The Gray Autumn

The Gray Autumn
Feuilles Mortes


__ADS_3

"Apakah Ayah sungguh akan memutuskan hubungan kerja sama dengan Ben?" tanya Autumn. Setitik kecemasan hadir dalam sorot mata yang dia layangkan terhadap pria paruh baya di hadapannya.


"Kau tahu jika aku tidak suka menarik kata-kata yang telah diucapkan. Apa yang sudah menjadi keputusan Edgar Hillaire, maka itu merupakan sesuatu yang tidak dapat diganggu gugat lagi. Terus terang saja bahwa Benjamin Royce merupakan pemegang saham tertinggi di perusahaan. Sedangkan yang kulakukan kali ini memang menyalahi aturan. Akan tetapi, aku tak peduli dengan hal itu. Harga diri keluargaku di atas segalanya dan lebih dari apapun," jelas Edgar dengan cukup tegas dan teramat yakin.


"Ya, tapi sayangnya aku sangat mencintai Ben. Dia begitu sempurna di mataku, meskipun pada kenyataannya ada banyak sekali kekurangan dalam diri pria itu, sesuatu yang bahkan dianggap tidak terpuji. Namun, bukan merupakan tugasku untuk menghakiminya. Aku tidak mengenal Benjamin Royce dari masa lalu dia. Aku bertemu dan memutuskan untuk berhubungan dekat dengannya di masa kini, saat di mana dirinya sudah mulai berpikir untuk menjalani kehidupan yang jauh lebih baik. Akan tetapi, di saat dia menghadap sepenuhnya padaku, justru akulah yang diterpa keraguan dalam hati," penuturan Autumn terdengar begitu lirih saat itu. Raut wajah serta sorot matanya tampak lesu dan juga tanpa gairah sama sekali.


"Beritahu aku, apakah yang membuatmu tiba-tiba merasa ragu?" tanya Edgar dengan dalam. Ini adalah sesuatu yang jarang sekali dia lakukan, yaitu berbicara dari hati ke hati bersama putri sulungnya. Selama ini, Edgar selalu mengungkapkan segala sesuatu yang menjadi keresahannya terhadap Arumi, dan sang istri lah yang akan menyampaikannya kepada Autumn. Namun, kini Edgar mengubah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan sejak lama. Pria paruh baya tersebut, ingin lebih mendekatkan diri dengan anak gadisnya.


"Entahlah, Ayah," jawab Autumn seraya menggeleng pelan. "Sejujurnya jika aku tidak merasa ragu lagi dengan perasaan cinta, perhatian, atau apapun yang Ben persembahkan untukku. Aku justru merasa ragu terhadap diri sendiri. Seperti yang telah Ayah katakan tadi, aku tidak yakin apakah sanggup atau tidak dalam menghadapi badai yang akan menerjang setiap saat, dan mungkin saja ketika diriku tak memiliki persiapan apapun," Autumn meraup wajah, kemudian menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.


"Lalu, apa yang akan kau katakan kepada Benjamin tentang hal ini?" tanya Edgar tanpa melepas pandangannya dari gadis cantik, yang kini tampak lesu di atas tempat tidur. "Aku tidak yakin bahwa kau akan sanggup untuk melakukannya," ucap pria itu lagi merasa ragu.


Sementara itu, Autumn terdiam memikirkan kalimat terakhir sang ayah. Jangankan untuk bicara tentang sebuah ungkapan yang menyedihkan terhadap Benjamin, Autumn bahkan tak mampu melepaskan bayangan pria itu dari ingatannya. Senyum menawan, tatap mata yang memikat, dan juga kehangatan pria tiga puluh lima tahun tersebut dalam memperlakukannya selama ini, memang terasa amat kuat. Segala hal yang berhubungan dengan pengusaha rupawan tersebut, ibarat sebuah pusaran air laut yang luar biasa dan mampu menarik apa saja di sekitarnya.


"Kalau begitu, aku tidak akan mengatakan apapun kepada Ben," putus Autumn setelah terdiam selama beberapa saat.

__ADS_1


"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Edgar lagi menegaskan keputusan yang akan Autumn ambil.


