The Gray Autumn

The Gray Autumn
Faire La Fête


__ADS_3

Malam itu, Autumn termenung sendiri di atas tempat tidur. Hatinya merasa begitu lelah saat dirinya kembali teringat pada hubungan yang ia jalin dengan Leon. Beberapa waktu sebelumnya, terjadi sebuah percekcokan antara ia dengan pria berusia dua puluh enam tahun itu. Autumn melakukan protes atas sikap Leon yang memang kerap mengabaikan dirinya.


Leonardo Orville. Ia merupakan seorang seorang fotographer yang bekerja untuk sebuah majalah di kota Paris. Leon memang selalu sibuk dengan segala aktivitasnya, sesuatu yang harus bisa dipahami oleh Autumn. Namun, terkadang Autumn pun kehilangan kesabaran dalam dirinya. Usia muda yang dipenuhi dengan gejolak yang kuat, kerap membuatnya mengabaikan aturan-aturan yang telah ia dan sang kekasih buat. Leon pun tak jarang merasa kesal padanya.


"Apakah itu merupakan salahku, Ev?" tanya Autumn pelan saat ia berbicara dengan Maeva dalam sambungan telepon malam itu.


"Entahlah, Elle. Kau tahu, karena itulah aku malas untuk memulai sebuah komitmen. Tenaga dan pikiranku akan terkuras habis untuk memikirkan hal yang seakan tiada ujungnya," sahut Maeva dari seberang sana.


"Ya, itulah dirimu. Aku sangat bosan di sini. Seharian aku menghadiri acara pembukaan resort ayahku, dan ...." Autumn tidak melanjutkan kata-katanya. Ia teringat akan undangan pesta dari Benjamin. "Ev, aku akan menghubungimu lagi nanti," Autumn segera mengakhiri perbincangannya dengan Maeva. Ia bergegas turun dari tempat tidur dan membuka lemari pakaiannya.


Autumn mulai memilih dan menjatuhkan pilihannya pada sebuah mini dress A Line dengan tali kecil di kedua pundaknya. Tak lupa, Autumn merapikan rambut dan juga membawa sebuah mantel. Setelah itu, gadis berambut cokelat tersebut keluar kamar dengan mengendap-endap. Untunglah karena saat itu ia memakai flat shoes, sehingga derap sepatunya tak menimbulkan suara apapun.


Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam ketika gadis itu berhasil keluar dari rumah. Ia berlari-lari kecil hingga akhirnya tiba di sebuah jalan. Autumn kemudian melangkah dengan jauh lebih tenang ketika ia sudah mulai menjauh dari rumahnya. Gadis itu pun menghentikan sebuah taksi, dan langsung berangkat ke tempat dengan alamat yang sudah diberikan oleh Benjamin tadi siang.


Entah kegilaan apa lagi yang dilakukan gadis itu. Autumn tiba-tiba tertarik untuk menghadiri pesta yang dimaksud oleh Benjamin. Begitu ia tiba di lokasi, gadis itu pun begitu terpukau. Ada banyak orang di sana, tapi ia tak mengenal siapa pun. Autumn kemudian merogoh ke dalam tasnya dan mengambil ponsel. Ia memberanikan diri untuk menghubungi nomor yang Benjamin berikan padanya.

__ADS_1


Beberapa saat lamanya Autumn menunggu hingga panggilannya tersambung. Tak lama kemudian, ia mendengar suara berat seorang pria yang menjawab panggilan itu. "Tuan Royce?" sapa Autumn ragu. "Apa ini kau?" tanyanya.


"Ya," jawab pria itu singkat. Ia seakan sudah mengetahui jika Autumn lah yang menggubunginya. "Kau ingin masuk, Nona Hillaire?" tawarnya.


"Um ... ya. Aku ada di luar, tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak mengenal siapa pun di sini," jawab Autumn seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


Tak terdengar jawaban apapun dari Benjamin untuk beberapa saat lamanya. Hal itu membuat Autumn sedikit heran. Ia bermaksud untuk mematikan sambungan telepon tersebut. Namun, gadis itu mengurungkan niatnya, ketika kembali didengarnya suara berat Benjamin di ujung telepon. "Nona Hillaire ...." ucap pria itu.


