
Dari apartemen milik sahabat dekatnya tersebut, Autumn dapat melihat menara Eiffel dengan sangat jelas. Simbol kokoh negara Perancis itu terlihat sangat kuat, tinggi menjulang, dan juga begitu megah. Pandangan Autumn kemudian beralih pada sesuatu yang lain. Rintik-rintik hujan telah jatuh dan membasahi kota Paris, menjadikan kesan romantis dari kota tersebut terasa kian syahdu.
Pikiran Autumn kemudian melayang jauh entah ke mana. Angannya melambung tinggi, bahkan hingga menembus langit. Akan tetapi, selalu saja kembali dan tertuju pada seraut wajah tampan dengan senyuman menawannya yang teramat memikat. Benjamin Royce, apa yang sedang pria itu lakukan saat ini? Autumn mengempaskan napas pelan. Sejuta sesal menyesakkan dadanya. Pernikahan antara dirinya dengan lajang beranak satu tersebut, hanya tinggal menghitung hari. Namun, mengapa dia justru ingin melarikan diri dari si pria tampan.
"Aku sudah memesan menu makan malam untuk kita. Apa kau juga akan menginap di sini, Elle?" suara Maeva telah berhasil mengembalikan Autumn dari lamunannya. Gadis bermata abu-abu itu menoleh. Dia tampak ragu dan mungkin belum mengambil keputusan. Akan tetapi, pada akhirnya Autumn menggeleng pelan. "Jika kau ingin menginap di sini, maka akan kusiapkan tempat tidur untukmu," ujar gadis itu lagi.
"Tidak, Ev. Sepertinya aku akan pulang saja. Orang tuaku tidak akan suka jika putrinya tak pulang semalaman. Apalagi Darren sedang pergi ke luar kota bersama teman-temannya sesama pecinta alam. Tidak akan ada yang membantuku masuk dengan diam-diam," jelas Autumn tersenyum kecil.
"Ya, baiklah. Terserah kau saja kalau begitu. Namun, setidaknya kau makan malam dulu di sini, karena aku sudah memesan makanan dalam porsi dua kali lipat," sahut Maeva menanggapi. Autumn pun mengangguk, ketika sahabat dekatnya itu berlalu ke ruangan lain dari apartemen tersebut, entah untuk apa. Satu hal yang pasti, setelah itu Autumn kembali melayangkan tatapannya ke luar jendela dan termenung lagi.
Sedangkan Benjamin sama saja. Dengan ditemani segelas anggur, dia memandangi langit malam kota Paris. Rasa hati ingin segera memiliki kekasih yang sangat dia cintai, kini sepertinya niat suci itu sedikit tertunda. Pria bermata abu-abu tersebut harus kembali bekerja keras. Autumn pun seakan tengah menjaga jarak darinya. Belum lagi, dia mesti kembali memutar otak untuk dapat meluluhkan hati Edgar.
Selain itu, Benjamin juga mulai memikirkan sesuatu yang selama ini terabaikan. Dia merasa heran dengan semua kata-kata yang Fleur ucapkan. Apakah mungkin jika anak berusia sepuluh tahun, dapat berkata dan juga berpikir hingga ke arah sana, seperti sesuatu yang selama ini meluncur dari bibir putrinya. Apakah yang dikatakan Autumn memang benar, bahwa Fleur ada dalam pengaruh seseorang? Jika memang begitu, maka orang pertama yang harus dia curigai adalah tentu saja Aamber. Haruskah dirinya kembali menekan wanita paruh baya, yang hidupnya hanya sebatang kara? Lamunan Benjamin mulai bercabang ke mana-mana. Akan tetapi, pada akhirnya semua ingatan pria tiga puluh lima tahun itu tetap kembali tertuju kepada si pemilik mata abu-abu dengan postur semampai. Gadis cantik yang kini telah mengisi kekosongan dalam hatinya.
__ADS_1
......................
Pagi itu cuaca terlihat sedikit mendung. Malas rasanya bagi Autumn untuk bangun dan menyibakkan selimut tebal yang membuatnya merasa hangat. Akan tetapi, tentu saja tak sehangat dekapan mesra Benjamin Royce. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu, kemudian bangkit dan duduk bersandar untuk beberapa saat. Kedua mata indahnya terpejam. Dia pun sesekali menguap panjang. Namun, rasa kantuk dan malas Autumn seketika sirna tatkala dia melihat seseorang yang baru masuk ke kamarnya.
Edgar berdiri di dekat ujung tempat tidur. Pria itu memperhatikan dengan lekat. Edgar seperti hendak mengatakan sesuatu kepada anak gadisnya. "Apa kau sudah benar-benar bangun, Elle?" tanyanya dengan satu tangan di dalam saku celana panjang yang dia kenakan.
"Aku baru bangun, Ayah. Jika Ayah ingin bicara denganku, bisakah menunggu hingga beberapa saat lagi?" sahut Autumn yang belum sepenuhnya mengumpulkan tenaga.
