The Gray Autumn

The Gray Autumn
Di Penghujung Musim Gugur


__ADS_3

Selagi Autumn dan Benjamin merampungkan hal-hal kecil untuk persiapan pernikahan mereka, Edgar memerinthkan orang-orang kepercayaannya agar mengurus proses pemindahan pasien atas nama Benjamin Evariste dari Guadalajara, ke salah satu rumah sakit di kota Paris. Tak sulit memang bagi seseorang seperti Edgar Hillaire, untuk melakukan hal itu. Tanpa harus menunggu lama, Benjamin kini telah mendapatkan perawatan yang jauh lebih memadai di sana.


Terbersit rasa iba dalam hati Edgar, saat melihat kondisi sahabat masa kecilnya tersebut. Dia juga sempat berkenalan dengan Raquel Orville. Raquel rupanya sangat fasih berbahasa Perancis. Dia mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang Edgar berikan.


Begitu juga dengan Arumi. Wanita cantik tersebut begitu terenyuh saat melihat kondisi Benjamin Evariste. Pria yang dulunya terlihat sangat tampan dan gagah, kini tampak kurus kering tak berdaya. Tak ada yang dapat dilihat darinya, karena yang tersisa hanyalah kulit keriput dengan tulang-tulang yang menonjol di beberapa bagian tubuh. Arumi lalu menoleh kepada Edgar, seakan meminta persetujuan untuk mendekat pada pria yang dulu amat tergila-gila kepadanya. Pria tersebut kini terbaring tak berdaya, dan lebih mirip sebagai mayat hidup saja.


Setelah Edgar mengangguk, barulah Arumi berani mendekati ranjang. Ditatapnya wajah Benjamin Evariste dengan kedua matanya yang terus terpejam. "Ben, ini aku Arumi. Apa kau bisa mendengarku?" bisik Arumi.


“Masih belum ada perkembangan yang berarti, Nyonya," ucap Raquel dengan lirih.


"Dia masih berada dalam kondisi koma,” lanjut wanita itu pilu.


"Semoga Anda berdua selalu berbahagia, Tuan dan Nyonya Hillaire," ucap Raquel dengan tulus seraya memeluk Arumi, yang saat itu menoleh padanya.


"Terima kasih banyak, Nyonya Orville. Aku harap semoga tuan Evariste bisa segera pulih," balas Arumi diiringi sebuah senyuman hangat seraya mengurai pelukannya.


"Itu yang selalu menjadi harapan kami berdua, Nyonya. Sekarang aku sudah merasa jauh lebih tenang, karena Leon tak harus pulang-pergi lagi. Kami benar-benar berterima kasih atas budi baik Anda berdua," raut bahagia terlihat jelas di wajah Raquel. Dia tampak begitu baik. Raquel memang tak pernah tahu cerita kelam yang pernah terjadi pada masa lalu seorang Benjamin Evariste.


......................


Hari yang telah dinantikan akhirnya tiba, ketika Benjamin dapat melihat betapa cantiknya Autumn dalam balutan gaun pengantin yang sangat indah. Ballroom hotel megah miliknya, menjadi saksi perhelatan dari kisah cinta yang kembali hadir dalam hidup seorang Benjamin Royce. Tak bosan-bosan, pria bermata abu-abu tersebut mengagumi kecantikan Autumn yang kini telah resmi menjadi istrinya, setelah sebelumnya mereka telah melakukan pemberkatan pernikahan pada salah satu gereja yang berada di kota Paris.


Selama pesta berlangsung, semua yang hadir terlihat sangat bahagia. Mereka begitu menikmati suguhan mewah di sana, di tengah-tengah udara dingin yang menyelimuti ibu kota dari negara Perancis. Tak terkecuali Fleur. Gadis kecil itu lihai memamerkan bakatnya dalam bermain piano. Dia menyuguhkan sebuah pertunjukan yang sangat luar biasa, ketika iringan musik dari tuts piano yang dimainkannya mengiringi Autumn dan Benjamin saat berdansa. Fleur telah membuat semua tamu undangan begitu terpukau kepadanya.


Begitu juga dengan Edgar dan Arumi. Sebagai orang tua dari mempelai wanita, tentu saja mereka menjadi yang paling berbahagia saat itu. Senyuman lebar terus terkembang dari wajah keduanya saat membalas setiap ucapan selamat dan sapaan dari setiap kolega dan juga rekan-rekan yang lain di luar urusan bisnis.


