The Gray Autumn

The Gray Autumn
Le Sourire


__ADS_3

Wanita dengan kebaya dan sanggul rapi tersebut mendehem pelan sambil berjalan mendekat. Di belakangnya tampak juga Moedya yang tak kalah rapi dengan mengenakan batik lengan panjang. Tatapan pria itu langsung tertuju kepada Autumn yang juga menoleh padanya. Tanpa diduga, gadis bermata abu-abu itu tersenyum kecil. Senyuman yang segera berbalas hal yang sama dari Moedya.


"Jen, om pikir kamu datang sendiri. Kenapa Elle tidak diajak masuk?" Moedya mempercepat langkahnya. Kini dia sudah berdiri di sebelah Patra yang melirik sang ayah dengan keheranan.


"Elle masih malu-malu, Om," jawab Jenna yang sudah kembali mengenakan helm. Gadis itu bahkan telah duduk di atas motor dan menyalakan mesinnya.


"Kenapa harus malu, Elle?" sikap Moedya saat itu terlihat sangat lembut kepada Autumn, sehingga membuat wanita yang tiada lain adalah Diana tampak memasang raut aneh. Sementara Autumn tidak menjawab. Gadis berambut cokelat itu hanya tersenyum kecil.


"Papa kenal dia?" bisik Patra. "Sebaiknya jangan terlalu banyak senyum. Lihat di sebelah ada siapa."


Dengan segera Moedya melirik sang istri yang seakan tengah meminta penjelasan padanya. Moedya pun segera merengkuh pundak Diana. "Elle, perkenalkan ini istri Om," ucap pria itu dengan tenang. Autumn mengalihkan tatapan kepada Diana, lalu tersenyum. Akan tetapi, dia tak banyak bicara karena melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh wanita itu. Autumn lebih memilih untuk segera duduk di belakang Jenna yang telah siap dengan motor maticnya.


"Kami permisi dulu, Om, Tante," selesai berpamitan, Jenna pun melajukan kendaraan roda duanya keluar dari halaman bangunan megah tadi dengan diiringi tatapan sang tuan rumah.


Tak ingin menimbulkan masalah, Moedya segera beralih kepada Patra. "Siapa yang nyetir?" tanyanya.


"Aku saja. Sepertinya Papa ada pekerjaan lain. Mengemudi butuh konsentrasi tinggi," celoteh pemuda itu dengan santai. Dia lalu berjalan ke dekat mobilnya sambil mengeluarkan kunci.

__ADS_1


"Ayo," ajak Moedya kepada sang istri yang sedari tadi hanya terdiam. Walaupun usia pernikahan mereka berdua telah puluhan tahun dan juga sudah dikaruniai tiga orang anak, tetapi Diana masih kerap mencemburui hal-hal kecil yang Moedya lakukan. Seperti halnya tadi. Sementara Moedya pun sudah dapat memahami makna dari sikap yang Diana tunjukkan padanya. Karena itu, dia sudah tidak merasa terganggu lagi dengan hal demikian.


"Aku baru tahu jika Jenna punya sepupu orang Perancis," ucap Patra ketika mereka sudah berada di perjalanan.


"Apa gadis tadi sepupu Jenna, Pat?" Diana mulai bersuara.


"Iya, Ma. Katanya dari Perancis," Patra menegaskan. Sedangkan Diana segera menoleh kepada Moedya yang masih terlihat tenang. Dia seakan ingin meminta sebuah penjelasan kepada sang suami. Namun, sayangnya Moedya terlihat enggan untuk membahas hal itu, membuat Diana hanya bisa kembali terdiam. Dia tahu betul seperti apa karakter sang suami. Moedya tak akan bicara jika dia tak menghendaki. Itu sudah menjadi sifat pria tersebut sejak dulu.


