The Gray Autumn

The Gray Autumn
Conversation


__ADS_3

Autumn masuk dengan langkah hati-hati. Seperti biasanya, ia mengendap-endap seperti seorang pencuri yang takut jika sampai tertangkap basah oleh si empunya rumah. Namun, lagi-lagi Autumn tak dapat melarikan diri dari sang ayah yang saat itu tengah duduk santai dengan cerutu yang belum sempat disulut. Ia tengah bersantai di kursi yang berada tak jauh dari perapian. Edgar terlihat sangat berwibawa dengan sikap duduknya yang mencerminkan bahwa dirinya adalah seorang  penguasa. “Akhirnya kau pulang juga, Nona Muda,” sambut Edgar dengan raut wajah yang membuat jantung Autumn berdegub kencang.


“Aku memang harus dan pasti pulang, Ayah,” jawab  Autumn mencoba terlihat tenang. Ia terus berusaha menutupi perasaan was-was yang menyelimuti hatinya.


Edgar tersenyum simpul. Ia meletakan kembali cerutu yang hampir disulutnya, ke dalam kotak khusus tempat menyimpan benda tersebut. ”Kemari dan duduklah, Elle. Sudah lama kita tidak mengobrol berdua,” suruh Edgar dengan tenang. Namun, sikap tenang yang ditunjukkan Edgar justru membuat Autumn merasa semakin resah. Gadis itu akan terlihat tak nyaman, ketika ia harus berbohong kepada kedua orang tuanya, karena memang ia tak terbiasa melakukan hal demikian. Akan tetapi, mau tak mau ia harus menuruti sang ayah. Autumn melangkah masuk ke ruangan dengan nuansa hangat tersebut. Ia lalu duduk pada kursi yang berada di dekat Edgar. Gadis berambut cokelat itu terus memikirkan berbagai rangkaian jawaban yang akan ia utarakan kepada pria yang kini tengah memperhatikannya dengan saksama. Hal tersebut membuat Autumn menjadi terlihat salah tingkah.


“Katakan kau dari mana?” suara dan nada bicara Edgar terdengar begitu berwibawa, tetapi terasa sangat mengintimidasi bagi Autumn. Namun, gadis dengan postur 170 cm itu harus tetap terlihat tenang dan tak boleh sampai membuat sang ayah semakin curiga terhadapnya.


Senyuman manis dengan lengkungan sempurna bagaikan pelangi, muncul dan menghiasi wajah cantik Autumn. Gadis bermata abu-abu itu mencoba untuk melawan tatapan menyelidiki dari sang ayah, yang tak percaya begitu saja dengan penjelasannya melalui sambungan telepon tadi.


“Bukankah sudah kukatakan tadi saat di telepon. Aku dari tempatnya Maeva,” jawab Autumn berusaha agar terlihat semeyakinkan mungkin agar sang ayah percaya.


“Apa kau bergegas pulang saat aku mengubungimu?” tanya Edgar lagi masih dengan nada bicara yang sama.

__ADS_1


Autumn mengempaskan napas pelan. “Ya, tentu saja,” jawabnya tanpa ragu.


“Kau takut aku melacak keberadaanmu?” pertanyaan yang dilontarkan Edgar terdengar semakin menyebalkan bagi Autumn. Namun, gadis itu harus tetap menjawabnya meskipun sangat malas untuk ia lakukan.


“Aku tak ingin jika teman-temanku sampai mengetahui bahwa ternyata, Autumn memiliki seorang ayah yang amat sangat posesif dan kerap bersikap berlebihan,” jelas gadis itu terdengar begitu enteng. ”Dengan memasang pelacak pada ponselku, itu sudah merupakan sebuah tindakan yang sangat keterlalun. Aku merasa seperti tidak memiliki kebebasan sama sekali,” ujar gadis itu lagi dengan nada penuh keluhan. Ia sangat kecewa dengan sikap Edgar selama ini yang dianggap terlalu mengekangnya dalam pergaulan. Hal itulah yang membuat Autumn selalu pergi keluar rumah secara diam-diam.


“Satu hal yang membuatku merasa heran, karena Ayah tak melakukan hal seperti itu terhadap Darren. Padahal usia kami hanya terpaut dua tahun!” Autumn kembali mengeluarkan keluhannya dengan nada protes.


“Oh, kau dan Darren jelas berbeda,” bantah Edgar tenang.


