The Gray Autumn

The Gray Autumn
The Chosen One


__ADS_3

Dengan raut datar Benjamin mengendarai mobilnya sore itu. Tujuannya kali ini adalah tepi Sungai Seine, di mana dirinya telah membuat janji untuk bertemu dengan sang kekasih. Akan tetapi, rupanya dia datang lebih awal dari gadis itu. Akhirnya, Benjamin harus rela menunggu untuk beberapa saat. Duduk sendiri menikmati angin sore yang berembus dengan dingin. Pria berparas rupawan itu termenung sejenak. Tatapannya tertuju pada riakan air sungai. Di sisi lain, pemandangan indah terhampar dan begitu memanjakan mata. Menara Eiffel pun tampak berdiri sangat kokoh dan seolah tak akan pernah tergoyahkan oleh angin sekencang apapun, meski ribuan musim telah datang dan pergi silih berganti.


Ingatan Benjamin kemudian melayang pada beberapa tahun silam. Bayangan paras cantik Samantha hadir di pelupuk matanya. Sebuah penyesalan yang dulu terjadi, dan membuat dia selalu melarikan diri dengan cara yang tidak terpuji. Ya, Benjamin mencari pelarian dari rasa sakit atas perpisahannya dengan gadis asal Inggris itu. Kisah cinta yang tidak berakhir bahagia, meskipun meninggalkan sebuah kenangan indah dan abadi, yaitu seorang anak bernama Fleurine si bunga kecil yang cantik dan kini telah tumbuh besar. Namun, Benjamin tak pernah menyangka, karena ternyata anak itulah yang justru menjadi penghalang kisah cinta dan niat sucinya bersama Autumn. Haruskah dirinya terus memperdebatkan masalah yang sama dengan putri semata wayangnya tersebut?


"Oh, Tuhan. Anak itu baru berusia sepuluh tahun," gumam Benjamin seraya mengeluh pelan. Dia tak habis pikir karena watak putrinya yang ternyata begitu keras.


"Ben," terdengar suara lembut dari seseorang yang sejak tadi dia tunggu. Benjamin segera menoleh dan berdiri. Dia menghampiri Autumn yang berdiri tak jauh darinya. Segera dicium gadis itu dengan mesra dan penuh cinta untuk beberapa saat. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Autumn sesaat setelah Benjamin melepaskan bibirnya. Gadis itu merapikan rambut sang kekasih yang sedikit acak-acakan. Tak biasanya, Benjamin berpenampilan demikian kacau.


"Mari kita duduk," ajak pria bermata abu-abu itu. Mereka berdua kemudian saling berdampingan sambil menghadap pada Sungai Seine yang indah. Autumn segera menyandarkan kepalanya di atas pundak Benjamin, ketika pria itu menggenggam erat jemari lentik dengan hiasan kuteks berwarna biru muda. "Rambutmu sangat harum," bisik pria itu. Segala kegundahan dan amarah yang tadi sempat ingin dia lampiaskan, kini menguap seketika bagaikan asap yang membumbung ke udara.


"Aku pikir kau sudah pulang ke rumah," Autumn melirik sesaat wajah pria di dekatnya, meskipun saat itu Benjamin tengah melayangkan tatapan lurus pada air yang bergerak karena tiupan angin.


"Aku memang sudah pulang tadi, tapi kuputuskan untuk keluar lagi," balas pria dengan mantel trench coat berwarna hitam itu.


"Bagaimana kabar Fleur? Bukankah hari ini jadwal terapi?" Autumn memainkan telunjuknya pada permukaan mantel di atas paha Benjamin.


"Ya. Dia pergi terapi bersama Aamber, karena kebetulan aku harus ke kantor," Benjamin mengela napas dalam-dalam. "Aku sudah bicara dengan Fleur tentang rencana pernikahan kita. Kau pasti sudah bisa menebak seperti apa tanggapan yang diberikannya," ucap pria itu dengan nada penuh sesal.

__ADS_1


Autumn tidak menjawab. Dia tak tahu harus berkata apa. Bagaimanapun juga, dirinya dapat merasakan kebimbangan dan dilema yang tengah melanda hati sang kekasih tercinta. "Apa ayahku menemuimu di kantor?" gadis itu lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


"Ya," jawab Benjamin. "Tuan Hillaire menemuiku tadi sebelum waktu makan siang. Kami sudah mendapat kesepakatan. Ayahmu telah setuju, Elle. Dia menerima lamaranku. Rencananya, aku ingin kita menikah musim gugur ini," terang Benjamin yang seketika membuat Autumn segera mengubah posisinya. Dia menegakkan tubuh seraya menatap pria bermata abu-abu itu dengan mata terbelalak. "Kenapa?" Benjamin melirik gadis cantik di sebelahnya.


