The Gray Autumn

The Gray Autumn
On the Verge of Failure


__ADS_3

Aamber kembali terdiam mendengar ucapan Benjamin. Wanita paruh baya tersebut sedikit menunduk dan terlihat lesu. "Apa ada lagi yang ingin kau katakan, Ben?" tanya wanita itu pelan.


"Itu saja. Kau boleh pergi," sahut Benjamin seraya berbalik menuju meja kerjanya. Dia lalu membuka laptop dan entah memeriksa apa di sana, karena saat itu dia tampak sangat serius. Sementara Aamber memilih untuk segera keluar dari ruang kerja tersebut.


Sementara itu di tempat lain, pada salah satu rumah sakit kota Guadalajara. Seorang pria muda berdiri mematung sambil menatap pria paruh baya dalam posisi terbaring dengan berbagai alat medis di tubuhnya. Dia adalah Leonardo Orville, alias Leon. Sedangkan, pria yang tengah terbaring merupakan sang ayah yang sedang menjalani masa perawatan intensif karena sebuah penyakit kronis. Sesaat kemudian, seorang wanita masuk dan berdiri di sebelahnya. Wanita itu merupakan sang ibu, Raquela. "Aku pikir kau tidak datang," ucap wanita berambut pirang itu.


"Aku ingin melihat keadaan ayah, tapi aku juga tidak bisa berlama-lama di sini," Leon menoleh kepada sang ibu. "Aku sudah mendapatkan pekerjaan baru di Perancis. Setelah keuanganku mencukupi, maka akan segera kupindahkan ayah ke sana. Kita bisa berkumpul lagi di Paris. Setidaknya, di sana ada bibi yang juga akan membantu," tutur pria muda itu dengan secercah harapan dalam sorot matanya.


"Iya. Aku akan menjual rumah kita yang ada di kota ini dan kembali ke Paris," balas Raquela. Dia lalu mengalihkan perhatiannya kepada sang suami yang terbaring tak berdaya. "Aku benar-benar sedih melihat kondisi ayahmu, tapi dokter mengatakan bahwa akan selalu ada harapan untuk setiap manusia yang masih bernyawa. Semoga ayahmu dapat bertahan lebih lama lagi," harapnya.


"Kita akan mengusahakan yang terbaik. Kau tidak perlu khawatir, Bu. Aku akan melakukan apapun untuk membuat ayah kembali sehat," ucap Leon penuh keyakinan seraya merengkuh lengan sang ibu.


......................


Beberapa hari telah berlalu dari semenjak perselisihan antara Benjamin dengan Fleur. Entah memakai cara apa, sehingga Aamber bisa mengatakan kepada Benjamin bahwa anak itu telah setuju atas rencana pernikahan sang ayah dengan Autumn. Siang itu, Benjamin datang ke hotel. Rencananya, dia akan melangsungkan pesta pernikahannya di sana. Impian untuk menyelenggarakan pesta secara outdoor tak dapat Autumn wujudkan. Pesta di dalam ruangan adalah solusi tepat pada musim gugur yang sedang melanda kota Paris. Edgar dan Arumi pun tampak hadir. Mereka begitu takjub dengan dekorasi yang sangat mewah dari wedding organizer yang telah disarankan oleh Benjamin. Sementara Fleur yang juga ikut ke sana, hanya terdiam dengan raut wajah tak berseri sama sekali.

__ADS_1


"Tuan Hillaire, perkenalkan ini adalah putriku Fleurine. Usianya sepuluh tahun," Benjamin memperkenalkan sang putri kepada Edgar.


Dengan segera, pria paruh baya penuh kharisma itu menurunkan tubuhnya di hadapan Fleur. "Hai, Fleur. Apa kabar?" sapa Edgar ramah. Arumi pun segera menghampiri mereka dan terlihat senang bisa bertemu langsung dengan putri dari calon menantunya.


"Kabarku tidak pernah baik, dari semenjak aku harus memakai kursi roda," jawab Fleur dingin dan agak ketus, membuat Edgar mengernyitkan keningnya.


"Hey, kenapa kau bisa sampai harus duduk di kursi roda, Sayang?" tanya Arumi hangat dan akrab.


Fleur mengalihkan pandangannya kepada wanita empat puluh dua tahun itu. Tatap mata gadis kecil tersebut masih terlihat dingin dan tidak bersahabat. "Mantan kekasih Elle yang membuatku terjatuh dari tangga. Karena itu juga aku harus berhenti menari balet," jawab Fleur membuat Arumi dan Edgar saling pandang.


Sementara Autumn dan Benjamin merasa tak enak dengan sikap dan perkataan gadis kecil berambut cokelat tembaga itu. Autumn memberikan isyarat kepada sang kekasih agar dia memperingatkan putrinya. "Fleur, kumohon," pinta Benjamin pelan seraya memegangi pundak anak semata wayangnya.


