
Patra terpaku melihat adegan yang tersaji tak jauh darinya. Pria muda itu tak pernah menyangka bahwa Autumn ternyata telah memiliki seorang kekasih. Dia pun kemudian membalikkan badan. Tak nyaman rasanya menyaksikan dua sejoli yang tengah bermesraan seperti yang dilakukan oleh Autumn dengan Benjamin.
"Apakah Fleur baik-baik saja?" tanya Autumn yang tetap peduli, meskipun gadis kecil itu telah bersikap buruk terhadapnya.
"Fleur mulai mengikuti les piano lagi untuk mengalihkan perhatiannya dari balet. Dia juga rajin menjalani terapi. Aku tidak tahu jika putriku datang ke rumahmu dan ...."
"Ya. Ibuku sudah mengatakan hal itu," sela Autumn. "Apa itu artinya dia sudah bisa menerimaku?" tanya Autumn dengan tatapan penuh harap kepada Benjamin. Namun, tak lama gadis bermata abu-abu tersebut segera menunduk. "Fleur tidak mengharapkanku menjadi bagian dari kalian," sesalnya pelan.
"Kata siapa?" Benjamin mengangkat dagu sang kekasih, sehingga mereka kembali saling bertatapan. "Mari kita kembali ke Perancis dan menghabiskan sisa musim gugur bersama-sama. Setelah itu, kita awali musim dingin juga dengan bersama-sama," ajak Benjamin dengan sungguh-sungguh.
"Ah, satu lagi. Aku menginap di hotel. Jaraknya tak terlalu jauh dari sini," ucap Benjamin dengan senyuman nakal. Sesekali dia menyibakkan poni yang menutupi kening Autumn.
"Lalu, apa urusannya denganku?" tanya gadis bermata abu-abu itu tak acuh.
"Ya, mungkin saja kau ingin melihat interiornya yang sangat nyaman," sorot mata Benjamin terlihat semakin nakal dan seakan bermain-main dengan rasa gugup dalam diri Autumn, yang terus berusaha untuk dia singkirkan. Gadis cantik itu lebih memilih melihat ke arah lain. Namun, Benjamin kembali mengalihkan perhatian Autumn padanya. "Kenapa kau menjadi pemalu begini, Elle?" tanyanya setengah berbisik. Suara pria itu terdengar begitu dalam dan terasa amat menggelitik kerinduan yang dirasakan Autumn selama ini. Akan tetapi, gadis yang kini berambut pendek tersebut masih bertahan dengan sikap jual mahalnya.
"Siapa yang malu-malu? Itukah menurutmu?" Autumn tertawa renyah. Sedangkan Benjamin masih dengan senyum dan tatapan yang begitu nakal. Gairah hidup yang selama beberapa hari kemarin menghilang, kini telah kembali bahkan terasa jauh lebih besar dan kian bergejolak dalam dirinya.
"Ayolah, Elle. Aku bisa membaca bahasa tubuhmu dengan baik," ucap Benjamin seraya kembali menyentuh pipi Autumn, lalu mengelusnya dengan penuh perasaan. Diciumnya pipi mulus sang kekasih. Sentuhan bibir yang kemudian menjalar ke leher, membuat Autumn terpejam dan men•desah pelan.
__ADS_1
"Hentikan, Ben," Autumn mere•mas rambut cokelat tembaga yang tersisir rapi itu, membuat Benjamin segera mengangkat wajahnya sambil tertawa pelan.
"Kau tahu jika aku sangat merindukanmu," ucapnya. "Kau gadis yang sangat nakal. Aku benar-benar tak karuan selama berjauhan denganmu."
"Aku tidak percaya," bantah Autumn tak acuh.
"Kau baru akan percaya jika aku menculikmu dari sini, karena ...," ujar pria bermata abu-abu itu lagi. Dia tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena terdengar panggilan dari seseorang. "Mengganggu sekali," keluhnya. Namun, Benjamin tak melanjutkan rasa kesalnya, karena yang muncul di sana tiada lain adalah Edgar. Pria itu sudah berdiri dengan gagah tak jauh dari mereka berdua.
"Kenapa kalian malah berada di sini? Jangan membuat pesta di dalam pesta," sindir Edgar seraya menatap dua sejoli itu secara bergantian. Ucapannya membuat Autumn tertawa pelan, sementara Benjamin hanya menggaruk alisnya. "Kembalilah ke taman, Elle dan temui ibumu," suruh Edgar.
Benjamin berdecak pelan. Dia membetulkan sikap berdirinya. Tangan kanan yang sejak tadi diletakkan di dekat kepala Autumn yang bersandar pada dinding, kini telah berpindah ke dalam saku celana. Benjamin pun harus rela, ketika gadis cantik itu menuruti sang ayah untuk kembali ke arena pesta. Sementara dirinya masih berdiri di sana bersama dengan Edgar. Dia tak tahu apakah itu akan menjadi pertemuan yang berakhir baik atau tidak.
