The Gray Autumn

The Gray Autumn
Debaran


__ADS_3

Autumn yang saat itu tengah asyik berbincang bersama Jenna, Patra, dan Aldrin seketika terkejut. Akan tetapi, dia tak langsung menoleh. Autumn tak menyangka bahwa Benjamin akan menemukannya.


"Elle," suara berat Benjamin kembali terdengar dan begitu merdu di telinga gadis bermata abu-abu itu.


"Siapa dia, Elle?" bisik Jenna. Sementara Patra dan Aldrin hanya menatap lekat ke arah pria berambut cokelat tembaga di belakang Autumn.


Autumn yang sejak tadi hanya terpaku, perlahan membalikkan badan. Untuk pertama kalinya setelah lebih dari dua minggu tak bertemu, mereka berdua kembali saling bertatapan. Autumn kebingungan harus berkata apa. Sedangkan Benjamin terus memandangnya dengan tatapan yang penuh arti.


"Elle," sekali lagi pria berambut cokelat tembaga itu menyebut nama Autumn dengan begitu dalam. Sorot matanya tak teralihkan sama sekali, membuat Autumn menjadi salah tingkah.


"Ben," balas Autumn pelan. Sudah sekian lama dia tak menyebutkan nama itu secara langsung.


Entah mengapa keduanya terlihat begitu canggung. Mereka seakan kebingungan untuk mengucapkan sesuatu. Tak ada kata ataupun kalimat yang keluar dari bibir dua sejoli itu. Namun, Benjamin mencoba untuk melawan perasaan tak nyaman di antara mereka. Dia melangkah semakin mendekat hingga berdiri tepat di hadapan gadis pujaannya, tanpa mengalihkan pandangan sama sekali. "Kau terlihat berbeda," ucap pria bermata abu-abu itu.


Autumn mengangguk pelan. "Aku ... aku memotong rambut setelah beberapa hari di sini," sahut Autumn dengan tatapan yang juga tak teralihkan dari sosok rupawan penuh pesona di hadapannya.


"Kau ... terlihat sangat ... manis," ujar Benjamin lagi yang kemudian diiringi sebuah senyuman yang sangat Autumn rindukan.


"Begitukah?" tanya Autumn mencoba untuk tersenyum. Dia merasa gugup. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1


"Ya," sahut pria tiga puluh lima tahun. Baru saja dia akan kembali mengatakan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara Keanu yang memanggilnya. Benjamin pun menoleh.


"Tuan Royce. Adik iparku ingin bertemu dengan Anda," ucap Keanu.


Benjamin tersenyum simpul seraya menoleh kepada Autumn yang masih terlihat salah tingkah. Tanpa di duga, dia menyodorkan lengan seraya memberi isyarat agar gadis itu menggandengnya. Apa yang Benjamin lakukan, telah membuat Patra dan Aldrin semakin tak mengerti. Namun, semua pertanyaan dalam benak mereka segera terjawab, ketika Autumn tersenyum sambil melingkarkan tangannya pada lengan berbalut blazer yang Benjamin kenakan. Terlebih ketika sepupu dari Jenna tersebut pergi dari sana dengan pria yang asing bagi mereka.


"Trik yang sangat cerdik, Tuan Royce," ujar Keanu yang sepertinya sudah tahu siapa Benjamin sebenarnya.


Benjamin hanya tersenyum seraya menggumam pelan. Dia tak peduli dengan apapun yang akan Edgar katakan, karena dirinya tengah merasa lebih dari sekadar bahagia. Pada akhirnya, dia dapat kembali menatap wajah cantik sang kekasih secara langsung. "Maafkan aku, Tuan Winata. Aku tidak pernah bermain-main untuk urusan apapun, termasuk bisnis. Jadi, apa yang kita bicarakan kemarin tentu saja bukan merupakan sesuatu yang tidak berarti," jelas Benjamin. "Aku sangat menghargai waktu yang telah Anda sediakan untuk pertemuan itu," ucap Benjamin lagi sambil sesekali melirik Autumn yang tersipu malu.


"Terima kasih, Tuan Royce. Anda memang seorang pebisnis sejati," balas Keanu. Obrolan kecil mereka terhenti saat ketiganya sudah berada di hadapan Edgar. Pria berusia setengah abad lebih itu menatap kepada Benjamin dengan begitu lekat.


"Anda tahu jika aku lebih suka langsung bertindak daripada harus banyak bicara," sahut Benjamin dengan percaya diri.


"Ya, itu kelebihanmu. Kau juga selalu beruntung karena selalu mendapatkan sesuatu secara mudah ...."


