
Arumi yang terisak sambil menunduk, seketika mengangkat wajah saat mendengar suara Edgar. Pria bermata abu-abu itu menatap dingin ke arahnya. Sesaat kemudian, Edgar mengalihkan pandangan kepada Moedya dengan jauh lebih dingin.
"Tolong jangan salah paham," pinta Moedya dengan sedikit gerakan pada bibirnya. Dia menoleh kepada Arumi yang tengah menghapus air mata yang membasahi pipi. Sementara Darren menghampiri Autumn. Keduanya berdiri di atas undakan anak tangga, sambil menyaksikan adegan bak dalam sebuah film drama. Sayangnya, mereka tak mengerti apa yang diucapkan oleh ketiga orang dewasa itu, karena mereka memakai bahasa Indonesia.
"Kau tahu ada masalah apa antara mereka, Elle?" tanya Darren pelan seraya melirik sang kakak.
"Tidak ada. Itu hanya kesalahpahaman di masa lalu," jawab Autumn tanpa mengalihkan pandangan dari mereka yang saat itu saling membisu. Sementara Keanu yang baru muncul di sana, ikut menyaksikan reuni sang adik bersama cerita dari masa lalunya.
"Tolong jangan salah paham, Ed," Moedya kembali bersuara. "Aku hanya ingin agar kesalahpahaman di antara kita bertiga terhapuskan sepenuhnya," ujar pria itu lagi.
Akan tetapi, Edgar tak menanggapi ucapan Moedya. Dia lebih memilih melayangkan tatapan kepada Arumi. Sudah sekian lama dari semenjak mereka menikah, baru kali ini dirinya melihat Arumi menangis lagi seperti itu. Ibunda dari Autumn tersebut memang tak meluapkan emosi dalam hatinya secara berlebihan. Akan tetapi, hanya dengan melihat deraian air mata yang menetes dengan perlahan saja, itu telah membuat Edgar mengerti akan perasaan yang tengah menggelayuti hati istrinya. Untuk beberapa saat, Edgar dan Arumi hanya saling pandang.
"Ambil saja, Arum. Terimalah," suara berat Edgar kembali terdengar, sehingga memecah kebisuan di antara mereka. "Aku tak akan marah. Terima saja," ucap Edgar lagi. Akan tetapi, Arumi masih terlihat ragu.
Sesaat kemudian, Edgar kembali mengalihkan perhatiannya kepada Moedya. Harus diakui bahwa dirinya memamg tidak pernah menyukai sahabat dari kakak iparnya tersebut. Namun, apakah dia harus terus membawa perasaan dari masa lalunya hingga saat ini?
__ADS_1
Sebuah bisikan kecil terdengar menertawakan Edgar. Dia merupakan pria yang berpikir dengan sangat rasional dan juga modern. Akan tetapi, entah kenapa untuk sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu dari Arumi, dirinya seakan menjadi seseorang yang berpikiran sangat sempit.
"Aku sadar betul bahwa apapun yang terjadi di masa lalu, tidak akan pernah dapat dihapuskan meski diriku melakukan permohonan dengan cara yang sangat luar biasa kepada Tuhan," ucap Edgar lagi.
"Satu hal yang harus kau ingat, Ed," Moedya menimpali. Dia kembali memandang kepada Arumi yang kini mulai menenangkan diri. "Kau telah salah besar jika berpikir bahwa aku merebut Arum darimu. Kami bertemu setelah kepulangannya dari Perancis. Saat itu kami berdua saling jatuh cinta. Bukankah begitu, Arum?" Moedya menatap lekat mantan kekasihnya puluhan tahun silam itu.
Akan tetapi, Arumi lebih memilih untuk tidak menanggapi penjelasan Moedya tehadap Edgar.
"Kau juga telah sangat keliru jika berpikir bahwa Arum sudah mengkhianatimu. Akan tetapi, sejujurnya aku merasa bahagia sebab Arumi kembali padaku. Seharusnya aku berterima kasih karena kau telah meninggalkannya," ujar Edgar tersenyum sinis.
"Tentu saja, Ed. Kau tahu seberapa besar perjuanganku untuk bisa sampai pada titik ini," sahut Arumi lirih.
