The Gray Autumn

The Gray Autumn
Expression Du Coeur


__ADS_3

"Kenapa kau berpikir seperti itu, Elle?" perlahan Benjamin mengurai pelukannya. Dia menatap paras cantik sang kekasih dengan penuh cinta. "Aku sadar jika selama ini diriku bertindak terlalu lambat," sesalnya. Pria itu kemudian menyibakan rambut yang menutupi kening Autumn karena terkena hembusan angin malam.


"Aku hanya merasa takut. Akan tetapi, rasanya tak pantas juga jika diriku harus merasa cemburu terhadap anak berumur sepuluh tahun. Aku merasa begitu konyol, Ben," ujar gadis bermata abu-abu itu


Sementara Benjamin hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman yang teramat santai. Jemari pria itu kini beralih pada pipi mulus Autumn. Dielusnya dengan lembut dan penuh cinta, membuat Autumn merasa damai dan semakin terbuai. Perlahan tangan gadis itu mencengkeram lembut bagian depan kemeja Benjamin dan menariknya, sehingga pria bertubuh tegap tersebut semakin merapat padanya. Itulah yang sangat dia sukai dari Autumn. Dia bukanlah seseorang yang gemar berpura-pura. Autumn akan melakukan apapun dia sukai, dan langsung menolak apa saja yang tidak dia kehendaki.


Benjamin tahu betul apa yang Autumn inginkan saat itu. Tanpa banyak bicara, pria dengan senyuman memesona tersebut segera memberikan apa yang Autumn mau. Dilu•matnya bibir gadis yang sangat dia cintai dengan begitu mesra. Mereka tak peduli, meskipun ada orang yang terus berlalu-lalang di sana. Keduanya seakan ingin menuntaskan rasa rindu, sebelum menutup perjumpaan mereka untuk hari itu.


"Kau yakin tak ingin kuantar pulang, Elle?" tanya Benjamin sesaat setelah mereka puas berciuman. Diusapnya bibir Autumn dengan menggunakan ibu jarinya.


"Tidak usah. Lagi pula aku belum pikun," jawab Autumn dengan enteng.


"Baiklah. Akan kucarikan taksi untukmu," Benjamin mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar jalan. Sedangkan Autumn masih terus memperhatikannya sambil sesekali tersenyum manis. Sesaat kemudian, sebuah taksi berhenti di depan mereka. Benjamin segera membukakan pintu untuk gadis pujaan hatinya.

__ADS_1


Dengan agak malas, Autumn berjalan ke arah taksi itu. Dia berdiri sejenak di dekat pintu, sebelum dirinya benar-benar masuk. "Jangan lupa. Aku tunggu besok saat jam makan siang di taman kota. Aku harap semoga kau tidak melarikan diri," pesannya dengan wajah serius.


Benjamin tersenyum seraya mengedipkan kedua matanya, sebagai isyarat bahwa dia setuju. Diekecupnya kening Autumn dengan lembut. "Masuklah. Aku juga harus segera pulang. Fleur sudah menungguku," ujarnya. Dia menyentuh pipi Autumn dengan mesra.


Autumn mengangguk pelan. Gadis itu kemudian masuk dan duduk tenang di dalam mobil taksi tadi setelah Benjamin menutup pintunya. Dia tersenyum dan melambaikan tangan bersamaan dengan taksi yang mulai melaju, meninggalkan Benjamin sendirian. Sepeninggal Autumn, pria itu segera menuju mobilnya. Dia juga harus pulang, karena Fleur sudah menunggu di rumah.


Sementara Autumn sendiri begitu menikmati perjalanan pulangnya petang itu. Namun, suasana hatinya yang terasa begitu indah, harus berubah menjadi sesuatu yang menyebalkan, ketika ada sebuah pesan masuk dari Gabriel. Sang ketua marketing tersebut mengirimkan sebuah rekaman video padanya. Itu adalah video yang memperlihatkan dirinya ketika tengah berciuman dengan Benjamin.


Autumn terdiam seraya mengernyitkan kening saat memutar video itu. Dia juga membaca pesan yang Gabriel sematkan di sana. Inikah kekasihmu, Elle?