"Musim gugur ini?" ulang Autumn tak percaya.


"Ya. Apanya yang salah jika aku ingin kita menikah pada musim gugur tahun ini?" Benjamin balik bertanya.


"Apa itu tidak terlalu terburu-buru?" Autumn tampak mengernyitkan kening. Dia juga memainkan bola matanya yang indah.


"Karena aku ingin kita segera menikah, maka tidak ada hal yang dirasa terburu-buru olehku. Masih ada waktu untuk mempersiapkan semuanya. Satu yang pasti, aku ingin ketika salju pertama turun, maka kau sudah berada di dekatku. Kita akan duduk bersama di dekat perapian sambil menikmati cokelat panas atau ...." Benjamin tak sempat melanjutkan kata-katanya.


"Tidak ada," sahut Benjamin menghentikan tawanya. Dia lalu terdiam sejenak. "Kau tahu? Fleur memintaku untuk mengembalikannya ke Marseille andai aku menikah denganmu atau dengan wanita lain. Itu artinya, dia menolak pernikahan kita bukan karena dirinya tidak menyukaimu, Elle. Fleur hanya merasa takut jika perhatianku akan terbagi dan lebih besar padamu. Itu disebut cemburu," Benjamin memiringkan tubuhnya ke arah Autumn, dan berbalas sebuah cubitan gemas di lengannya.


"Katakan padaku, apakah kau ada masalah dengan Gabriel di kantor?" tanya Benjamin kemudian.


"Tidak ada," jawab Autumn dengan segera.

__ADS_1


"Lalu, kenapa kau sampai harus mengerjakan tugas-tugas dari asisten pribadinya?" tanya Benjamin penuh selidik.


"Ah, sudah lupakan. Aku tidak ingin membahasnya," tolak Autumn dengan raut malas.


"Siapa yang membuatmu merasa malas? Gabriel?" tanya Benjamin lagi setengah mendesak.


"Semuanya," jawab Autumn. "Kau tahu?Gabriel mengajakku berkencan," lirik gadis itu dengan sorot yang seakan ingin menggoda sang kekasih.


"Lalu, bagaimana tanggapanmu?" Benjamin terlihat penasaran.


"Menurutmu bagaimana?" Autumn tertawa pelan. Sementara Benjamin hanya mendengus pelan. Hal itu membuat Autumn semakin ingin menggoda sang kekasih. "Aku ingin tahu bagaimana sikapmu saat dilanda cemburu."


"Kau tidak akan menyukainya," balas Benjamin.


"Apakah sangat menakutkan?" Autumn mendekatkan wajahnya kepada pria tampan berambut cokelat tembaga, yang menanggapi pertanyaannya dengan cara mengangkat alis. "Apa kau tahu bahwa aku sudah memukul wajah Elloise Lavigne, sehingga Gabriel memberikanku hukuman?"


Benjamin membelakakan matanya, menandakan bahwa dia merasa tidak percaya atas pengakuan gadis itu. "Luar biasa sekali," sebuah sanjungan bernada sindiran dia tujukan untuk Autumn. "Lalu, apa yang terjadi pada nona Lavigne?"

__ADS_1


"Hey, kenapa kau malah menanyakannya?" protes Autumn tak suka. "Dia menjambak rambutku dengan kencang, karena itu aku memukul wajahnya hingga dia mimisan," tutur gadis itu lagi dengan bangga. "Elloise sangat menyebalkan. Banyak dari rekan-rekan lain yang tidak menyukainya. Aku rasa, untuk ke depannya mungkin kau harus menekankan kepada bagian personalia, agar mereka jauh lebih selektif dalam menyeleksi calon karyawan yang masuk," saran Autumn serius, membuat Benjamin hanya dapat menatapnya dengan lekat. Rasa cinta penuh kekaguman itu terpancar dengan sangat jelas, ketika dirinya kembali menikmati ciuman hangat nan mesra, dari gadis berambut panjang pengisi hatinya.


"Aku sudah menyuruh Majorie untuk mencarikan wedding organizer terbaik di kota ini," ucap Benjamin kemudian. "Aku mempertaruhkan banyak hal demi rencana pernikahan kita. Aku tahu jika semuanya pasti akan membaik. Begitu juga dengan Fleur. Pada akhirnya, dia pasti akan bisa menerimamu. Aku berharap kau juga bisa menerimanya dengan baik, karena dalam hal ini aku tidak hanya mencari seorang istri, melainkan juga ibu untuk Fleur," tutur Benjamin lirih. "Seperti yang kau ketahui, ada banyak wanita dalam hidupku, tapi kaulah yang terpilih."


__ADS_2