
Sekitar satu jam kemudian, Majorie sudah kembali ke rumah sakit tempat Fleur di rawat. Dia juga membawakan semua yang Benjamin pesankan padanya. Wanita muda itu tampak sangat bersemangat. "Bagaimana keadaan putri Anda, Tuan?" tanyanya perhatian.
"Menurut dokter, kondisinya sudah mulai stabil. Sepertinya, besok dia baru diizinkan pulang," jelas Benjamin. "Apa kau akan kembali ke kantor sekarang?"
"Jika Anda masih membutuhkan bantuanku di sini, maka aku bisa tetap tinggal. Lagi pula, Anda bosnya. Ini masih merupakan tugas dari Anda," Majorie mengulum senyumannya yang manis. Wanita muda berusia dua puluh enam tahun itu terlihat begitu ramah dan murah senyum.
Benjamin tersenyum samar. Dia lalu beranjak dari duduknya. "Tolong jaga putriku sebentar. Aku harus menghubungi seseorang," setelah mendapat tanggapan yang berupa sebuah anggukan dari Majorie, Benjamin kemudian beranjak ke bagian lain rumah sakit. Dia mencoba untuk menghubungi Autumn dan mengabarkan keadaan Fleur. Dengan terpaksa, dirinya juga harus membatalkan rencana yang telah disetujuinya kemarin malam.
Setelah beberapa kali mencoba menghubungi gadis itu, Benjamin harus mengempaskan napas penuh keluhan. Autumn tidak menjawab panggilannya, karena saat itu dia tengah menghadiri pertemuan dengan seluruh bagian marketing. Sesuai rencana, hari itu adalah pengumuman tentang ide terpilih untuk event musim panas mendatang. Autumn sengaja menyeting ponselnya dalam mode silent. Selain itu, dia juga tidak mungkin menerima panggilan telepon di tengah-tengah acara pertemuan. Akhirnya, Autumn membiarkan panggilan tersebut.
Beberapa saat kemudian, Benjamin memutuskan untuk kembali ke dalam. Dilihatnya Fleur yang tengah terbaring lemah. Sedangkan Majorie menemaninya sambil duduk di kursi dekat jendela kaca. "Bonjour, Princesse," sapa pria berambut cokelat tembaga itu seraya duduk di tepian tempat tidur. Fleur hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman kecil. "Bagaimana keadaanmu sekarang, Fleur?" tanya Benjamin. Dielusnya pucuk kepala sang anak dengan penuh kasih sayang.
"Tubuhku rasanya sangat lelah," keluh gadis kecil itu lemah.
"Tak apa. Sebaiknya kau istirahat dulu. Aku akan menemanimu di sini," ucap Benjamin lagi. Dia mengesampingkan rasa bimbangnya di hadapan Fleur. Gadis kecil itu adalah segalanya bagi Benjamin. "Apa kau ingin makan sesuatu?" tawar pria itu.
"Aku tidak tahu, Papa. Rasanya tidak nyaman," jawab Fleur pelan.
__ADS_1
"Jika kau ingin sesuatu, biar aku yang belikan untukmu, Nona Kecil," Majorie yang sejak tadi hanya duduk dan memperhatikan, kini ikut bergabung dalam percakapan ayah dan anak tersebut.
Namun, Fleur tidak menjawab. Gadis kecil berambut panjang tersebut hanya menoleh sesaat kepada Majorie. Setelah itu, dia kembali mengarahkan pandangannya kepada sang ayah. Fleur seakan ingin bertanya tentang siapa wanita muda asing itu. Benjamin dapat memahami makna dari tatapan putrinya. Dia tersenyum kalem seraya berkata, "Ini adalah nona Doucourè. Dia merupakan sekeretaris di kantorku," Benjamin memperkenalkan Majorie kepada Fleur.
"Hai, Nona Cantik. Siapa namamu?" Majorie mulai berbasa-basi dengan sikapnya yang ramah. Akan tetapi, Fleur tidak menjawab. Dia hanya menatap aneh kepada wanita muda itu.
"Nona Doucourè bertanya padamu, Sayang," Benjamin menimpali.
"Fleurine," gadis kecil itu menjawab dengan suaranya yang pelan.
"Putri Anda sangat pemalu, Tuan Royce," ucap Majorie diiringi senyuman hangat.
"Anda yakin tidak membutuhkan bantuanku lagi di sini, Tuan?" Majorie kembali mengernyitkan keningnya dengan gerakan bola mata yang tampak aneh.
