The Gray Autumn

The Gray Autumn
Esprit Du Matin


__ADS_3

Matahari pagi sudah mulai bersinar meski tak terlalu terang. Sementara Autumn masih terlelap di dalam pelukan hangat Benjamin. Keduanya tampak begitu kelelahan, setelah pergulatan panas semalam suntuk yang begitu menguras energi.


Suara alarm telah berbunyi berkali-kali, tetapi kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu seakan tak peduli hingga akhirnya Autumn mulai menggeliat. Perlahan, dibukanya mata. Gadis itu pun tersenyum mendapati wajah rupawan Benjamin yang masih terlelap di dekatnya. Ini adalah pertama kali bagi Autumn, melihat pria pujaan hatinya dalam keadaan tidur.


Benjamin masih terlihat memesona meskipun rambutnya tampak acak-acakan. Aura ketampanan pria tiga puluh lima tahun tersebut sungguh luar bias. Autumn tak habis-habis mengagumi pria beranak satu itu. Didekatkan wajahnya pada paras Benjamin. Tanpa takut dianggap mengganggu, Autumn menciumi wajah dan leher pria yang masih berada dalam buaian mimpi.


Perlahan Benjamin merespon ulah nakal Autumn. Masih dengan kedua mata yang terpejam, pria itu bergerak cepat meraih tangan gadis yang sudah dia ikrarkan sebagai kekasihnya. Hal itu membuat Autumn terkejut. Akan tetapi, dia tak bisa melarikan diri. Tak berselang lama, Benjamin tersenyum renyah. "Nakal!" tegurnya pelan dengan suara agak parau khas orang bangun tidur.


"Apa kita akan sepanjang hari seperti ini?" tanya Autumn manja. Dia berpindah ke atas tubuh Benjamin yang sama polos dengannya, sehingga kulit mereka kembali bersentuhan secara langsung.


"Kita harus mandi dan berpakaian, karena tak lama lagi Fleur akan berteriak memanggilku. Biasanya dia langsung menerobos masuk kemari, membangunkan dan menganggu tidurku. Sama persis seperti yang kau lakukan tadi. Membuatku terbangun," terang Benjamin dengan sorot matanya yang terlihat begitu malas untuk bangun.


Sementara itu, Autumn hanya terkikik geli. "Hari ini aku akan menghadiri pesta pernikahan sahabat lama. Apa kau mau menemaniku?" Autumn meletakkan dagunya pada tangan yang dia lipat di atas dada Benjamin. Sementara pria itu asyik mengusap-usap punggung mulus Autumn yang terbuka lebar.


"Sahabatmu yang mana?" tanya Benjamin.


"Kuberitahu pun kau tak akan tahu," jawab Autumn. "Aku harus bersiap-siap dulu," lanjut gadis itu bermaksud untuk turun dari atas tubuh Benjamin. Akan tetapi, pria bermata abu-abu tadi segera menahannya. Dia tak melepaskan tubuh Autumn dan justru membalikan posisi mereka.

__ADS_1


Kini, Benjamin lah yang berada di atas tubuh Autumn. Pria itu menyeringai sambil menahan pergelangan tangan si gadis. "Ayolah, Ben. Apakah semalam tidak cukup?" lirih Autumn sedikit memohon agar Benjamin melepaskannya.


Namun, pria berambut cokelat tembaga itu tak peduli. Dia justru semakin suka ketika melihat Autumn memohon padanya. Tanpa aba-aba terlebih dahulu, pria itu langsung saja mengulangi penyatuan panas seperti semalam dan membuat Autumn merintih pelan. Sakit dan juga perih karena sisa-sisa permainan semalam yang dilakukan entah hingga berapa kali. Namun, Autumn tak kuasa untuk menolak. Dia hanya bisa pasrah menerima setiap hentakan cepat dari Benjamin.


Tak lebih dari lima belas menit, Benjamin telah menyelesaikan hal itu. Dia lalu mengecup kening Autumn dengan lembut. Sementara gadis itu terlihat begitu kacau. Dia meringis kecil, merasakan area kewani•taannya yang tidak nyaman. "Jahat!" Autumn terlihat kesal, terlebih karena saat itu Benjamin malah tertawa puas.