"Tentu, Elle. Aku kemari hanya ingin memastikan apakah kau pulang dan tidur di rumah atau tidak. Aku senang karena kau bisa mengerti bahwa kita memang harus bicara," ujar Edgar tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Malas atau tidak, masalah harus segera diselesaikan. Jika kau biarkan dengan begitu saja, maka bukannya akan semakin membaik, tapi justru bisa saja menjadi lebih runyam. Itulah yang selama ini aku takutkan, Elle. Kau memang memiliki postur yang tinggi dan terlihat sudah dewasa. Akan tetapi, sifat manja dan kekanak-kanakan nyatanya masih melekat dengan erat dalam dirimu. Apakah kau akan mampu menghadapi tekanan yang muncul, dari penolakan dan sikap yang ditunjukan oleh putri Benjamin Royce?" Edgar lagi-lagi meragukan karakter Autumn.
Gadis berambut cokelat itu tidak menjawab. Rasa kantuknya memang sudah hilang. Namun, dia belum dapat memikirkan apapun saat itu. Lagi pula, yang ada dalam pikirannnya kini hanya satu hal, yaitu menenangkan diri dan juga pikiran. Dia mungkin akan melakukan saran dari Maeva. Autumn terdiam. Tanpa dia sadari, Edgar telah berdiri di dekatnya. Pria itu kemudian duduk di tepian tempat tidur. "Bolehkah jika aku ingin pergi berlibur selama beberapa hari?" tanya Autumn kemudian.
__ADS_1
"Kau ingin pergi ke mana? Apa kita akan pergi bersama-sama? Aku, kau, ibumu, dan juga Darren," tawar Edgar tampak antusias.
"Tidak, Ayah. Sebenarnya aku hanya ingin pergi sendiri. Benar-benar sendiri," sanggah Autumn menanggapi ucapan Edgar.
"Lalu, bagaimana dengan pernikahanmu? Benjamin sudah mempersiapkan ballroom hotelnya untuk pesta pernikahan kalian," Edgar kembali mengingatkan sang putri.
"Tidak apa-apa. Lagi pula, dekorasinya juga baru beberapa persen saja. Aku bisa memintanya untuk menghentikannya dulu," jawab Autumn dengan raut tak menentu.
"Apa kau yakin, Elle?" tanya Edgar lagi.
"Tidak, Ayah," jawab Autumn dengan segera. "Saat ini aku tidak merasa yakin dengan apapun yang kulakukan. Aku hanya ingin sendiri dan menenangkan hatiku untuk sejenak. Itu mungkin terdengar sangat egois, tapi aku tidak bisa berpikir dengan jernih," tutur gadis itu lirih.
Terbersit perasaan lain di hati Edgar. Bagaimanapun juga, rasa sayangnya terhadap Autumn amatlah besar. Dia tak ingin melihat putrinya terluka. "Dengarkan aku, Elle. Aku hanya ingin agar kau bisa bersikap jauh lebih dewasa. Pernikahan bukanlah sebuah hubungan singkat atau sederhana. Saat kau menjalaninya, setiap hal memang terasa indah ketika kau berada di puncak kebahagiaan. Akan tetapi, semua keindahan itu seketika sirna saat kau merasakan ada sesuatu yang tak berkenan dari pasanganmu. Itulah yang harus kau pelajari dengan baik. Tentang bagaimana caranya kau bisa menanggulangi perasaan itu, dan tetap mempositifkan hubungan kalian berdua. Lari dan bersembunyi, apalagi sampai meminta bantuan kepada orang lain di luar ruang lingkup yang berkenan untuk turut campur, itu jelas bukan solusi. Aku ataupun ibumu bahkan seharusnya sudah menarik diri dari urusan rumah tanggamu. Karena ketika kau memutuskan untuk menikah, maka itu artinya kau telah siap dengan segala gelombang yang akan menerpa bahtera rumah tangga kalian. Pikirkan kembali dan persiapkan mentalmu dengan baik. Jika kau ingin mengambil napas sejenak, maka aku tidak akan melarangmu. Akan tetapi, belajarlah untuk konsisten dengan semua keputusan yang telah kau ambil," panjang lebar Edgar memberikan nasihatnya kepada Autumn.
__ADS_1
"Apakah keputusanku memang terlalu terburu-buru, Ayah?" Autumn bertanya dengan penuh keraguan.
"Kau sedang jatuh cinta dan mungkin dibutakan oleh pesona Benjamin Royce. Aku tahu jika dia memang mencintaimu. Sebagai seorang pria, aku bisa melihat hal itu dari setiap bahasa tubuhnya. Akan tetapi, kau juga masih muda dan belum berpengalaman. Itu menjadi satu ketimpangan dalam hubungan kalian. Namun, hal tersebut tak selalu menjadi suatu alasan yang fatal. Semua jawaban ada dalam hatimu. Renungkan itu."