
Benjamin terlihat basah dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya, membuat perhatian Autumn kini teralihkan pada sosok malaikat tampan yang juga tengah menatapnya. “Segera berpakaian. Setelah itu kita akan makan malam,” suruhnya seraya berlalu ke dalam kamar ganti. Sedangkan Autumn hanya tersenyum. Rasanya seperti mimpi bahwa ia baru selesai bercinta untuk kedua kalinya bersama seorang Benjamin Royce, pria yang selama ini membuat dirinya kehilangan konsentrasi. Autumn pun sepertinya tak menyadari jika ia masih berada dalam sambungan telepon bersama sang ayah.
“Suara siapa, Elle?” Edgar kembali bertanya dan seketika membuyarkan segala lamunan nakal Autumn tentang Benjamin. Gadis itu menjadi kelabakan. Ia pun bingung harus menjawab apa. “Katakan sekarang kau ada di mana? Jika tidak, maka aku akan mengaktifkan pelacak yang telah kupasang di ponselmu,” ancam Edgar dengan tenang tapi terdengar cukup tegas.
“Bukan siapa-siapa. Itu suara kekasih Maeva,” lagi, Autumn kembali berbohong. “Ya, aku sedang berada di tempat Maeva. Kami baru selesai berenang,” Autumn menepuk keningnya karena merasa jika dirinya benar-benar bodoh .
“Berenang? Malam-malam begini?” Edgar terdengar ragu akan jawaban putri sulungnya tersebut.
“Ya. Um, sudahlah ayah. Aku akan segera pulang, dan ayah tak perlu berpikir macam-macam. Kututup teleponnya, dah,” Autumn bergegas turun dari tempat tidur serta memungut pakaian dalam yang berserakan di lantai. Gadis itu menggulung rambut panjangnya menggunakan sebuah jepitan hingga membentuk sanggul. Autumn kemudian memasangkan bra. Karena terburu-buru, ia kesulitan menautkan pengait bra tersebut, hingga akhirnya gadis itu merasakan tangan Benjamin di punggungnya. Autumn menurunkan kedua tangan dan membiarkan pria itu membantunya menautkan tiga buah pengait hingga menyatu dengan sempurna.
Getaran itu kembal hadir. Hal tersebut seketika menggoda Autumn, menggelitik dan terus menjalar di seluruh tubuh, ketika ia merasakan bulu-bulu halus di wajah Benjamin menyentuh permukaan kulitnya yang halus. Tak hanya itu, tangan pria rupawan tersebut pun begitu nakal menggerayangi seluruh tubuhnya yang sebagian besar masih polos. “Hentikan, Ben. Aku harus segera pulang,” tolak Autumn. Ia mencegah Benjamin untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi.
“Kenapa harus terburu-buru? Bukankah kita akan makan malam dulu?” Benjamin mencium pundak Autumn dengan lembut.
__ADS_1
“Tuan Hillaire baru saja menghubungiku. Aku harus segera pulang sebelum ia menemukanku di sini. Bukannya kau tak ingin ayahku mengetahui kedekatan kita?” Autumn meraih segitiga pengaman miliknya dan segera ia kenakan.
Sementara Benjamin merasa tidak enak mendengar ucapan Autumn. Itu terdengar seperti sebuah sentilan tajam untuknya. “Bukan begitu, Elle. Jika kau ingin aku bicara dengan ayahmu, maka akan kulakukan,” ucapnya membuat Autumn tertegun. Gadis itu kemudian berbalik. Ia menatap pria itu dengan ragu.
Benjamin dapat menebak arti dari tatapan Autumn. Namun, ia menaggapinya dengan kalem. “Aku akan menemui tuan Hillaire, tapi sebelum itu aku ingin memperkenalkanmu dulu kepada Fleur,” ia menangkup wajah cantik Autumn dan menciumnya lembut untuk sesaat.
“Apa menurutmu Fleur akan menyukaiku?” Autumn terdengar khawatir.
“Putriku gadis yang supel, meskipun ia tak terlalu senang bergaul. Aku rasa kalian berdua akan cocok, karena kalian juga memiliki warna bola mata dan rambut yang sama,” ujar Benjamin diiringi senyuman yang menawan.
