
Autumn mendorong tubuh tegap yang baru saja mencuri ciuman darinya. Dia mengangkat tangan dan bermaksud untuk menampar pria tersebut. Akan tetapi, pria yang tak lain adalah Benjamin, segera menahan tangan Autumn dan menggenggamnya. Dia lalu menuntun gadis itu masuk ke mobil. "Apa-apaan ini?" protes Autumn ketika Benjamin telah berada di belakang kemudi dan memasang sabuk pengaman. Namun, Benjamin tidak menanggapi protes keras yang dilayangkan Autumn. Dia menjalankan mobil dan meninggalkan tempat itu dengan segera. Tanpa banyak bicara, Benjamin terus mengemudi menyusuri jalanan kota Paris di malam hari. Sementara Autumn hanya diam cemberut. Dia tak mengerti dengan sikap pria itu.
"Jadi, kau sudah terbiasa bersikap manis pada setiap pria yang baru kau temui?"
"Tutup mulutmu, Tuan! Kau bahkan berhubungan dengan banyak wanita dalam waktu yang bersamaan," sergah Autumn kesal. Akan tetapi, Benjamin tidak menanggapinya. Pria itu hanya menggumam pelan. Autumn kembali terdiam.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya gadis itu beberapa saat kemudian.
"Melakukan apa?" Benjamin balik bertanya.
"Kau bersikap dengan seenaknya," ujar Autumn kecewa. "Kau mendekatiku, kemudian menjaga jarak. Lalu kembali mendekat dan menciumku dengan paksa. Kau pikir aku sama seperti semua wanita yang sering diajak bersenang-senang olehmu?" gerutunya.
"Aku tidak menganggapmu seperti itu," sanggah Benjamin.
"Ya! Itulah yang telah kau lakukan padaku Benjamin Royce!" sergah Autumn kesal. Dia menyebutkan nama pria itu tanpa embel-embel 'tuan' lagi. "Apa kau merasa begitu berkuasa atas semua wanita di seluruh Perancis?" dengus Autumn kesal. Namun, hal itu berbalas sebuah tawa pelan dari Benjamin. Sikap pria itu membuat Autumn semakin jengkel dibuatnya. Dia merasa begitu dipermainkan. "Terus saja tertawa!" gerutu Autumn kesal. "Hentikan mobilnya dan biarkan aku turun!" pintanya dengan tegas.
"Aku tidak menerima perintah dari siapa pun," tolak Benjamin datar.
__ADS_1
"Kalau begitu, anggap ini sebagai permohonan. Namun, jangan harap aku akan melakukannya sambil mengiba!" sahut Autumn yang lagi-lagi dibuat kesal oleh pria tampan itu. Dia terlihat gelisah. Autumn menggerak-gerakan kaki kanannya hingga tampak bergetar. Hal itu membuat Benjamin merasa terganggu. Diletakannya tangan kanan pria itu di atas paha Autumn, hingga gadis itu terdiam dan menoleh. Sementara Benjamim masih fokus pada kemudinya, meskipun hanya dengan satu tangan.
Entah sihir apa yang dimiliki pria itu, sehingga membuat Autumn seketika terdiam. Semua rasa gugupnya menghilang hanya karena sebuah sentuhan kecil tersebut.
"Apa kau gugup, Elle?" Benjamin kembali menyibak kebisuan di antara mereka berdua. "Kita akan bicara, tapi tidak malam ini karena kau harus segera pulang. Aku tak ingin jika kau sampai tidur di teras," ujarnya lagi. Dia kembali menarik tangannya setelah melihat Autumn mulai terlihat tenang.
"Apa lagi yang harus kita bicarakan?" tanya Autumn pelan. Dia mengalihkan tatapannya ke luar jendela, menatap jalanan malam di kota Paris dengan lampu kerlap-kerlip yang menghiasinya. Suasana indah kota itu, ternyata tak mampu menghilangkan nuansa kelabu dalam hati gadis bermata abu-abu tersebut.
"Aku tak ingin kau terus merasa salah paham padaku," ujar Benjamin datar.
"Ya, dan aku melihatmu berpelukan dengan wanita itu."