"Kau sungguh keliru jika masih berpikir seperti itu, Ed," Moedya ikut menimpali. "Sekian puluh tahun berlalu, banyak hal yang telah terjadi dalam kehidupan kita. Bagiku, semuanya berawal ketika ibu Ranum tiada. Sejak saat itu, aku berpikir untuk menjadi seseorang yang seharusnya mampu membimbing dan bukannya terus dibimbing. Aku melepaskan semua ganjalan dalam hati serta berharap bisa kembali lagi bertemu dengan Arumi untuk menyelesaikannya. Namun, bahkan hingga puluhan tahun berlalu, keinginan itu tak terlaksana juga. Aku bersyukur bisa bertemu lagi dengan Arumi saat ini. Bukan untuk mengenang masa lalu kami, tapi untuk menutup dan menyelesaikan sesuatu yang masih menjadi ganjalan di dalam hati," tutur Moedya panjang lebar.
"Ed, aku tahu kau adalah pria yang baik dan sangat bertanggung jawab. Karena itu pula Arumi memilihmu, bukan pria lain. Aku bahagia dan merasa tenang, sebab Arumi berada di tangan orang yang tepat," Moedya menunduk seraya memperhatikan kotak bening berisi cincin milik Ranum. "Ibuku ingin agar kau menerima dan menyimpan cincin ini, Arum. Dia mengatakan bahwa itu sudah menjadi milikmu, meskipun ...." Moedya menjeda kalimatnya. Dia kembali menatap Arumi. "Terimalah, Arum," dia menyodorkan kotak bening berukuran kecil yang digenggamnya kepada Arumi.
__ADS_1
"Terima saja, Arum," Edgar mengatakan hal yang sama seperti tadi.
Ragu, tangan Arumi terlihat sedikit gemetaran saat menerima benda yang Moedya sodorkan padanya. Akan tetapi, pada akhirnya dia menggenggam erat benda itu dengan deraian air mata yang kembali membasahi pipi.
Puspa yang baru menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi di dalam rumah itu, segera menghampiri Arumi dan merengkuh tubuh adik iparnya. "Arum, ada apa ini?" tanyanya was-was. Namun, tak ada seorang pun yang bersedia untuk menjelaskan. Tidak juga Keanu yang sejak tadi hanya berdiri dan menyimak.
"Entah kapan kita bisa bertemu lagi, Arum. Kau jarang bahkan hampir tidak pernah pulang ke Indonesia. Karena itulah, aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini," ujar Moedya lagi. "Maafkan aku, Ed. Maaf jika hal ini telah membuatmu merasa tidak nyaman. Aku harap semoga perjalanan kalian kembali ke Perancis berada dalam kelancaran," Moedya kemudian menatap ke arah Autumn berdiri, lalu tersenyum. "Kau tidak ingin memelukku dulu sebelum berpisah, Elle?"
Autumn tersenyum getir. Gadis itu bergegas turun dari tangga tempatnya berdiri. Dia segera menghampiri Moeda, kemudian memeluk pria tersebut dengan penuh haru.
Entah jalinan perasaan seperti apa yang mereka rasakan saat itu. Namun, Moedya tampak begitu menyayangi Autumn. Padahal, mereka baru bertemu. "Jaga dirimu baik-baik. Aku ingin sekali bisa melihatmu dalam balutan gaun pengantin, tapi sepertinya aku hanya bisa mengirimkan doa. Semoga keputusan yang telah kau ambil ini merupakan jalan yang akan membawamu pada sebuah kebahgiaan yang sesungguhnya. Kuharap Benjamin adalah pria yang benar-benar tepat untukmu. Aku mengatakan ini dengan tulus sebagai seorang ayah. Kau sudah seperti putriku, dan aku berharap yang terbaik untukmu," Moedya mengakhiri kata-katanya dengan sebuah kecupan hangat di kening Autumn.
"Terima kasih, Paman," balas Autumn. Air mata gadis itu jatuh ketika Moedya melepaskan pelukannya.
Moedya kemudian beralih kepada Edgar. Dengan penuh percaya diri, dia menyodorkan tangan dan mengajak pria bermata abu-abu itu untuk bersalaman. Pada awalnya, Edgar tampak ragu. Namun, sesaat kemudian dia menerima jabat tangan dari Moedya. Setelah itu, Moedya kemudian berbalik. Dia sempat menyapa Keanu sebelum kembali melangkah ke arah pintu keluar rumah megah tersebut dengan tatapan nanar yang tertuju lurus ke depan.
__ADS_1