"Tidak apa-apa, Ayah. Itu hanya sebuah kecelakaan," Autumn segera mengalihkan perhatian pria itu dari Benjamin. "Tidak lama lagi Fleur pasti akan segera pulih dan bisa kembali beraktivitas tanpa menggunakan kursi roda," ucap gadis itu lagi mencoba menyembunyikan rasa tidak nyaman dalam hatinya.


"Mudah bagimu berkata seperti itu, Elle! Kenyataannya semua impianku hancur karena mantan kekasihmu! Aku tidak diperbolehkan menari balet lagi entah hingga kapan, atau mungkin untuk selamanya!" nada bicara Fleur terdengar begitu ketus dan juga kasar terhadap Autumn. "Seandainya saja papaku tidak mengenalmu, maka aku tidak akan ...."

__ADS_1


"Fleur!" sergah Benjamin tegas, membuat Arumi tersentak. Dia menatap Autumn dengan sorot penuh tanda tanya. "Hentikan! Kita sudah menyelesaikan masalah ini," tegas Benjamin lagi.


Melihat sikap dan kata-kata yang ditunjukkan oleh Fleur terhadap Autumn, setidaknya membuat Edgar dapat memahami sesuatu. Dia bukanlah orang bodoh yang tak dapat menangkap makna dari sikap tak sopan putri calon menantunya. Edgar memicingkan mata saat memperhatikan gadis kecil yang terlihat memasang wajah masam terhadap semua orang. "Apa maksud semua ini, Tuan Royce? Apakah putrimu tidak bisa menerima putriku untuk menjadi ibu sambungnya?"


"Kami telah menyelesaikan semua kesalahpahaman. Fleur sudah setuju," jawab Benjamin.


"Putrimu setuju, tapi lihat sikapnya terhadap Elle! Entah dengan cara apa kau memaksa dia agar bisa menerima pernikahan ini," tegas dan terlihat marah. Edgar tak dapat menerima begitu saja sikap tak sopan Fleur.


"Ayah, sudahlah," pinta Autumn. Begitu juga dengan Arumi yang berusaha untuk menenangkan sang suami. Dia menyentuh lengan Edgar dengan lembut.


"Aku memang tidak pernah setuju dengan pernikahan papaku!" Fleur kembali berbicara dengan lantang, dan semakin meyakinkan Edgar tentang pemikirannya tadi.


"Kau dengar itu, Benjamin Royce? Putrimu sendiri yang mengatakannya. Dia tidak mengharapkan Elle untuk bersanding denganmu, maka aku pun tak akan membiarkan kau membawa putriku. Aku tidak peduli dengan kontrak kerja sama kita. Silakan jika kau ingin menuntutku!" selesai berkata demikian, Edgar segera meraih tangan Arumi dan membawanya pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu. Namun, setelah beberapa langkah Edgar tertegun dan menoleh. "Aku harap kau segera pulang, Elle!" tegasnya, kemudian melanjutkan langkah dengan segera. Dia pergi meninggalkan ballroom mewah tersebut sambil membawa kemarahan dalam dirinya. Namun, setidaknya Edgar mendapatkan alasan untuk dapat menentang pernikahan Autumn dan Benjamin yang memang tidak pernah dia kehendaki.


"Kau keterlauan, Fleur! Setidaknya hari ini saja saat di depan orang tuaku, kau bisa bersikap baik. Aku tidak tahu apa masalahnya jika Ben memiliki seorang istri. Kau menyayangi dan ingin diperhatikan dengan istimewa oleh ayahmu, tapi kau sendiri tidak bisa menyayangi dan membiarkannya bahagia. Pikirkan itu. Jika kau menganggapku sebagai gadis manja yang tak bisa apa-apa, maka kau pun sama manjanya dengan diriku! Kau bahkan sangat egois dan ...."

__ADS_1


"Hentikan, Elle!" sergah Benjamin membuat Autumn seketika terdiam. "Tolong, jangan tunjukan sikapmu yang seperti ini di depan putriku," tegur Benjamin dengan cukup tegas.


"Maafkan aku, Ben. Sepertinya aku harus belajar untuk lebih dapat mengendalikan diri, tapi sikap Fleur sungguh keterlaluan. Kau lihat bagaimana ayahku tadi? Itu akan menjadi alasan kuat baginya, yang memang dari awal tidak terlalu merestui rencana pernikahan kita. Setelah ini, aku tidak tahu harus memberikan pembelaan seperti apa lagi terhadapnya. Ibuku juga belum tentu bersedia untuk membantu, jika melihat sikap Fleur yang seperti itu."


__ADS_2