
Autumn menoleh kepada sang paman yang saat itu berdiri tak jauh darinya. "Kau mau ke mana, Elle?" tanya Keanu dalam Bahasa Perancis.
"Aku ingin mencari angin," jawab Autumn. Dia merasa risih dengan tatapan lekat pria tadi terhadapnya. Ekor mata gadis berambut cokelat itu, sesekali melirik pria yang masih memperhatikan dirinya dengan sorot aneh. "Aku permisi dulu," ucap Autumn lagi. Dengan langkah terburu-buru, dia berlalu meninggalkan kedua pria yang sama-sama memperhatikan kepergiannya.
"Apakah Arum ada di sini?" tanya pria yang tiada lain adalah Moedya. Dia bisa mengenali Autumn hanya dengan memandangi gadis cantik itu.
"Tidak. Arum masih di Perancis, hanya putrinya yang datang kemari," jawab Keanu. "Bagaimana kamu bisa tahu jika dia putrinya Arumi?" ayah dua anak itu melirik kepada sahabat dekatnya, yang masih terpaku menatap ke arah pintu menuju halaman belakang.
Moedya mengela napas dalam-dalam, kemudian mengempaskannya perlahan. "Entahlah. Saat pertama kali melihat gadis itu, rasanya aku seperti sedang menatap adikmu," ujarnya diakhiri tawa pelan. Ada semacam kegetiran dalam hati yang kini mulai mengusik. Sekian lama waktu berlalu, meninggalkan kenangan antara dirinya dengan Arumi. Moedya tak harus menyesali lagi keputusan yang sudah dia ambil. Dirinya kini telah melewati masa tua bersama Diana, wanita yang memberinya tiga orang buah hati. Moedya pun pada awalnya tak menyangka, jika dia akan memiliki rumah tangga yang langgeng dengan putri dari sahabat Ranum tersebut.
"Angin apa yang membawa putri Arumi tiba-tiba datang kemari?" tanya Moedya seraya duduk bersama Keanu. Pandangannya sesekali tertuju pada pintu yang menuju halaman belakang.
"Tidak ada alasan khusus. Setahuku hanya untuk liburan saja. Usianya sekarang sudah dua puluh dua tahun," jelas Keanu.
"Kalau begitu, cuma beda beberapa tahun dengan anak sulungku," sahut Moedya seraya mengempaskan napas pelan. "Aku pikir, Arum juga ikut kemari," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Memangnya kamu mau apa kalau dia ikut kemari?" tanya Keanu yang seketika tampak curiga.
Bukannya tersinggung dengan nada pertanyaan Keanu, pria bertato itu justru malah tertawa lebar. "Jangan cemas. Aku benar-benar sudah menghapus Arum untuk selamanya. Usiaku tidak muda lagi. Malu rasanya kalau masih berbuat seenak hati. Sekarang sudah waktunya menikmati hidup tenang," tutur Moedya yang kedengarannya kini telah banyak berubah. Menjalani kehidupan rumah tangga bersama Diana, telah banyak mengubah cara pandang pria yang dulu mencintai rambut gondrongnya.
"Ya, kamu benar. Kita beruntung karena masih diberi umur panjang. Rasanya terlalu sayang jika terus saja menuruti nafsu. Pernikahan adalah impian terbesar dalam hidup. Butuh kerja keras agar bisa mempertahankannya. Menurutku, memiliki keluarga yang utuh adalah pencapaian luar biasa dan lebih dari tender sebesar apapun," balas Keanu menanggapi ucapan Moedya. Sejenak, pria itu menghentikan obrolan mereka ketika tampak Autumn yang kembali masuk. "Elle!" panggilnya pada gadis yang akan menaiki anak tangga, sehingga dia segera menoleh saat mendengar panggilan dari sang paman. "Kemarilah," ajaknya.
Dengan raut yang terlihat agak ragu, Autumn berjalan mendekat kepada dua pria seusia Edgar tersebut. Gadis bermata abu-abu itu berdiri dengan perasaan yang tidak terlalu nyaman. Sesaat, Autumn melirik kepada Moedya yang tengah menatapnya dengan sorot yang masih terasa aneh bagi dirinya, sehingga dia segera mengalihkan pandangan kepada Keanu.
