The Gray Autumn

The Gray Autumn
Mauvais


__ADS_3

“Ben,” sapa Autumn pelan sambil menyandarkan sebagian tubuhnya pada meja kompor. Dia begitu bahagia saat mendapat telepon dari Benjamin. Padahal baru beberapa saat yang lalu mereka berpisah di bandara.


“Apa kau sudah tiba di rumah, Elle?” tanya Benjamin dengan gaya bicaranya yang akan selalu Autumn rindukan.


“Ya. Aku sudah tiba di rumah sejak beberapa menit yang lalu. Bagaimana denganmu?” Autumn balik bertanya. Dia seakan lupa bahwa di ruang tamu ada Gabriel yang tengah berbincang akrab dengan kedua orang tuanya


“Aku juga,” jawab Benjamin. “Besok aku akan ke kantor. Kuharap kau tidak menambah izin cutimu,” lanjutnya. Ucapan Benjamin menyiratkan sejuta makna bagi Autumn. Gadis itu sontak tertawa. Namun, dia segera menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Autumn tak ingin jika mereka yang tengah berbincang di ruang tamu, sampai mendengar suara tawanya. “Kenapa kau tertawa? Memangnya ada sesuatu yang lucu?” Benjamin terdengar keheranan.


“Tidak ada. Aku hanya ingin tertawa. Kau seperti seorang anak remaja berusia belasan tahun,” ujar Autumn seenaknya.


“Apa kau ingin aku bersikap seperti ayahmu, Elle?” pertanyaan Benjamin yang membuat Autumn harus kembali menahan tawanya. “Baiklah jika kau ingin aku seperti itu, maka aku ….” Benjamin tak melanjutkan kata-katanya. Dia yang saat itu tengah berada di ruang kerja, tak sengaja mendengar teriakan Fleur yang terus memanggil namanya sambil menggedor pintu ruang kerja dengan tanpa henti. Secara refleks Benjamin menutup sambungan telepon itu, dan meletakan ponsel di atas meja kerja. Dia lalu beranjak ke arah pintu dan segera membuka pintu tersebut.


Tampaklah Fleur dengan kursi roda di luar ruang kerja. Wajah gadis itu tampak sedikit merengut. Dia merasa kesal karena mencari-cari sang ayah sejak tadi. “Aku mencarimu ke mana-mana, Papa. Kupikir kau ada di kamar,” ucapnya dengan nada merajuk.

__ADS_1


Benjamin tersenyum seraya menurunkan tubuhnya. Dia lalu mengecup kening Fleur dengan penuh kasih. “Aku harus mengurus pemindahan sekolahmu, Fleur,” jelasnya. “Memangnya ada apa?” tanyanya kembali menegakkan badan.


“Kapan Papa akan mengajakku berkeliling Paris? Terakhir kali aku datang kemari, saat menjelang liburan musim dingin. Aku tidak tahu ada hal terbaru apa saja di sini,” ucap Fleur dengan gaya bicaranya yang terdengar sok dewasa.


Benjamin tersenyum lebar mendengar ucapan putri semata wayangnya itu. Dia lalu menutup pintu ruang kerja dan mendorong kursi roda Fleur meninggalkan ruangan itu, untuk menuju ruangan lain di rumah mewahnya. “Kau tidak perlu khawatir, Fleur. Kita akan memiliki banyak waktu mulai saat ini. Lagi pula, kau harus memperbanyak istirahat terlebih dahulu. Kita tunggu hingga kondisi kakimu jauh lebih baik. Ingat kata dokter. Kau tidak disarankan untuk terlalu banyak bergerak dalam beberapa hari ini, hingga nanti kita kembali memeriksakan kakimu,” jelas pria tampan bermata abu-abu itu.


“Ah, membosankan sekali!” gerutu Fleur. Pantas saja jika gadis kecil itu merasa kesal atas apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Fleurine Chrislaure Royce. Dia adalah gadis yang enerjik dan aktif dalam berbagai kegiatan di dalam maupun di luar sekolahnya. Selain menyukai balet, gadis bermata abu-abu itu juga mengikuti banyak kegiatan lain. Dia senang melukis dan juga piawai dalam bermain piano. Jiwa seni yang tumbuh dalam diri gadis berusia sepuluh tahun itu, menurun langsung dari sang ibu yang juga merupakan seorang seniman. Samantha dulunya merupakan seorang balerina. Hal itu pula yang membuat Fleur begitu mencintai balet.