"Aku rasa tak ada satu pun wanita yang penting untukmu! Kau memang brengsek!" umpat Autumn terus mengungkapkan kekesalan yang dia pendam selama ini.
"Terserah dirimu menganggapku apa. Jika kau mengatakan aku adalah pria brengsek, ya aku memang brengsek, Elle," ucap pria berambut cokelat tembaga itu. Benjamin kemudian menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah rumah megah yang merupakan kediaman milik Edgar. Autumn lagi-lagi mendengus kesal. Sementara Benjamin melihat arloji di pergelangan kirinya. "Masuklah, Elle. Sekarang sudah pukul dua puluh satu tiga puluh. Kau harus sudah berada di kamarmu dan beristirahat," nada bicara Benjamin saat itu terdengar sangat lembut. Sikap yang membuat Autumn kembali diliputi rasa heran. Namun, tak dapat dia pungkiri jika dirinya begitu terkesan. Sejujurnya bahwa Autumn merasa benar-benar terpesona kepada pria tiga puluh lima tahun itu.
Autumn terdiam menatap pria di balik kemudi mobilnya. Dia belum pernah menatap seorang pria dengan binar indah penuh kekaguman seperti yang dilakukannya kepada Benjamin Royce. Autumn bahkan tak merasakan hal sebesar itu terhadap Leon yang juga tak kalah tampan dari pria bermata abu-abu di sebelahnya.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Benjamin menoleh dan mereka pun saling bertatapn untuk beberapa saat. Pria itu lalu menyentuh pipi Autumn dan mengelusnya lembut. Sementara Autumn merasa bodoh. Dia begitu lemah di hadapan pria yang telah merenggut kesuciannya. Kekaguman dalam hati yang terlalu besar. Gadis itu terus menolak, tetapi juga mencoba untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan yang selama ini mengusik sanubarinya.
"Kita akan bicara besok, sepulang kerja. Datanglah ke tempatku. Kita bisa makan malam bersama," Benjamin masih memainkan jemari tangannya dengan lembut di pipi Autumn. Pria itu memang sebuah godaan besar yang begitu indah, sehingga membuat Autumn tak mampu untuk menghindarinya.
"Apa kau tidak ke kantor besok?" tanya Autumn pelan.
"Tidak. Aku hanya ke sana dua atau tiga kali saja dalam seminggu. Aku masih memiliki kesibukan lain," jelas Benjamin pelan.
"Apa kau ada jadwal kencan?" pertanyaan polos itu meluncur begitu saja dari bibir nude pink Autumn. Namun, pertanyaan polos tersebut lagi-lagi membuat Benjamin tersenyum kalem. Senyuman yang membuat hati gadis itu semakin terpana dibuatnya.
"Kau pikir aku tidak punya pekerjaan lain selain bersenang-senang dengan wanita? Tidak, Sayang. Masih ada banyak pekerjaan penting yang harus kutangani. Satu hal yang pasti, aku senang bisa melihatmu ada di kantorku, meskipun sepertinya Gabriel Archambeau menaruh perhatian lebih padamu."
"Pria itu sangat ramah dan bersahabat. Dia juga kepala bagian marketing. Aku harus bersikap hormat padanya."
Benjamin kembali tersenyum. Dikecupnya kening Autumn dengan lembut. "Kau sangat cantik dan juga manis, Elle. Aku tak akan merasa heran jika ada banyak pria yang tertarik padamu. Itu sesuatu yang sudah seharusnya," ucap Benjamin dengan tenangnya.
"Apa kau termasuk ke dalam pria yang tertarik padaku?" pancing Autumn. Gadis itu berharap agar Benjamin mengatakan 'iya'. Namun, semua harapan besar dalam sepasang matanya yang indah perlahan memudar, ketika dia melihat pria itu hanya terdiam dan menatapnya. Autumn seakan sudah dapat menebak jawaban darinya.
__ADS_1
"Lupakan pertanyaan bodohku!" Autumn bermaksud untuk keluar dari mobil dan membawa rasa malu serta kecewa dalam hati. Namun, dengan segera Benjamin kembali menciumnya.