
Mobil yang membawa Edgar, berhenti di depan bangunan tua mirip dengan sebuah penginapan yang sudah terbengkalai. Ketiga pria tadi turun terlebih dahulu, barulah salah satu dari mereka membukakan pintu untuk Edgar. "Ikuti kami, Tuan," ajaknya.
Berhubung sikap mereka tidak kasar, Edgar pun menurut saja. Dia berjalan di belakang pria tadi. Sementara dua orang lagi, mengapitnya dari sisi kiri dan kanan. Mereka memasuki bangunan itu hingga tiba di sebuah ruangan luas. Isi dari bangunan itu tak seburuk tampilan luarnya. Di dalam sana, keadaannya cukup bersih.
"Untuk apa kalian membawaku kemari?" tanya Edgar masih diliputi rasa penasaran yang besar. Namun, pertanyaannya dengan segera terjawab, saat dia mendengar suara sambutan dari seorang pria. Edgar pun memandang ke arah pria muda yang muncul dari ruangan lain. Seketika, pria bermata abu-abu tersebut mengernyitkan keningnya. Dia seperti pernah bertemu dengan pria muda itu.
"Apa kabar, Tuan Hillaire? Apa Anda masih ingat padaku?" tanya pria muda tadi berdiri dengan sikapnya yang terlihat angkuh di hadapan Edgar.
Sedangkan Edgar sendiri menautkan alisnya. Dia tampak tengah mengingat-ingat sosok muda tersebut. "Leonardo Orville," ucap pria bermata abu-abu itu, yang kemudian segera disambut tepuk tangan dari si pria muda.
"Ingatan Anda baik sekali, Tuan. Namun, tetap saja ada beberapa hal yang Anda abaikan," ujar Leon seraya berjalan mendekat. Dia lalu berdiri di hadapan Edgar yang sedikit lebih tinggi darinya.
"Apa maksudmu, Anak Muda? Kita tidak memiliki masalah apapun. Jika putriku mengabaikanmu, maka itu tidak ada urusannya denganku," balas Edgar masih terlihat tenang.
Pria yang tiada lain adalah Leon, tergelak lepas. Dia menggaruk keningnya sesaat, lalu mengalihkan perhatian pada ketiga pria tadi. "Kalian pergilah. Aku akan mengirimkan sisa bayarannya nanti setelah dari sini," titah Leon.
"Jangan sampai ingkar! Jika kau tidak menepati ucapanmu, maka rasakan akibatnya!" ancam salah seorang dari mereka yang sepertinya merupakan ketua dari teman-temanmya.
"Tenang saja. Aku akan menepati ucapanku. Sekarang kalian pergilah dulu, karena aku harus menyelesaikan urusan pribadi dengan tuan besar ini," sahut Leon seraya memberi isyarat dengan tangannya. Ketiga pria itu pun menurut. Mereka berlalu dari ruangan itu, meninggalkan Edgar berdua saja dengan Leon.
"Jadi, apa yang kau inginkan?" nada bicara Edgar terdengar pelan tapi penuh penekanan. Ekor matanya pun terus mengikuti pergerakan Leon yang melangkah bolak-balik dengan tenang di hadapannya. Sesaat kemudian, Leon pun tertegun dan menoleh. Namun, tak lama pandangannya melihat ke sekelilling ruangan tempat mereka berada. "Sekali lagi kutanya, apa yang kau inginkan?" nada bicara Edgar terdengar semakin tegas dan masih penuh penekanan.
"Wow, Anda memang luar biasa. Pantaslah jika nama Edgar Hillaire bisa berkibar di antara jajaran para pengusaha besar Perancis. Akan tetapi, seberapa besar rasa peduli yang kau miliki terhadap orang-orang yang pernah ada di dalam hidupmu, Tuan?"
__ADS_1
Edgar semakin tidak mengerti dengan maksud dari Leon sebenarnya. Dia mencoba untuk mencerna, tetapi pikirannya tetap tak dapat menjangkau tujuan dari pria muda itu. "Kenapa kau harus bertele-tele? Sejujurnya saja jika saat ini aku tidak memiliki banyak waktu. Aku juga tidak suka saat ketiga pria tadi mengatakan, bahwa anak buah mereka tengah mengawasi kediamanku," ujar Edgar. Kesabarannya sudah hampir habis dalam menghadapi Leon yang seakan mengajaknya untuk bermain-main.
"Anda tenang saja, Tuan Hillaire. Mereka tak akan melakukan apapun yang dapat membahayakan nyonya Hillaire ataupun putrimu yang cantik," ujar Leon seraya tertawa pelan. "Rasanya benar-benar konyol karena aku harus jatuh cinta kepada anak gadismu. Dia memang cantik. Ya, sangat cantik. Sama seperti nyonya Hillaire saat muda dulu."
