
"Oh, iya. Baiklah. Aku bisa memahaminya, Ben," ucap Autumn mencoba menepiskan rasa kecewa dalam hatinya. Bayangan jika dirinya bisa segera mengikrarkan hubungan istimewanya dengan Benjamin di depan umum, ternyata harus kembali tertunda.
"Aku harus menyelesaikan masalah dengan bertahap. Aku akan menangani Fleur terlebih dahulu, setelah itu baru menemui dan bicara kepada tuan Hillaire," jelas Benjamin. Dia tak ingin Autumn menjadi salah paham terhadap dirinya.
Autumn tidak menjawab. Gadis itu hanya mengangguk pelan. Mau tak mau, dirinya harus mengikuti alur yang sudah direncanakan Benjamin. Autumn yakin jika pria yang dicintainya itu sudah memperhitungkan segala segala sesuatu dengan matang.
"Bicara kepada tuan Hillaire pun butuh persiapan yang matang, Elle. Aku mengenal seperti apa ayahmu. Meskipun kami adalah rekan bisnis yang solid, tapi itu tidak menjamin bahwa ayahmu akan begitu mudah menyerahkan anak gadisnya kepada pria sepertiku," terang Benjamin. Dia seakan tengah memberi pengertian kepada Autumn secara hati-hati.
"Aku tahu itu, Ben. Akan tetapi, rasanya sangat melelahkan ketika aku harus terus-menerus berbohong kepada mereka. Aku tidak terbiasa melakukan hal itu, meskipun aku sering keluar rumah dengan diam-diam," ujar gadis bermata abu-abu itu dengan raut sedikit kecewa.
"Ayolah, Elle. Tolong jangan membuatku berada dalam situasi yang membingungkan. Suatu saat nanti, kita pasti bisa memperlihatkan kepada dunia bahwa kau dan aku adalah dua orang yang saling mencintai. Akan tetapi, tidak saat ini. Terlebih dengan apa yang terjadi kepada Fleur."
"Lalu apa masalahnya, Ben? Kenapa kita harus terus menutupi hubungan ini? Apakah kau tengah menyembunyikan sesuatu dariku?" tukas Autumn dengan alisnya yang tampak bertaut.
"Tidak ada. Aku tidak menyembunyikan apapun darimu. Kenapa kau berpikir seperti itu?"
__ADS_1
"Ya, bisa saja kau menutupi hubungan kita karena di sisi lain ada perasaan orang lain yang harus kau jaga. Itu bukan hal yang tidak mungkin untuk pria sepertimu," ujar Autumn. Dengan tanpa sadar dia mengucapkan kalimat seperti itu, dan seakan tak berpikir sama sekali jika Benjamin akan bereaksi atau bahkan tersinggung dengan ucapannya.
"Pria sepertiku? Maksudmu?" Benjamin mengernyitkan keningnya. "Apa kau masih berpikir bahwa aku memiliki wanita lain, Elle? Oh, astaga! Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?" protes Benjamin. Dia tak terima jika Autumn menuduhnya tanpa alasan yang jelas.
"Maafkan aku, Ben. Namun, kenyataannya aku tidak dapat memikirkan alasan lain selain itu. Semua pembenaran dari sikapmu yang menginginkan agar hubungan ini dirahasiakan dari semua orang, tidak mendapat jawaban apa-apa dari akal sehatku, dan hanya jawaban itu yang terbersit dalam otakku," tutur Autumn dengan sedikit emosi. Susah payah gadis itu untuk dapat mengendalikan dirinya agar tidak semakin meledak.
"Ayolah, Elle. Ini sama sekali tidak lucu!" Benjamin mendengus pelan. Pria itu juga tengah berusaha agar tak terpancing. Lagi pula, karakter Benjamin memang jauh lebih tenang jika dibandingkan Autumn. Gadis itu masih berada dalam kungkungan jiwa muda yang terkadang bersikap labil dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk perasaannya sendiri.
Tepat di saat kedua sejoli itu tengah berdebat, meskipun dengan suara yang pelan, Aamber datang menghampiri. Pada awalnya, dia menatap Autumn. Sesaat kemudian, wanita paruh baya itu mengalihkan pandangan kepada Benjamin. "Ben, bisakah kita bicara sebentar?" tanyanya.
