The Gray Autumn

The Gray Autumn
Proposition D'amour


__ADS_3

Keesokan harinya Autumn mendapatkan sebuah kejutan yang teramat luar biasa. Sepulang dari kantor, dia mendapati Benjamin sudah duduk dengan penuh wibawa di atas sofa ruang tamu rumahnya. Tak jauh dari sang pemilik The Royal Royce itu, duduk dengan tak kalah gagah seorang Edgar Hillaire. Pria yang kini tengah menatap tajam ke arah Autumn. Sementara Arumi bersikap biasa saja. Dia justru tampak memasang wajah manis terhadap putri sulungnya yang tampak sedikit kebingungan.


"Duduklah, Elle. Mari bergabung," titah Edgar dengan penuh wibawa.


Autumn menoleh kepada sang ibu untuk sejenak. Setelah itu, dia menatap Benjamin yang juga tengah memandang padanya dengan penuh cinta. Gadis itu tersenyum. Semua rasa lelah dan suntuk yang dia rasakan akibat segudang aktivitas di kantor, seketika sirna saat melihat paras rupawan penuh pesona itu. Autumn kemudian memilih duduk dengan jarak yang cukup dekat dengan Benjamin. "Hai, Elle," sapa Benjamin. Senyuman menawan tersungging sempurna di bibirnya, yang selalu membuat Autumn merasa terbuai.


"Apa yang kau lakukan di sini, Ben?" tanya Autumn seraya menautkan alisnya. Dia juga seperti tak ingin melepaskan tatapan, dari paras memikat lajang beranak satu itu.


"Aku kemari untuk membuktikan semua ucapanku padamu. Bukankah kau takut jika diriku hanya membual dan bermain-main?" Benjamin terus tersenyum seraya mengangkat alis.


"Aku harap kau sudah mempersiapkan dirimu dengan baik," balas Autumn seraya melirik sang ayah yang tengah memperhatikannya dengan intens.


"Sangat baik, Elle. Kau tidak perlu khawatir," sahut Benjamin mengarahkan tatapan kepada Edgar. "Berhubung putri Anda sudah bergabung di sini sekarang, apa bisa jika perbincangan ini kita mulai saja?" Benjamin bertanya dan seakan ingin meminta persetujuan dari Edgar.

__ADS_1


"Silakan," jawab Edgar. Ayah dua anak itu menunggu apa yang akan Benjamin katakan padanya. Sementara Autumn tampak bermain mata dengan sang ibu.


"Sebelumnya, aku benar-benar berterima kasih karena Anda bersedia menerimaku untuk duduk bersama di sini. Seperti yang telah kukatakan tadi, bahwa diriku kemari bukan hanya sekadar ingin berkunjung. Akan tetapi, aku membawa maksud yang jauh lebih besar dari itu," tutur Benjamin tenang.


"Aku selalu menerima dan menyambut baik siapa pun yang bertamu kemari," balas Edgar yang tampak menutupi segala rasa berkecamuk dalam dadanya, dengan sebuah sikap tenang dan penuh kharisma. Sesekali pria itu melirik kepada Autumn yang lebih memilih untuk menyimak saja.


"Itulah yang kusukai dari Anda, Tuan Hillaire. Anda merupakan orang yang sangat profesional. Aku senang karena bisa menjadi partner bisnis Anda. Akan tetapi, kedatanganku kali ini tentunya bukan untuk membahas masalah pekerjaan. Aku kemari untuk hal lain, yaitu nona cantik ini," tunjuk Benjamin yang segera mengarahkan tangannya kepada Autumn.


Gadis bermata abu-abu tersebut segera menoleh kepada Benjamin. Binar indah tampak dengan begitu jelas, menghiasi tatapan penuh cinta yang dia layangkan terhadap pria tiga puluh lima tahun tersebut. Autumn tak tahu apa yang akan Benjamin sampaikan kepada kedua orang tuanya. Namun, harap-harap cemas dan perasaan tak menentu itu telah berhasil membuat jantungnya berdetak dengan jauh lebih cepat.