“Seperti itukah yang ada di dalam pikiranmu, Elle? Kenapa sempit sekali?” Edgar berdecak tak percaya seraya menggelengkan kepalanya. “Pahami dulu segala sesuatunya dengan baik, Nak Barulah kau bisa menarik kesimpulan,” ucap Edgar. “Kau adalah seorang gadis, dan tentu saja itu sesuatu yang berbeda dengan Darren. Apa kau pikir aku akan memberikan rok dan boneka untuk adikmu? Tentu saja tidak, begitlah sederhananya,” terang pria bermata abu-abu itu.


Autumn tak segera menjawab. Sebenarnya ia juga tak ingin berdebat dengan sang ayah, terlebih ia membutuhkan izin dari pria itu untuk pergi ke Marseille, atau haruskah dirinya pergi dengan diam-diam seperti yang biasa ia lakukan? Jarak antara Paris-Marseille begitu singkat. Edgar tak akan curiga dengan kepergiannya, pikir Autumn saat itu.

__ADS_1


“Dengarkan aku, Elle. Kau mungkin belum mengetahui seberapa menakutkannya orang-orang di luar sana. Mereka yang kau anggap baik dan bukanlah merupakan sebuah ancaman, justru yang mati-matian ingin membunuhmu dengan keji. Semua itu hal yang terkadang tak dapat kau prediksi sama sekali. Kau hanya akan dipenuhi dengan pertanyaan ‘mengapa ia melakukannya padaku?’ , ‘mengapa harus dirinya?’, ‘mengapa hal ini harus terjadi?’, dan entah ada berapa ribu pertanyaan ‘mengapa’ yang berputar di otakmu. Kau harus mengetahui satu hal. Aku sudah mempersiapkan dirimu untuk menggantikanku dalam menduduki kursi jabatan di perusahaan. Itu artinya, kau harus berada dalam keadaan baik-baik saja hingga saat itu tiba. Kau adalah masa depan dari perusahaan yang sudah kubangun dengan susah payah selama ini. Oleh karena itu, kau harus belajar untuk berpikir dengan jauh lebih baik, dewasa, dan tentu saja mengurangi serta menjauhkan dirimu dari tindakan-tindakan bodoh. Mungkin kapan-kapan aku akan mengirimmu ke Indonesia untuk belajar secara langsung dari pamanmu, Keanu. Ia telah sukses mendidik sepupumu Dinan dan juga Jenna dengan sangat baik. Aku harap bisa melakukan hal yang sama terhadap dirimu dan juga Darren,” Edgar menjelaskan dengan panjang lebar kepada Autumn. Entah gadis itu dapat memahaminya atau tidak, Edgar seakan tak terlalu memikirkannya.


“Kenapa harus menyamakan kami dengan mereka? Ayah lihat sendiri jika Darren lebih menyukai papan skateboard daripada jas dan dasi. Begitu juga dengan diriku. Aku menyukai ….” Autumn terdiam dan tak melanjutkan kata-katanya. Ia sendiri belum mengetahui akan di bawa ke mana arah hidup dan juga langkah yang harus ditempuhnya. Apa yang diingankannya? Tujuannya ? Ya Tuhan, selama ini ia hanya sibuk memikirkan Leon dan kini beralih pada perasaan luar biasanya terhadap Benjamin. Autumn mengusap-usap alisnya yang berwarna hitam pekat.


“Apa yang kau pikirkan, Elle?” pertanyaan Edgar kembali terdengar dan membuyarkan lamunan Autumn. “Kau masih berpikir jika ayahmu ini konyol?” tanya Edgar lagi.


“Tidak, Ayah. Aku tak bermaksud mengatakan demkian. Aku hanya ….”


“Bersikap jujurlah, Elle,” pinta Edgar dengan raut tegas tapi masih ada kasih yang besar dalam sorot matanya.


“Jujur tentang apa, Ayah? Selama ini aku selalu bersikap terbuka. Tak ada sesuatu apapun yang kusembunyikan,” sanggah Autumn yakin, meskipun hatinya tidak berkata demikian.


“Kau mungkin bisa membodohi ibumu, tapi tidak denganku. Pilih saja, kau akan mengatakannya sendiri atau aku yang mencari tahu,” ujar Edgar lagi. Raut wajah dan nada bicaranya tak berubah sejak tadi.

__ADS_1


“Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Ayah bicarakan. Sudahlah, aku sangat Lelah. Aku ingin ke kamar saja,” Autumn beranjak dari duduknya. Ia melangkah ke dekat lawang berbentuk melengkung dari ruangan itu.


“Katakan siapa pria itu, Elle?” tanya Edgar dengan pelan.


__ADS_2