The Gray Autumn

The Gray Autumn
Beau Harceleur


__ADS_3

Dengan langkah penuh percaya diri, Autumn memasuki kantor dan segera menuju ke mejanya. Beberapa orang rekan satu tim telah datang, sebagian lagi entah berada di mana. Namun, satu hal yang pasti. Gabriel tak menyukai jika dia datang lebih awal dari anak buahnya. Sambil mengela napas dalam-dalam, pria berambut pirang tersebut menatap ke arah Autumn. Gadis itu balas menoleh dan tersenyum. "Selamat pagi, Tuan Archambeau," sapa gadis bermata abu-abu tadi dengan ceria.


Raut wajah Autumn yang terlihat begitu cerah, membuat Gabriel mengernyitkan keningnya. Dia melangkah ke dekat meja gadis berambut cokelat tersebut. "Ceria sekali, Elle. Aku yakin jika itu bukan karena ajakan kencan dariku," ujar pria berambut pirang tersebut.


"Diamlah. Jangan sampai ada yang mendengarmu, Gabeiel. Aku tidak ingin menjadi bahan gunjingan di antara teman-teman yang lain," tegur Autumn masih dengan sikap tenang dan raut wajah cerianya.


"Oh, ya tentu. Aku juga harus menjaga wibawaku. Cukuplah di hadapanmu aku rela menurunkan harga diri, Elle," sahut Gabriel dengan setengah menyindir. Kata-kata yang tidak terlalu ditanggapi oleh Autumn karena saat itu dia sibuk dengan ponselnya. Melihat hal itu, Gabriel memutuskan untuk meninggalkan Autumn yang tampak asyik berbalas pesan dengan seseorang. Namun, langkah Gabriel langsung terhenti, ketika dia melihat Autumn beranjak dari mejanya. Entah akan ke mana gadis itu. Karena merasa penasaran, Gabriel memutuskan untuk mengikutinya.


Langkah kaki Gabriel saat itu menuju area parkir basement. Pria bermata hijau tadi amat penasaran dengan apa yang akan Autumn lakukan di sana. Dengan tetap menjaga jarak, dia memperhatikan gadis berambut cokelat itu. Dia tampak memasuki sebuah mobil yang entah milik siapa. Cukup lama Gabriel berdiri sambil terus mengawasi. Beberapa saat kemudian, Autumn keluar dari dalam mobil tadi. Wajahnya begitu berseri. Gadis itu bercermin pada spion sambil merapikan rambut panjangnya. Setelah itu, dia tersenyum pada seseorang yang masih berada di dalam mobil. Autumn tampak melambaikan tangan tanpa melepas senyumannya. Sesaat kemudian, dia pun berlalu dan kembali menuju ke dalam gedung.


Gabriel masih berdiri di tempatnya. Dia begitu penasaran dengan seseorang yang ada di dalam mobil. Ditunggunya hingga beberapa saat. Pria itu berharap agar orang yang Autumn temui akan ikut keluar dari mobilnya.


Apa yang menjadi harapan Gabriel terwujud. Pintu mobil itu terbuka dan keluarlah seseorang yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Bagaimana tidak? Benjamin Royce muncul dari dalam sana sambil merapikan blazer yang baru dia kenakan. Pria tampan itu melangkah dengan begitu gagah. Sayangnya, dia tak menyadari jika sejak tadi ada seseorang yang tengah mengawasi dirinya.

__ADS_1


"Astaga, Elle. Jadi, kau bermain-main dengan tuan Royce. Seleramu sungguh luar biasa," gumam Gabriel. Terbersit rasa gundah dalam hatinya. Pantaslah kenapa Autumn langsung menolak ajakan kencan yang dia tawarkan, jika gadis itu sudah berada dalam pelukan seseorang seperti Benjamin Royce. Dengan sedikit gontai, pria berambut pirang tersebut kembali ke ruangannya. Dia sempat melirik Autumn untuk sejenak, sebelum melanjutkan langkah dan memilih pergi.


