
"Aku tahu jika itu pasti berkaitan dengan Benjamin Royce, bukan?" pancing Arumi lagi. Sedangkan Autumn tidak menjawab. Dia masih berkutat dengan isi dari piringnya. "Jika kau dan dia memang berjodoh, maka kalian berdua pasti akan bersatu. Seperti itulah menurut kata-kata pepatah kuno," ucap Arumi lagi.
"Aku berharap demikian. Apa menurutmu, ayah juga memiliki harapan yang sama denganku, Bu?" tanya Autumn polos. Dia menatap sang ibu untuk sejenak, kemudian mengalihkan perhatiannya lagi pada sisa makanan di dalam piring.
"Aku ataupun ayahmu, tentu saja selalu berharap yang terbaik. Entah itu untuk kau dan juga Darren, meskipun tak jarang kalian berdua sangat memusingkan kami sebagai orang tua," Arumi tertawa pelan setelah mengakhiri ucapannya. "Kau tahu jika Edgar tipikal pria yang tegas, tapi dia bukan orang yang keras. Dia pria yang lembut dan juga romantis, selain itu ...."
"Berjuta sanjungan tak akan pernah habis ditujukan untuk tuan Hillaire. Apakah Ibu sedang telah memasuki masa puber kedua?" Autumn mengernyitkan keningnya. Sementara Arumi kembali tertawa renyah. Lucu rasanya ketika dia mendengar celotehan gadis itu. Namun, hal tersebut akan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan saat melihat Autumn mengurung diri di dalam kamar sambil menangis.
......................
Sesuai rencana, hari itu Autumn akan mengundurkan diri dari kantor tempatnya bekerja. Dia mendesak Gabriel agar dapat membantunya untuk mempercpat proses pengunduran diri yang dia ajukan, meskipun sebenarnya berat bagi pria berambut pirang tersebut untuk melakukannya. "Aku akan pergi ke luar negeri selama beberapa minggu. Jadi, aku tidak mungkin mengambil waktu untuk cuti selama itu, bukan?" Autumn berbicara dengan sangat tenang di hadapan Gabriel.
__ADS_1
"Memangnya kau hendak ke mana, Elle?" tanya pria bermata hijau itu penuh rasa ingin tahu.
Namun, Autumn tidak menjawab. Dia hanya tersenyum simpul. Gadis itu menatap Gabriel untuk beberapa saat dengan pandangan yang nanar. "Maafkan aku, Gabriel," ucapnya kemudian. Kata-kata itu meluncur dengan begitu saja, meskipun terdengar cukup pelan.
"Maaf untuk apa?" tanya Gabriel keheranan. Dia lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Autumn yang saat itu berdiri di dekat meja kerja.
"Aku ingin meminta maaf untuk semuanya. Segala hal yang telah kulakukan. Setiap kekacauan yang sangat memalukan," jawab Autumn lirih, seraya mengikuti gerak pria berambut pirang itu dengan tatapannya.
Autumn tertawa renyah. Gabriel salah besar jika mengira bahwa dia akan mengatakan banyak hal terhadapnya. Gabriel memang belum mengenal gadis cantik tersebut dengan baik. Dia hanya mengetahui siapa Autumn di permukaan saja. "Dengarkan aku, Gabriel. Apapun yang terjadi antara diriku dengan Benjamin, itu bukanlah urusanmu. Aku kemari hanya untuk mengajukan pengunduran diri dari pekerjaan ini. Aku harap kau bisa membantuku agar prosesnya bisa menjadi lebih cepat, lagi pula aku di sini hanya seorang karyawan magang. Namun, jika memang prosedurnya memakan waktu yang lama dan bertele-tele ... maka aku ingin meminta izin padamu untuk melarikan diri dari sini, karena aku akan berangkat lusa," jelas Autumn dengan enteng.
Gabriel mengela napas dalam-dalam, kemudian mengempaskannya begitu saja. Sebuah keluhan pendek meluncur dan mengiringi raut wajah yang terlihat sedikit bingung. "Ternyata kau memang seorang pemberontak, Elle. Aku harus mengacungkan jempol kepada tuan Royce. Dia yang memiliki karakter begitu tenang, telah mampu menaklukanmu dengan sangat baik. Sekarang aku mengerti kenapa tuan Royce bisa menjadi seorang pengusaha hebat serta sukses. Aku semakin mengaguminya dan tentu saja harus belajar banyak dari pria itu," ujar Gabriel sambil sesekali menggaruk keningnya.
__ADS_1
Autumn hanya menanggapi ucapan Gabriel dengan sebuah senyuman kecil. Pria itu tak tahu bahwa Benjamin belum berhasil mengakrabkan dirinya dengan Fleur yang merupakan bocah berumur sepuluh tahun. Akan tetapi, di luar hal itu harus Autumn akui jika Benjamin memanglah seorang pria yang sangat luar biasa. "Aku rasa itu saja, Gabriel. Ini adalah hari terakhirku bekerja denganmu. Aku juga belajar banyak hal di sini," ucap Autumn sesaat kemudian.
"Baiklah, Elle. Aku hanya berharap agar kita bisa tetap berkomunikasi dengan baik. Tidak ada salahnya bukan? Ya, meskipun rasa kecewaku belum sepenuhnya sirna, karena kau telah menolak ungkapan cinta yang kupersembahkan untukmu. Namun, itu tak masalah. Lagi pula, aku tak ingin bersaing dengan pria seperti Benjamin Royce," ucapnya lagi diiringi tawa pelan. Untuk beberapa saat, Gabriel menatap wajah cantik Autumn dengan lekat. "Bolehkah jika aku memelukmu sebentar saja, Elle?" tanyanya sedikit berharap.
Gadis bermata abu-abu itu kembali tersenyum. Dia memberikan isyarat kepada Gabriel, yang menandakan bahwa Autumn mempersilakan pria itu untuk memeluknya. Tanpa membuang waktu, Gabriel segera merengkuh tubuh semampai itu. Setidaknya, hal tersebut bisa dia jadikan sebagai hadiah pelipur lara atas cintanya yang terbalas.
Tanpa terasa, Autumn telah menyelesaikan tugas terakhirnya. Sebelum pulang, dia menyempatkan diri untuk berpamitan kepada rekan-rekan satu tim di bagian marketing. Walaupun terasa mengharukan, tapi Autumn dapat melangkah keluar dari gedung megah The Royal Royce, dengan hati yang penuh kelegaan.
Sore itu, Autumn kembali menapaki jalanan kota Paris dengan diiringi hembusan angin yang terasa cukup dingin. Seperti biasa, gadis cantik berambut panjang tersebut berjalan sambil memasukkan kedua tangannya pada saku mantel yang dia kenakan. Lusa dirinya akan berangkat ke Indonesia. Autumn pun tidak berniat untuk pamitan terlebih dahulu kepada sang kekasih. Baginya, pertemuan kemarin sudah jauh lebih dari cukup. Dia tak ingin bersedih dan menangis, karena merasa berat untuk berpisah selama beberapa waktu dengan Benjamin.
"Hai, Elle," terdengar suara sapaan seorang pria yang sudah tak asing lagi di telinga Autumn. Gadis itu menghentikan langkahnya kemudian menoleh. Tampaklah Leon yang dengan begitu tenang berjalan ke arahnya. Autumn hanya dapat mengempaskan napas berat. "Apa kabar, Elle? Bagaimana jika kita minum kopi sebentar?" sapa Leon yang kemudian berakhir pada sebuah ajakan minum kopi bersama.
__ADS_1