
Setibanya di rumah, Autumn segera menuju kamar. Dia bahkan mengabaikan sapaan dari Arumi yang baru keluar dari dapur. Wanita berusia empat puluh delapan itu merasa heran atas sikap aneh putri sulungnya. Arumi pun memutuskan untuk mengikuti Autumn. Namun, saat sudah berada di depan kamar anak gadisnya, ternyata pintu ruangan pribadi sang putri terkunci rapat. "Elle, buka pintunya. Ada apa, Sayang?" lembut suara Arumi terdengar dari luar kamar. Sesekali wanita yang masih terlihat cantik itu mengetuk pintu, meskipun dengan tidak terlalu keras.
Sementara Autumn saat itu telah mengempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia juga membenamkan wajah di atas bantal sambil menangis sesenggukan. Sebisa mungkin, dirinya tak ingin menimbulkan suara yang mencurigakan. Autumn semakin memelankan tangisannya. Dia tak ingin jika Arumi sampai mengetahui bahwa dirinya sedang berurai air mata saat itu.
"Elle, Sayang. Buka pintunya!" terdengar kembali seruan lembut dari Arumi. Akan tetapi, Autumn sepertinya tak berniat untuk menuruti permintaan sang ibu. Gadis itu masih terus membenamkan wajah di atas bantal yang kini mulai basah oleh air mata. "Baiklah jika kau tak ingin bicara sekarang. Dengar, Sayang. Kapanpun kau membutuhkan seorang teman, maka aku siap untuk itu," selesai berkata demikian, Arumi memutuskan untuk berlalu dari sana. Sementara Autumn masih ingin menumpahkan segala kesedihannya di atas tempat tidur.
Malam telah datang. Namun, Autumn tidak ikut bergabung di meja makan. Gadis itu tak merasa lapar sama sekali. Dia begitu malas melakukan apapun, termasuk turun dari tempat tidur untuk sekadar berganti pakaian dan membersihkan wajahnya.
Masih terbayang dalam ingatan gadis bernata abu-abu tersebut, raut wajah kecewa dan sedih yang ditunjukkan oleh Benjamin saat dirinya berpamitan. Autumn memantapkan hati untuk menjauh sesaat dari lajang beranak satu itu. Autumn hanya berharap, semoga saat dirinya kembali untuk menemui pria yang teramat dia cintai tersebut, maka pria itu masih berdiri untuk menyambutnya dengan sebuah pelukan dan ciuman hangat.
"Elle tidak bergabung dengan kita. Apa dia baik-baik saja?" tanya Edgar, karena di meja makan hanya ada dirinya dengan Arumi. Sedangkan Darren baru akan kembali sekitar dua hari lagi, dari acara yang dia ikuti bersama teman-teman sesama pecinta alam.
"Sejak pulang kerja tadi sore, Elle langsung masuk kamar. Aku sudah bertanya, tapi mungkin putri kita sedang ingin sendiri," jawab Arumi mulai menyantap menu makan malamnya. "Nanti juga jika lapar, dia pasti keluar kamar," ucap wanita itu lagi.
__ADS_1
"Dia mengatakan ingin berlibur ke Indonesia. Aku heran kenapa Elle memilih negara itu," gumam Edgar seraya mengempaskan napas pelan.
Arumi menatapnya sejenak, kemudian tersenyum. Dia memahami makna dari sikap Edgar. Semenjak dirinya pindah ke Perancis puluhan tahun silam, Arumi hanya dibawa berkunjung ke negara kelahirannya sekitar dua atau tiga kali saja, itu juga dalam waktu yang sangat singkat. Edgar beralasan bahwa kesibukan atas pekerjaan menjadi faktor utama. Namun, Arumi tahu betul jika itu hanya sekadar mengada-ada. "Indonesia sangat luas, Ed. Apa yang kau takutkan?" tanya Arumi kembali menyantap makanannya.
"Tidak ada," sanggah Edgar mencoba tetap terlihat tenang.