"Kau sudah mengganggu tidurku. Jadi, itulah akibatnya," sahut Benjamin dengan enteng. Dia lalu beranjak turun dari tempat tidur. "Bukankah kau ingin mandi, Elle?" Benjamin menoleh kepada Autumn yang masih bermalas-malasan di atas kasur. Namun, tak lama kemudian, gadis itu akhirnya memaksakan diri untuk bangun. Dengan tubuh yang masih polos, dia turun dan berlalu ke dalam kamar mandi bahkan mendahului Benjamin yang saat itu hanya berdiri menatapnya.


Seperti yang Benjamin katakan, tepat pukul sembilan gadis kecilnya datang dan mengetuk pintu kamar dengan kencang. Untunglah karena Benjamin dan juga Autumn telah selesai berpakaian.


"Selamat pagi, Fleur," sapa Autumn yang membukakan pintu kamar untuk gadis kecil tersebut.


"Aku hanya memastikan apakah Ben sudah bangun atau belum," jawab Autumn dengan tawa renyah. "Aku harus ke kamar dan bersiap-siap. Silakan Fleur, pria tampan ini menjadi milikmu," ucap gadis itu lagi dan diakhiri dengan sebuah bisikan.


Sementara Benjamin baru selesai merapikan rambutnya. Setelah itu, dia menghampiri kedua gadis berambut cokelat yang tengah berbisik-bisik di dekat pintu. "Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya penasaran.


Fleur segera menoleh. Gadis kecil itu tersenyum lebar. "Selamat pagi, Papa. Kau terlihat sangat tampan," sanjungnya.

__ADS_1


"Karena itulah aku jadi ayahmu, Fleur," balas Benjamin. "Jika aku tidak tampan, maka rasanya aku tak akan pantas untuk memiliki gadis kecil secantik dirimu," goda Benjamin membuat Fleur tertawa riang. Begitu juga dengan Autumn. DIa berusaha untuk menghilangkan sikap egois dan mencoba berbaik hati dengan berbagi Benjamin bersama putri kecilnya.


"Baiklah, aku harus bersiap-siap dulu," ucap Autumn pamit. Namun, langkahnya terhenti ketika Fleur memanggil. Autumn kemudian menoleh.


"Apa kau akan pergi, Elle?" tanya Fleur.


"Ya, Fleur. Aku harus menghadiri pesta salah seorang sahabat lamaku. Kenapa? Kau mau ikut?" tawar Autumn.


"Bolehkah?" Fleur terlihat bersemangat. Sementara Autumn segera melirik kepada Benjamin yang saat itu hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Jika Fleur ikut dengan Autumn, maka otomatis dia harus menemani kedua gadis itu ke pesta.


Sekitar satu jam kemudian, mereka telah bersiap. Autumn sudah tampil dengan mini dress yang membuat penampilannya terlihat sangat cantik siang itu. Sementara Fleur pun tak mau kalah. Dia memilih gaun pesta terbaiknya. Aamber menata rambut gadis kecil itu dengan rapi dan unik. Lain halnya dengan Benjamin. Dia mengenakan kemeja putih yang dilapisi blazer abu-abu. Setelah itu, ketiganya pun berangkat menuju alamat yang kemarin diberikan oleh Joelene kepada Autumn.


Ternyata, tempat berlangsungnya pesta tak terlalu jauh dari kediaman milik Benjamin. Hanya dalam waktu lima belas menit saja, mereka telah tiba di sebuah gedung mewah berlantai tiga. Joelene mengadakan pestanya di lantai teratas.


Suasana meriah dan suka cita begitu terasa di sana. Setelah menyapa tuan rumah, Autumn menikmati pesta itu dengan Benjamin dan Fleur. Dia tampak begitu bahagia. Namun, tanpa Autumn sadari jika sedari tadi ada seseorang yang terus memperhatikannya dari balik keramaian para tamu undangan.


"Aku harus ke belakang sebentar," bisik Benjamin.

__ADS_1


"Pergilah. Fleur akan baik-baik saja denganku," balas Autumn. Dia pun kembali menikmati suasana pesta dengan gadis kecil tadi. Namun, sepeninggal Benjamin tiba-tiba seseorang datang dan meraih lengan Autumn. Dia menarik gadis itu untuk menjauh dari area pesta.


__ADS_2