
"Dengar, Tuan Penguntit! Kau tidak berhak penasaran atau apapun itu yang berhubungan denganku, karena aku tak akan pernah mengizinkannya! Lagi pula, untuk apa kau terus membuang waktumu dengan sia-sia seperti ini?" cibir Autumn. "Ah, sudahlah! Aku juga telah membuang waktuku dengan terus berdiri di sini dan meladenimu," Autumn melanjutkan langkahnya dengan menyebrang jalan. Ternyata, Leon masih saja mengikuti. Namun, Autumn tak memedulikannya lagi.
"Jadi ini dirimu sekarang, Elle? Aku benar-benar tidak menyangka," ucap Leon lagi seraya terus mensejajari langkah cepat Autumn.
"Apa maksudmu?" tanya gadis itu tanpa menoleh apalagi menghentikan langkahnya.
Leon tertawa renyah. "Kau berhubungan dengan tiga pria sekaligus. Luar biasa sekali dirimu, Elle," ucap pria itu dengan seenaknya, membuat Autumn tertegun dan seketika menoleh. Gadis itu menatap tajam kepada pria di sebelahnya. Leon membalas tatapan Autumn dengan tenang. Ia bahkan terkesan menantang si pemilik rambut cokelat tersebut. Dalam bayangan pria itu, Autumn akan segera marah dan bahkan mungkin hingga melayangkan tinju kepadanya. Namun, ternyata semua yang ada di pikiran Leon berlainan dengan kenyataan.
Autumn tersenyum manis penuh rasa bangga. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Leon dan berbisik. "Kau benar. Aku memang menjalin hubungan dengan lebih dari satu pria, dan aku sudah menghabiskan malam bersama salah satu dari mereka. Sesuatu yang tak pernah aku lakukan denganmu, dan aku bersyukur tak sampai melakukannya," nada bicara Autumn terdengar penuh dengan ejekan terhadap Leon. Selesai berkata demikian, gadis bermata abu-abu itu kembali melanjutkan langkah dan terus menjauh dari Leon yang saat itu hanya mampu terpaku di tempatnya berdiri. Leon mengempaskan napas penuh sesal. Ia terus menatap kepergian Autumn yang makin lama semakin tak terlihat dan menghilang di balik bangunan tinggi.
Tak berselang lama, Autumn tiba di kantor. Seperti biasanya, selalu ada sapaan hangat dari rekan-rekan yang lain, tak terkecuali sang ketua marketing, Gabriel Archambeau. Pria itu selalu terlihat ramah dengan senyuman manisnya yang bersahabat. "Selamat pagi, Elle. Selamat pagi semuanya," sapa Gabriel dengan pandangan menyapu satu per satu rekan satu timnya. Mereka pun membalas sapaan pria bermata hijau itu dengan hangat. Ah, sungguh itu merupakan suasana tempat kerja yang teramat nyaman.
Ini adalah hari kesekian bagi Autumn dalam menjalani masa magangnya. Ia belajar banyak hal selama itu, dan rekan-rekan yang lebih senior pun tak sungkan untuk membimbingnya. Ya, setidaknya itulah yang Autumn harapkan. Setidaknya ada sesuatu yang ia peroleh dari apa yang sudah dijalaninya.
Tanpa terasa, waktu makan siang telah tiba, ketika ponsel milik Autumn bergetar karena sebuah pesan masuk. Gabriel mengajaknya untuk makan siang bersama di cafetaria seberang kantor. Tak ada alasan bagi Autumn untuk menolak. Ia pun menyetujui hal itu. Autumn kemudian membereskan meja kerjanya sebelum ia pergi ke cafetaria yang dimaksud. Setelah selesai, barulah gadis bertubuh semampai tersebut melangkah keluar dan menuju ke sana.
__ADS_1
Di salah satu meja, Gabriel tampak sudah menunggu. Ia melambai kepada Autumn dengan senyumannya. Autumn pun segera menghampiri dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan pria itu. "Aku belum memesan apa-apa. Aku tidak tahu makanan atau minuman kesukaanmu," ucap Gabriel membuka percakapan.
