The Gray Autumn

The Gray Autumn
Ètreinte


__ADS_3

"Kau yakin akan menerima permintaan ibuku, Ben?" setengah tak percaya Autumn menghadapkan tubuhnya pada pria itu. Kedua matanya yang indah tampak sangat bersinar dan mengalahkan kilauan cantik dari air Sungai Seine.


"Aku tidak memiliki alasan untuk merasa ragu. Kau salah jika menganggapku sebagai seorang pengecut, Elle. Aku hanya menunggu saat yang tepat," ujar Benjamin. Tatap matanya tampak menerawang jauh pada cakrawala senja, yang mulai menyelimuti kota Paris. Ada setitk beban yang terlihat pada sepasang mata abu-abu pria itu. Namun, Autumn mencoba untuk menepiskan perasaan tak enak dalam hatinya. Dia sadar jika hubungannya dengan putri dari sang kekasih sedang tidak baik-baik saja. Gadis kecil itu pasti yang telah membuat perasaan Benjamin menjadi bimbang.


"Ibuku tidak selembut yang terlihat. Dia adalah wanita yang berwatak keras, bahkan mungkin jauh lebih tegas jika dibandingkan dengan diriku. Namun, dia sangat baik dan juga pengertian. Hingga saat ini, ibu belum berbicara apapun kepada ayah tentang hubungan kita," suara Autumn memecah kebisuan yang berlangsug untuk beberapa saat di antara kedua sejoli itu.


"Kau tidak perlu khawatir, Elle. Aku juga sebenarnya sudah tidak tahan untuk bisa mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu di hadapan tuan dan nyonya Hillaire. Namun, saat ini aku sedang fokus pada penyembuhan Fleur. Dia menjadi jauh lebih manja saat ini," jelas Benjamin pelan.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Autumn. Seperti apapun sikap gadis kecil itu padanya, Autumn tetap merasa khawatir dan juga tak bisa untuk bersikap tidak peduli.


"Fleur akan menjalani terapi. Dia mengisi waktu dengan melukis. Terkadang dia bermain musik. Fleur menguasai beberapa alat musik, Elle. Itu sungguh luar biasa. Namun, hatinya masih saja tertaut pada balet. Sesuatu yang tidak bisa dia lakukan lagi sekarang," terbersit rasa sesal dalam hati Benjamin. Namun, dirinya pun tak bisa berbuat banyak. "Aku hanya ingin Fleur segera terlepas dari kursi roda dan kembali berjalan seperti biasa. Setelah itu, pikiranku pun akan jauh lebih tenang dan aku bisa mengalihkan fokusku pada hal lain," tutur Benjamin seraya memainkan jemari lentik Autumn. Sesekali dia mengecupnya dengan mesra. Itulah yang membuat Autumn begitu tergila-gila padanya. Perlakuan Benjamin begitu berbeda dengan Leon.


"Aku bisa memahaminya, Ben. Aku ingin sekali bertemu dengan Fleur dan berbicara tentang banyak hal bersamanya," Autumn menyandarkan kepalanya di atas pundak Benjamin.


"Semua pasti segera membaik, Elle. Tidak ada masalah yang akan berlarut-larut selama kita berusaha untuk menyelesaikannya. Aku bahagia memilikimu. Keindahan kota Paris dengan Sungai Seine seakan tidak ada artinya, jika dibandingkan dengan perasaanku ketika bisa menikmati saat-saat seperti ini denganmu. Aku ingin bisa memeluk dan menciummu setiap saat, sebelum dan setelah diriku terlelap," Benjamin mengakhiri kata-katanya dengan sebuah tawa renyah. Dia merasa lucu dengan diri sendiri.

__ADS_1


"Apanya yang lucu, Ben?" Autumn mendongak dan menatap paras tampan sang kekasih. Tak akan pernah bosan bagi dirinya untuk dapat mengagumi pesona ragawi pria itu.