"Begini, Tuan Hillaire. Seperti yang telah Anda ketahui bahwa aku dan Autumn menjalin hubungan asmara. Kami berdua saling mencintai dan menyukai satu sama lain. Kami menikmati kebersamaan yang indah dengan banyak moment yang tak terlupakan. Itu semua sangat berarti bagiku," tutur Benjamin tenang.


"Bagiku juga, Ben," timpal Autumn yang segera berbalas sebuah kerlingan menggoda dari Benjamin. Autumn segera memalingkan wajahnya yang tersipu. Pria itu memang penuh dengan rayuan memikat. Benjamin Royce ibarat sebuah surga dunia yang dihiasi banyak keindahan. Pantaslah jika dirinya dapat menjerat gadis muda seperti Autumn, dalam waktu teramat singkat.

__ADS_1


"Anda mengingatkanku kepada seseorang di masa lalu," Arumi yang sejak tadi hanya diam, kini ikut bicara. Namun, ucapannya membuat Edgar segera menoleh dan seakan ingin melakukan protes terhadapnya.


"Kau ingin mengingatkanku pada mantan kekasihmu yang berandalan itu?" tukas Edgar. Pikirannya seketika tertuju kepada Moedya, mantan kekasih Arumi yang dulu selalu membuatnya cemburu buta.


Mendengar ucapan Edgar yang agak ketus terhadapnya, Arumi justru menanggapi dengan sebuah tawa renyah. "Sudah berapa lama kita bersama? Kau masih saja mengingatnya," sahut wanita yang masih terlihat cantik itu. Sesaat, Arumi kemudian mengalihkan tatapannya kepada Autumn, lalu beralih pada Benjamin. "Dulu aku tergila-gila kepada Edgar Hillaire karena dia adalah pria yang sangat romantis. Selain itu, tentu saja tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita," Arumi kembali menatap sang suami. "Kau adalah pria yang manis, Ed. Kau selalu menatapku dengan penuh cinta. Saat ini, aku melihat tatapan seperti itu ada di dalam sorot mata tuan Royce untuk putri kita. Aku dapat mengerti dengan baik mengapa Elle bisa merasakan cinta yang luar biasa untuk tuan Royce," senyum lembut Arumi seakan menjadi pertanda bahwa dirinya telah menerima pria bermata abu-abu itu.


"Kau pikir cukup hanya dengan hal seperti itu, Arum?" sanggah Edgar dingin.


"Seberapa besar perasaan cinta yang dirasakan seseorang, hanya orang itu yang tahu. Kita hanya menebaknya dari bahasa tubuh, sebagai perwakilan isi hati yang tak bisa dinyatakan dengan indera penglihatan. Sebagai seorang ibu, kebahagiaan anak-anakku adalah hal yang sangat utama. Aku rasa kau juga pasti begitu, Ed," Arumi kembali tersenyum manis kepada Edgar.


"Kau sedang membujukku, Arum?" Edgar melirik sang istri.


"Anda berdua terlihat sangat harmonis. Impian serupa yang kumiliki saat ini, dan ingin kuwujudkan bersama Elle. Aku sangat mencintainya. Itu adalah sesuatu yang tak akan terbantahkan lagi, meskipun banyak yang meragukan hal tersebut. Aku tidak peduli dengan pandangan buruk siapa pun, selama Elle bisa memahami dan memaknai perasaan yang telah kupersembahkan untuknya. Bagiku itu sudah jauh lebih dari cukup," ujar Benjamin menatap Autumn dengan penuh arti.

__ADS_1


"Elle adalah putriku. Aku ingin segala yang terbaik untuknya. Sebagai orang tua, tentu saja aku tidak akan gegabah dalam menentukan langkah untuk kelangsungan hidup putra-putriku. Segala sesuatunya harus terencana dan tertata dengan sempurna, meskipun pada kenyataannya tidak selalu seperti yang diharapkan. Apa yang Anda inginkan sebenarnya, Tuan Royce?" tajam dan dalam pertanyaan Edgar yang ditujukan kepada Benjamin saat itu.


"Aku ingin melamar putri Anda."


__ADS_2