
Benjamin kembali melanjutkan langkahnya yang agak gontai. Namun, lagi-lagi Aamber menghadang. Wanita paruh baya tersebut berdiri dengan raut wajah yang terlihat belum merasa puas. "Tunggu, Ben. Kenapa kau jadi seperti ini? Sebelum mengenal gadis itu, kau tidak terlihat lemah dan menyedihkan. Ini bukan dirimu," Aamber memegangi kedua lengan Benjamin dan menggoyang-goyangkannya perlahan.
"Lepaskan aku, Aamber!" sergah Benjamin. Pria bermata abu-abu itu tak ingin lagi berbasa-basi. "Tolong menyingkirlah dari hadapanku!" tegasnya seraya mendesis kesal.
"Aku ingin bicara sebentar denganmu," pinta Aamber dengan agak memaksa.
"Tidak! Aku sedang tak ingin bicara dengan siapa pun! Jadi, tolong menyingkirlah! Aku lelah dan ingin segera tidur," tolak Benjamin dengan tegas. Dia menepiskan tangan Aamber yang masih memegangi lengan kirinya.
"Ben!" cegah Aamber saat Benjamin bermaksud untuk melangkah dari sana. Dia hendak mengikuti ayah dari Fleur tersebut, tetapi dengan segera Benjamin mengangkat tangannya sebatas pundak, sebagai isyarat agar wanita itu diam di tempat. Aamber pun tertegun.
"Sudah kukatakan jangan menggangguku saat ini, Aamber. Kepalaku sangat pusing, dan aku sedang tak ingin membahas apapun dengan siapa pun!" tegas pria bermata abu-abu itu dengan intonasi yang naik turun. Terlihat jelas jika emosi Benjamin sedang tidak stabil.
"Aku bisa memahami itu, Ben. Akan tetapi, aku tak tahu kapan waktu yang tepat untuk bisa bicara denganmu. Kau tak pernah ingin bicara lama-lama denganku," ujar Aamber lirih.
"Karena memang tidak ada yang perlu kita bicarakan!" tegas Benjamin lagi dengan jengkel. "Aku tahu apa yang akan kau katakan padaku. Semuanya sudah bisa kutebak dengan baik," ucap pria itu lagi.
"Jika kau sudah tahu, kenapa kau bersikap seperti ini?" suara Aamber masih terdengar lirih dan sedikit bergetar.
Benjamin tak segera menjawab. Terdengar helaan napas berat yang meluncur begitu saja dari bibir pria tiga puluh lima tahun tersebut. "Kau bertanya 'kenapa'? Memang apa salahnya, Aamber? Aku rasa bukan sebuah dosa jika aku jatuh cinta terhadap gadis lain. Itu bukan sebuah kejahatan jika aku hanya ingin menjalani hidup normal," Benjamin yang saat itu masih dalam posisi membelakangi Aamber, kini berbalik jadi menghadap kepada wanita paruh baya tersebut. "Aku ingin berkeluarga, merasakan kehangatan dari tawa canda seorang istri dan anak-anakku. Kenapa kau merasa keberatan? Kau tidak berhak sama sekali untuk mengatur hidupku!" nada bicara Benjamin kembali meninggi, membuat Aamber tersentak. Wanita paruh baya itu pun beringsut mundur.
"Pelankan suaramu, Ben. Jangan sampai Fleur terbangun," pinta Aamber dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Aku sedang tidak baik-baik saja, Aamber. Jadi, jangan memancing kemarahanku!" Benjamin kembali membalikkan badan. Namun, sebelum pria itu melanjutkan langkahnya, dia kembali berbicara, "Kuharap, bukan kau yang telah meracuni pikiran Fleur. Walaupun aku tidak akan mencurigai orang lain, dan juga hanya bisa menerka-nerka. Namun, aku sarankan agar kau tidak bermain-main denganku. Jika selama ini aku hanya diam dan tidak memberikan teguran dalam bentuk apapun, itu bukan berarti bahwa diriku menutup mata. Ah, sudahlah! Aku hanya ingin segera tidur," Benjamin berdecak kesal. Dengan sedikit gontai, dia melanjutkan langkah menuju kamarnya.
Sementara itu, Aamber masih terpaku di tempatnya berdiri. Dia merasa sedih atas sikap yang ditunjukkan Benjamin padanya. Akan tetapi, Aamber mengaku salah. Tak seharusnya dia mengajak bicara seseorang yang tengah dalam kondisi mabuk.