"Aku seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta," ujar Benjamin geli. Dia lalu menempelkan telapak tangan Autumn di dadanya. "Jantungku selalu berdetak lebih kencang jika sedang berdekatan denganmu, Elle. Kau telah mempengaruhi hidupku dengan begitu cepat," dikecupnya kening Autumn dengan mesra.


"Jangan merayu, karena aku tidak memerlukannya. Aku hanya ingin melihat seberapa besar keberanianmu dalam menghadapi ayahku," tantang Autumn.


"Ayolah, Elle. Jangan meremehkanku," protes Benjamin. "Aku hanya seseorang yang penuh perhitungan dalam bertindak, tapi saat bertemu denganmu pikiranku kacau. Jujur saja jika semua yang sudah terjadi di antara kita memang tidak pernah ada dalam rencanaku. Aku hanya menawarimu datang ke pesta, tapi tak pernah berniat mengajakmu ke rumah pantaiku terlebih untuk bercinta denganmu," jelas Benjamin dengan tenangnya.


"Hey, jangan katakan jika kau menyesalinya," kini giliran Autumn yang melakukan protes.


"Tuan Royce? Apa kabar? Lama tidak berjumpa," terdengar suara Edgar di seberang sana, membuat Benjamin segera membetulkan posisi duduknya.


"Tuan Hillaire. Kabarku sangat baik, bagaimana dengan anda?" Benjamin balik bertanya.


"Aku sama baiknya. Bagaimana jika lusa kita bermain golf. Aku harap anda mempunyai sedikit waktu luang," ajak Edgar. "Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan," lanjutnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Edgar, Benjamin segera menoleh kepada Autumn yang saat itu memilih untuk diam. "Tentang apa?" Benjamin menautkan alisnya.


"Tentang resort. Proyek kerja sama kita di Marseille. Ada beberapa hal yang sepertinya harus kita perbaiki di sana, tapi rasanya kurang nyaman jika membahas hal sepenting itu melalui telepon. Karena itulah aku ingin agar kita bisa bertemu dan membahasnya secara langsung."


"Oh, tentu. Aku akan memeriksa jadwal untuk minggu ini. Jika tidak ada urusan yang terlalu mendesak, maka bisa kubatalkan," sahut Benjamin. Dia terdiam sesaat mendengarkan ucapan Edgar. Tak berselang lama, panggilan itu pun berakhir. Benjamin kembali melirik Autumn. "Calon ayah mertua," bisik pria itu diselingi senyuman kalem khas dirinya. Sedangkan Autumn menanggapinya dengan sebuah tawa pelan.


Senja telah berlalu. Suasana gelap mulai turun dan membawa kerlap-kerlip lampu yang mulai menyala di setiap penjuru kota. Suasana Paris pun terlihat semakin indah. Namun, sayangnya Benjamin harus segera pulang. Fleur menghubungi dan memintanya untuk datang.


"Apa yang harus kulakukan agar Fleur bisa menerimaku lagi?" Autumn berdiri dengan setengah bersandar pada mobil milik Benjamin.


"Beri dia sedikit waktu. Aku sangat mengenal Fleur. Dia gadis kecil yang baik. Aku yakin jika sebenarnya dia menyukaimu, Elle. Namun, Fleur seakan ingin melampiaskan kemarahannya karena tak bisa lagi menari, sementara dia bukanlah anak yang pemarah," jelas Benjamin. Disentuhnya wajah Autumn dengan lembut.


"Setidaknya aku harus melakukan sesuatu, Ben. Rasanya terlalu membuang waktu jika diriku hanya diam dan menunggu sampai Fleur berubah pikiran. Entah kapan dia akan bisa menerimaku lagi. Aku takut jika hal itu tidak pernah terjadi, maka ...." Autumn tertunduk lesu seraya mengempaskan napas pendek.


"Maka apa?" tanya Benjamin menatap lekat gadis cantik di hadapannya.

__ADS_1


"Aku tahu jika kau sangat mencintai Fleur. Dia segalanya bagimu, sementara aku ... aku tak ingin bersaing dengannya," lirih ucapan Autumn membuat Benjamin segera memeluknya dengan begitu erat.


__ADS_2