu dengan bangga. Kau adalah cerminan dari Priyanka Harumi Ardyanti Winata. Ibumu merupakan wanita yang luar biasa. Dia pemberani dan tidak mudah menyerah, bahkan ketika dirinya menjadi korban penculikan. Ibumu berusaha untuk melarikan diri dengan segala usahanya. Kini, giliranmu untuk belajar lebih dewasa. Sudah saatnya kau menunjukkan siapa Autumn Dorielle Hillaire. Ini hanya masalah kecil, dan kau bisa mengatasinya dengan mudah. Jika hanya karena urusan cinta saja kau sudah merasa terpuruk seperti ini, maka bayangkan ketika kau harus menghadapi masalah kehidupan yang jauh lebih besar. Aku tidak akan menyukainya, Elle," panjang lebar Edgar memberikan nasihatnya kepada gadis cantik bermata abu-abu itu.
Autumn mengangguk. Dia sudah memahami semua yang Edgar katakan padanya. Untuk kali ini, keyakinan itu muncul kembali. Autumn akan memulai dari awal, dan akan dia buat dengan jauh lebih tertata. "Baiklah. Aku akan ke kamar dulu untuk memeriksa semuanya," setelah memastikan bahwa dirinya benar-benar tenang, Autumn berpamitan dan melangkah ke arah pintu. Akan tetapi, sebelum dia memutar gagang pintu itu, Autumn teringat akan sesuatu. Dia pun berbalik dan menatap sang ayah untuk sejenak. "Tadi aku bertemu dengan Leon. Dia mengatakan bahwa Ayah mendapat salam dari teman lama, tapi aku tidak tahu siapa yang dia maksud," ucapnya.
Edgar yang saat itu telah kembali duduk di belakang meja kerja, tampak tertegun. Dia balas menatap Autumn dengan raut wajah yang tampak sedang menerka-nerka. "Leon?" tanyanya setengah bergumam. Dia pun kembali berpikir.
"Apakah Ayah memang mengenal Leon atau orang-orang terdekatnya?" selidik Autumn.
Gadis bermata abu-abu itu mengangguk pelan. Dia kembali memutar pegangan pintu dan keluar dari ruang kerja sang ayah. Autumn segera menuju kamar untuk kembali memeriksa barang-barang yang akan dia bawa ke Indonesia.
......................
Hari keberangkatan telah tiba. Bersamaan dengan itu, Darren baru kembali dari perjalanannya. "Aku baru kembali dan kau malah akan pergi, Elle," ucap pemuda itu.
__ADS_1
"Aku pergi tidak lama. Tujuanku ke Indonesia hanya sekadar untuk berlibur," sahut Autumn. "Lagi pula, sejak kapan kau menjadi sensitif seperti ini," ledeknya kepada sang adik.
"Elle, ayo cepat jika kau tidak ingin ketinggalan pesawat," seru Edgar dari dalam mobil. Dia sudah siap di belakang kemudi. Sementara Arumi duduk manis di jok sebelah.
"Sebenarnya aku ingin ikut mengantarmu, Elle. Sayang sekali, karena aku sangat lelah. Kami melakukan banyak aktivitas yang benar-benar menguji ketahanan fisik. Jadi, saat ini aku ingin segera tidur dengan nyenyak," tutur Darren dengan wajah lusuh. Terlihat jelas jika dia memang sedang kelelahan.
Tanpa banyak bicara, Autumn segera memeluk sang adik. Ditepuk-tepuknya punggung pemuda itu. "Istirahatlah, Dik. Akan kubawakan kau oleh-oleh dari Indonesia," bisik gadis tersebut, kemudian melepaskan pelukannya. Setelah itu, dia bergegas masuk ke mobil.
"Jika kau lapar, aku sudah menyiapkan sarapan di dapur. Ambil sendiri dan belajarlah untuk mandiri, Sayang," Arumi tersenyum manis kepada Darren, sebelum menutup jendela kaca mobilnya. Setelah itu, kendaraan mewah yang Edgar kendarai pun mulai melaju dengan anggun, meninggalkan halaman rumah megahnya.
Selama berada di perjalanan, Autumn sempat membuka beberapa pesan dari Benjamin. Pria itu tak bosan-bosan bertanya tentang kabarnya, meskipun kadang tak dibalas oleh Autumn. Akan tetapi, Benjamin tetap menunjukkan sikap perhatiannya.
Setelah tiba di bandara, Autumn lebih banyak diam. Tinggal beberapa saat lagi, dirinya akan terbang selama kurang lebih enam belas jam menjauh dari kota Paris. Autumn memikirkan apa yang akan dia lakukan selama berada di Indonesia nantinya. Lalu, bagaimana dengan sang kekasih Benjamin Royce?
__ADS_1