Dari nada bicara serta raut wajah pengasuh dari Fleur tersebut, Autumn yakin jika wanita itu hanya ingin berbicara berdua dengan Benjamin. Gadis itu pun harus kembali menahan dirinya karena rasa diabaikan. "Baiklah, aku akan ke kamar dulu," pamit Autumn dengan lesu. Dia berbalik dan meniggalkan ruangan itu. Namun, sayup-sayup Autumn mendengar apa yang Aamber katakan kepada Benjamin
"Ada apa dengan anak itu? Aku sudah berkali-kali memberinya pengertian, kenapa dia tidak juga mau memahaminya?"
"Dia masih kecil, Ben," Aamber membela Fleur.
__ADS_1
"Usianya sudah sepuluh tahun. Seharusnya dia sudah dapat memahami bahwa apa yang terjadi pada dirinya bukanlah kesalahan Elle. Kenapa Fleur terus berpikir seperti itu?" Benjamin kembali terlihat gusar.
"Kita akan menjelaskan itu dengan pelan-pelan, Ben. Kau ataupun aku tak bisa memaksa agar Fleur bersedia menerima semua penjelasan yang bahkan mungkin belum dia pahami dengan jelas. Karena itu, kita turuti saja apa keinginan putrimu," terang Aamber.
"Fleur berkali-kali menegaskan padaku, bahwa dia akan ikut denganmu ke Paris, tapi tanpa Elle. Silakan kau pertimbangkan sendiri hal itu," lanjut wanita paruh baya tersebut. Sementara Benjamin hanya mendengus pelan saat mendengar ucapan Aamber barusan.
Autumn yang diam-diam mendengarkan percakapan tersebut, langsung saja menuju kamarnya. Tak ada alasan bagi dirinya untuk tetap berada di sana. Gadis itu kembali mengeluarkan koper. Rasa kesal, marah, jengkel, dan kecewa, bertumpuk menjadi satu dalam dada dan tak dapat dia lampiaskan. Autumn kemudian mengemasi beberapa barang-barang pribadinya yang lain ke dalam koper.
Setelah gadis itu selesai mengemasi semua barang-barangnya, Benjamin datang dan masuk ke kamar. Dia tertegun melihat Autumn yang tengah berdiri di dekat tempat tidur dengan koper yang telah siap untuk dibawa pergi. "Kau hendak ke mana, Elle?" tanyanya.
"Aku akan kembali ke Paris sekarang juga. Tidak ada gunanya jika aku tetap berada di sini," jawab gadis itu datar dan tanpa menoleh sama sekali kepada Benjamin.
"Tidak, bukan itu yang kuinginkan, Elle!" sergah Benjamin seraya meraih lengan Autumn hingga gadis itu menoleh.
"Semuanya ingin agar aku pergi dari sini. Aku mendengarnya, Ben! Aku masih di sana saat Aamber bicara denganmu, dan itu bukan salahnya ataupun salah Fleur. Aku tidak tahu ini salah siapa, tapi yang pasti aku tidak ingin membuat Fleur merasa tidak nyaman dengan kehadiranku di sini. Kau harus membawanya ke Paris dan memberikan dia pengobatan yang terbaik. Aku bisa menunggu. Ya, aku akan menunggunya, Ben. Akan tetapi, untuk saat ini memang sebaiknya aku pergi saja. Aku akan kembali ke Paris terlebih dahulu," Autumn meraih gagang koper dan menggeretnya menuju pintu.
__ADS_1
"Apakah hanya sebatas itu keberanianmu, Elle?"
Autumn tertegun. Dia lalu menoleh kepada Benjamin. "Aku tidak terbiasa berurusan dengan anak kecil, Ben. Aku belum tahu bagaimana cara menghadapinya. Jika kau membutuhkan waktu, maka aku juga demikian. Tolong berikan aku jarak agar diriku dapat bernapas dan mengambil sikap," ucap Autumn yang kemudian memegangi gagang pintu dan bermaksud untuk membukanya. Akan tetapi, dengan segera Benjamin mencegah hal itu. Dia meraih tangan Autumn.