Kita lanjutkan nanti. Sebuah pesan masuk yang dikirmkan oleh Benjamin kepada Autumn. Dia membaca dengan wajah berseri. Pria dewasa itu telah membuat dunianya berguncang hebat serta berputar dengan lebih cepat. Autumn begitu bahagia, tatkala dirinya merasakan setiap debaran yang membuat hidupnya terasa jauh lebih menantang. Dia tak perlu lagi mengikuti pelatihan panjat tebing bersama sang adik, Darren.


Tunggu aku saat jam pulang. Pesan balasan dari Autumn kepada Benjamin. Tersungging sebuah senyuman kalem dari pria yang tengah dilanda kasmaran, terhadap gadis dengan rentang usia jauh lebih muda darinya itu. Benjamin tak dapat menyembunyikan perasaan. Dia sudah tak tahan untuk dapat mengikrarkan hubungan asmaranya bersama Autumn.


Waktu begitu cepat berlalu. Tanpa terasa, jam pulang pun sudah tiba. Gabriel kembali mengawasi Autumn yang sudah bersiap untuk pulang dari kejauhan. Kembali diikutinya gadis itu. Autumn terlihat memberhentikan sebuah taksi yang segera membawanya pergi. Sementara Gabriel bergegas menuju mobilnya. Dengan cekatan dia keluar dari area parkir dan mengikuti mobil taksi yang Autumn tumpangi.


Gabriel terus menjaga jarak dengan kendaraan yang sedang dia buntuti. Tak berselang lama, mobil taksi itu berhenti. Autumn segera turun dan berjalan menemui seseorang yang tengah menunggunya di tepi Sungai Seine


"Aku merindukanmu," bisik Benjamin setelah puas menikmati bibir sang kekasih.


"Aku juga," balas Autumn, "tapi ... aku ingin bicara sebentar denganmu," Autumn tak juga melepaskan senyuman, terutama karena Benjamin juga tak henti membelai wajah dan rambutnya. "Aku harap kau memiliki banyak waktu," ucap gadis itu lagi.

__ADS_1


"Kau ingin bicara sambil duduk atau berdiri?" tawar Benjamin dengan senyum kalemnya


"Terserah. Bagiku tak masalah selama kau bersedia mendengarkan semua yang kukatakan," sahut Autumn dengan kerlingan nakal, membuat Benjamin tersenyum sambil menggeleng pelan.


"Aku ingin kau bicara sambil duduk di atas pangkuanku," rayu pria itu nakal dan segera berbalas sebuah cubitan di pinggang.


"Aku ingin bicara serius denganmu, Ben," Autumn melirik sang kekasih untuk sesaat, sebelum pandangannya kembali tertuju pada bentangan sungai indah yang membelah kota Paris.


"Katakan saja," balas Benjamin. Dia menatap Autumn untuk sesaat, kemudian melakukan hal yang sama dengan gadis itu.


"Aku sudah memberitahu ibuku tentang hubungan kita. Aku harap kau tidak keberatan karena hal itu," ungkap Autumn dengan sorot mata datar menerawang jauh. Tampak pula Menara Eiffel yang berdiri kokoh dan sangat indah. "Aku lelah, dan mungkin memang sudah waktunya orang tuaku untuk tahu. Ah, kau tenang saja, ayahku belum tahu hingga saat ini. Dia belum menyadari jika putri sulung dari Edgar Hillaire telah dikencani oleh rekan bisnisnya sendiri," Autumn tertawa renyah.


"Lalu?" Benjamin menanggapi.

__ADS_1


"Ibuku ingin bertemu denganmu secara pribadi. Dia hanya ingin mengetahui seperti apa sosok asli Benjamin Royce, di balik nama besarnya sebagai seorang pengusaha dan pemilik The Royal Royce," Autumn kembali melirik sang kekasih tampannya. "Aku harap kau memiliki keberanian lebih untuk menemui serta berbicara padanya," ucapan Autumn saat itu terdengar seperti sebuah tantangan.


Benjamin tersenyum seraya meraih jemari gadis itu. Diciumnya dengan dalam jemari lentik Autumn. "Katakan saja kapan dan di mana," jawabnya tenang.


__ADS_2