Sementara Patra hanya senyum-senyum sendiri. Bayangannya tertuju pada gadis Perancis yang dia temui beberapa saat yang lalu. Autumn begitu cantik dengan mata abu-abunya yang sangat indah. Dia juga memiliki postur tubuh di atas rata-rata. Gadia itu benar-benar kekasih idaman. Patra bersikap seakan-akan dirinya sudah menjadi seorang pria dewasa.


......................


Terkadang Benjamin berpikir bahwa Edgar memang sengaja menyembunyikan anak gadisnya itu. Namun, dia juga kembali teringat akan kata-kata yang terakhir kali Autumn ucapkan padanya, bahwa dia pasti akan kembali. Akan tetapi, ternyata Benjamin tidak bisa menunggu. Hatinya terlalu cemas. Rasa rindu pun kian menguasai dan seakan melumpuhkan segala logika dalam dirinya.


"Bibi, apakah papaku masih berdiam diri di ruang kerjanya?" tanya Fleur yang mulai mencemaskan sang ayah. Bagaimanapun juga, Fleur seorang anak perempuan. Perasaannya jauh lebih halus dan juga peka.


"Iya, Sayang. Tidak apa-apa, Ayahmu butuh waktu untuk menenangkan diri. Orang dewasa memang sudah biasa seperti itu. Lama-lama juga dia akan bersikap kembali seperti sediakala," jelas Aamber dengan lembut.

__ADS_1


"Apakah menurut Bibi aku sudah bersikap tidak adil terhadap papa?" tanya Fleur dengan raut tak enak.


"Tidak, Sayang. Kau masih kecil, jadi jangan pernah menyalahkan dirimu untuk hal-hal seperti itu. Tidak ada yang salah, karena kau juga berhak atas papamu," ucap Aamber. Dia mengakhiri apa yang dikerjakannya, ketika rambut panjang Fleur sudah tertata rapi dan cantik.


"Iya, aku tahu. Seharusnya aku lebih berhak memiliki papa dibanding siapa pun juga. Namun, papa terlalu menyukai Elle," sesal Fleur.


Aamber tersenyum lembut. Dia lalu meletakkan sisir yang baru saja digunakannya. Sisir itu dimsukan ke dalam kotak khusus, disatukan dengan peralatan lainnya. "Sudah selesai, Sayang. Kau terlihat sangat cantik. Sama seperti ibumu," Aamber melirik foto Samantha yang terpajang di dinding kamar Fleur.


"Papa juga mengatakan begitu, Bibi. Apakah aku memang mirip dengan ibu?" binar indah muncul di kedua bola mata abu-abu milik Fleur.


"Aku rasa ... iya. Kau sama cantiknya dengan ibumu. Kelak, kau pasti akan mendapatkan pria yang baik dan tampan seperti ayahmu," ujar Aamber seraya mengecup pucuk kepala gadis kecil itu.


"Bagaimana dengan Elle? Menurut Bibi, apakah dia cantik?" pertanyaan yang terdengar sangat polos dari bibir anak berumur sepuluh tahun itu.


Akan tetapi, Aamber tidak segera menjawab. Dia hanya tersenyum kemudian memasangkan sebuah jepit cantik di antara helaian rambut Fleur. "Elle sangat cantik. Namun, bagiku kau jauh lebih cantik," jawab Aamber masih dengan sikap dan nada bicaranya yang lembut.


"Kalau begitu, antarkan aku ke ruang kerja papa. Aku ingin bicara dengannya. Papa pasti sedang membutuhkan teman bicara saat ini," pinta Fleur dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Dengan senang hati, Sayang," sahut Aamber segera mendorong kursi roda Fleur menuju ruang kerja Benjamin. Mereka berjalan melewati koridor dengan lampu tempel yang indah, hingga akhirnya tiba di ruangan yang dituju. Namun, ternyata saat itu Benjamin tidak berada di ruangannya. Entah pergi ke mana lajang tiga puluh lima tahun tersebut. "Papamu tidak ada di sini, Sayang," ucap Aamber seraya menutup pintu ruang kerja.


__ADS_2