Keanu beserta keluarga besarnya pun turut hadir di sana. Begitu juga dengan Dinan yang sudah lama sekali tidak bertemu dengan Arumi. Sayang sekali, karena dia tidak membawa serta keluarga kecilnya.


Sementara Aamber berdiri di sudut ruangan sambil memperhatikan semua orang yang terlihat bahagia. Di satu sisi, dia ikut senang dengan pernikahan yang dilangsungkan oleh Benjamin dengan Autumn. Akan tetapi, di sisi lain ingatannya tertuju kepada sang putri yang telah lama tiada. Rasa haru itu pun muncul dan membuatnya harus meneteskan air mata.


Tanpa terasa, pesta meriah tadi sudah berakhir. Autumn tak lagi tinggal di kediaman keluarga Hillaire. Semenjak resmi menyandang nama belakang Royce, tentu saja dia harus selalu berada di dekat sang suami. Seperti malam itu, yang menjadi malam pertama bagi mereka berdua dalam ikatan sebagai suami istri. Benjamin memeluk mesra Autumn yang tengah berdiri di depan cermin rias. Ini pertama kalinya bagi wanita muda bermata abu-abu tersebut mengenakan sebuah lingerie. "Apa aku terlihat aneh?" tanya Autumn seraya tertawa geli, ketika bulu-bulu halus yang tumbuh di dagu Benjamin menggelitik lehernya.

__ADS_1


"Kau terlihat sangat cantik dan jauh lebih dewasa. Aku menyukainya, dengan begitu aku tidak merasa terlalu tua lagi saat di dekatmu," ujar Benjamin sambil tertawa pelan.


"Hey, kata siapa kau sudah tua?" Autumn memainkan kedua bola matanya yang indah.


"Itulah kenyataannya. Kau gadis manis yang sangat menggemaskan," Benjamin mencubit lembut pipi serta pangkal hidung Autumn.


"Oh, aku lupa. Saat ini kau bukan gadis lagi, karena dirimu telah menjadi Nyonya Royce. Rasanya seperti mimpi, ketika pada akhirnya aku benar-benar bisa mewujudkan keinginan untuk melewati musim dingin tahun ini dan juga ribuan musim lainnya denganmu," Benjamin mengecup mesra pundak Autumn, yang berhiaskan tali kecil dari lingerie hitamnya.


"Apa kau bahagia?" tanya Autumn.


"Haruskah kau bertanya seperti itu?" Benjamin balik bertanya.


"Seberapa besar rasa bahagiamu?" tanya Autumn lagi.


"Kau ingin mengetahuinya?" bisik Benjamin seraya menurunkan tali kecil yang berada di pundak Autumn dengan perlahan.


"Tunjukkan padaku," balas Autumn yang segera berbalas sesuatu yang mengejutkan dari Benjamin. Pria berambut cokelat tembaga itu tiba-tiba mengangkat tubuh Autumn, lalu membopongnya hingga ke dekat tempat tidur. Perlahan, Benjamin merebahkan wanita muda tersebut di sana, dengan tumpukan bantal empuk yang menyangga kepalanya. Tanpa memberi jeda waktu, Benjamin kemudian melu•mat bibir ranum sang istri yang segera menarik tubuhnya hingga menyatu dengan tubuh Autumn.


Desah manja diiringi erangan lembut, berbaur dengan helaan napas berat yang mulai mengisi kamar berpenerangan redup itu. Satu, dua kali sentuhan dirasa tak akan pernah cukup bagi mereka berdua yang tengah berada di atas puncak kebahagiaan. Pergulatan panas penuh cucuran keringat serta rasa lelah yang mendera, tak lagi dirasa. Malam itu, sepasang suami istri tersebut hanya ingin menghangatkan diri dari dinginnya cuaca menjelang pergantian musim.


Malam kian larut. Suasana semakin sepi. Autumn telah terlelap dalam dekapan hangat Benjamin, hingga pagi datang. Itu adalah pagi pertama bagi mereka sebagai suami istri. Autumn kemudian menggeliat pelan sambil berusaha untuk bangun, ketika terdengar suara ketukan di pintu. Begitu juga dengan Benjamin. Padahal rasa kantuk dan lelah masih menggelayuti mereka berdua.