"Paman ingin mengenalkan seseorang padamu," ucap Keanu seraya menoleh ke arah Moedya. "Dia adalah Moedya. Kamu bisa memanggilnya dengan sebutan paman."
"Apa dia bisa bicara Bahasa Indonesia?" tanya Moedya seraya melirik kepada Keanu.
"Aku tidak menguasai keduanya," gelak Moedya yang merasa konyol. Sedangkan Autumn hanya menautkan alis, karena tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. "Kamu sangat mirip dengan ibumu," ucap Moedya lagi seraya menghentikan tawa dan menatap Autumn.
"Anda mengenal ibuku, Tuan?" tanya Autumn.
__ADS_1
"Jangan terlalu formal. Kebanyakan orang Indonesia jarang memakai kata tuan. Jadi, panggil saja paman," ucap Moedya. "Ibumu dan aku ... kami ...." Moedya tidak melanjutkan kata-katanya. Namun, Autumn pun seakan sudah mengerti. Gadis itu tersenyum kecil
.....................
Sementara itu, jauh di kota Paris pada sebuah kediaman mewah, Benjamin terlihat gelisah. Sudah dua hari ini, dia mencoba untuk menghubungi Autumn. Akan tetapi, panggilannya ternyata tak juga tersambung. Berkali-kali pria bermata abu-abu tersebut untuk mengirim pesan, tapi sayang karena semuanya gagal terkirim. "Kau ke mana, Elle?" gumam Benjamin seraya mengempaskan napas kasar.
Tak kehabisan akal, Benjamin kemudian mencoba untuk menghubungi nomor Edgar. Dia mengumpulkan segenap keberanian dan juga mengesampingkan rasa malu. Benjamin tahu jika Edgar pasti tidak akan memedulikan apapun yang berkaitan dengannya. Namun, ayah dari Fleur tersebut tak mau ambil pusing akan hal tersebut. Benjamin tak berniat untuk mundur.
Satu kali panggilan tak terjawab. "Sudah kuduga," gumam pria berambut cokelat tembaga itu. Dia mengempaskan napas dalam-dalam seakan tengah menenangkan dirinya. Sekali lagi, pria itu mencoba untuk menghubungi calon ayah mertuanya. Namun, hingga lebih dari tiga kali panggilan yang dilakukan, ternyata tidak membuahkan hasil sama sekali.
Benjamin mendengus kesal. Dia lalu keluar dari ruang kerja. Kebetulan hari itu dirinya akan menemani Fleur melakukan terapi. Dengan raut wajah yang tidak terlihat bersahabat, sang pemilik dari The Royal Royce tersebut melangkah gagah menuju ruang tamu, di mana Fleur telah siap menunggunya. Gadis kecil itu sudah tampil cantik dengan floral dress yang dilapisi stoking hitam. Fleur juga mengikat rambut panjangnya dengan gaya ekor kuda. Dia tersenyum manis menyambut kehadiran sang ayah di ruangan itu. Akan tetapi, Benjamin tidak terlihat seperti biasanya.
"Kau sudah siap, Fleur?" tanya Benjamin seraya langsung berdiri di belakang kursi roda putrinya.
"Sudah," jawab Fleur sambil menoleh. Gadis kecil bermata abu-abu itu tahu jika ayahnya tidak sedang baik-baik saja.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Benjamin segera mendorong kursi roda sang anak menuju ke halaman. Dia lalu membuka pintu mobil dan menggendong Fleur. Didudukannya gadis kecil itu, lalu dia pasangkan sabuk pengaman. Semua itu dirinya lakukan tanpa banyak bicara sama sekali. Sedangkan Fleur pun ikut terdiam dan merasa tidak nyaman. Sebenarnya dia tidak suka melihat sikap sang ayah yang seperti itu. Akan tetapi, Fleur tak berani untuk bicara apa-apa.
Selama di dalam perjalanan pun, Benjamin masih tak banyak bicara. Tatapannya lurus ke depan. Dia seperti tengah menahan sebuah kemarahan yang besar, tetapi tak dapat dia lampiaskan.