The Gray Autumn

The Gray Autumn
Dos Surpris


__ADS_3

Autumn mengernyitkan kening. Ia melangkah ke dekat lemari es dan membukanya. Benda itu terisi penuh oleh berbagai jenis makanan. "Apa kau menyewa jasa penata lemari es untuk membereskan ini, Ben?" tanya Autumn dengan agak nyaring, karena saat itu Benjamin berada agak jauh dari dirinya.


"Menurutmu begitu?" Benjamin balik bertanya. Ia lalu menghampiri Autumn yang tengah mengambil satu wadah kecil yoguhrt. Autumn kemudian menutup pintu lemari es berukuran besar tersebut.


"Boleh aku minta satu?" Autumn tersenyum geli menunjukkan deretan giginya yang putih.


"Ambil saja," sahut Benjamin seraya terus mendekat. Tanpa aba-aba terlebih dahulu, ia mengangkat tubuh Autumn dan mendudukannya di atas meja berlapis marmer berwarna abu-abu. Benjamin kemudian berdiri tepat di hadapan gadis itu dengan meletakkan tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Autumn. Saat itu, Autumn tengah sibuk membuka penutup wadah yoghurt tersebut.


"Katakan sesuatu padaku, Elle," Benjamin kembali membuka percakapan.


"Tentang apa?" Autumn mengangkat wajah hingga langsung bersitatap dengan pria rupawan di hadapannya.


"Apa kau yakin dengan perasaanmu padaku?" suara dan nada bicara Benjamin terdengar begitu dalam. Pria berambut cokelat tembaga itu tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari sosok cantik yang mulai membuatnya merasa tertarik.


"Aku akan menjawabnya, tapi tolong ambilkan sendok terlebih dahulu," pinta Autumn dengan sikap manja. Namun, itu tak masalah bagi Benjamin. Dengan senang hati ia menuruti perintah gadis cantik tersebut. Ia menyodorkan sendok berukuran kecil kepada Autumn yang segera mencicipi yoghurtnya. Sedangkan Benjamin kembali pada posisi tadi.


"Aku bukanlah tipe orang yang betah berlama-lama memendam sebuah perasaan atau apapun itu. Aku sama sekali tidak menyukainya, sebab pasti akan kesulitan tidur karena hal itu," terang Autumn dengan entengnya.

__ADS_1


"Kau gadis yang unik, Elle. Itulah yang membuatku tertarik padamu," ujar Benjamin seraya terus menatap Autumn.


"Sejak kapan kau menganggapku unik? Semenjak aku menginjak kakimu dengan keras?"celoteh Autumn diiringi tawa renyah. "Apa kau tak memikirkan perasaanku sama sekali? Malam itu kau meniduriku, lalu mengatakan jika aku harus melupakan semuanya ketika pagi datang. Kau adalah pria pertama yang menyentuhku seperti itu, dan terus terang bahwa aku tak bisa melupakannya begitu saja," Autumn memasukan satu suapan ke dalam mulutnya. Ia terdiam untuk sejenak. Sementara Benjamin masih menatap gadis itu dengan lekat.


"Kau pasti sudah terbiasa melakukannya dengan para wanitamu," ucap Autumn lagi pelan dengan raut sedikit sendu. Entah ia harus menyesali hal itu atau bersikap tak peduli sama sekali. Namun, perasaanya menjadi aneh ketika ia membayangkan Benjamin melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan dengan wanita lain.


Autumn masih dapat merasakan dengan jelas setiap perlakuan pria bermata abu-abu itu padanya. Semuanya terasa begitu luar biasa. Untuk yang pertama, nalurinya sebagai seorang wanita terbangkitkan oleh sebuah hasrat yang bahkan belum pernah terpikirkan sama sekali. "Aku tak mengerti kenapa bisa langsung menerimamu dalam diriku," ucap gadis itu pelan.


"Bukankah kau memiliki seorang kekasih?" pancing Benjamin.


"Ah, kumohon jangan membahasnya," pinta Autumn dengan setengah mengeluh. "Hubungan kami sudah berakhir, dan aku tak peduli lagi padanya," ucap Autumn pelan.