"Aku rasa sudah cukup. Kau tidak dibayar untuk melakukan tugas yang berurusan dengan masalah pribadi. Jadi, aku pikir sebaiknya kau kembali saja ke kantor. Di sana pekerjaanmu yang sebenarnya," ujar Benjamin dengan diiringi senyuman kalem khas dirinya. Senyuman yang bisa membuat wanita manapun terbuai saat melihatnya.
"Baiklah. Ucapan Anda adalah perintah bagiku. Jangan sungkan untuk menghubungiku seandainya Anda membutuhkan bantuan dalam bentuk apapun," ucap Majorie lagi sebelum dirinya berpamitan. Wanita muda itu sempat menoleh kepada Fleur yang sejak tadi hanya memperhatikan dirinya. Majorie tersenyum manis seraya melambai.
__ADS_1
Namun, lagi-lagi Fleur tidak menanggapinya. Gadis kecil tersebut justru mengalihkan perhatian kepada sang ayah, yang baru saja mengantar kepergian sekretaris pribadinya.
"Apa dia menyukaimu, Papa?" pertanyaan yang terdengar begitu polos meluncur begitu saja dari bibir Fleur.
"Siapa? Majorie? Oh, tentu saja tidak," sanggah Benjamin seraya menautkan alisnya tak mengerti. "Kenapa kau bertanya seperti itu, Fleur?"
"Caranya saat menatapmu sama seperti Elle, Papa. Sayangnya, aku tidak menyukai mereka berdua," ujar Fleur dengan sikap kekanak-kanakannya, membuat Benjamin hanya dapat mengempaskan napas pelan. Dia lalu duduk di tepian ranjang seraya menghadap kepada gadis kecil tersebut. Ditatapnya wajah cantik Fleur yang merupakan duplikat dari sang ibu.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadamu, Fleur. Namun, menurutku sikapmu sangat berlebihan terhadap Elle. Kau tahu jika bukan dia yang telah membuatmu terjatuh dari tangga. Dia bahkan langsung menghubungiku setelah kejadian itu. Elle tidak mengizinkanku membawamu dan lebih memilih untuk menunggu petugas medis, karena dia khawatir jika luka yang kau derita akan semakin parah. Menurutku, itu sudah merupakan bukti bahwa Elle sangat perhatian padamu," jelas Benjamin. Dia berusaha membuat Fleur agar mengerti dan menyadari kesalahannya.
"Elle memiliki kekasih selain dirimu, Papa. Aku tidak menyukainya," bantah Fleur.
"Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu, Fleur?" Benjamin menautkan alisnya.
"Dia berbicara dengan seorang pria, dan pria itu memegang tangan Elle. Mereka juga bicara dengan saling berhadapan. Pria itu mengatakan jika dia tidak ingin melepaskan Elle," terang Fleur.
Benjamin tersenyum seraya mengela napas pendek. Digenggamnya jemari mungil gadis kecil berambut cokelat tembaga itu. "Sayang, kau masih terlalu kecil untuk dapat memahami masalah orang dewasa. Terkadang, apa yang kau lihat bukanlah yang sebenarnya. Namun, aku bingung bagaimana cara menjelaskannya padamu, agar kau dapat memahami hal seperti itu. Intinya adalah, Elle dan aku saling mencintai. Kau bisa memahaminya, kan?" Benjamin mengalihkan sentuhannya pada pucuk kepala Fleur. Dia mengelus rambut panjang gadis kecil itu.
__ADS_1
"Saling mencintai adalah ketika dua orang meluapkan perasaan kasih sayang di dalam hati mereka yang mendalam, untuk dapat saling memberikan kebahagiaan satu sama lain. Saat itu terjadi, tidak ada hal yang mereka tekadkan, selain ketulusan dan niat yang kuat untuk dapat memberikan yang terbaik. Sebisa mungkin mereka menghindari perselisihan, atau apapun yang dapat membuat orang disayanginya menjadi terluka bahkan tersakiti. Seperti itulah, Fleur," jelas Benjamin panjang lebar. Entah Fleur akan memahaminya atau tidak. Akan tetapi, Benjamin yakin jika gadis kecil itu sudah dapat memaknai semua ucapannya.
Fleur adalah anak yang pandai. Usianya memang baru sepuluh tahun. Namun, dia mewarisi kecakapan dari kedua orang tuanya. Hal itu tak diragukan lagi, dan ditunjukan dengan segudang prestasi yang dia torehkan di dalam maupun luar sekolah. "Aku ingin ke kamar mandi, Papa," ucap Fleur pada akhirnya. Benjamin kemudian membantu gadis kecil itu. Dia menggendongnya menuju kamar kecil. Sementara itu, ponsel yang Benjamin tinggalkan di atas meja tampak menyala. Sebuah panggilan masuk dari Autumn yang akhirnya terabaikan.