
Dengan hati-hati, Darren mendudukan Fleur di atas kursi roda yang telah Aamber siapkan. Pemuda itu kemudian tersenyum ramah. "Kalian siapa?" tanyanya.
"Kami ingin bertemu langsung dengan tuan Hillaire," jawab Aamber dengan segera.
"Apakah sudah membuat janji sebelumnya?" tanya Darren lagi, membuat Aamber dan Fleur saling pandang. Sesaat kemudian, Fleur menggelengkan kepalanya perlahan.
"Oh, biasanya a ...." belum sempat Darren melanjutkan kata-katanya, sebuah sedan putih memasuki halaman rumah megah tersebut. Edgar tampak keluar dari sana dengan mengenakan kaca mata hitam dan tampilan yang kasual. Walaupun umur pria itu tak lagi muda, tetapi gayanya masih tetap terlihat modis dan selaras dengan ketampanan yang tak lekang dimakan usia. Edgar masih menjadi pria penuh pesona, sama seperti dulu ketika dirinya muda.
Pria itu berjalan ke pintu sebelah dan membukanya. Sosok cantik Arumi muncul dengan tak kalah anggun. Tak ubahnya dengan sang suami, Arumi pun terlihat awet muda. Keduanya sempat saling melempar senyum, sebelum sama-sama mengarahkan pandangan ke teras di mana Fleur, Aamber, dan Darren berada.
"Untunglah mereka pulang cepat," ujar Darren menyambut kedatangn kedua orang tuanya. "Bagaimana, Yah? Apa semuanya sudah beres?" tanya pemuda berusia dua puluh tahun itu kepada Edgar yang hanya menanggapi dengan sebuah anggukan. Perhatian Edgar saat itu tertuju kepada Fleur. Dia menautkan alis karena mendapati putri dari Benjamin Royce ada di rumahnya. "Ada tamu yang ingin bertemu denganmu," ujar Darren lagi.
"Apa kabar, Fleur? Angin apa yang membawamu kemari?" sapa Arumi dengan lembut.
"Aku ingin bicara dengan suamimu, Nyonya," jawab Fleur pelan. Gadis kecil itu tak lagi terlihat angkuh di hadapan Arumi ataupun Edgar.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Nona Kecil?" tanya Edgar dengan penuh wibawa. Rautnya tampak serius, tapi tak menunjukkan kesan menakutkan bagi Fleur. Bagaimanapun, Edgar sadar bahwa dirinya sedang menghadapi seorang anak berusia sepuluh tahun.
"Kalian sudah saling mengenal?" Darren menatap sang ayah dan Fleur secara bergantian.
"Ini adalah Fleur. Putri dari tuan Royce," jelas Arumi dengan senyumannya yang tertuju kepada gadis kecil di atas kursi roda. Sedangkan Darren terlihat sangat terkejut. Dia tak tahu bahwa Benjamin telah memiliki seorang putri. Namun, sebelum pemuda itu sempat berkata-kata lagi, dengan segera Arumi memberikan isyarat padanya. "Sayang, sebaiknya ajaklah tamu-tamu kita untuk masuk," ucap wanita itu lagi seraya menyentuh lengan sang suami.
"Ya, tentu," balas Edgar. Dia lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya. Dipersilakan kedua tamu istimewa tersebut untuk masuk. Lagi-lagi, Aamber dibuat terpana dengan kemewahan di dalam rumah yang penuh ukiran khas Eropa. Kesan mewah juga terlihat dari berbagai furniture yang menghiasi rumah tersebut. Sekarang Aamber tahu bahwa Autumn bukanlah putri dari orang sembarangan.
__ADS_1
"Silakan duduk," Edgar mengarahkan tangannya pada sofa. Tentu saja, ucapan itu dia tujukan untuk Aamber.
"Darren, segera kemasi barang-barangmu dan pastikan agar tidak ada yang tertinggal. Aku tidak ingin mendengar keluhanmu selama berada di sana," ucap Arumi. Secara tak langsung, dia menyuruh pemuda itu untuk pergi dari ruang tamu. Darren tak harus ikut mendengar apa yang akan Edgar bahas dengan Fleur. "Apa kau suka Èclair, Sayang?" tanya Arumi. Èclair merupakan salah satu varian kue sus atau choux pastry yang dibentuk memanjang
"Fleur menyukai berbagai jenis kue, Nyonya," jawab Aamber ramah. "Oh, iya. Maaf karena aku belum memperkenalkan diri. Namaku Aamber Morris. Aku adalah neneknya Fleur," wanita paruh baya itu mengulurkan tangan kepada Arumi yang terlihat keheranan. Namun, sebelum istri dari Edgar tersebut sempat bertanya, Aamber telah lebih dulu memberikan sebuah penjelasan. "Aku adalah nenek Fleur dari pihak ibunya. Putriku ... mendiang putriku ...." Aamber tak melanjutkan kata-katanya. Kegetiran itu kembali hadir dalam hatinya.