"Aku suka semua makanan, asalkan tidak mengandung racun," kelakar Autumn diiringi tawa renyah yang berbalas hal sama dari Gabriel.
"Kau sungguh lucu, Elle," ujar pria itu seraya memanggil seorang pelayan dan mulai memesan menu makan siang untuk mereka berdua. "Kelihatannya kau sudah mulai menikmati hari-harimu di kantor. Aku senang melihatnya. Kau beradaptasi dengan sangat cepat," Gabriel kembali mengajak berbincang.
"Aku harus menikmati segala hal yang sedang kujalani, itulah yang sering ibuku katakan," sahut Autumn. Sesekali ia menoleh ke jalan di mana ada beberapa orang yang berlalu-lalang.
"Seandainya ada tawaran untuk menjadi karyawan kontrak untukmu, apakah kau akan menerimanya?" Gabriel mengangguk pada pelayan yang baru saja menghidangkan semua pesanan mereka.
"Aku rasa tidak. Niatku hanya untuk mencari pengalaman. Aku tidak ingin bekerja di kantoran," ujar Autumn seraya mencicipi minuman yang telah ia pesan.
"Entahlah, aku juga masih merasa bingung. Ada banyak hal yang aku cita-citakan, tapi aku belum menemukan gairah terbesar yang membuatku harus mengambil salah satu dari mereka. Apa itu terdengar bahwa aku seperti gadis yang labil?" Autumn memainkan kedua bola matanya yang indah. Sedangkan Gabriel hanya tertawa pelan.
"Kau masih muda, Elle. Itu merupakan hal yang wajar bagi gadis seusia dirimu, meskipun terkadang ada beberapa orang yang memang dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Contohnya adalah aku," ujar Gabriel lagi.
__ADS_1
Autumn tampak menautkan alisnya. Ia menopang pipi dengan tangan kiri sambil terus menatap pria tampan di hadapannya. Ya, Gabriel memang terlihat menawan, meskipun daya pikatnya tak sebesar milik Benjamin Royce. Pria bermata abu-abu itu memang tiada duanya.
"Aku ingin bercerita banyak padamu, Elle. Namun, butuh waktu selama berhari-hari untuk melakukannya, karena perjalanan hidupku sangat panjang," ucap Gabriel lagi tanpa sungkan atau terlihat canggung.
"Ibumu pasti wanita yang ramah, karena kau juga terlihat seperti itu," ucap Autumn sambil mengunyah makanannya.
"Aku menyukai sikap ramah yang hangat dan terbuka. Bagiku itu seperti sebuah amal yang tak terbatas. Tak akan merugikanku sama sekali," balas Gabriel. "Apa kau sudah memiliki kekasih, Elle?" tanya Gabriel tiba-tiba membuat Autumn hampir tersedak saat mendengarnya. Sepasang mata berwarna hijau itu menatap lekat Autumn dan seakan berharap agar gadis itu segera memberikan jawaban.
"Memangnya kenapa?" Autumn balik bertanya.
"Tentu saja karena aku ingin mengajakmu berkencan," jawab Gabriel dengan tawanya. "Ah, tidak. Aku hanya bercanda. Aku yakin gadis secantik dirimu tak mungkin jika belum memiliki seorang kekasih," lanjutnya.
Autumn tersenyum simpul. Ingin rasanya ia mengatakan pada semua orang bahwa kini ia adalah milik dari Benjamin Royce, sang penguasa The Royal Royce. Akan tetapi, Autumn harus sedikit bersabar untuk menunggu saat itu tiba. "Apa kau pernah jatuh cinta pada pandangan pertama?" tanya gadis itu kemudian setelah ia mengakhiri renungan singkatnya.
"Ya," jawab Gabriel singkat.
__ADS_1
"Menurutmu, hal seperti itu apakah tidak terlalu terburu-buru?" entah apa maksud dari pertanyaan Autumn saat itu.
"Banyak yang mengatakan bahwa cinta datang tanpa diduga. Aku rasa tidak ada kata terburu-buru ataupun terlambat. Semua hal akan datang pada saat yang paling tepat."