"Berlibur dan menikmati waktu dengan tenang. Aku ingin mendinginkan kepala sebelum melanjutkan rencana yang telah dibuat," Autumn menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Dia bermaksud untuk turun dari tempat tidur.


"Berlibur? Ke mana?" tanya Edgar penasaran.


"Indonesia," jawab gadis itu lagi tanpa rasa ragu sedikit pun.


"Indonesia? Sejak kapan kau ingin pergi ke sana?" Edgar tampak mengernyitkan kening, pasalnya sudah berpuluh tahun negara itu tak ada dalam daftar kunjungan mereka saat liburan. Padahal, keluarga besar Arumi berada di sana. Namun, Edgar seakan menghindari negara tersebut. Jadi, Keanu dan keluarganyalah yang kerap berkunjung ke Perancis. Arumi sendiri bukannya tak merindukan kakak kandungnya tersebut. Namun, ada beberapa hal yang tak bisa dia langgar dari keputusan seorang Edgar. Bagi Arumi, tak masalah selama dirinya masih dapat berkomunikasi baik dengan Keanu dan keluarganya.


Rasa malas yang mendera Autumn, harus gadis itu singkirkan jauh-jauh ketika dirinya kembali pada rutinitas di kantor. Walaupun begitu, jam kerja di sana dia lewati dengan tanpa terasa hingga saat pulang pun tiba. Kembali dilangkahkan kakinya di atas trotoar jalanan kota Paris. Gadis itu menikmati aroma musim gugur yang indah dengan ratusan dedaunan maple yang berjatuhan.


Autumn duduk sejenak di atas kursi taman. Pandangan matanya tak henti memperhatikan tumpukan dedaunan warna oranye kemerahan yang tampak segar. Salah besar jika musim gugur akan menjadi musim yang kelabu. Hal itu tentu saja berbanding terbalik, dengan warna cerah dari daun-daun yang berguguran tadi. Sebuah pesan pun masuk ke nomornya. Autumn memeriksa pesan yang dikirimkan oleh Benjamin. Pria itu tak henti menanyakan kabar sang kekasih, meskipun Autumn hanya menanggapi dengan biasa saja.


Aku merindukanmu.

__ADS_1


Autumn tersenyum membaca pesan tersebut. "Aku juga merindukanmu, Ben," gumamnya pelan.


"Sungguh?" suara berat itu telah berhasil mengejutkan Autumn. Dia segera mengalihkan pandangan dari layar ponsel, dan beralih pada pria dengan mantel trench coat hitam yang berada tak jauh dari dirinya.


Autumn berdiri dengan tatapan yang terus tertuju kepada pria yang kini berjalan mendekat. Seutas senyuman muncul di sudut bibir gadis itu, ketika menyambut sebuah ciuman hangat yang seketika menyibakkan udara dingin di sekitar mereka. Daun-daun maple berjatuhan, ketika dua insan itu saling berhadapan dan menautkan rasa rindu yang sempat mendera. "Kau ke mana saja?" tanya Benjamin setelah melepaskan ciumannya. Lembut dia menangkup paras cantik Autumn.


"Aku sengaja menghindarimu," jawab Autumn dengan begitu jujur, membuat Benjamin segera menautkan alisnya lalu kembali mencium mesra gadis dengan mantel cokelat itu.


"Kumohon jangan lakukan itu, Elle," pinta Benjamin. Ayah satu anak tersebut, masih belum melepaskan telapak tangannya dari wajah Autumn. Sebelah tangan Benjamin bahkan kini menelusup ke belakang leher gadis itu, dan mengusap-usapnya dengan perlahan, seperti hembusan angin yang sesekali menerbangkan beberapa lembar dedaunan ke arah mereka berdua. "Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku," bisik pria bermata abu-abu itu lagi.


Autumn tersenyum kecil. "Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," ucapnya pelan. Tak biasanya Autumn terasa begitu lembut.


"Tentang apa?" tanya Benjamin masih terlihat tenang.


"Tentang pernikahan kita," jawab Autumn lugas.

__ADS_1


Seketika raut tenang Benjamin sedikit berubah. Ada setitik rasa khawatir dalam sorot matanya. "Semuanya baik-baik saja, kan?" tanya pria itu setengah berbisik.


__ADS_2