Autumn menoleh. Benjamin sudah berdiri tidak jauh darinya. Sekali lagi, pria itu terlihat begitu tampan dengan kaos pollo lengan pendeknya. Tampilan Benjamin malam itu terlihat lebih santai dengan celana chino pendek sebatas lutut. Ia pun tampak jauh lebih muda saat itu. Sekali lagi, pria beramata abu-abu tersebut berhasil memukau Autumn dan membuat gadis itu hanya terpaku menatapnya. Autumn bahkan tak menyadari ketika Benjamin sudah berdiri di hadapannya. "Nona Hillaire? Kau tak apa-apa?" tanyanya.


Di bagian dalam tempat itu ternyata suasananya jauh lebih ramai. Suara musik yang cukup menghentak berbaur dengan hiruk-pikuk orang-orang yang terlihat begitu menikmati pesta tersebut. Mereka semua tampak sangat bahagia, berbincang dan tertawa lepas seakan tak memiliki beban hidup sama sekali.


Benjamin terus menuntun Autumn melewati orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Di sana mereka tak saling peduli selain dengan pasangan atau kelompoknya. "Pesta apa ini?" tanya Autumn dengan suara yang cukup nyaring, berhubung di sana suasanya begitu riuh rendah.


"Orang-orang di sekitar tempat ini memang biasa menggelar pesta. Tujuannya hanya untuk sekadar menghilangkan kepenatan setelah satu bulan berkutat dalam kesibukan. Awalnya acara ini hanya untuk warga sekitar. Akan tetapi, sekarang sudah mulai dibuka untuk siapa saja, dengan catatan memiliki akses masuk atau rekomendasi dari warga sini," terang Benjamin. Ia menyodorkan segelas minuman untuk Autumn. Namun, gadis itu tak segera meneguknya.

__ADS_1


"Tenang saja, Nona Hillaire. Minuman itu tak akan membuatmu mabuk," ujar Benjamin yang seakan mengerti dengan sikap ragu Autumn.


Autumn tersenyum simpul. Ia lalu meneguk minuman itu dan kembali mengedarkan pandangannya ke setiap sudut tempat itu. Tak jauh dari hadapannya, terbentang lautan luas yang dibalut warna gelap malam. Autumn melihat ada beberpa orang yang berjalan-jalan di bibir pantai.


"Kau ingin berjalan-jalan, Nona Hillaire?" tawar Benjamin dengan tatapannya yang selalu membuat Autumn menjadi begitu salah tingkah. Gadis itu tak menjawab. Ia kembali melayangkan tatapannya ke arah pantai. Tanpa menunggu jawaban dari Autumn, Benjamin kemudian beranjak dari duduknya. Ia meraih pergelangan tangan gadis itu dan mengajaknya menuju bibir pantai tersebut.


Autumn tak menolak. Dengan senang hati, ia mengikuti langkah tegap Benjamin. Autumn pun menurut saja saat Benjamin terus memegangi tangannya. "Kau suka pantai?" tanya pria berambut cokelat tembaga itu.


"Aku suka semua hal yang menyenangkan," jawab Autumn dengan polosnya.


"Ya, semua orang juga seperti itu, Nona Hillaire," timpal Benjamin. Mereka berdua berjalan dengan berdampingan.


"Kau benar, Tuan Royce. Namun, definisi setiap orang tentang sesuatu yang menyenangkan itu pasti berbeda," bantah Autumn.


"Bagaimana denganmu sendiri?" Benjamin melirik gadis cantik di sebelahnya. Sementara Autumn berpura-pura tak peduli. Ia mengarahkan tatapannya ke segala arah, yang pasti bukan pada wajah rupawan di sampingnya. Autumn tak ingin dirinya sampai terjebak.

__ADS_1


"Kesenanganku adalah ketika aku mendapatkan perhatian lebih," ujar gadis itu lugas.


__ADS_2