“Berpikir positif saja, Elle. Dengan begitu suasana hatimu dapat menjadi jauh lebih tenang dan kau tak akan terlihat konyol,” ujar pria yang saat itu sudah terlihat segar dan tampan dengan t shirt biru navy. “Berpakaianlah sebelum aku berubah pikiran,” ucapnya lagi sambil memutar handle pintu. Ia berlalu keluar kamar meninggalkan Autumn yang hanya senyum-senyum sendiri.
Beberapa saat telah berlalu. Autumn sudah selesai merapikan dirinya dan bersiap untuk pulang. Ia mengurungkan niatnya untuk makan malam di tempat Benjamin. Dengan terpaksa, dirinya harus pulang lebih cepat sebelum Edgar membuktikan ancamannya, meskipun Benjamin sudah memutuskan untuk berbicara dengan pria itu.
__ADS_1
Duduk tenang di kursi sebelah Benjamin, Autumn menikmati suasana jalanan malam di kota Paris. Lampu-lampu yang berkelap-kelip dengan aroma romantis khas kota mode tersebut, membuatnya sesekali menyunggingkan sebuah senyuman manis. Diliriknya wajah tampan Benjamin. Pria itu tengah fokus pada lalu lintas yang mereka lewati. Sesekali, Benjamin membalas lirikan Autumn dan tersenyum. Ia menyentuh punggung tangan gadis berambut panjang tersebut dan meraihnya, kemudian mencium dalam-dalam. Terlihat jika pria itu memang memiliki perasaan lebih, terhadap gadis dengan rentan usia yang terpaut sangat jauh darinya. Namun, hal tersebut bukanlah masalah yang terlalu besar bagi mereka berdua, karena kenyataannya Autumn pun merasakan kenyamanan yang luar biasa saat berdekatan dengan lajang beranak satu itu.
Tak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk tiba di kediaman milik Edgar. Jarak dari tempat Benjamin ke sana, dapat ditempuh sekitar setengah jam saja. Saat itu, Benjamin sudah memarkirkan mobilnya di depan pintu gerbang kediaman megah rekan bisnisnya tersebut. Ia lalu keluar dan membukakan pintu bagi Autumn. “Jangan lupa, persiapkan dirimu untuk akhir bulan ini,” pesan Benjamin yang saat itu berdiri berhadapan dengan Autumn. Sementara Autumn sendiri tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil yang sudah tertutup. Gadis itu tak menolak ketika Benjamin menciumnya dengan mesra untuk beberapa saat lamanya. Seperti biasa, ia akan selalu menikmati hal itu. Bagi Autumn, ciuman dari Benjamin terasa begitu berbeda jika dibandingkan dengan ciuman yang pernah ia terima dari Leon.
“Apakah kita sudah saling jatuh cinta, Ben?” tanya Autumn dengan setengah berbisik.
“Aku rasa … begitu,” jawab Benjamin diiringi senyumnnya yang menawan. “Aku menjadi banyak tersenyum saat bersamamu,” ucapnya.
“Jangan merayuku. Aku tak akan percaya begitu saja saat kau mengatakan jika aku berbeda dari wanita lainnya yang telah kau kencani.”
“Aku tak akan memintamu untuk mempercayai hal itu. Anggap saja kata-kata tersebut hanya sebagai rayuan kuno dariku,” balas Benjamin santai. “Masuklah, Elle. Selamat malam, Sayang,” Benjamin mengecup kening Autumn dengan penuh perasaan.
“Selamat malam, Tampan,” balas Autumn dengan senyumannya yang manis. Setelah itu, ia melangkah ke dekat pintu gerbang yang segera terbuka dengan otomatis. Sebelum masuk, gadis itu sempat menoleh dan kembali melemparkan senyuman untuk pria tampan yang masih menatapnya. Benjamin membalas senyuman itu seraya mengedipkan sebelah mata, membuat Autumn tersipu. Namun, ia harus segera masuk. Gadis cantik itu menghilang di balik pintu gerbang.
__ADS_1
Sedangkan Benjamin segera masuk ke mobilnya. Ia tak mengetahui jika sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasinya bersama Autumn.