"Kita belum berbincang secara pribadi," ucap Edgar dengan tenang. Dia berjalan mendekat ke arah Benjamin berada. Kedua pria rupawan lintas usia itu kini berdiri dengan posisi berdampingan. "Bagaimana Indonesia?" tanya Edgar basa-basi.
"Kau sangat nekat, Benjamin," ucap Edgar seraya melirik rekan bisnis yang berusia lebih muda darinya. "Mulai sekarang aku harus memanggilmu dengan nama itu," ucap pria penuh kharisma tersebut dengan diakhiri tawa pelan.
"Apakah itu artinya Anda sudah membuka pintu lebar-lebar untukku?" tanya Benjamin meyakinkan sikap dan ucapan Edgar.
"Kau jauh lebih beruntung, karena tak harus terlalu bekerja keras. Namun, aku sangat menghargai semua usahamu. Lagi pula, putriku tampaknya begitu tergila-gila padamu," Edgar tertawa pelan. Dia mengikuti arah tatapan Benjamin. "Kenapa pria brengsek selalu saja mendapatkan apa yang mereka inginkan? Selain itu, para gadis pun dengan mudahnya bertekuk lutut di hadapan mereka."
__ADS_1
"Aku rasa Anda juga mengetahui jawabannya, Tuan Hillaire," jawaban telak dari Benjamin yang membuat Edgar kembali tertawa. Ayah dua anak itu menggeleng pelan. Dia tak percaya bahwa Benjamin akan memberikan jawaban seperti itu.
Sementara Diana terlihat kurang nyaman berada di pesta. Dia terus mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan mencari sosok Arumi yang tak terlihat. Saat itu, Diana hanya mendapati Keanu yang tengah asyik berbincang-bincang dengan para koleganya. Sedangkan Moedya sepertinya enggan untuk bergabung bersama mereka. Sebisa mungkin dirinya menghindari untuk bertatap muka dengan Edgar.
Waktu telah berlalu dengan tanpa terasa. Puluhan tahun terlewati begitu saja. Moedya dan Arumi mungkin telah saling melupakan perasaan masing-masing. Akan tetapi, entah kenapa masih ada satu sisi dalam diri Moedya yang tetap tak bisa menerima keberadaan Edgar.
"Kamu tidak bertegur sapa dengan Edgar, Pa?" bisik Diana membuyarkan lamunan Moedya.
"Memangnya kenapa?" Moedya balik bertanya. Dia berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Tidak apa-apa," jawab Diana begitu saja. "Arum terlihat awet muda. Dia menjaga penampilannya dengan sangat baik. Bukankah mantan pacarmu itu masih kelihatan sangat cantik di usianya yang sekarang?" pancing Diana lagi dengan nada sindiran kepada Moedya, membuat putra dari Arya tersebut hanya bisa mengempaskan napas pelan. Dia tak ingin menanggapi sikap Diana yang memang selalu cemburu terhadapnya. Ya, Diana kerap berlaku seperti itu. Setiap kali Moedya terlihat bertegur sapa atau tampak akrab dengan seorang wanita, maka kecemburuannya akan langsung datang. Tak jarang hal demikian menjadikan sebuah perselisihan di antara mereka berdua.
Entah bagaimana karena Moedya bisa tahan dengan Diana dan segala kecemburuannya. Satu hal yang pasti, petuah-petuah dari mendiang Ranum lah yang selama ini menjadikan Moedya bisa belajar jauh lebih dewasa. "Kamu juga masih terlihat cantik, Ma," balas Moedya seadanya. Dia tak tahu harus berkata apa lagi. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa Moedya memang tidak kuasa untuk mengalihkan tatapannya dari Arumi, ketika wanita itu muncul dengan diikuti oleh Autumn. Moedya pun kemudian memanggil sang putra yang tampak merengut. "Papa tadi melihat Elle dengan seorang pria. Apa kamu tahu siapa pria itu?" tanyanya.
"Pacarnya," jawab Patra dengan malas.
Moedya kembali mengempaskan napas pelan. Di satu sisi ada Diana yang tengah cemburu karena kehadiran Arumi. Di sisi lain, dia melihat Patra yang juga terlihat aneh. "Baiklah. Bagaimana jika kita pulang saja?" tawar pria itu pada istri dan putra sulungnya.
Tanpa menanggapi tawaran dari sang ayah, Patra langsung saja berlalu dari sana. Begitu juga dengan Diana yang bermaksud untuk mengikuti putranya. Namun, dengan segera Moedya menahan langkah sang istri. Dia memberi isyarat agar Diana tetap di sana. "Kita datang dengan baik-baik, akan jauh lebih sopan untuk berpamitan terlebih dahulu sebelum pergi," ujarnya. Sementara Diana tidak menjawab. Dia juga tak membantah ucapan suaminya. Ibunda Patra tersebut lebih memilih diam dan menurut saja ketika Moedya mengajaknya untuk berpamitan kepada Keanu.
__ADS_1
Elle dengan rambut barunya.