Malam semakin larut. Waktu sudah menunjukan pukul satu tiga puluh. Sementara Benjamin baru keluar dari ruang kerja. Sebelum menuju ke kamarnya, dia menyempatkan diri untuk melihat keadaan Fleur. Ketika Benjamin masuk ke kamar putrinya, dia mendapati gadis kecil itu sedang merintih pelan. Benjamin segera menyalakan lampu kamar putri semata wayangnya. Awalnya dia terlihat begitu cemas. Namun, sesaat kemudian pria itu dapat menguasai diri dan segera mengesampingkan perasaannya.


Tampak Fleur yang tengah menggigil. Dengan kedua matanya yang masih dalam keadaan terpejam, gadis kecil itu terdengar meracau. "Mama ... mama ...." terenyuh hati Benjamin mendengarnya. Fleur tak pernah mengetahui sosok ibunya secara langsung.

__ADS_1


Benjamin segera menghampirinya. Dia duduk di tepian tempat tidur. "Fleur," disentuhnya pipi sang anak. Dia lalu mengalihkan sentuhannya pada kening gadis kecil itu. Rupanya Fleur terkena demam yang cukup tinggi. "Astaga, kau demam," dengan segera pria itu beranjak dan mengambil kotak obat. Dia lalu menempelkan alat kompres di kening Fleur yang masih menggigil sambil terus meracau.


"Fleur, bangunlah. Kau harus minum obat, Sayang," Benjamin menepuk-nepuk pipi putrinya dengan lembut. Dia berharap agar Fleur membuka mata. Akan tetapi, gadis kecil itu masih tetap saja terpejam. "Fleur, Sayang. Bangunlah dulu, Nak," Benjamin kembali menepuk-nepuk pipi putrinya. "Kau harus minum obat dulu. Ayo, bangunlah," bisiknya lagi.


"Papa ...." parau suara Fleur di sela rintihannya.


"Apa yang kau rasakan, Nak?" tanya Benjamin lembut. Dielusnya pucuk kepala gadis kecilnya dengan penuh kasih.


"Papa ...." kembali terdengar suara parau Fleur. "Papa ... kepalaku sakit ...." keluhnya tanpa membuka mata.


"Kalau begitu, bangunlah dulu. Kau harus minum obat. Ayo, paksakan dirimu," Benjamin terus berusaha membangunkan Fleur, hingga akhirnya gadis kecil itu pun membuka mata dengan perlahan. Dia menatap sayu kepada sang ayah yang tengah menyiapkan obat penurun panas untuknya. Setelah itu, Benjamin membantu Fleur agar bangkit. Gadis berambut cokelat tembaga itu terduduk sejenak, ketika Benjamin memberikan obat yang sudah disiapkannya. Benjamin memastikan Fleur menelan obatnya dengan benar. Setelah memberinya minum dengan air putih, dia kembali menidurkan Fleur. Dengan hati-hati pria itu menyelimuti gadis kecilnya dan mengusap-usap kepala Fleur. "Tidurlah," bisik Benjamin.


"Temani aku, Papa," pinta Fleur. Dia tak mengizinkan Benjamin untuk beranjak dari kamarnya. Tentu saja, Benjamin pun tak akan tega membiarkan putrinya sendirian dalam kondisi seperti itu. Dia lalu naik ke tempat tidur dan berbaring dengan posisi menyamping di sebelah Fleur. Dipandanginya wajah sang putri yang sudah kembali tertidur. Fleur adalah gadis kecil yang cantik. Parasnya telah mengingatkan Benjamin pada cinta yang begitu besar di masa lalu, yaitu Samantha.

__ADS_1


"Sudah sekian lama, Sam. Sangat lama. Ini pertama kalinya bagiku kembali merasakan hal itu lagi. Perasaan yang dulu hanya kupersembahkan padamu, hingga Fleur terlahir ke dunia," Benjamin berbicara pada dirinya sendiri sambil terus memperhatikan Fleur yang kembali tertidur.


"Aku seperti kembali pada masa itu, Sam Masa di mana kurasakan cinta yang begitu menggebu, hingga diriku seakan tak bisa memikirkan hal lain lagi," Benjamin terdiam sejenak, kemudian tersenyum. "Dia sangat cantik, sama sepertimu. Kalian memiliki beberapa kesamaan, tapi itu bukan yang utama bagiku. Aku hanya jatuh cinta, dan sangat menikmati perasaan ini," Benjamin kembali tersenyum geli. Disentuhnya punggung tangan Fleur yang masih terasa panas. Benjamin mengelusnya sejenak, hingga tanpa terasa kantuk datang menyerang. Pria itu pun mulai memejamkan mata dan terlelap.


__ADS_2