Setibanya di dalam kamar, Benjamin melemparkan mantel yang sejak tadi dia tenteng dengan begitu saja. Tanpa melepas sepatu terlebih dahulu, pria itu langsung mengempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dia lalu memejamkan mata. "Kau di mana Elle? Kau sungguh keterlaluan!" racau Benjamin sebelum akhirnya tertidur lelap.
Sedangkan di Indonesia waktu sudah mulai menuju pagi. Autumn yang saat itu tengah tertidur lelap, tiba-tiba membuka mata. Dia menatap langit-langit kamar yang ditempatinya dalam keremangan. "Ben ...." Satu nama yang terucap begitu saja. Autumn kemudian mengubah posisi tidur jadi menghadap ke samping. Gadis itu juga membetulkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Tanpa terasa air mata menetes perlahan di atas bantal, mengiringi kerinduannya yang belum tersampaikan kepada sang kekasih. Hingga pagi menjelang dan matahari menampakkan sinarnya, Autumn masih belum beranjak dari atas tempat tidur. Akan tetapi, suara dering telepon membuat gadis itu dengan terpaksa harus menyibakkan selimut. Autumn meraih ponsel yang diletakkan di atas meja. Dia pikir bahwa itu adalah panggilan dari orang tuanya. Namun, gadis itu seketika menautkan alis.
Adalah sebuah nomor baru yang tidak dia kenal. Autumn tak tahu itu nomor milik siapa. Karena merasa penasaran, dia pun menjawab panggilan tersebut. "Hallo ...."
"Hai, Elle. Kamu masih tidur, ya?" terdengar suara seorang pria di ujung telepon, yang tidak Autumn kenali.
"Siapa ini?" tanya Autumn.
Autumn terdiam dan berpikir. Ingatannya tiba-tiba tertuju kepada Moedya. Namun, suara yang dia dengar di telepon terdengar jauh lebih muda. "Apa kau putranya paman Moedya? Um ... siapa namamu? Aku ...benar-benar lupa," ujar Autumn dengan raut wajah yang terlihat begitu malas.
"Teganya kamu, Elle," pria di ujung telepon itu terdengar kecewa. "Ini aku. Patra," ucapnya lagi.
"Oh, iya. Aku ingat sekarang. Ada apa?" tanya Autumn.
"Apa kamu tahu kalau hari ini adalah pemutaran perdana film ...." Patra menyebutkan salah satu judul film Hollywood yang akan tayang di bioskop. Selain itu, dia juga mengajak Elle untuk pergi dan menontonnya bersama.
__ADS_1
"Apa kau juga mengajak Jenna?" tanya Autumn. "Aku tak akan pergi jika dia tidak ikut."
"Oh, tentu saja. Aku sudah mempersiapkan empat tiket. Kamu tidak perlu khawatir," sahut Patra dengan yakin. "Aku jemput nanti sore jam empat. Beritahu Jenna supaya dia bersiap-siap," ucap Patra lagi.
"Keputusan ada di tangan Jenna. Satu hal lagi, jangan menghubungiku sepagi ini," tanpa banyak berbasa-basi, Autumn segera menutup sambungan teleponnya. Dia lalu menyibakkan selimut dan turun dari tempat tidur, kemudian menuju ke kamar mandi. Setelah membersihkan wajah, gadis itu keluar kamar untuk menemui sepupunya. Ternyata Jenna sedang berenang. Autumn pun segera menghampiri ke area kolam di halaman belakang.
"Hai, Elle. Mau berenang juga?" tawar Jenna.
"Aku sedang tidak ingin berenang," jawab Autumn seraya duduk di tepian kolam. Dia memperhatikan Jenna yang tengah asyik bermain dengan air berwarna biru dan terlihat sangat jernih. "Apa kau yang memberikan nomor ponselku kepada Patra?" tanya Autumn dengan suara cukup nyaring, berhubung posisi Jenna sedang berada agak jauh darinya.
Jenna segera berenang ke arah gadis bermata abu-abu itu. Dia lalu berhenti di dekatnya. Tanpa naik ke tepian, gadis berambut pendek tersebut mengangguk. "Maaf, Elle. Soalnya dia janji akan mempertemukan aku dengan Aldrin," ujarnya tanpa beban sama sekali.
"Siapa Aldrin?" tanya Autumn.
"Dia adalah pria yang aku sukai. Kamu belum tahu seberapa tampannya dia," sahut Jenna sambil tersenyum sendiri.
"Oh, astaga. Kau tega sekali, Jenna," protes Autumn.
"Memangnya kenapa, Elle?" tanya Jenna keheranan.
"Patra mengajakku menonton film di bioskop. Kujawab jika keputusan ada padamu."
__ADS_1
"Aku sudah setuju," jawab Jenna dengan entengnya.