"Entahlah. Aku rasa mungkin satu tahun atau lebih, aku lupa. Kami jarang bertemu. Ia selalu sibuk dengan urusannya sendiri, dan melakukan apapun yang disukainya. Aku hanya merasa lelah dan butuh sedikit penyegaran. Lalu aku bertemu denganmu secara tanpa sengaja. Luar biasa sekali, ternyata kau adalah rekan bisnis ayahku dan kau takut padanya," Autumn mengakhiri kata-katanya dengan sebuah sindiran halus. Ia tak peduli meskipun Benjamin akan tersinggung karena ucapannya tadi.


Sedangkan Benjamin justru tertawa seraya menggeleng pelan. "Satu hal yang harus kau ketahui bahwa aku tak takut pada siapa pun," bantahnya.


"Kau takut untuk jatuh cinta," sanggah Autumn.

__ADS_1


"Oh, itu beda lagi, Nona," bantah Benjamin. "Aku hanya tidak suka dengan situasi rumit yang akan kuhadapi nantinya. Komitmen butuh perjuangan dan juga pengorbanan. Selama ini, aku sudah terlalu banyak berjuang dalam hidup. Aku merasa lelah dan kupikir ini saatnya untuk beristirahat sambil bersenang-senang," jelasnya.


"Jadi kau hanya memanfaatkanku sebagai sarana untuk bersenang-senang? Itu terdengar jauh lebih sadis dari sebuah penolakan cinta. Kau membuatku kecewa," sesal Autumn seraya menatap lekat pria bermata abu-abu itu.


"Tidak, jangan berpikir demikian. Aku hanya bingung harus menjelaskannya dari mana. Sejujurnya, aku belum pernah menceritakan hal ini kepada wanita manapun," Benjamin terlihat ragu. Sementara Autumn tampak semakin penasaran dibuatnya, terlebih ketika ia melihat pria itu terdiam dan berpikir.


"Apa yang kau pikirkan, Ben?" tanya Autumn resah.


"Aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang," jawab Benjamin terdengar yakin. Namun, hal itu membuat Autumn terpaku menatap dengan rasa cemas yang terlukis jelas dalam sorot matanya.


"Siapa?" tanya Autumn pelan. Ia ragu apakah harus mendengar jawaban Benjamin atau memilih untuk pergi saja. Perasaannya mulai tak enak saat itu. Sementara Benjamin dapat menangkap raut penuh keresahan yang Autumn tunjukan padanya. Pria bermata abu-abu tersebut tersenyum kalem seraya mencolek yoghurt dengan ujung telunjuknya. Ia lalu mengoleskan yoghurt tersebut pada permukaan bibir Autumn, membuat gadis itu terbelalak kaget.


Akan tetapi, dengan segera Benjamin mendekatkan wajahnya. Ia melu•mat bibir dengan yoghurt tersebut seraya menjilatnya perlahan. Semua keresahan yang sempat muncul dalam diri Autumn pun seakan lenyap. Tak ada lagi yang ia pikirkan saat itu, selain menikmati setiap luma•tan lembut yang Benjamin berikan padanya. Autumn kemudian meletakkan wadah yoghurt di sebelahnya. Ia lalu melingkarkan kedua tangan pada leher pria rupawan yang kini mengangkat tubuhnya dan membawa ia keluar dari dapur.


"Aku ingin menculikmu sebentar," bisik Benjamin sambil terus berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Autumn hanya tersenyum. Tentu saja ia tak akan menolak hal itu. Dengan senang hati Autumn bersedia untuk mengulang malam di Marseille beberapa waktu silam. Petang itu, Autumn kembali merasakannya, sesuatu yang menjadi candu dan membuat gadis berambut panjang tersebut menginginkan hal itu lagi dan lagi. Ia begitu menikmati sensasi luar biasa dari setiap perlakuan Benjamin padanya. Autumn melupakan sesaat percakapan mereka tadi.


Menjelang malam, keduanya baru menyelesaikan aktivitas panas tersebut. Autumn membaringkan tubuh polosnya di atas tubuh Benjamin. "Katakan, Ben. Siapa yang ingin kau kenalkan padaku?" tanya Autumn.

__ADS_1


"Seorang gadis yang sangat aku sayangi," jawab Benjamin, membuat Autumn membelalakan matanya.


__ADS_2