"Siapa itu?" bisik Autumn dengan suaranya yang terdengar parau. Sedangkan Benjamin hanya mengangkat bahunya. Dengan terpaksa, dia beranjak dari tempat tidur kemudian mengenakan celana panjangnya. Hal itu tak luput dari tatapan nakal Autumn.


"Jangan sekarang, Elle. Jika kau mau, bisa kita lanjutkan nanti," ucap Benjamin seraya mencondongkan tubuh sehingga mendekat kepada Autumn. Dikecupnya bibir dan kening istrinya yang hanya tertawa renyah. Selagi Benjamin membuka pintu, Autumn segera mengenakan lingerie beserta kimononya.


"Selamat pagi, Papa," sapa Fleur. Gadis kecil itu sudah terlihat cantik dengan penampilannya yang selalu tampak rapi dan girly.


"Selamat pagi, Fleur. Kau bangun cepat sekali," balas Benjamin seraya menyugar rambutnya.


Sesaat kemudian, perhatian Fleur teralihkan kepada Autumn yang baru muncul dan berdiri di sebelah sang ayah. Gadis kecil berambut cokelat tembaga itu segera tersenyum. "Selamat pagi, Mama," sapanya dengan hangat.

__ADS_1


Autumn tertegun seraya menoleh kepada Benjamin. Dia merasa tak percaya ketika Fleur memanggilnya dengan sebutan mama. Autumn pun tersenyum lebar seraya mencondongkan tubuhnya ke hadapan Fleur. Sebuah kecupan hangat nan lembut mendarat di kening gadis kecil berusia sepuluh tahun tersebut.


"Kau tidak keberatan jika kupanggil 'mama'?" tanya Fleur.


"Kenapa aku harus keberatan?" Autumn masih menunjukkan senyuman lebarnya.


"Itu sudah seharusnya, Fleur," timpal Benjamin. "Elle telah resmi menjadi istriku, itu artinya dia juga menjadi ibumu. Memang seharusnya kau memanggil dia dengan sebutan 'mama'. Aku senang mendengarnya," Benjamin pun menghadiahi putrinya dengan sebuah kecupan yang tak kalah hangat dan lembut.


"Apa kalian akan bergabung untuk sarapan denganku dan juga nenek?" tanya Fleur.


"Ya. Kami akan bersiap-siap dulu," sahut Benjamin seraya melirik Autumn yang menanggapi dengan anggukan pelan. Autumn tak lagi merasa terkejut, saat mendengar Fleur memanggil Aamber dengan sebutan nenek, karena Benjamin sudah menceritakan semuanya.


"Baiklah. Kalau begitu, aku tunggu di meja makan," Fleur tersenyum sebelum berbalik dan melangkah dengan tongkat penyangganya, diiringi tatapan Benjamin dan juga Autumn.


"Bagaimana jika kita berendam air hangat dulu sebentar?" tawar Benjamin sambil berbisik.


"Apapun yang kau inginkan," sahut Autumn seraya menuntun suaminya menuju ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi mewah itu, sepasang pengantin baru tersebut berendam bersama di dalam bathub berisi air hangat. Benjamin tak henti-henti mengecup pundak dan leher Autumn yang duduk bersandar di dadanya. Sesekali, dia menuangkan air dari tangan pada lengan sang istri.


"Aku ingin selamanya seperti ini," bisik Benjamin. "Biar saja daun terus berguguran dan salju terjatuh ke bumi, tapi aku ingin tetap berdiri di sampingmu, menggenggam tangan dan medekapmu dengan erat."


Autumn tersenyum kemudian menoleh ke samping, menyambut ciuman hangat dari pria paling menawan dalam hatinya. "Aku mencintaimu, Benjamin Royce," ucap Autumn terdengar begitu lembut.


"Aku mencintaimu, Autumn Dorielle Royce."


...-Tamat-...


Terima kasih bagi yang sudah mengikuti cerita ini. Semoga terhibur. Maaf jika masih banyak kekurangan dalam penyampaian atau hal lainnya. Jangan lupa untuk mampir juga ke novel dengan judul lain yang pasti tak kalah seru.


Bagi yang penasaran dengan kisah cinta antara Arumi, Moedya, dan Edgar Hillaire, silakan baca novel berjudul Ryanthi (Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan) season 2, dan Kabut Di Hati Arumi.

__ADS_1


Salam sayang,


🍒 Komalasari


__ADS_2