The Gray Autumn

The Gray Autumn
Decouvert


__ADS_3

Keesokan harinya, Autumn datang tepat waktu ke kantor The Royal Royce. Tampilan gadis itu terlihat begitu rapi dan manis, meskipun tak terlalu formal. Di sana, Autumn ditempatkan pada bagian marketing. Setelah berkenalan dengan beberapa rekan kerjanya, Autumn mendapat sedikit pengarahan tentang tugas-tugas yang harus ia lakukan.


Adalah Gabriel Archambeau yang merupakan seorang kepala marketing di sana. Pria berambut ikal dan berwarna pirang. Ia memiliki mata hijau yang indah. Tatapannya terlihat sangat bersahabat dan juga ramah. "Nona Hillaire," sapanya hangat. "Aku Gabriel Archambeau. Selamat bergabung dalam tim," lanjut pria itu dengan sikap yang bersahabat. Ia tertawa renyah ketika melihat Autumn mengernyitkan keningnya.


"Ya, aku menyebut ini sebagai tim. Kita adalah satu tim, satu keluarga, karena itulah sebisa mungkin dan merupakan hal yang wajib untuk bisa bekerja sama dengan baik," jelasnya.


"Oh, iya. Tentu saja, Tuan Archambeau. Aku akan berusaha sebaik mungkin," balas Autumn memperlihatkan wajahnya yang ceria.


"Ya, kau harus melakukannya. Aku akan menegurmu dengan keras, jika kau tidak dapat menunjukan semua potensi dalam dirimu. Kau bebas mengemukakan semua ide brilian yang ada di dalam kepalamu." Gabriel mengakhiri ucapannya dengan tawa hangat.


"Baiklah," jawab Autumn. "Apakah aku sudah boleh duduk di mejaku?" tanya gadis bermata abu-abu itu polos.


"Tentu. Buatlah dirimu senyaman mungkin," balas Gabriel. Ia mempersilakan Autumn untuk menuju ke meja kerja yang telah disediakan untuk gadis itu, sementara Gabriel berlalu ke dalam ruangannya.


Autumn mengela napas dalam-dalam. Telapak tangannya sedikit basah oleh keringat. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan suasana di tempat kerja. Sebuah pengalaman baru yang benar-benar membuatnya menjadi seseorang yang berbeda. Hari itu, Autumn lalui dengan lancar tanpa sebuah kendala yang terlalu berarti. Hingga menjelang sore dan tiba saatnya untuk pulang, Autumn masih merasa nyaman. Namun, perasaan itu tiba-tiba terusik ketika ia berpapasan dengan Benjamin. Autumn merasa heran, karena pria itu pulang bersamaan dengan karyawannya yang lain.

__ADS_1


Benjamin memakai kacamata hitam dan masuk ke mobil. Ia berpura-pura tak melihat ke arah gadis itu. Namun, pria bermata abu-abu tersebut tak segera menjalankan mobilnya, terlebih ketika ia melihat Gabriel yang saat itu menyapa Autumn dengan hangat. Mereka berdua tampak berbincang akrab, karena sesekali Autumn memamerkan senyumnya yang manis. Entah mengapa, Benjamim merasa terganggu dengan pemandangan itu. Tanpa berlama-lama lagi, ia segera menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan area parkir gedung tersebut.


Selama di dalam perjalanan, pria berambut cokelat tembaga itu terlihat begitu fokus pada lalu lintas kota Paris yang cukup ramai. Pandangannya lurus ke depan dan seakan tak ada satu hal pun yang membuatnya tertarik untuk menoleh ke kiri atau ke kanan. Ia terhanyut dalam pikirannya sendiri, hingga suara dering ponsel membawanya kembali pada kesadaran.


Benjamin melihat kontak si pemanggil. Di layar terera nama Esmee, wanita yang sudah ia tinggalkan beberapa waktu lalu. Satu kali panggilan ia abaikan. Kedua dan ketiga pun masih tak ia hiraukan, hingga pada panggilan yang kesekian kalinya barulah Benjamin bersedia untuk menjawab. Ia lalu memasang earphone. "Ada apa?" nada bicara pria itu terdengar sangat dingin.


