The Gray Autumn

The Gray Autumn
Surprise Le Matin


__ADS_3


Autumn tersentak. Matanya terbelalak sempurna dan menoleh ke arah pintu, di mana muncul seorang wanita berambut sebahu berwarna pirang. Wanita dengan penampilan yang begitu sensual dan terlihat sangat padat pada beberapa bagian tubuhnya.


Wanita itu pun sama terkejutnya dengan Autumn. Sepasang matanya yang berwarna biru, melotot dengan tajam kepada gadis itu. Ia lalu melangkah cepat dan menghampiri Autumn. "Siapa kau?" tanyanya dengan nada cukup tinggi dan terdengar agak kasar. Kemarahan terpancar jelas dari raut mukanya yang menggambarkan kecantikan sempurna khas wanita Perancis. "Di mana Benjamin?" tanyanya lagi masih dengan nada yang sama.


"A-aku ...." Autumn tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena pria tadi telah keluar dari dalam kamar mandi. Saat itu ia memakai handuk yang dililitkan di perut, dan hanya menutupi bagian bawah tubuhnya saja. Benjamin tampak tertegun melihat ada dua orang wanita di dalam kamarnya. Akan tetapi, sesaat kemudian pria itu kembali menunjukkan sikap tenangnya. Ia melangkah ke arah dua wanita itu berdiri.


"Esmee? Kapan kau datang?" tanya pria itu dengan suara beratnya. Ia menatap wanita yang tiada lain adalah kekasihnya, Esmee Candela.


"Aku baru datang dan langsung dibuat terkejut. Ini sangat luar biasa, Benjamin!" jawabnya dengan nada protes. Ia juga terlihat marah kepada pria yang ternyata bernama Benjamin.


"Aku akan berpakaian dulu. Sementara itu, silakan keluar dari kamarku," titahnya.


Dengan segera, Autumn meraih sling bag miliknya dan beranjak keluar dari kamar itu. Sementara Esmee masih berdiri di tempatnya. Hal itu, membuat si pria kembali menoleh padanya. "Perintah tadi berlaku untuk kalian berdua," ucapnya dengan cukup tegas. Setelah itu, ia berlalu ke ruangan lain yang merupakan sebuah kamar khusus untuk menyimpan segala jenis perlengkapan dan pakaian miliknya. Dengan jengkel, Esmee keluar dari dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Di ruang tamu, Autumn berdiri dan memandangi sebuah lukisan yang menarik perhatiannya. Lukisan seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat anggun. Ia juga melihat-lihat hal lain yang membuatnya penasaran. Gadis itu heran, kenapa ia masih berada di sana. Padahal, Autumn bisa saja langsung pergi tanpa harus menunggu apapun. Terlebih, ia tak ingin menjadi pelanduk yang mati dalam pertarungan dua ekor gajah, yang ia rasa akan berlangsung sesaat lagi. Autumn segera melangkah ke arah pintu. Ia berniat untuk keluar, sebelum terdengar suara yang memanggil dan menahan langkahnya. Autumn kemudian menoleh.


Esmee berjalan mendekat. Raut wajah dan sorot matanya masih diliputi amarah. Wanita berambut pirang tersebut, seperti ingin menerkam gadis belia di hadapannya dengan tanpa ampun. "Katakan padaku, apa yang sudah kau lakukan semalam di dalam kamar Ben?" nada bicara wanita itu terdengar begitu mengintimidasi. Namun, Autumn masih terlihat tenang. Gadis itu tak memperlihatkan raut tegang sedikitpun.


"Aku tidak melakukan apapun dengan tuan itu. Ah, maksudku ... aku tidak ingat apa-apa. Jadi, sebaiknya kau tanyakan sendiri padanya. Aku harap kekasihmu adalah pria yang baik," jawab Autumn dengan entengnya. Hal itu membuat Esmee terlihat semakin murka. Ia segera mencekal lengan kiri Autumn dengan kasar. Kuku-kukunya yang panjang dan runcing bahkan menusuk dan menggores kulit gadis itu, membuat Autumn meringis.