Setelah lebih dari tiga kali tak ada jawaban dari Benjamin, rasa kesal kembali mendera Autumn. Gadis berambut cokelat itu mengempaskan napas panjang seraya mengeluh kesal. Dia berpikir, mungkin seperti inilah risiko yang harus diterimanya karena menjalin hubungan dengan seorang pria yang sudah memiliki anak. Autumn tak bisa sepenuhnya menjadi yang utama dan teristimewa, karena perhatian sang kekasih harus terbagi menjadi dua. Terlebih saat ini sikap Fleur sedang tidak bersahabat sama sekali dengan dirinya.


“Kenapa lama sekali, Elle? Memangnya kau menerima telepon dari siapa?” suara Arumi tiba-tiba terdengar di sana dan seketika membuyarkan seluruh lamunan Autumn. Wanita paruh baya itu menatap lekat putri sulungnya dan berharap mendapat sebuah penjelasan.


“Tidak ada, Bu. Itu hanya panggilan dari Maeva. Bukan hal penting, tapi kami memang sudah terbiasa membahas sesuatu yang tidak penting dan membutanya seakan-akan menjadi penting. Padahal itu sama sekali tidak penting dan ….” Autumn terdiam. Dia tak tahu berbicara apa kepada sang ibu. Gadis itu meracau tanpa arah. Akhirnya dia memilih untuk diam seraya melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Sementara Arumi terlihat berseri. Wanita itu tampaknya sangat bahagia karena Autumn akhirnya membawa pria yang selama ini anak gadisnya itu sembunyikan ke rumah mereka. “Sayang, kenapa selama ini kau harus menyembuyikan pria setampan itu dari aku dan ayahmu?” selidiknya heran.


“Apa maksud Ibu?” Autumn mengernyitkan keningnya tak mengerti.


“Ya. Aku berbicara tentang pria yang tengah berbincang dengan ayahmu di ruang tamu, Sayang,” jawab Arumi tenang, tetapi membuat Autumn seketika menangkap sesuatu yang salah dari arah perbincangan sang ibu. “Aku menyukai Gabriel. Ayahmu juga sepertinya demikian. Gabriel pria yang sopan dan sangat manis, dia sangat ramah dan memiliki senyuman yang menawan. Kelihatannya dia juga berwawasan luas. Ah, satu paket yang sempurna. Sungguh luar biasa,” Arumi menunjukan kekagumannya secara terang-terangan.


Akan tetapi, itu bukan berita baik bagi Autumn. “Ah, tidak. Ibu telah salah paham. Aku dan Gabriel hanya berteman . Dia memang pria yang sangat ramah dan selalu tersenyum kepada semua orang yang bahkan tidak dikenalnya. Dia juga telah banyak membantuku di kantor. Namun, itu tidak berarti bahwa kami memiliki hubungan yang lebih. Ya, maksudku … kami memang hanya sekadar teman,” jelas Autumn.


“Oh, Sayang. Kapan kau akan belajar untuk lebih peka? Apakah kau tidak bisa melihat bagaimana cara pria itu saat menatapmu?” Arumi merasa tak habis pikir dengan sikap dan jalan pikiran Autumn.


Seketika pikiran Autumn tertuju kepada sosok Benjamin Royce. Pria dengan senyuman memesona dan tatapan yang penuh arti itu memang terlalu sempurna untuk dia lewatkan, meskipun Autumn tak tahu akan seperti apa hubungan percintaan yang dia jalani dengan pria itu untuk ke depannya. Namun, apa yang telah dilewatinya bersama lajang beranak satu itu, sungguh merupakan sesuatu yang luar biasa. “Ya, Ibu memang benar. Dia memiliki mata yang indah. Aku selalu bergetar hebat setiap kali dia memandangku berlama-lama. Selain itu, dia juga seorang pencium yang sangat hebat. Aku sangat menyukainya dan benar-benar jatuh cinta kali ini. Pria bermata abu-abu memang memiliki magnet yang luar biasa. Bukankah begitu, Bu?” racau Autumn yang saat itu tanpa sadar tengah mengkhayalkan Benjamin.


“Abu-abu? Setahuku Gabriel bermata hijau. Lalu, pria mana yang sedang kau bicarakan, Elle?” tanya Arumi seraya mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


__ADS_2