"Apa maksudmu?" raut wajah Edgar terlihat semakin serius, ketika mendengar Leon berkata demikian. "Bagaimana kau bisa mengetahui seberapa cantiknya istriku di masa muda?" selidik Edgar seraya mengepalkan kedua tangannya di dekat paha.
Leon tidak menjawab pertanyaan itu. Dia merogoh ke dalam jaket yang dikenakannya. Sesaat kemudian, pria muda itu melemparkan beberapa lembar foto ke hadapan muka Edgar, hingga dia harus memalingkan wajahnya ke samping. Namun, tak lama kemudian Edgar menunduk dan memperhatikan beberapa lembar foto dengan wajah Arumi. Kondisi foto-foto itu memang sudah tidak bagus lagi, tapi wajah cantik Arumi di kala muda masih bisa terlihat jelas.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Edgar menahan emosi yang kian memuncak. Raut wajahnya semakin tegang saat itu.
"Tenanglah, Tuan. Jangan terbawa emosi. Aku membawamu kemari untuk bicara baik-baik," ujar Leon menatap lekat Edgar.
"Sekali lagi, katakan siapa dirimu!" sentak Edgar tak menanggpai ucapan Leon yang memintanya untuk tetap tenang.
"Lalu apa urusannya denganku? Ayahmu pantas menerima hukuman atas segala kejahatannya!" tegas Edgar dengan sorot tajam kepada Leon. "Lagi pula, aku tidak pernah tahu jika Benjamin sudah memiliki seorang anak."
"Ya. Ayahku bercerai dengan ibu sewaktu aku masih kecil. Aku dan ibu tinggal di Meksiko, sementara ayah memilih untuk kembali ke Perancis untuk menjalankan bisnis restorannya. Namun, semua bisnis ayahku hancur ketika dia harus mendekam di dalam penjara. Bibiku Mirella juga terbatas pergerakannya, karena saat itu menjadi tahanan kota," tutur Leon datar.
"Mereka berdua pantas menerima itu!" dengus Edgar.
"Ya, tapi kau tidak tahu seperti apa hidup ayahku setelahnya. Beberapa waktu kemudian, ayahku menderita penyakit kronis yang dia bawa dari penjara. Tak hanya itu, kondisi tubuhnya semakin lemah karena dia juga menderita komplikasi. Ayah memaksakan diri pergi ke Meksiko dan kembali pada ibuku karena tak ada yang merawatnya di Perancis," tutur Leon lagi.
"Lalu ke mana adik tersayangnya?" tanya Edgar sinis.
__ADS_1
"Bibi Mirella pergi ke luar negeri setelah masa tahanannya habis. Dia dibawa oleh suaminya ke Italia. Jadi, dia juga tidak bisa merawat ayahku," jelas Leon masih menatap lekat Edgar.
"Apa hubungannya denganku? Aku tidak ingin lagi berurusan dengan penipu-penipu itu!"
Leon terpaku di tempatnya berdiri. Dia masih menatap lekat Edgar dengan semakin sendu. "Saat ini ayahku sedang sekarat. Dia dalam keadaan koma. Berbagai metode pengobatan telah diakukan. Ibuku bahkan sudah menjual rumah kami untuk biaya pengobatan," terang Leon lagi.
"Lalu apa yang kau inginkan dariku? Kau ingin agar aku menanggung semua biaya pengobatan ayahmu?"
"Tidak usah jika kau tak berminat. Aku hanya ingin meminta sedikit bantuan darimu, Tuan," sahut Leon pelan. Akan tetapi, Edgar tak segera menjawab, terlebih karena saat itu ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari Arumi. "Jawab saja dulu panggilan itu, dan katakan bahwa Anda baik-baik saja," ucap Leon.
"Aku tahu apa yang harus kukatakan pada istriku!" sahut Edgar ketus. "Arum," nada bicara Edgar seketika berubah saat berbicara kepada Arumi.
"Kau di mana, Ed? Aku menunggumu untuk makan siang bersama," suara Arumi terdengar khawatir.
"Makanlah dulu. Tiba-tiba aku ada urusan mendadak," jawab Edgar yang tak ingin membuat sang istri menjadi semakin cemas.
"Oh, baiklah. Aku harap kau sudah kembali saat makan malam nanti," balas Arumi lembut.
"Akan kuusahakan, Sayang. Makanlah dulu," sahut Edgar lagi. Dia lalu mengakhiri perbincangannya dan kembali memaskukkan ponsel tadi ke dalam saku blazer. Perhatian pria paruh baya itu kembali pada Leon yang masih berdiri tanpa melepas pandangan darinya. "Katakan apa yang kau inginkan dariku, agar aku bisa segera pulang."
Leon mengempaskan napas pelan. "Aku ingin kau membantu mengurus pemindahan ayahku dari Meksiko ke Perancis, agar aku bisa merawatnya di sini," jawab Leon.
"Hanya itu?"
__ADS_1
"Bawa juga istrimu untuk menjenguknya."