"Jangan macam-macam denganku! Kau pikir aku akan membiarkan Ben tidur dengan sembarang wanita?" sergahnya, membuat Autumn terpancing emosi. Dengan segera, Autumn menarik tangan Esmee yang tengah mencekal lengan kirinya, menggunakan tangan kanan. Ia lalu memelintir tangan wanita berambut pirang tersebut dengan kencang, sehingga membuatnya meringis dan memekik dengan cukup nyaring.


Autumn tak melepaskan wanita itu. Cengkeraman tangannya justru semakin kencang. Ia baru menghentikan aksinya ketika terdengar suara seorang pria yang muncul di sana. "Hentikan, Nona-nona! Jangan membuat keributan di rumahku," cegahnya dengan gaya bicara yang penuh wibawa. Ia berjalan menghampiri kedua wanita yang sedang bersetru itu.


"Kau yang memulainya, Tante!" balas Autumn dengan kesal seraya menunjuk ke arah Esmee.


Tak terima dengan sebutan Tante (Bibi), Esmee hendak kembali menyerang Autumn. Namun, dengan segera Ben mencegahnya. "Cukup!" sergahnya dengan tegas. "Sudah kukatakan agar jangan membuat keributan di dalam rumahku! Jika kalian masih ingin melanjutkan yang tertunda, maka silakan lanjutkan di luar!" tegasnya dengan tatapan tajam kepada Autumn dan Esmee secara bergantian.


"Kau keterlaluan, Ben!" protes Esmee tegas. "Sejak kapan kau tertarik dengan gadis ingusan seperti ini?"

__ADS_1


Ben tidak menjawab. Sepasang matanya yang berwarna abu-abu, tajam ia arahkan kepada sang kekasih. Setelah itu, ia lalu menoleh kepada Autumn. "Nona, jika kau ingin pulang maka silakan. Kau tahu jalan keluarnya. Sekarang sudah siang, dan kau tidak akan kesulitan mendapatkan taksi," ucapnya masih dengan suara dan nada bicara yang terdengar begitu tegas.


Autumn menatap pria itu untuk sesaat. Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya kepada Esmee yang masih memasang wajah penuh kemarahan. Tanpa banyak bicara, Autumn membalikan badannya dan berjalan menuju pintu. Ia meninggalkan rumah musim panas yang mewah itu dengan perasaan yang tak karuan. Entah apa yang harus ia jelaskan kepada sang ayah, saat sudah tiba di rumah nanti. Autumn terus melangkah hingga akhirnya ia keluar dan menghilang di balik pintu gerbang rumah tersebut.


Sementara itu, Esmee masih terlihat kesal. Ia memilih untuk duduk seraya terus memegangi pergelangannya yang terasa sakit. Tak berselang lama, wanita berambut pirang itu pun terisak pelan. Sedangkan Benjamin hanya menatapnya tanpa berkata apapun. "Aku kemari untuk memperbaiki hubungan kita, tapi aku malah mendapatkan perlakuan seperti ini," ucapnya dengan perasaan kesal dan penuh sesal. Semuanya bercampur menjadi satu.


"Apa maksudmu?" tanya Benjamin datar.


"Kau keterlaluan! Bagaimana bisa kau berkencan dengan gadis kecil seperti itu. Apakah ia sepadan denganku?" protesnya lagi.


"Siapa yang berkencan dengannya?" Benjamin menghampiri wanita itu dan duduk di dekatnya. "Kau tahu? Makin ke sini, sikapmu semakin menyebalkan. Kau menjadi sangat kekanak-kanakan."


Esmee seketika melayangkan tatapan protes kepada pria di sebelahnya. Ia tak terima dengan pendapat dari pria itu. "Kekanak-kanakan? Kenapa kau menyebutku seperti itu?" Esmee kembali melayangkan protesnya.


"Karena memang seperti itulah kenyataannya," ujar Benjamin pelan tapi tegas. "Aku lelah dan juga bosan dengan semua kecemburuanmu. Aku rasa tidak ada yang perlu diperbaiki lagi di antara kita," pungkasnya.

__ADS_1


Esmee terpaku mendengar ucapan pria tampan itu. Ia mengerti akan maksud dari perkataannya. "Tidak, Ben! Jangan katakan apapun tentang itu!" pintanya sedih.


__ADS_2