Arumi tersenyum lembut seraya menggumam pelan. Dia menyentuh lengan Aamber dengan hangat. Sebagai seorang ibu, Arumi dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh Aamber. "Tidak apa-apa, Nyonya. Aku hanya tidak tahu jika Fleur masih memiliki seorang nenek," ucapnya. Sementara Aamber mengangguk diiringi sebuah senyuman untuk menanggapi ucapan dari Arumi.
"Apakah Anda ibunda dari Elle?" tanya Aamber.
"Ya," jawab Arumi tanpa melepas senyumnya. Sesaat kemudian, dia melirik Edgar yang sejak tadi hanya terdiam menyimak. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu. Disentuhnya paha sang suami sebagai sebuah isyarat.
Edgar menoleh. Dia seakan sudah paham dengan isyarat dari sang istri. Pria berusia setengah abad lebih itu kemudian membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Jadi, apa maksud kedatangan kalian kemari?" tanyanya penuh wibawa.
"Sejujurnya aku pun tidak tahu, karena Fleur tiba-tiba mengajak kemari. Padahal hari ini seharusnya dia menjalani terapi," jawab Aamber menjelaskan.
"Aku ingin bertemu dengan Elle," jawab Fleur dengan segera. "Bisakah Anda memanggilkannya?" tatap mata abu-abu milik Fleur terlihat sedikit memohon.
"Elle?" ulang Edgar. "Untuk apa?" tanyanya. "Apakah ayahmu telah kehilangan cara untuk membujukku, sehingga dia mengutusmu kemari?" tukas pria bermata abu-abu tersebut.
"Nenekku sudah menjelaskan kepada Anda tadi. Papa tidak tahu jika aku datang kemari," sahut Fleur dengan nada bicaranya yang terdengar tegas. Sikap yang membuat Arumi begitu terpukau. Dia seakan tahu, akan seperti apa gadis kecil itu di masa depannya.
"Lihatlah, Sayang. Apakah dia mengingatkanmu pada seseorang?" tanya Arumi masih dengan senyumannya.
__ADS_1
"Ya, siapa lagi anak paling keras kepala yang suka membangkang selain Elle," jawab Edgar seraya mengempaskan napas pelan. "Kau salah besar jika tidak menyukai putriku, Nona Royce. Sikapmu sama seperti Elle saat dia kecil dulu. Aku tidak tahu apakah itu akan membuat kalian menjadi akrab atau justru saling mengalahkan," ujar Edgar kemudian.
"Oh, tentu saja tidak. Fleur dan Elle sama-sama gadis yang manis. Aku rasa, mereka pasti akan berteman baik. Aku harap begitu, Fleur," ujar Arumi.
"Kalau begitu, di mana Elle? Aku ingin bicara dengannya," ucap Fleur lagi. Tampaknya dia sedang tidak ingin berbasa-basi.
"Katakan saja kepada kami apa yang ingin kau bicarakan dengannya, biar nanti kami yang menyampaikan kepada Elle secara langsung," ucap Edgar masih terlihat tenang.
"Tidak bisa. Aku ingin bicara langsung dengan Elle," tolak Fleur dengan tegas. Namun, hal itu justru membuat Arumi semakin gemas padanya.
"Tunggu, Sayang. Akan kuambilkan sesuatu untukmu," ucap wanita paruh baya itu seraya berlalu dari sana.
Sementara Fleur menatap lekat kepada Edgar, pria yang masih tetap terlihat tenang dan penuh wibawa. "Apakah istri Anda akan memanggilkan Elle untukku?" tanya gadis kecil berambut cokelat tembaga itu.
"Tidak," jawab Edgar singkat.
'Kenapa? Apa Elle tidak bersedia menemuiku?" tanya Fleur terlihat cemas.
"Tidak juga," jawab Edgar lagi.
"Lalu?" tanya Fleur membuat Edgar mulai kehilangan kesabaran. Sudah sekian lama dirinya tidak menghadapi ocehan seorang anak kecil.
"Elle tidak bisa menemuimu, karena dia sedang tidak ada di rumah," jelas Edgar mencoba tetap sabar.
__ADS_1
"Kalau begitu ke mana dia? Aku akan menemuinya sekarang juga," desak Fleur.
"Dia tidak di Paris," jawab Edgar lugas.