Arumi kembali tersenyum seraya menggumam pelan. "Kita telah memiliki dua orang anak yang sudah beranjak dewasa. Usiaku juga makin hari semakin bertambah tua. Apa kau tidak melihat kerutan di bawah mataku?" wanita cantik itu menatap sang suami.
Edgar menghentikan suapannya. Dirinya bahkan meletakkan alat-alat makan yang sedang dia pegang. Pria penuh kharisma tersebut kemudian menoleh kepada sang istri. "Boleh kuperjelas?" tanyanya seraya menggeser kursi ke dekat Arumi yang saat itu hanya tertawa pelan. Dia mendekatkan wajahnya, ketika Edgar melakukan hal yang sama. Pada akhirnya, bibir mereka saling bersentuhan, lalu bertaut dengan mesra dan juga hangat. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat, hingga suara Autumn menghentikan adegan tersebut. "Jadi, seperti itukah kalian berdua jika aku an Darren sedang tidak ada?" ujarnya seraya duduk di deretan kursi sebelah kiri Edgar.
Autumn pun ikut tersenyum, meski saat itu bayangannya lagi-lagi tertuju kepada Benjamin Royce. Pria itu juga demikian. Benjamin tak akan merasa sungkan untuk menciumnya di mana saja, tak pernah mengenal tempat. Mereka bahkan bercinta untuk pertama kalinya, di beranda terbuka rumah pantai milik pengusaha tampan tersebut. Gadis bermata abu-abu itu menggeleng pelan. Dia harus belajar untuk sesaat saja mengosongkan pikirannya dari sosok Benjamin. Namun, dia tahu jika itu merupakan hal yang teramat sulit dilakukan.
"Elle, apa benar kau akan berlibur ke Indonesia?" tanya Arumi kemudian, setelah mereka terdiam beberapa saat.
__ADS_1
"Ya, Bu. Terakhir berkunjung ke sana adalah ketika usiaku masih sangat kecil. Entahlah, karena tiba-tiba hanya negara itu yang terbersit dalam pikiranku," jelas Autumn mulai menyantap menu makan malamnya. Rupanya, gadis cantik itu sudah mulai menenangkan diri, meskipun masih terlihat sisa-sisa kekacauan di matanya. Akan tetapi, Arumi ataupun Edgar tak ingin membahasnya dengan terlalu mendalam.
"Oh, baiklah. Jadi, kapan rencananya kau akan berangkat?" tanya Arumi lagi.
"Aku sedang mengurus kelengkapan dokumen yang dia butuhkan. Semuanya akan selesai dalam beberapa hari lagi," sela Edgar.
"Ya, lagi pula aku belum mengajukan izin cuti. Namun, sepertinya akan lebih baik jika aku mengundurkan diri saja," ujar Autumn pelan.
"Terserah kau saja, Elle," sahut Edgar setelah mengakhiri santap malamnya. "Seperti yang telah kukatakan, belajarlah untuk mengambil keputusan yang paling tepat bagi hidupmu, setelah itu kau juga harus konsisten dengan keputusan yang telah kau ambil," seusai berkata demikian, Edgar lalu berdiri dan beranjak terlebih dahulu dari sana. Tampak jika pria itu sedang ada urusan lain di ruang kerjanya.
"Jangan tidur terlalu malam, Ed," ucap Arumi dengan cukup nyaring, berhubung Edgar sudah mulai menjauh dari meja makan.
"Sesuai perintahmu, Ratuku," sahut Edgar seraya menoleh dan tersenyum.
__ADS_1
Kini, di meja makan itu hanya ada mereka berdua. Autumn terdiam menunduk saat menghadapi makanan di dalam piring. Sementara Arumi memperhatikan putri sulungnya itu dengan lekat. "Kau tidak ingin bercerita kepadaku, Elle?" tanyanya kembali membuka percakapan.
"Apa yang harus kuceritakan, Bu?" Autumn tampak malas, membahas apa yang Arumi ingin ketahui dari dirinya.