"Kenapa lama sekali? Kau tak berniat untuk menjawab panggilan dariku?" protes Esmee dengan setengah kecewa.


"Aku sedang di jalan. Katakan saja langsung jika ada sesuatu yang penting," sahut Benjamin datar sambil terus menyetir.


"Apakah setelah aku menjengukmu maka kau akan akan langsung sembuh?" Benjamin masih dengan gaya bicaranya yang datar.


"Ayolah, Ben. Jangan bersikap jahat padaku. Mampirlah sebentar," pinta Esmee lagi dengan sedikit memohon. Wanita itu sepertinya sangat mengharapkan kedatangan Benjamin. Tanpa banyak bicara, pria tiga puluh lima tahun tadi membelokan kendarannya ke arah yang lain. Ia terus memacu SUV hitam itu hingga akhirnya berhenti di depan sebuah gedung apartemen mewah tiga puluh lantai.


Benjamin segera memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk. Ia sudah seringkali datang ke sana, sehingga memiliki akses yang leluasa. Tak berselang lama, lift yang membawanya berhenti di lantai dua puluh lima. Benjamin segera keluar dan berjalan sebentar hingga ia tiba di depan pintu bernomor 103. Pria itu pun mengetuk pintu tersebut. Tak perlu menunggu waktu yang terlalu lama, dari dalam terdengar suara seseorang membuka kunci pintu tersebut. Sesaat kemudian, wajah cantik Esmee muncul dengan senyuman indahnya.

__ADS_1


Jengkel, itulah yang Benjamin rasakan saat itu ketika melihat keadaan Esmee yang sebenarnya. Tak terlihat tanda-tanda orang sakit pada diri wanita itu. Esmee malah terlihat sangat cantik dengan penampilannya yang terbilang seksi dan menggoda. "Hai, Ben," sapanya lembut.


"Apa-apaan ini?" Benjamin terlihat tak menyukai siasat licik mantan kekasihnya itu.


Esmee mendekat dan berdiri tepat di hadapan pria bermata abu-abu tersebut. Ia terlihat sangat menawan saat mengenakan pakaian dengan belahan dadanya yang rendah. Akan tetapi, Benjamin tak lagi memedulikan hal itu. "Aku tidak menyukai caramu yang seperti ini. Sebaiknya aku pergi saja." Benjamin membalikan badannya dan bermaksud untuk meninggalkan tempat itu. Namun, dengan cepat Esmee meraih tangan Benjamin dan menghentikan langkah tegapnya.


"Aku tak memiliki alasan lain agar bisa membuatmu datang, karena itu aku terpaksa harus berbohong padamu," kilah Esmee dengan wajah merajuk. Ia memohon agar Benjamin tak pergi meninggalkannya. "Aku mohon, Ben. Beri aku kesempatan lagi. Aku akan menjadi kekasih yang baik untukmu," ujar Esmee dengan setengah merayu. Akan tetapi, Benjamin tetap bersikap tak peduli. Pria itu tak menunjukan raut kasihan sedikitpun, terhadap wanita yang tengah memohon cinta kepadanya.


"Aku akan menuruti semua yang kau inginkan, apapun itu. Namun, biarkan aku untuk tetap berada di dekatmu." Esmee setengah mengiba.


"Jangan bersikap kampungan seperti ini, Esmee! Kau hanya mempermalukan dirimu sendiri!" sergah Benjamin. Ia tetap menolak untuk kembali pada wanita itu. Sementara Esmee masih terus berusaha menahan Benjamin agar tak pergi dari sana.


"Masuklah dulu. Aku yakin kau akan segera berubah pikiran, Ben," pinta wanita berambut pendek itu. Ia tak juga melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan kiri Benjamin.


"Esmee, aku tak ingin bertindak kasar padamu. Jadi, lepaskan tanganku sekarang juga! Aku sangat lelah dan ingin segera pulang," tolak pria berambut cokelat tembaga itu dingin.

__ADS_1


"Tidak akan! Ayolah, Ben." Bukannya melepaskan tangan Benjamin, Esmee justru memeluk pria itu dengan mesra. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Benjamin, meskipun pria tersebut menolak. Benjamin tak menyadari jika Autumn berada di sana.


__ADS_2