"Ayolah, Tuan Hillaire. Aku mendapatkan putri Anda dengan susah payah, itu juga belum sepenuhnya kudapatkan," sela Benjamin seraya menoleh dan menyentuh tangan Autumn dengan lembut.


"Jangan katakan jika kalian sedang bermain sandiwara di hadapanku," tukas Autumn menatap Edgar serta Benjamin secara bergantian.

__ADS_1


"Sandiwara apa, Elle?" tanya Benjamin dengan setengah berbisik. Helaan napasnya terdengar jelas di telinga Autumn dan terasa begitu hangat.


"Ayahku baru tiba di Indonesia sore ini, Ben. Lalu, kau pun muncul begitu saja di sini," Autumn berdecak tak mengerti.


"Ah, tidak. Aku sudah tiba sejak dua hari yang lalu, tapi aku harus sedikit merayu asisten kepercayaan tuan Winata agar bersedia mempertemukanku dengannya. Tuan Winata begitu baik karena mengundangku agar datang ke pesta ini," tutur Benjamin dengan senyuman yang tampak begitu menawan. "Anda lihat, Tuan Hillaire? Tuhan memberikan jalan untuk setiap niat baik yang tulus," ucap Benjamin bangga dengan senyuman yang tak juga sirna. Senyuman yang selama berhari-hari menghilang dari paras tampannya.


"Sudahlah, aku benar-benar lelah membahas masalah itu," ucap Edgar. "Jadi kapan kau akan kembali ke Perancis?" tanyanya.


"Terserah Elle," jawab Benjamin dengan segera, membuat Autumn sontak menoleh padanya dengan alis yang hampir bertemu. Akan tetapi, lagi-lagi Benjamin menanggapi sikap Autumn dengan senyuman. "Aku tidak akan kembali ke Perancis jika tanpa membawa Elle bersamaku," ujarnya dengan tatapan lembut dan penuh arti untuk gadis cantik di sebelahnya. "Aku tidak ingin mengambil risiko lagi dengan membiarkanmu jauh dariku. Kau ingat dengan yang kukatakan dulu? Aku akan mengikatmu hingga kau tak bisa kemana pun," suara Benjamin terdengar begitu dalam.


Sementara Edgar dan Keanu hanya saling pandang. Mereka teringat dengan masa muda keduanya yang berjuang untuk mendapatkan cinta masing-masing. Edgar yang tak lelah mengejar Arumi, sedangkan Keanu yang berusaha sekuat tenaga membawa Puspa dari lembah kegelapan. Namun, kini kedua pria itu merasakan bahwa tak ada perjuangan yang sia-sia. Cinta dan kebahagiaan telah sepenuhnya ada dalam genggaman.


Ketika semua orang sibuk menikmati pesta, lain halnya dengan Benjamin dan Autumn. Mereka lebih memilih untuk berduaan di sisi lain rumah megah itu. Rasa rindu yang sudah memuncak, dan mengaburkan akal sehat seorang Benjamin. Keduanya saling berhadapan dengan tatapan lembut penuh cinta, yang beradu dan bersatu dalam sebuah sentuhan bibir hangat penuh gelora. Tak henti-hentinya mereka berciuman mesra, melupakan segala hal dan juga sekeliling. Sesekali, Autumn tertawa manja ketika Benjamin memperlakukannya dengan sangat manis. Pria itu memang sangat luar biasa. Sikap dan segala hal yang dilakukannya terhadap Autumn, telah membuat gadis bermata abu-abu tersebut luluh.


"Aku membelinya kemarin saat berjalan-jalan keliling kota. Lihatlah, ini sangat cantik," Benjamin memperlihatkan sebuah kotak berisi jepitan rambut berbentuk daun yang terbuat dari perak. Sesaat kemudian, dia memasangkan jepit cantik itu di rambut Autumn.


"Bagaimana kau bisa berpikir untuk membelinya, Ben?" tanya Autumn yang sejak tadi tak mengalihkan tatapan dari sang kekasih.


"Entahlah. Saat melihat benda ini, tiba-tiba aku teringat pada Fleur. Kau tahu, Elle? Kemarin dia menyisir rambutku hingga rapi," ucap Benjamin dengan helaan napas beratnya. "Fleur sudah berubah. Dia ingin agar kau segera kembali. Kumohon, ikutlah denganku ke Perancis dan kita lanjutkan rencana pernikahan yang tertunda. Secepatnya. Seperti yang kukatakan, aku ingin mengawali musim dingin denganmu," Benjamin terdengar bersungguh-sungguh. Dikecupnya tangan Autumn yang tengah dia genggam. Benjamin juga mencium kening gadis tersebut. Sesuatu yang tak luput dari perhatian Patra.

__ADS_1


__ADS_2